
Lampu masih belum menyala.
Dan keadaan masih gelap.
Kak Reno turun secara perlahan dari atas meja lalu menghampiri diri ku.
"Apa yang harus kita lakukan setelah ini Kak Reno?, " tanya ku sambil berbisik pelan.
Kak Reno mengenggam jemari tangan ku.
"Kita berada di dekat pintu masuk Ran.Sebentar lagi salah seorang dari mereka akan masuk untuk memeriksa keadaan kita. Dan saat itu lah kita pergunakan untuk segera keluar dari ruangan ini, " jawab Kak Reno.
"Tetapi bagaimana jika mereka melihat atau menangkap kita Kak Reno, " tanya ku lagi dengan resah.
Kak Reno mengusap kepala ku pelan.
"Kita lakukan semuanya dengan hati-hati dan secara bersama-sama. InsyaAllah, akan ada jalan bagi kita untuk keluar dari tempat ini, " ucap Kak Reno meyakinkan diri ku.
Namun, sebelum itu Kak Reno menyalakan air kran di kamar mandi dan mengunci pintunya. Tetapi ia pun membawa satu ember air berisi air, saat ia keluar dari kamar mandi.
"Untuk apa ember dan air itu Kak Reno?, " tanya ku penasaran sambil memandangi dirinya.
"Kamu lihat saja Ran, aku tidak dapat menjelaskan kepada mu. Karena waktu kita tidak banyak, " jawab Kak Reno lagi.
Aku pun akhirnya hanya diam dan terus memandangi tindakannya, dalam kegelapan yang terlihat samar.
Kemudian, Kak Reno berjaln menuju ranjang tempat tidur. Lalu ia menumpuk guling dan bantal di atas ranjang tempat tidur itu. Yang kemudian ia tutupi dengan selimut.
Setelah rapi, ia segera membasahi lantai dengan air dan menaruh tas berisi pakaian dan ember di lantai tidak jauh dari tempat ku berdiri.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti akan maksud dan tujuan yang di lakukan oleh Kak Reno.
Kak Reno menghampiri diri ku lagi dan mengajak ku segera pindah ke sisi dinding di hadapan ku.
Dan benar saja, tidak lama setelah itu pintu pun terbuka.
Gedubrak.
Salah seorang laki-laki bertubuh besar masuk dengan perlahan sambil memegangi senter. Ia berjalan menuju ke ranjang tempat tidur yang ia sorot dengan cahaya senter.
__ADS_1
Namun, belum jauh ia berjalan.
Laki-laki berubah besar itu jatuh terpeleset karena menginjak lantai yang licin dan sudah di basahi Kak Reno dengan air juga sabun.
Dengan cepat Kak Reno mengambil senter yang terlepas dari tangan laki-laki itu dan mematikan nya.
Kak Reno segera memberi ku aba-aba, agar aku mengikuti langkah kakinya keluar dengan perlahan dari ruangan ini.
Aku pun mengangguk dan terus mengenggam jemari tangannya.
Dalam langkah kaki kami yang perlahan demi perlahan, dapat ku dengar suara gaduh dari ruangan tempat semula aku dan Kak Reno di kurung.
Brukkk... Brukkk.. Brukkk.
Argghhhh... Aduh.
Terdengar pekik kan beberapa orang yang merintih dan mengaduh.
"Mereka pasti jatuh secara bersamaan, " bisik ku pada Kak Reno.
Kak Reno terus mengenggam jemari tangan ku erat dan mencoba untuk melihat pintu keluar. Tetapi sebelum kami menuju pintu keluar. Pandangan mata ku tertuju pada telepon genggam milik dari salah seorang laki-laki yang menculik kami. Tanpa berpikir panjang aku pun mengambil telepon genggam tersebut dan mengubah modenya menjadi hening.
"Apa itu Ran?, " tanya Kak Reno.
Kaka Reno tersenyum sambil mengusap kepala ku dengan lembut.
"Kamu memang pintar Ran, " puji Kak Reno pada ku.
"Aku banyak belajar dari mu Kak Reno, " sahut ku.
Kemudian, aku dan Kak Reno melanjutkan langkah kaki kami. Dimana saat aku dan Kak Reno melewati sofa, ada tumpukan jubah dan topeng.
Aku pun teringat jika pakaian ini di gunakan oleh seseorang yang menjadi dalang penculikan ku juga Kak Reno.
Maka dengan cepat aku pun segera melipat jubah bersama topeng ,serta pakaian penutup wajah yang di gunakan wanita bertubuh besar yang ikut terlibat dalam penculikan ini.
"Apa itu Ran?, " tanya Kak Reno dengan berbisik.
"Ini pakaian yang di gunakan oleh orang yang menculik kita dan menutupi identitas dirinya, " jelas ku.
__ADS_1
"Lalu mau kau apakan pakaian itu?, " tanya Kak Reno.
"Akan aku sembunyikan, supaya aku dapat mengetahui siapa ke dua orang yang bersembunyi di balik pakaian ini, " kata ku.
"Baiklah, tetapi cepat Ran. Kita harus segera keluar dari tempat ini. Karena waktu kita tidak banyak, " ujar Kak Reno.
Aku mengangguk dan segera mengikuti langkah Kak Reno yang terus memandu diri ku untuk keluar.
Setelah beberapa saat kami berdua terjebak di dalam rumah yang, mengurung kami. Akhirnya aku dan Kak Reno dapat keluar dan berada di halaman rumah yang di jadikan tempat untuk menawan ku dan Kak Reno.
Aku dan Kak Reno bersembunyi pada semak-semak tanaman. Dimana setelah itu terdengar suara kegaduhan yang teramat sangat dari dalam rumah itu.
"Seperti nya mereka mulai menyadari jika kita tidak berada di dalam, Ran, " kata Kak Reno pada ku.
Maka dengan cepat aku pun mengeluarkan telepon genggam yang ku bawa tadi.
Ku kirimkan pesan pada Wirda, Ummah, Abi, Enjid dan juga Pak Budi untuk melacak dimana keberadaan kami.
Setelah itu aku melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari telepon genggam milik laki-laki bertubuh besar itu.
Yang ia tulis dengan nama bos besar.
Aku pun sempat membaca beberapa percakapan pesan mereka berdua.
Hingga Kak Reno dengan cepat menarik tangan ku untuk segera pindah ke tempat yang aman. Supaya mereka tidak dapat menemukan keberadaan kami.
Dan tidak jauh dari tempat ku dan Kak Reno bersembunyi ada drum besi dengan nyala api. Lalu saat ku lihat tidak ada siapa pun orang di dekat drum besi itu. Aku segera mendekat dan memasukkan jubah beserta pakaian wanita yang ku bawa itu.
Nyala api semakin besar dan aku pun segera kembali ke tempat persembunyian ku dengan Kak Reno.
"Apa yang kamu lakukan Rani?, " ucap Kak Reno penuh khawatir.
Aku hanya tersenyum dan tidak lama kemudian.
Wirda dan anggota keluarga Imandar lainnya membalas pesan dari ku.
Aku dapat sedikit bernapas lega, karena mereka sudah meminta pihak kepolisian untuk melacak keberadaan kami.
Abi pun meminta plat nomor mobil yang di gunakan orang-orang itu menculik ku dan Kak Reno. Beruntung nya mobil itu pun berada tidak jauh dari tempat ku berada saat ini, yaitu di hadapan ku.
__ADS_1
Dengan segera aku pun membalas pesan Abi dan memberitahukan plat nomor para penculik tersebut.
Setelah itu, aku pun menghentikan membalas pesan dari Abi, dan berpikir bersama Kak Reno untuk dapat melalui halaman rumah ini tanpa diketahui.