
Ummah memanggil Mas Fariz dan diriku untuk berbicara hal penting yang ingin Ummah sampaikan. Rasa tanya menyergap pikiran dan hatiku akan hal apa yang ingin Ummah bicarakan. Sambil menunggu kedatangan Ummah, aku duduk berdekatan dengan Mas Fariz memandang taman belakang rumah yang asri dan sejuk.
Tubuhku masih belum sepenuhnya terasa pulih, terkadang tiba-tiba rasa lelah hadir sesaat mengendalikan diriku.Bik Siti kemudian datang membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan. Lalu meletakkannya di atas meja, yang terletak di hadapan ku dan Mas Fariz.
"Nak Fariz dan Nak Rani, silahkan di minum , " ucap Bik Siti.
"Iya Bik, terima kasih ya bik, " sahut ku.
Bik Siti tersenyum memandang ke arahku dan Mas Fariz, lalu ia berlalu pergi masuk ke dalam rumah.
Mas Fariz memandang lekat ke arahku sambil mengenggam jemari tanganku, "Apakah Dek Rani baik-baik saja, " ucapnya lembut memastikan keadaan diriku.
Aku mengangguk pelan dan tersenyum kepadanya. Mas Fariz pun terlihat senang dan bahagia memandangku. Tak lama setelah itu, Ummah datang dengan membawa map bersamanya. Dimana pandangan mataku dan Mas Fariz pun sama-sama tertuju pada kedatangan Ummah.
Ummah tersenyum mengusap kepalaku sebelum dirinya duduk.
"Apakah kalian sudah lama menunggu Ummah?."
"Tidak Ummah," jawabku.
Ummah tersenyum sambil membuka map yang ia pegang, lalu meletakkannya di atas meja. Aku memandangi apa yang Ummah lakukan, sementara Mas Fariz langsung menanyakan kepada Ummah akan maksudnya memanggil diriku dan Mas Fariz.
Ummah terdiam sesaat memandangi wajah ku dan Mas Fariz secara bergantian. Hal ini semakin membuat diriku dan Mas Fariz saling memandang bingung satu sama lain, akan gesture yang Ummah tampilkan.
"Ini Ummah bawakan beberapa rekomendasi tempat untuk kalian tinggal. Ummah ingin kalian berdua lihat dan memilihnya, " ucap Ummah sambil mendorong map di atas meja mendekat di hadapanku dan Mas Fariz.
Aku dan Mas Fariz saling memandang lagi sebentar, lalu Mas Fariz melihat map yang Ummah berikan.
"Untuk apa semua ini Ummah?," tanya Mas Fariz sambil membolak-balikkan map.
__ADS_1
Aku memandang wajah Ummah yang menatap serius Mas Fariz.
"Ummah ingin sementara waktu, kalian tinggal jauh dari sini. Bahkan lebih baik lagi jika kalian menetap sementara waktu di luar negeri. Setelah apa yang terjadi pada Rani. Ummah masih sangat cemas dan khawatir,akan orang-orang yang berniat buruk terhadap kalian, " ujar Ummah dengan gusar.
Mas Fariz terdiam, lalu meletakkan map yang ia pegang di atas meja. Kemudian, ia bangkit dari duduknya dan duduk tepat di samping Ummah. Perlahan Mas Fariz mengenggam tangan Ummah, "Apa yang Ummah cemaskan sekarang? InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja Ummah. "
Mas Fariz berusaha menenangkan Ummah dengan kata-katanya. Tetapi tetap saja rasa gusar dari perasaan Ummah, begitu tergambar jelas dalam paras dan sikapnya.
"Mengapa Ummah begitu menginginkan Fariz dan Dek Rani menjauh dari kota ini Ummah?. "
Ummah menghela nafas yang berat, seakan-akan ada beban yang menganjal di dalam hatinya. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Mas Fariz dan diriku secara bergantian, "Ummah takut nak. Terjadi hal-hal buruk lagi terhadap Rani dan dirimu. Ini bukan hanya keinginan Ummah nak, tetapi sebuah permintaan dari seorang ibu kepada anaknya. Supaya terhindar dari marabahaya. "
Mas Fariz diam mendengarkan apa yang Ummah katakan. Tidak lama setelah itu pun, akhirnya Mas Fariz menyetujui permintaan Ummah, supaya diriku dan Mas Fariz tinggal menjauh sementara waktu dari hiruk pikuk kota tempat kami tinggal.
Ummah pun terlihat senang bercampur haru mendengarkan kesanggupan Mas Fariz. "Baiklah Ummah, Fariz setuju dan akan memenuhi apa yang menjadi permintaan Ummah. Tetapi mengenai tempat tujuan dan waktu keberangkatan. Fariz akan merundingkannya terlebih dahulu dengan Dek Rani, " kata Mas Fariz.
Ummah mengangguk setuju dan langsung memeluk Mas Fariz erat.
Mas Fariz menanyakan keinginan diriku, untuk memilih kota, tempat dan negara mana saja yang kusukai untuk kami tinggal.
Aku sendiri bingung dan tidak memiliki gambaran yang pasti akan tempat tujuan yang menarik hatiku untuk kesana. Sebab semua terasa begitu mendadak dan tiba-tiba. Hingga dalam rasa kebingungan yang menyergap diriku.Aku pun menyerahkan semua keputusan kepada Mas Fariz, menurutku ia lebih tahu dari pada diriku. Dimana sebelumnya Mas Fariz juga sering berkunjung ke banyak kota dan menuntut ilmu di luar negeri. Tentu Mas Fariz memiliki banyak referensi tempat terbaik untuk kami tinggali.
"Rani, ikut saja apa yang menjadi keputusan Mas Fariz. InsyaAllah kemanapun Mas Fariz akan membawa Rani pergi. Rani akan ikut dan tidak menolaknya Mas, " ucapku pelan.
Mas Fariz tersenyum sambil mengusap kepalaku lembut, sembari memelukku.
Pandangan mata kami berdua menatap cerahnya langit biru yang bersih, dengan sapuan lembut semilir angin yang sejuk.
Aku pun tidak sungkan dan canggung menyandarkan kepalaku pada bahu Mas Fariz, seraya memeluk lengannya.
__ADS_1
Perasaan damai dan tenang yang ku rasakan saat bersama dirinya. Membuat diriku selalu bersyukur kepada Allah yang telah mengikat hubungan kami.
"Ya Allah, teruslah langgengkan cinta kami ini hingga maut menjemput kami berdua bersama-sama, " ucap Mas Fariz lirih sembari mengecup keningku.
Persahabatan dan kedekatan di dunia yang terjalin antara diriku dan Mas Fariz,membentuk keinginan akan impian kami bersama hingga nanti dapat meraih surga Firdaus A'la.
Aku masih menikmati kebersamaan dengan Mas Fariz yang sederhana. Namun, membuat diriku bahagia. Kupejamkan mataku perlahan, seraya memanjatkan do'a kepada Sang Kuasa, "Semoga cinta yang ada di dunia ini Allah tetapkan terus ada antara aku dan Mas Fariz yaitu suamiku tercinta,hingga di surga Firdaus Al A’la. Aamiin Yaa Mujibass Sailin."
Mas Fariz kembali mengenggam jemari tanganku erat.
Tok.. Tok.. Tok.
Tak lama setelah itu terdengar suara pintu kamar diketuk. Seseorang memanggil namaku dan Mas Fariz. Mendengar panggilan tersebut, aku dan Mas Fariz pun langsung berdiri menuju pintu kamar.
Dan tampak Bik Siti yang ada di depan pintu. Wajah Bik Siti terlihat cemas dan pucat, yang membuat diriku segera bertanya kepada Bik Siti tentang apa yang terjadi. Sambil menelan air ludahnya Bik Siti pun mengatakan jika Kak Aisyah telah berpulang dan kedua orangtuanya ada di bawah ingin meminta maaf kepada diriku dan juga mas Fariz atas semua kesalahan yang telah dilakukan Kak Aisyah.
Aku dan Mas Fariz begitu sangat terkejut mengetahui akan hal itu. Dan dengan segera Mas Fariz mengenggam jemari tanganku untuk turun ke bawah menemui kedua orang tua Kak Aisyah. Di ruang tamu tampak Ummah, Abi, Enjid dan Wirda sudah duduk di sana.Dimana saat aku dan Mas Fariz datang, kedua orang tua Kak Aisyah langsung menangis terutama ibunda Kak Aisyah yang langsung berlari memeluk diriku. Ummah terlihat terkejut dan segera bangun dari duduknya, untuk memastikan jika Ibunda Kak Aisyah tidak melakukan hal-hal yang akan menyakiti diriku. Mas Fariz mengisyaratkan kepada Ummah untuk membiarkan Ibunda Kak Aisyah mendekatiku. Isak tangisnya pecah memenuhi ruang tamu. Aku dapat merasakan kegetiran dalam kesedihannya. Pandangan mataku menatap kelopak matanya yang membentuk lingkaran hitam. Bibirnya bergetar haru mengucap permohonan maaf untuk almarhumah putrinya, "Nak Ra.. Ni... Maaf kan Putri ibu ya Nak. Untuk semua kesalahan dan kekhilafan nya pada Nak Rani. Huhuhu... Huhuhuhuhu. Huhuhu.... "
Aku mengangguk pelan dan memeluk tubuhnya, "Iya bu. InsyaAllah saya sudah memaafkan semua kesalahan dan perbuatan yang almarhumah Kak Aisyah lakukan kepada saya. "
Tangis Ibunda Kak Aisyah semakin pecah dan mengelegar hebat.
Semua orang terbius akan kesedihannya, meskipun ada rasa kecewa dan penyesalan terhadap perbuatan Kak Aisyah terdahulu. Tetapi semuanya seakan-akan menguap seketika, bersama kesedihan kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian, aku dan seluruh keluarga Imandar pun menghadiri pemakaman Kak Aisyah.
Masih dalam suasana hati tak percaya, menyaksikan kepergian Kak Aisyah yang begitu secepat ini.
Air mataku pun mengalir dalam keharuan yang ku saksikan. Cinta yang membuat Kak Aisyah hancur dalam jerat ilusi syaitan, yang tidak dapat ia kendalikan perasaannya.
__ADS_1
Huft,
Aku menghela nafas sembari mendo'akan kepergiannya dan memandang pusara terakhirnya, bersama Mas Fariz yang berada di sisiku.