
Satu persatu halaman lapas sudah dipenuhi dengan napi yang akan mendengarkan tausiyah dari Mas Fariz. Termasuk juga Kak Reno yang sudah siap dan menunggu sejak tadi. Acara pun dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara. Sementara itu, Mas Fariz masih duduk bersama dengan diriku, Bik Siti dan Pak Budi pada ruangan yang telah disediakan oleh pihak panitia petugas lapas. Mas Fariz masih berbincang-bincang dengan salah satu petugas lapas sebelum ia diperkenankan masuk ke dalam untuk memberikan tausiyahnya.
Bik Siti memandang wajahku, "Apa yang Nak Rani pikirkan?. "
Aku pun memandang balik Bik Siti, "Tidak ada Bik."
"Lalu mengapa Nak Rani terdiam seperti memikirkan sesuatu?, " tanya Bik Siti lagi.
Bibirku tersenyum kecil sambil memegang lengan Bik Siti, "Tidak ada Bik. Rani hanya berdo'a semoga Mas Fariz diberikan kelancaran dan kemudahan dalam menyampaikan tausiyah nya pada hari ini."
Bik Siti pun juga tersenyum balik kepadaku, "Iya Nak Rani. Bibi juga berharap seperti itu."
Jemari tangan Bik Siti pun memegang bahuku pelan, "Maafkan bibi ya Nak Rani, sebab Bibi terlalu khawatir. Bibi hanya ingin setelah ini kebahagiaan lah yang terus menghiasi kehidupan Nak Fariz dan Nak Rani. "
"Iya Bik. Rani tahu dan mengerti, terima kasih ya Bik, karena sudah peduli dan sayang kepada Rani dan Mas Fariz, " ucapku sambil memeluk Bik Siti. Tidak lama kemudian, Mas Fariz pun mendekat ke arahku dan Bik Siti.
"Dek, " panggil Mas Fariz lembut.
Aku pun menoleh ke arahnya, "Akh, iya Mas."
Mas Fariz mengusap lembut kepalaku, "Mas ke dalam bersama Pak Budi dulu ya. Dek Rani tetap bersama Bik Siti disini. "
Aku pun bertanya kepada Mas Fariz mengapa diriku tidak boleh ikut bersamanya di dalam dan Mas Fariz tersenyum sambil memegang pipiku seraya berkata, "Di dalam banyak kaum laki-laki dan bukan mahram Dek Rani. Mas ingin Dek Rani tetap disini, karena jauh lebih aman dari hal-hal yang tidak di inginkan. "
Aku mengerti akan maksud Mas Fariz dan tersenyum kepadanya.
"Bik Siti, saya titip Rani ya Bik ,selama saya bertausiyah di dalam, " ucap Mas Fariz kepada Bik Siti.
"Siap Nak Fariz, tanpa diminta pun saya akan menjaga Nak Rani dengan sebaik-baiknya, " ucap Bik Siti lantang.
"Iya Bik saya percaya, " jawab Mas Fariz.
Setelah itu, aku pun mencium tangan Mas Fariz. Dan Mas Fariz mengusap kepala ku lembut dengan mendaratkan kecupan lembutnya di keningku.
"Hati-hati ya Mas, " ucapku pelan.
"Dek Rani juga jaga diri baik-baik, " balas Mas Fariz.
Kepalaku pun mengangguk.
Mas Fariz yang ditemani Pak Budi pun melangkah ke dalam lapas ditemani beberapa petugas yang mengawal, juga turut membantu Barang-barang yang akan di sumbangkan oleh Mas Fariz ke lapas.
Pandangan mataku dan Bik Siti pun terus menatap Mas Fariz dan Pak Budi, hingga akhirnya mereka berdua benar-benar menghilang dari pandangan mata.
Dari ruangan tempatku dan Bik Siti berada, terdengar pantulan suara Mas Fariz dari pengeras suara.
Suara yang membuatku teduh dan nyaman saat mendengarkannya, apalagi di saat Mas Fariz melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran yang membuat hatiku menjadi damai dan semakin tenang. Hanya dengan mendengarkan suaranya saja, perasaan cemas ku menjadi sedikit memudar.
Tanpa sepengetahuan diriku Bik Siti memandang ke arahku, "Ehem... Nak Rani senyum -senyum sendiri. Bibi tahu pasti Nak Rani sedang memikirkan Nak Fariz kan?, "
__ADS_1
Bik Siti mencolek lembut pipiku yang tersipu malu dalam rona kemerah-merahan.
"Ikh... Bibi mulai lagi kan, " ucapku sambil tersenyum.
Bik Siti memegang kepalaku pelan, "Sejak Bik Siti bertemu dengan Nak Rani. Baru sekarang dapat Bibi lihat kebahagiaan menghiasi wajah Nak Rani."
Aku tersenyum memandang wajah Bik Siti.
Kurang lebih sudah tiga puluh menit berlalu Mas Fariz masih memberikan tausiyahnya. Tidak lama kemudian Pak Budi pun masuk ke ruangan tempatku dan Bik Siti berada untuk memastikan bahwa keadaan ku baik-baik saja.
"Apakah Mas Fariz belum selesai juga Pak Budi?, " tanyaku.
Pak Budi menggelengkan kepalanya, "Belum Nak Rani, sepertinya mungkin sebentar lagi."
Dan tiba-tiba Bik Siti ikut bertanya kepada Pak Budi, "Pak, apakah di dalam bapak bertemu dengan Nak Reno?. "
Pak Budi dan diriku tersentak mendengar pertanyaan dari Bik Siti, dimana aku dan Pak Budi bersamaan menatap ke arah Bik Siti.
Bik Siti pun mengerutkan dahinya dengan rasa heran, melihat diriku dan Pak Budi menatap nya dengan terkejut.
"Mengapa Nak Rani dan Pak Budi menatap saya seperti itu? Apakah pertanyaan saya salah?, " tanya Bik Siti.
"Pertanyaan Bik Siti tidak salah, " sahut Pak Budi.
"Lalu mengapa Pak Budi seperti terkejut?, " tanya Bik Siti lagi.
Bik Siti mengangguk dan terdiam mendengar perkataan dari Pak Budi, lalu ia menatapku dalam dengan matanya yang berkaca-kaca, "Nak Rani maafkan bibi ya nak. "
Aku pun mengusap lembut punggung Bik Siti lalu memeluknya.
Tidak lama setelah itu terdengar suara bel seperti alarm tentang warning yang suaranya begitu keras.
Jantungku berdegup kencang dan merasa tidak tenang.
"Pak Budi ada apa Pak?, " tanyaku memandang wajah Pak Budi dengan perasaan sangat cemas.
Pak Budi pun terlihat juga cemas seperti diriku, ia menoleh melihat ke sekitar, "Sebentar ya nak Rani, bapak akan melihat keadaan di sekitar, " ucap Pak Budi dengan wajah panik.
Tetapi sebelum Pak Budi melangkah, petugas lapas pun datang ke ruangan tempatku dengan Bik Siti dan Pak Budi berada.
"Apa yang sebenarnya terjadi Pak?mengapa terus terdengar suara seperti bel yang berbunyi terus menerus?, " tanyaku panik.
Petugas lapas pun memberitahukan kepada kami semua, jika sedang terjadi keributan dan kerusuhan di dalam lapas. Dan membuat banyak napi yang melarikan diri.
DEG...
Jantung berdetak semakin kencang, tubuhku rasanya lemas seketika. Aku benar-benar panik dan mengkhawatirkan Mas Fariz.
"Astaghfirullah, Ya Allah. Pak Budi bagaimana ini? Mas Fariz masih berada di dalam. Hiks.. Hiks... Hiks.., " ucapku sambil menangis.
__ADS_1
Bik Siti pun juga terlihat sangat histeris dan Pak Budi yang juga panik tetap mengusahakan dirinya tetap tenang, "Nak Rani tetap disini dulu bersama Pak Budi ya Nak. Sementara itu, Pak Budi bersama pak sipir akan mencari keberadaan Nak Fariz. "
"Rani ikut Pak, " pintaku sambil menangis.
"Tidak Nak Rani. Lebih baik Nak Rani tetap berada disini. Jika dalam waktu lebih dari dua puluh menit bapak belum kembali membawa Nak Fariz kemari. Maka bapak mohon Nak Rani lekas tinggalkan tempat ini bersama Bik Siti dan menghubungi Nak Rafa, Abi atau Enjid untuk meminta bantuan."
Aku mengangguk dengan perasaan campur aduk dan begitu sangat cemas.
Bik Siti terus memegangi diriku yang menatap dengan lesu kepergian Pak Budi.
Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhku yang terasa lemas dengan dadaku yang terasa sesak. Air mataku pun terus mengalir berpadu dengan perasaan yang tidak tenang memikirkan keadaan Mas Fariz.
"Ya Allah, kumohon jaga dan lindungilah Mas Fariz, " ucapku lirih.
Bik Siti terus menerus mengusap punggungku pelan dan berusaha membuat diriku lebih tenang.
Mataku terus menatap detak jam dinding yang tergantung di dinding ruangan ini. Tetapi tiap detik terus bergulir, hingga dua puluh menit telah berlalu. Tubuhku bergetar dengan pikiran yang semakin berkelana dalam ketakutan yang menyergap diriku. Waktu kurasakan seolah-olah berhenti berputar, semua terasa begitu menyesakkan untukku lihat.
Dengan jemari bergetar aku pun berusaha menghubungi Kak Rafa dan menjelaskan semua hal yang terjadi kepadanya. Setelah itu, aku pun memberanikan diri untuk keluar dari ruangan ini dan mencari keberadaan Mas Fariz.
Bik Siti berusaha dengan kuat melarang akan keinginanku.
"Nak Rani, bibi mohon kita tetap disini sesuai apa yang diminta Pak Budi ya nak, " pinta Bik Siti dengan menangis.
Dengan suara bergetar dan ketakutan, aku pun mengenggam jemari tangan Bik Siti, "Tidak Bik, ini sudah lewat dua puluh menit. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Rani takut Bik.. Rani takut terjadi apa-apa kepada Mas Fariz dan Pak Budi Bik. Huhuuu.... Huhuhu. "
Suara teriakan yang bergemuruh begitu semakin membuat diriku menjadi bertambah panik dan begitu sangat cemas.
Dengan tangan yang bergemetar, aku berusaha mengambil telepon genggam dari dalam tasku dan mencoba menghubungi Mas Fariz atau pun Pak Budi. Tetapi tetap saja tidak terhubung dan semakin membuat diriku cemas.
"Hiks... Bagaimana ini Bik telepon genggam Mas Fariz dan Pak Budi tidak bisa di hubungi, " ucapku begitu panik.
Bik Siti memegang lengan ku, "Tenang Nak Rani, coba sekali lagi ya. Siapa tahu bisa. "
Aku pun mengangguk dan mencoba lagi menghubungi Mas Fariz. Wajahku sedikit lega ketika sambungan telepon ku mulai terhubung ke telepon genggam Mas Fariz.
"Halo.. Halo.. Assalamu'alaikum.. Mas Fariz, " ucapku tegang dan panik.
"Halo... Dek.. Dek Rani, " suara Mas Fariz.
Lalu terdengar suara teriakan dan raungan banyak orang dari sambungan telepon ku ke Mas Fariz.
"Hayo!... Tolong.... Auwwwwww!, " suara itu terus terdengar.
Hingga tut...tut... tut...
Sambungan telepon ku terputus dengan Mas Fariz. Aku semakin panik dan langsung meletakkan telepon genggamku di dalam tas, lalu berlari ke luar ruangan mencari keberadaan Mas Fariz.Di ikuti dengan langkah kaki Bik Siti yang mengikuti ku dari belakang, "Nak Rani! tunggu nak! Nak Rani!."
Aku terus berlari sambil menangis dan tidak memperdulikan sekitarku sambil berteriak memanggil nama Mas Fariz berulang kali.
__ADS_1