Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Berkabung duka.


__ADS_3

"Apa yang terjadi kepada istri saya dok?, " tanya Kak Rafa dengan wajahnya yang begitu cemas.


Dokter tersenyum kecil.


Kak Rafa, Abi, Enjid dan Pak Budi memandang heran akan tawa Pak Dokter.


Dengan perasaan penuh kecemasan, Kak Rafa bertanya lagi akan kondisi Wirda yang begitu membuat dirinya gelisah.


Dokter menghampiri Kak Rafa yang duduk tepat di samping Wirda, lalu memegang pundak Kak Rafa pelan sembari tersenyum lagi.


"Nak Rafa jangan cemas. InsyaAllah Nak Wirda tidak apa-apa dan dalam keadaan yang baik-baik saja, " ujar dokter.


Kak Rafa dan yang lainnya menatap heran pada raut wajah dokter.


"Tetapi mengapa istri saya terlihat lemas dan tidak sehat dok?, " ucap Kak Rafa lagi dengan gelisah.


Dokter kembali tersenyum, "Tidak apa -apa Nak Rafa, hal ini umum terjadi pada awal kehamilan. "


Kak Rafa terkejut begitu pula dengan Abi, Enjid dan Pak Budi.


"Maksud dokter, istri saya sedang hamil?, " tanya Kak Rafa penasaran.


Dokter mengangguk.


Kak Rafa terlihat tersenyum merekah dan memegang jemari tangan Wirda erat.


"Benarkah dok?, " tanya Kak Rafa lagi memastikan.


"Iya nak Rafa, " jawab dokter dengan tersenyum lebar.


Wajah Kak Rafa langsung berbinar tak percaya, dengan beberapa kali ia melemparkan pandangan matanya ke arah Wirda yang menatap dirinya.


"Tetapi perlu diingat Nak Wirda harus banyak beristirahat dan jangan melakukan pekerjaan yang berat, apalagi terlalu banyak memikirkan hal-hal berat yang dapat membuat dirinya stress, " imbuh sang dokter kepada Kak Rafa .


"Baik Dok, " sahut kak Rafa begitu senang lalu mencium jemari tangan Wirda berulang.


Abi, Enjid dan Pak Budi menatap haru, saat mendengarkan kabar bahagia di tengah suasana hati mereka yang masih berduka atas kepergian Mas Fariz dan Bik Siti.


Air mata mereka mengalir bercampur akan rasa kesedihan yang terjamah kebahagiaan.


Wirda menitikan air mata keharuan dalam dekapan hangat Kak Rafa.

__ADS_1


***


Kak Rafa yang mengetahui kehamilan Wirda begitu sangat menjaganya. Semua kasih sayang Kak Rafa ia curahkan kepada Wirda. Begitu pula Abi dan Enjid, yang tidak dapat menyembunyikan akan perasaan bahagia mereka, yang mana penerus keluarga mereka akan lahir dari rahim Wirda.


Abu, Enjid, Wirda dan Kak Rafa memberikan kejutan akan kabar bahagia ini kepada Ummah.


Ummah yang masih terkulai lemas berbaring di ranjang tempat tidurnya, menitikan air mata bahagia bercampur dengan kesedihannya.


Di tatap nya Wirda lekat dan dalam.


"Pasti Fariz dan Rani akan turut bahagia pula, jika mereka berdua ada disini, hiks... hiks, " ucap Ummah sambil menyeka air matanya yang enggan untuk berhenti menetes.


Abi mengusap kepala Ummah dengan lembut dan penuh kasih sayang, sentuhan Abi seakan-akan memberikan kekuatan tersendiri pada raga Ummah yang rapuh.


Kehilangan putra yang selama sembilan bulan di kandungnya, lalu membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hingga tumbuh menjadi manusia dewasa, bukanlah perkara yang mudah untuk melepaskan kepergiannya dengan begitu saja. Hati Ummah masih terkoyak perih akan takdir yang di dapatkan oleh Mas Fariz, tetapi Ummah terus menginsyafi kelemahan dirinya. Untuk tetap tegar meskipun begitu sulit. Dan di tengah gersangnya gumpalan hatinya yang terluka, berita kehamilan Wirda sedikit menjadi mata air penyejuk bagi hatinya. Ummah meminta Abi untuk membantunya duduk setengah berbaring, lalu memanggil Wirda duduk di sampingnya.


Jemari tangan Ummah yang masih lemah, bergetar mengusap pipi Wirda yang terlihat pucat. Ummah tidak kuasa menahan air matanya, begitu pula Wirda.


Dengan perlahan Wirda pun memeluk tubuh Ummah yang masih tidak berdaya.Layaknya seorang ibu yang tak tega melihat anaknya bersedih, Ummah berusaha menenangkan dirinya dan mengelus punggung Wirda lembut. Ummah dan Wirda tak kuasa menahan tangis.Tangisan keduanya pecah menggema memenuhi ruangan. Tiada yang dapat menggantikan kekuatan cinta kasih orang tua kepada anaknya. Hangatnya pelukan dan senyuman kegetiran Ummah begitu menenggelamkan kesedihan Wirda.


Abu, Enjid ,Kak Rafa dan Pak Budi yang larut dalam kesedihan juga menitikkan air mata menyaksikannya.


Pandangan Kak Rafa terus tertuju pada Ummah dan Wirda, begitu pula dengan Enjid .Tidak ada yang mampu menghentikan isak tangis mereka, karena semua orang yang berada di dekat Ummah dan Wirda pun turut berlinang air mata.


Sama halnya dengan raut wajah dari Abi yang menggambarkan kesedihan yang begitu dalam, sekaligus ketegaran dan keikhlasan untuk melepas putra terkasihnya. Dengan perasaan luka yang menusuk.


Abi bak pasang badan mengobati luka batin di hati Ummah, Abi dan Enjid pasca kepergian Mas Fariz. Meskipun sebenarnya ia merasa sangat terpukul, namun Abi selalu terlihat tegar menghadapi cobaan hidupnya.


Apalagi kini putra sulung yang ia banggakan telah pergi untuk selama-lamanya.


***


Satu minggu sudah kepergian Mas Fariz dan Bik Siti. Dimana keberadaan diriku belum diketahui juga. Masa pencarian terus dilakukan selama seminggu penuh, dengan harapan akan ada keajaiban yang terjadi.


Ummah di temani Wirda duduk berdekatan di ruang keluarga, sembari menunggu Kak Rafa yang sedang melakukan sambungan telepon kepada pihak otoritas setempat akan kemajuan perkembangan dari pencarian diriku.


Abi, Enjid dan Pak Budi pun turut memandang ke arah Kak Rafa penuh dengan kecemasan. Hingga Kak Rafa selesai melakukan sambungan telepon. Pandangan mata semua orang terus tertuju kepada dirinya. Begitu pula Ummah yang sudah semakin tidak menentu akan rasa ingin tahunya,untuk dapat mengetahui proses pencarian diriku.


"Bagaimana Rafa?, " tanya Ummah dengan wajahnya penuh kecemasan.


Kak Rafa memandang Ummah, lalu duduk di dekatnya sambil menundukkan kepalanya sesaat. Ummah yang melihat sikap Kak Rafa seperti itu menjadi semakin merasa gundah dan takut.

__ADS_1


"Ada apa nak? Apa yang terjadi?, " tanya Ummah lagi sambil memegang dadanya.


"Iya Rafa, ada apa? Katakan lah sesuatu, " sambung Abi yang turut gelisah.


Kak Rafa mengangkat kepalanya, lalu memandangi semua orang bergantian sebelum lisannya berkata.


"Tadi disampaikan otoritas setempat sudah menggunakan pencarian yang spesifik untuk mencari keberadaan Rani. Tetapi jika hari ini Rani juga tidak ditemukan maka otoritas setempat akan menghentikan pencarian, dan memastikan jika Rani telah meninggal dunia karena tenggelam, " ucap Kak Rafa pelan.


Ummah menangis,"Tetapi kita belum tahu dimana raga Rani. Mengapa Rani dikatakan sudah meninggal, hiks.. hikss. "


Wirda mengusap pundak Ummah berulang kali untuk menenangkan nya.


"Ummah yang kuat dan ikhlas ya Ummah, " sahut Wirda pelan.


"Tidak Wirda,selama Ummah belum melihat dan menyaksikan jasad Rani ada di hadapan Ummah. Maka Ummah tidak bisa menerima jika Rani dikatakan meninggal dunia, hiks... hiks.. hiks..., " bantah Ummah sambil mengusap air matanya dengan tisu.


Wirda menghela napasnya pendek.


Di dalam hatinya pun, Wirda masih berharap jika ada keajaiban yang dapat mengembalikan diriku.


Suara tangis Ummah pun kembali pecah, di dalam suasana batinnya yang tak menentu, dan terasa diaduk-aduk karena tidak ada kepastian akan keberadaan diriku saat ini, apakah akan bisa ditemukan atau tidak.


Abi pun tak tinggal diam, usahanya untuk menghibur Ummah dengan memeluk erat tubuh Ummah dalam dekapan nya, membuat semua orang yang berada di ruang keluarga ikut terenyuh dan menitikkan air mata melihat kesedihan keduanya.


"Luapkan kesedihan Ummah, jangan menyangkal setiap perasaan yang muncul, dan menganggapnya tidak ada dianggap ada. Tidak perlu memaksa hati Ummah untuk langsung ikhlas,karena memang semua mesti diakui dan dirasakan.Barulah, kita terima fakta bahwa perasaan sedih itu ada, sehingga hati Ummah kuat dan sanggup menerima kebenaran yang ada,akan takdir yang telah Allah tetapkan, "ucap Abi lirih seraya berbisik di telinga Ummah.


Ummah terus menangis menumpahkan akan beban hatinya yang belum sepenuhnya keluar.


Menjadi hal tersulit bagi Ummah dari menghadapi kedukaan, dengan mempersiapkan kehidupannya, setelah kepergian Mas Fariz yaitu tanpa orang yang amat disayanginya,yang kini telah tiada. Ikatan hubungan yang teramat dekat ini, menjadi ketergantungan yang mendalam hati Ummah untuk benar-benar tegar dan ikhlas. Inilah yang menjadi sumber kesedihan akut yang dialami Ummah,sehingga membuat kondisi kejiwaannya menjadi goyah dan terganggu.


Ummah menangis kembali dengan hebat, dan kini berteriak memanggil namaku berulang kali. Abi memberikan Ummah waktu untuk merasakan kepedihan di dalam dadanya atas kehilangannya.


Abi mengusap punggung Ummah pelan, "Tidak mengapa Ummah menangis, karena setiap orang boleh bersedih. Setiap orang boleh menangisi kehilangannya. Dan yang perlu Ummah pahami, tidak ada yang lebih memahami perasaan kehilangan daripada yang mengalaminya sendiri yaitu diri Ummah sendiri.Karena sebenarnya orang yang kehilangan pantas untuk bersedih. Termasuk Ummah," tutur Abi.


Ummah semakin membenamkan dirinya di dalam dekapan Abi.


Sementara itu, Kak Rafa juga terus mengusap punggung Wirda yang terus menitikan air mata, dengan melihat kesedihan Ummah yang tidak berakhir.


Enjid segera beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju kamarnya.


Dan Pak Budi terus terdiam dan larut dalam gelombang kesedihan keluarga Imandar yang masih berkabung duka.

__ADS_1


__ADS_2