Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Ke rumah sakit.


__ADS_3

Dengan menggunakan mobil ambulan dan di temani beberapa orang bapak-bapak yang membantu menolong ku dan Kak Reno.


Mobil ambulan pun meluncur menuju rumah sakit, yang letaknya cukup jauh dari puskesmas tempat ku berada saat ini.


Selama di perjalanan tanpa sadar aku terus memegangi tangan Kak Reno tanpa henti. Dimana perasaan ku benar-benar sangat mencemaskan keadaan dirinya saat ini.


Tetapi saat di perjalanan menuju ke rumah sakit. Pandangan mata ku sempat melihat mobil jeep milik pelaku penculikan terhadap diri ku dan Kak Reno.


Mobil itu berhenti di sisi kiri jalan, dan beberapa laki-laki bertubuh besar dan menyeramkan itu melihat ke arah sekitar.


DEG... DEG... DEG...


Hati ku menjadi sangat gusar dan penuh ketakutan lagi. Aku benar-benar resah jika orang-orang jahat itu dapat menemukan ku dan Kak Reno lagi.


Bapak-bapak yang ikut di dalam mobil melihat wajah ketakutan ku, dan menanyakan akan hal apa yang membuat ku begitu tampak gelisah seperti sekarang ini. Dan dengan penuh kekhawatiran, aku pun memberitahukan kepada bapak-bapak tersebut. Jika aku baru saja melihat pelaku kejahatan terhadap diri ku dan Kak Reno.


Salah satu dari bapak yang ikut serta di ambulan pun berkata.


"Nak Rani dan suaminya masih berada dalam bahaya. Para penjahat itu masih terus mencari keberadaan mereka."


Aku diam mendengarkan apa yang bapak itu katakan, tentunya dengan kecemasan yang begitu teramat sangat menyita perhatian diri ku.


"Benar sekali. Nak Rani dan suaminya harus segera berada di tempat yang aman dan dalam pantauan atau perlindungan pihak kepolisian. Karena sepertinya para penjahat yang telah menculik Nak Rani dan suaminya, masih terus memburu keberadaan Nak Rani juga sang suami, " ucap salah satu bapak yang lain.


Aku masih terus terdiam dan tidak berhenti berdo'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


"Robbi najjinii minal qoumidh dholimiin.


Ya Allah, selamatkanlah dan lindungilah aku dari orang-orang yang zalim itu, " pinta ku di dalam hati.


Dan sebisa mungkin aku harus bersikap tenang dalam kondisi seperti ini.


Saat kecemasan begitu menyergap diri ku.


Ku dengar dengan perlahan suara Kak Reno memanggil nama ku secara berulang-ulang. Dimana ia pun membalas genggaman tangan ku, dan sedikit menekannya.


Aku menatap wajah Kak Reno, yang matanya berkaca-kaca menatap diri ku.

__ADS_1


Tanpa terasa air mata ku berlinang melihat keadaan Kak Reno saat ini.


Sambil menyeka air mata ku.


Aku pun berusaha untuk mengatakan sesuatu kepada Kak Reno.


"InsyaAllah, kamu akan baik-baik saja Kak Reno. Kita akan segera tiba di rumah sakit. Bertahan lah dan tetap kuat Kak Reno, setidaknya demi diri ku. Dan aku berjanji tidak akan terjadi hal-hal yang buruk pada mu, " ucap ku sembari menatap Kak Reno dalam.


Kak Reno tersenyum kecil dalam lekukkan guratan bibir tipisnya, dengan pandangan matanya yang satu menatap diri ku.


Dan akhir ia terpejam kembali.


Setelah sekitar kurang lebih dua jam menempuh perjalanan. Akhirnya mobil ambulan yang kami tumpangi tiba di rumah sakit. Dengan cepat salah seorang petugas perawat dari puskesmas, yang ikut serta bersama kami segera turun dan menuju ke ruang IGD. Untuk meminta bantuan petugas medis yang berjaga dan menurunkan Kak Reno dari mobil ambulan.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, hingga Kak Reno kini sudah berada di bankar dorong dan memasuki ruang IGD.


Dimana tangan Kak Reno terus mengenggam diri ku dengan kuat, dan seakan-akan ia tidak ingin terpisah dari ku. Meskipun kondisinya dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Hingga akhirnya secara perlahan petugas medis berhasil melepaskan genggaman tangan Kak Reno dari jemari ku. Dan mereka bergegas untuk memberikan pertolongan juga tindakan medis pada Kak Reno.


Selama menunggu di luar ruang IGD.


Sampai-sampai bapak-bapak yang menolong ku dan Kak Reno, meminta ku untuk duduk juga bersikap tenang.


Namun, aku tidak dapat melakukan hal itu.


Hingga dapat memastikan jika kondisi Kak Reno dalam keadaan yang baik-baik saja.


Di saat aku terpuruk dalam rasa kecemasan dan ketakutan. Tiba-tiba seseorang memeluk diri ku erat. Aku terkejut dan langsung membalas pelukannya.


"Ummah, hiks... hiks... hiks, " ucap ku sambil menangis.


"Sayang, " panggil Ummah yang juga turut menangis seperti diri ku.


Ummah terus memeluk ku erat dan tidak berhenti mengusap kepala ku.


Sementara itu, Abi, Enjid dan Pak Budi bersama aparat kepolisian yang ikut serta bersama mereka.

__ADS_1


Melakukan percakapan dengan bapak-bapak yang telah menolong diri ku. Dimana aparat kepolisian juga meminta keterangan akan kesaksian dari bapak-bapak yang telah menolong ku dan Kak Reno.


Abi dan Enjid mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya terhadap bapak-bapak yang telah menolong diri ku dan juga Kak Reno. Tentunya sambil memberikan amplop berisi uang kepada bapak-bapak tersebut.


Meskipun awalnya mereka sempat menolak dan tidak menerima nya.


Tetapi Abi dan Enjid terus berusaha memaksa bapak-bapak tersebut untuk menerima tanda tali asih akan niat mereka.


Dan bapak-bapak yang menolong ku dan Kak Reno. Akhirnya menerimanya juga.


Abi, Enjid, Pak Budi serta aparat kepolisian berbincang-bincang dengan bapak-bapak tersebut, untuk mengetahui lokasi dimana aku dan Kak Reno telah di sekap.


Sementara itu, Ummah terus memeluk diri ku dan mendengarkan semua cerita ku.


"Bagaimana dengan keadaan Rani dan Bik Inah Ummah?, " tanya ku pada Ummah.


Ummah mengajak ku untuk duduk, lalu menjelaskan semuanya kepada diri ku.


"Sampai sekarang pun belum ada informasi mengenai putri Roy, sayang. Sedangkan Bik Inah saat ini sedang di rawat di rumah sakit bersama dengan bibi pengasuh Rani yang belum sadarkan diri."


"Lalu bagaimana dengan pak sopir Kak Roy, Ummah?, " tanya ku.


Ummah sedikit tertunduk lalu menatap ku.


"Saat Ummah, Abi, Enjid dan Pak Budi dalam perjalanan kemari. Pihak kepolisian dan rumah sakit memberikan informasi. Jika Sopir pribadi Roy sudah meninggal dunia, sayang. "


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, " sahut ku lemas. Ummah lalu memeluk ku lagi erat seraya mengusap punggung ku.


"Inilah yang Ummah takut kan sayang. Jika engkau dan Reno kembali ke kota ini. Karena kita tidak akan pernah tahu, siapa yang ingin berniat buruk dan mencelakai kalian berdua. Dan kalian berdua pun belum aman, karena kita belum mengetahui siapa dalang dari pelaku kejahatan terhadap kalian berdua, " ucap Ummah penuh kekhawatiran memandangi diri ku.


Aku terdiam dan tidak mampu untuk berkata apa pun juga.


Hingga dokter keluar dari ruang IGD dan memberikan informasi tentang keadaan Kak Reno yang kini sudah mendapatkan penanganan dengan baik.


Aku dapat bernapas lega dan merasa jauh sedikit lebih nyaman, mengetahui keadaan Kak Reno yang sudah di tangani dokter.


Meskipun saat ini Kak Reno belum tersadar.

__ADS_1


Dan setelah meminta izin dari dokter.


Aku pun segera masuk ke ruang IGD, untuk melihat dan sekaligus memastikan. Jika keadaan Kak Reno benar baik-baik saja.


__ADS_2