Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Firasat Ummah.


__ADS_3

Ummah masih terdiam dalam kebisuannya.


Derasnya guyuran hujan yang turun dengan lebat, sungguh mewakili perasaannya saat ini. Wirda terus mengusap punggung Ummah lembut, dengan sesekali memeluk Ummah. Tetapi Ummah tetap diam hanyut dalam lamunannya. Pandangan matanya lurus memandang ke depan, menatap tajam hujan yang turun bertambah deras. Gaduh air hujan yang mengalir ke atap mobil terdengar menggerutu dan menggumal. Langit sepertinya sedang sangat bersedih. Entah karena ditinggal kemarau atau karena sebab lainnya. Hujan yang turun mengguyur bebas, seperti meluapkan tahanan kurungan dirinya, di dalam rinai-rinai air yang menguap.


Abi, Enjid, Pak Budi dan Wirda tidak banyak berkata apapun. Mereka masing-masing larut dalam perasaannya, terbawa dalam lamunan yang tak berujung.


Dan dalam keheningan suara hujan yang turun suara Enjid tiba-tiba terdengar memanjatkan do'a,"Allohumma hawalaina wala alaina, Allohumma 'alal akami wadh-dhirabi, wa buthunil awdiyati, wa manabitis syajari. Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami."


"Allahumma shayyiban haniyya wa sayyiban nafi’a.Wahai Tuhanku, jadikan ini hujan terpuji kesudahannya dan menjadi aliran air yang bermanfaat, "ucap Abi yang ikut melantunkan do'a turun hujan, ketika rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala turun membasahi bumi.


"Masya Allah, hujannya awet, " sahut Pak Budi sambil fokus menyetir.


Ummah diam bersama Wirda mendengarkan, apa yang Abi, Enjid dan Pak Budi katakan. Pandangan mata Ummah terus tertuju pada guyuran hujan. Ummah menatap ke luar kaca jendela mobil, dimana penglihatan Ummah tertuju pada anak -anak kecil yang sedang berlarian kesana kemari menari bersama hujan. Sesekali Ummah menyeringai senyum simpul melihat aktivitas anak-anaknya tersebut. Dibalik gemericik air hujan yang deras dan aroma khasnya, hujan memang punya kekuatan magis yang bisa dengan seketika mengingatkan pikiran Ummah kembali teringat akan diriku dan Mas Fariz.


Derasnya rintik hujan yang turun,rasanya lebih dari tidak sekadar air yang jatuh saja, tetapi cuacanya yang sendu. Betul-betul mewakili perasaan hati Ummah yang sedih.


Berada di dalam mobil dengan mencium semerbak bau hujan, disambut suasana yang dingin disertai langit mendung dan gelap. Sungguh membuat rasa rindu dan kangen Ummah kepada diriku dan Mas Fariz bangkit kembali. Momen-momen dimana Ummah terus membayangkan kenangan bersama diriku dan Mas Fariz.


Ibarat mesin waktu, hujan sepertinya mampu membawa kembali ke masa-masa indah. Dimana keberadaan ku dan Mas Fariz masih di sisinya. Rasanya,hatinya bergemuruh seketika.Kenangan yang terlintas itu,sungguh membuat gelora hidup Ummah terasa jauh menyesakkan dadanya.


Air matanya mengalir tanpa ia sadari.


Wirda yang memandangi wajah Ummah, dengan segera mengusap punggung Ummah kembali. Wirda tahu perasaan Ummah yang sedang mengalami kesulitan pergulatan paling besar dari keputusannya sendiri. Bibir Ummah bergetar dalam hari penuh dengan wajah khawatir, cemas, kesal dan kesakitan. Hingga tiba-tiba lisannya pun berkata penuh penyesalan, "Seharusnya, Ummah tidak meminta Fariz dan Rani pergi.Jika rasa sakit akan kepergian mereka begitu nyeri dan sangat melukai hati Ummah, hiks.. hiks.. hiks. "


Ummah menyeka air matanya dengan tisu yang sudah di pegangnya. Wirda, Abi, Enjid dan Pak Budi begitu terkejut mendengarkan perkataan Ummah yang penuh dengan ambigu.


Enjid sekilas menoleh ke belakang, untuk melihat Ummah. Sambil mengelengkan kepalanya, Enjid menghela napasnya pendek. Enjid sepertinya tidak mampu untuk berkata atas apa yang sudah di ucapkan oleh Ummah.

__ADS_1


Hujan terus turun dengan deras dan semakin lebat. Guyuran airnya terdengar semakin berat dan berkejaran untuk terus menerus menumpahkan butiran airnya.


Begitu pula dengan perasaan Ummah yang semakin tidak menentu. Kegelisahan semakin terus menyeruak di dalam hatinya. Pikirannya tidak berhenti memikirkan diriku dan Mas Fariz. Lisannya pun tidak berhenti berdzikir untuk memperoleh ketenangan di dalam hatinya.


Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Pak Budi sudah tiba di halaman rumah keluarga Imandar. Abi dan Enjid segera turun dari mobil, lalu diikuti Wirda yang menuntun Ummah untuk turun dari mobil.


Wajah Ummah terlihat begitu pucat dan lesu. Abi dan Enjid pun memandang ke arah Ummah dengan tatapan heran.


"Wirda, kamu segera ajak Ummah untuk beristirahat di dalam kamar ya," pinta Abi.


Wirda mengangguk mengerti dan segera menuntun Ummah naik ke atas. Tetapi tidak menuju kamar Ummah, melainkan menuju kamar tidur ku dan Mas Fariz.


Ummah memandangi ke sekeliling kamar, dengan tatapan wajahnya yang sayu. Lalu berjalan perlahan masuk ke dalam kamar. Wirda pun mengikuti langkah Ummah dari belakang, sambil mengamati gesture Ummah yang sedang duduk di atas ranjang tempat tidur, sembari menatap bingkai foto pernikahan ku dan Mas Fariz.


Jemari tangan Ummah perlahan-lahan mengusap bingkai foto tersebut, lalu memandannya dalam.


Air mata Ummah kembali mengalir deras.


Wirda tidak kuasa melihat air mata Ummah, "Ummah sudah jangan menangis terus. Jika memang Ummah berat berpisah dengan Kak Fariz dan Rani, nanti biar Wirda menelepon mereka untuk kembali lagi kemari?, " saran Wirda sambil mengusap lembut punggung Ummah.


Ummah menoleh ke arah Wirda, lalu memeluk Wirda pelan. Ummah menumpahkan rasa kesedihannya yang teramat sangat. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri dan penuh penyesalan akan permintaannya yang menginginkan diriku dan Mas Fariz tinggal menetap sementara di tempat lain, untuk menjauh dari semuanya.


Hujan turun semakin lebat dan dahsyatnya.Airnya tumpah dan seakan-akan tidak ingin berhenti meluapkan kesedihannya.Tak berselang lama terdengar pula suara bergemuruh yang dahsyat memekakkan telinga, dibarengi kabut putih bergulung-gulung dari arah selatan.Angin pun ikut bertiup kencang dengan membabi buta.


Sesak, dada Ummah terasa nyeri dan sakit. Sesuatu yang tak dapat Ummah jelaskan dengan kata-kata. Mengapa dirinya tidak berhenti menangis.Naluri alamiahnya sebagai seorang ibu terus membawa ikatan batinnya terus menerus mengingat akan Mas Fariz dan diriku.


Wirda semakin gelisah dan takut melihat keadaan Ummah yang semakin tidak tenang, "Ada apa Ummah? Apakah Wirda perlu memanggil Abi untuk kemari?. "

__ADS_1


Wirda terus mengusap air mata Ummah yang mengalir tiada henti.


Ummah memandang wajah Wirda dalam sambil mengenggam jemari tangan Wirda dengan kuat, "Wirda , Ummah merasakan ada firasat yang tidak enak terhadap Fariz dan Rani."


Aku terbelalak mendengarkan perkataan Ummah.


"Sudah , Ummah jangan berkata demikian. Ummah jangan overthinking, kita berdo'a saja Ummah supaya Kak Fariz, Rani dan Bik Siti baik-baik saja, " ucap Wirda berusaha menenangkan Ummah.


Tidak lama kemudian, Abi pun datang dengan membawa susu hangat untuk Ummah. Tetapi Ummah sudah tertidur dalam posisi duduk setengah berbaring.


Wirda menceritakan kepada Abi, tentang apa yang Ummah rasakan mengenai firasatnya. Mendengar hal itu wajah Abi pun terlihat keruh.


Wirda yang memandang wajah Abi pun juga terlihat cemas.


"Abi tidak apa-apa?, " tanya Wirda.


Abi mengangguk, lalu meminta Wirda segera menghubungi diriku dan mas Fariz jika kami semua sudah tiba.


Wirda mengangguk tanda mengerti dan berjalan keluar dari kamarku dan Mas Fariz.


Tetapi belum jauh Wirda melangkah pergi. Ummah yang tertidur pulas, tiba-tiba berteriak histeris memanggil namaku dan Mas Fariz.


Wirda langsung berbalik badan dan kembali berjalan menuju ke arah Ummah.


Abi langsung memeluk Ummah erat dengan wajah cemas nya. Sementara Wirda duduk di dekat kaki Ummah, sambil memandang penuh kekhawatiran akan air mata Ummah yang terus menangis terisak -isak.


"Ya Allah sebenarnya ada apa ini?, " tanya Wirda di dalam hati dengan perasaannya yang juga diliputi kecemasan.

__ADS_1


__ADS_2