
Dokter dan beberapa perawat membawaku untuk menghasilkan pemeriksaan lanjutan. Bik Siti dan Wirda mendampingiku dan senantiasa menjagaku. Saat di perjalanan menuju ruang radiologi terdengar suara Wirda memanggil nama Rere.
"Kamu mau ke mana Re?,"tanya Wirda dengan suaranya yang sedikit berteriak.
Rere yang berjalan terlebih dahulu di hadapan kami dengan seketika menoleh mendengar Wirda memanggil namanya.
"Oh ternyata kamu Wir," ucap Rere dengan wajah datar dan nada biasa saja.
"Kamu hendak ke mana Re?," tanya Wirda lagi kepada Rere.
Rere menghentikan langkah kakinya seraya memandang ke arahku dan berjalan bersamaan dengan Wirda.
"Aku ingin membeli minuman hangat untukku dan ibu mertuaku yaitu mamanya Kak Roy,"ucap Rere dengan suara agak meninggi.
"Oh,"balas Wirda.
"Rani akan dibawa ke mana Wir ?,"tanya Rere yang melihat ke arahku dengan tatapan matanya yang tajam.
"Ke ruang radiologi untuk pemeriksaan lanjutan,"jawab Wirda.
"Mengapa harus dilakukan pemeriksaan lanjutan? Apakah kondisi Rani memburuk atau ada sesuatu hal yang mengancam kehidupan Rani?,"ucap Wirda seraya berkata dengan perkataannya yang tidak enak untuk didengar.
Wirda yang mendengar ucapan Rere sedikit terlihat kesal dengan mata melirik ke arah Rere.
"Apa maksud perkataanmu itu Re?," tanya Wirda.
"Yah, maksudku Apakah keadaan Rani itu sudah sembuh atau belum? Setahuku jika dilakukan pemeriksaan lanjutan itu berarti ada kemungkinan besar sesuatu yang membahayakan telah terjadi pada tubuh Rani. Tetapi entah apa itu?,"ucap Rere dengan perkataan yang semakin sembarangan.
"Insya Allah keadaan Rani baik-baik saja dan akan kembali sehat dan sembuh seperti sedia kala,"sahut Wirda dengan senyuman malasnya kepada Rere.
"Yah,semoga begitu.Tetapi jika tidak hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi kepada Rani,"ucap Rere dengan wajahnya yang tidak senang.
Wirda dan Bik Siti yang mendengar ucapan Rere terlihat begitu tidak senang dengan kehadiran Rere.
"Bukankah tadi kamu bilang ingin membeli minuman Re. Jadi kenapa kamu tidak berjalan lebih dahulu saja. Bukankah arah jalan kita berbeda ?,"ucap Wirda seraya ingin mengusir Rere agar segera menjauh.
"Apa kamu ingin menyuruhku pergi dari sini Wir ?,"tanya Rere dengan ketus dan muka masamnya kepada Wirda.
"Kamu ingin aku berkata jujur atau berbohong?," ucap Wirda bertanya balik kepada Rere.
"Tentu jujur lah,"jawab Rere dengan sinis.
Wirda pun tersenyum mendengar ucapan Rere. Lalu ia pun berkata."Aku menginginkan kamu segera pergi dari sini dan menjauhi kami,"pinta Wirda kepada Rere dengan suara yang sedikit kasar dan membalas Rere dengan ucapannya yang sinis dan ketus.
Rere memandangi wajah Wirda yang membuang muka dari melihat ke wajahnya.Hati Rere semakin bertambah kesal melihat Wirda. Dan tanpa permisi kepada Wirda dan Bik Siti.Rere langsung pergi saja dari tempat itu dengan langkah besarnya.Hatinya penuh dengan rasa kesal yang memuncak karena perlakuan Wirda.
TUK...Tuk...Tuk...Tuk
Suara high heels Rere terdengar keras seperti dihentakkan untuk menunjukkan kepada Wirda bahwa ia tersinggung dan marah kepada Wirda.
Namun, Wirda yang melihat tingkah laku Rere,terlihat biasa saja dan terkesan tidak memperdulikannya. Wirda lebih fokus kepada diriku. Pandangan matanya mengarah ke arahku dengan wajahnya yang cemas dan penuh harapan akan doa-doa kesembuhan bagiku.
Sambil berjalan mengikuti langkah para perawat yang membawa tubuhku di brankar dorong.Wirda selalu berada di sisiku sembari memegangi tanganku.Dia berusaha untuk memberikan semangat dan menguatkan diriku.
Lalu tiba-tiba salah seorang perawat menghentikan langkah kaki Wirda dan Bik Siti untuk mengikuti diriku yang terbaring di atas brankar dorong untuk masuk ke dalam ruang radiologi.
"Maaf mbak dan ibu mohon tunggu di luar dahulu.Pasien akan ikut bersama kami ke dalam ruang radiologi.Untuk itu mohon ditunggu dulu sampai proses prosedur pemeriksaan selesai ,"ucap salah seorang perawat kepada Wirda dan Bik Siti.
Bik Siti menganggukkan kepalanya mengerti akan ucapan perawat.
"Baik sus,"jawab Wirda pula kepada perawat mengerti.
"Tetapi apakah saya bisa berbicara dengan Rani sebentar saja sus?sebelum dilakukan pemeriksaan?,"ucap Wirda lagi sambil bertanya kepada perawat yang sedang berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Baiklah silahkan tetapi mohon jangan lama-lama,"jawab perawat kepada Wirda.
"Terima kasih banyak sus," balas Wirda.
Wirda tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh perawat kepadanya. Maka dengan segera ia bergegas menuju ke arah ke arahku yang telah bersiap akan masuk ke dalam ruang radiologi untuk menjalani prosedur pemeriksaan lanjutan. Wirda memegang tanganku dengan kuat. Aku merasakan getaran akan rasa cemas dan khawatir dari sentuhan tangannya. Wirda berbicara kepadaku dengan suaranya yang lembut.
Ran kamu yang semangat yah dan jangan berpikiran yang negatif. Dan pasrahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala. Semoga dengan pemeriksaan ini akan segera mengetahui indikasi gejala medis yang terjadi pada penglihatanmu.Aku dan Bik Siti berada di luar menunggumu.Kami senantiasa mendo'akan untuk kesembuhanmu selalu Ran,"ucap Wirda padaku.
Lalu Wirda kembali mengusap kepalaku yang tertutup kain kerudung sambil mendo'akan diriku.
"Syafakillah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman. Artinya: Semoga Allah menyembuhkanmu (untuk laki-laki) secepatnya, dengan kesembuhan yang tiada sakit selepasnya".
"Aa....a..miin,"sahutku.
Kemudian perawat membawaku yang terbaring di atas brankar dorong pasien masuk ke dalam ruang radiologi untuk melakukan pemeriksaan lanjutan kembali.
BRAKkkk....
Pintu di ruang radiologi tertutup rapat.
Wirda yang berdiri di luar segera dihampiri oleh Bik Siti.
"Semoga setelah pemeriksaan ini Nak Rani segera pulih kembali ya nak Wirda ,"ucap Bik Siti dengan penuh harapan.
"Aamiin iya Bik Siti,"sahut Wirda.
Lalu Wirda pun merangkul tubuh Bik Siti seraya mengusap lembut pundaknya. Mereka berdua terlihat tegang dengan wajah yang sangat khawatir dan cemas sembari menunggu diriku yang sedang melakukan pemeriksaan.
Tidak lama kemudian datanglah Pak Budi, ustad Fariz dan juga adiknya ustad Fariz yang bernama Rafa.
"Nak Wirda Dan Bik Siti .Apakah nak Rani sudah menjalani prosedur pemeriksaan sekarang ?,"tanya pak Budi yang mengagetkan Wirda dan Bik Siti dari belakang.
Mendengar suara pak Budi sedikit keras Wirda dan Bik Siti segera menoleh ke belakang.
"Oh Pak Budi rupanya ,"ucap Wirda dengan wajah yang sudah sedikit tenang sekarang.
"Tadi Bapak bersama ustad Fariz dan adiknya ke atas menuju ruangan Nak Rani dirawat. Tetapi ada seorang perawat yang mengatakan bahwa nak Rani sedang dibawa menuju ruang radiologi untuk pemeriksaan lanjutan sehingga dengan segera bapak bersama ustad Fariz dan adiknya langsung menuju kemari,"ucap pak Budi kepada Wirda.
"Ya sudah mari semuanya kalau begitu kita duduk dulu di kursi tunggu,"ajak ustad Fariz kepada Pak Budi,Wirda,Bik Siti dan adiknya. "Dan sekalian ini ada sedikit cemilan dan minuman untuk Dek Wirda dan Bik Siti ya mungkin sedang haus," ucap ustad Fariz kepada Wirda dan Bik Siti.
Ustad Fariz lalu memberikan bungkusan yang berisi makanan dan minuman kepada Bik Siti.
"Masya Allah nak Faris ini selalu memberikan makanan dan minuman yang tidak ada henti-hentinya bibi menjadi merasa tidak enak karena merepotkan Nak Fariz terus," ucap Bik Siti dengan sedikit rasa malu dan sungkan kepada ustad Fariz.
"Bik Siti tidak perlu merasa malu dan sungkan kepada saya. Anggap saja itu adalah rezeki dari Allah yang dititipkan melalui saya. Lagi pula aya juga tidak merasa direpotkan kok Bik, itu kan hanya sekedar makanan dan minuman saja. Selain itu Bibi juga perlu makan dan minum supaya tetap sehat dan kuat agar dapat menemani Dek Rani. Nanti jika Bik Siti ,Pak Budi dan Dek Wirda tidak makan dan minum.Malah juga ikut jatuh sakit .Lalu siapa yang akan menjaga dan merawat Dek Rani. Betul kan Bik Siti?," ucap ustad Fariz sambil tersenyum kepada Bik Siti.
"Iya betul Nak Fariz.Terima kasih ya nak,"balas Bik Siti.
"Iya Bik Siti.Sama-sama.Ya sudah mari Bik,kita duduk menunggu Dek Rani disana,"ucap ustad Fariz sambil menunjukkan jari telunjuknya pada deretan kursi tunggu di luar ruang radiologi.
Bik Siti pun mengangguk sambil membawa bungkusan plastik yang berisi makanan dan minuman yang di berikan oleh Ustad Fariz.
Lalu ia berjalan bersama Ustad Fariz dan yang lainnya untuk duduk pada kursi tunggu yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Bik Siti duduk perlahan di samping Wirda sambil menawarkan minuman dan makanan yang diberikan oleh Ustad Fariz.
"Nak Wirda ini ada makanan dan minuman di dalamnya .Ayo Nak Wirda juga temani Bibi makan,"ucap Bik Siti kepada Wirda.
"Wirda minum saja ya Bik. Tadi kan sebelumnya Wirda sudah makan nasi rames yang dibelikan oleh ustad Fariz.
Alhamdulillah Wirda masih kenyang .Jadi Bik Siti saja yang makan lagi. Dan Wirda temani Bik Siti dengan minum teh hangat ini saja. Bibi tidak apa-apa kan," ucap Wirda membalas ajakan bi Siti.
"Iya tidak apa-apa nak Wirda, kalau begitu Bibi makan lagi ya nak Wirda," ucap Bik Siti dengan wajah malu-malu dan sambil tersenyum ke arah Wirda.
__ADS_1
"Iya Bik Siti silahkan,"balas Wirda dengan senyuman.
Lalu Bik Siti memanggil Pak Budi,Ustad Fariz dan adiknya yang duduk di kursi tunggu di bagian depan Bik Siti dan Wirda.
"Pak Budi ,Nak Fariz dan Nak...,"ucap Bik Siti terputus sambil berpikir karena tidak mengetahui nama adiknya ustad Fariz.
Ustad Fariz tersenyum melihat Bik Siti.
"Oh ya saya lupa memperkenalkan kepada Bik Siti dan Dek Wirda.Perkenalkan ini adik saya," ucap ustad Fariz sambil menoleh ke belakang ke arah Bik Siti dan Wirda sembari menepuk lembut pundak adiknya untuk memperkenalkan adiknya tersebut kepada Bik Siti dan Wirda.
"Namanya adalah Rafa,"ucap ustad Fariz kepada Wirda dan Bik Siti memperkenalkan nama adiknya.
Adik ustad Faris yang bernama Rafa lalu sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Bik Siti dan Wirda. Begitupun sebaliknya Wirda dan Bik Siti membalas senyuman dari Rafa adiknya ustad Fariz.
"Nak Rafa perkenalkan saya Siti.Biasa dipanggil Bik Siti.Saya sekarang bekerja sebagai asisten rumah tangganya nak Wirda," ucap Bik Siti dengan tersenyum.
"Oh,iya Bik Siti. Saya Rafa adiknya Kak Fariz senang bertemu dengan Bik Siti,"ucap Rafa dengan tegas sambil membalas senyuman dari Bik Siti.
"Iya nak Rafa. Bibi juga senang bisa bertemu dengan nak Rafa. Nak Rafa ini badannya tinggi sekali ,besar dan kekar. Dan suaranya pun tegas juga lantang. Nak Rafa itu seperti tentara saja kalau Bibi lihat,"ucap Bu Siti yang sedikit kagum melihat adiknya ustad Fariz.
"Lho,Nak Rafa memang seorang tentara Bik Siti,"sahut Pak Budi yang menoleh ke arah Bik Siti.
"Oalah,pantas saja.Kalau Nak Rafa berbicara suaranya tegas dan lantang sekali.MasyaAllah Nak Rafa memang tampan sekali,"ucap Bik Siti sambil tersenyum memandang ke arah Rafa.
"Lho, berarti Bik Siti suka kepada nak Rafa?,"goda Pak Budi.
"Wehh, Pak Budi kalau bicara sembarangan saja.Mana mungkin saya orang sudah tua seperti ini suka kepada nak Rafa dan lagi pula tidak mungkin sekali nak Rafa suka dengan saya .Pak Budi ......Pak Budi, hahaha..... ,"ucap Bik Siti sambil tertawa lepas dan menggelengkan kepalanya.
Semua orang yang ada di situ pun ikut tertawa mendengar ucapan dari Bik Siti.
Aneh-aneh saja Pak Budi ini. Saya itu kagum dan senang lihat perawakan nak Rafa yang tegap ,besar dan gagah.Lah kalau saya masih muda dan cantik seperti nak Wirda kemungkinan besar saya berani mendekati Nak Rafa lah orang saya ini sudah tua sudah bau tanah ibaratnya,"ucap Bik Siti lagi kepada Pak Budi.
"Yah siapa tahu toh Bik,"ucap Pak Budi lagi yang menggoda Bik Siti.
"Hayah Pak Budi.Hussshhhh....jangan ngomong sembarangan.Ya sudah saya tak makan lagi.Perut saya sudah lapar lagi pak.Mari makan semuanya,"ucap Bik Siti kepada Pak Budi, Wirda Rafa dan ustad Fariz seraya menawari makan.
"Iya Bik saya cuma bercanda saja.Hehehe....,"balas Pak Budi.
"Ya sudah Bik,silahkan makan,"suruh Pak Budi kepada Bik Siti untuk mempersilahkan nya makan.
Wirda,Ustad Fariz dan adiknya yang bernama Rafa pun tersenyum menyaksikan tingkah lucu Bik Siti dan Pak Budi yang membuat suasana sedikit mencair dan menjadi terhibur.
"Oh,ya dek.Dan ini namanya Dek Wirda sahabat Dek Rani yang sedang dirawat di rumah sakit ini,"ucap ustad Fariz kepada adiknya Rafa memperkenalkan Wirda.
Wirda tersenyum ke arah Rafa dan Rafa pun juga berbalik memberikan senyumannya kepada Wirda. Mereka berdua pun hanya saling tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
Kemudian ustad Fariz bersama adiknya lalu duduk kembali.
"Pak Budi,Ustad Fariz dan Kak Rafa,"panggil Wirda.
Pak Budi,Ustad Fariz dan Rafa pun menoleh bersamaan ke arah Wirda.
"Apakah Pak Budi ,ustad Fariz dan Kak Rafa ingin minum? Ini minumannya masih sangat banyak sekali ,"tanya Wirda kepada mereka bertiga sambil mengangkat kantong plastik yang berisi minuman.
"Dek Wirda dan Bik Siti saja yang minum.Tadi saya dan Pak Budi juga Rafa sudah minum di warung kopi,"jawab ustad Fariz.
"Tetapi minumannya masih banyak sekali lho Kak Fariz,"ucap Wirda lagi.
"Oh tidak apa-apa Dek Wirda.Biarkan saja di dalam bungkusan plastik.Siapa tahu nanti Pak Budi,Bik Siti dan Dek Wirda merasa haus tinggal mengambil saja di situ.Saya sengaja membeli banyak supaya tidak capek bolak-balik membeli makanan dan minuman,"tutur ustad Fariz kepada Wirda.
"Oh, baiklah jika begitu Kak Fariz,"balas Wirda.
Ustad Fariz pun tersenyum kecil lalu menghadap ke depan kembali diikuti Pak Budi dan adiknya Rafa.
__ADS_1
Sementara itu,Wirda yang duduk di belakang Ustad Fariz,Pak Budi dan Rafa meminum teh hangat dari gelas cup plastik melalui sedotan.
Dan Bik Siti menyantap makanan dari food pail dan Snack box yang dibelikan oleh ustad Fariz dengan begitu lahapnya.