
Pyiarrrrr.......tar ....tar ...tar....
Suara piring di lempar ke lantai.
Wueekkk...
Cihh....
Iyuhhhhh.....
Suara beberapa orang memuntahkan makanan dan merasa jijik.
"KAMU BISA MASAK NGGAK SIH!,"bentak Kak Reno dengan keras.
"Semua yang dia lakukan itu tidak ada yang beres,"sambung Mbak Riska.
"Kenapa hanya diam,ayo cepat bersihkan semua muntahan dan piring itu,"perintah Bu Sri kasar padaku.
"Biar saya saja Bu yang membersihkannya,"sela Bik Siti.
"Kamu diam Bik Siti tidak usah ikut campur.Saya tidak menyuruh kamu membersihkannya.Saya menyuruh pembantu lainnya yang sedang berdiri melamun nggak jelas,"ucap Bu Sri.
"Pembantu yang lain?,"tanya Pak Sugeng.
"Masak papa nggak tahu sih.Itu si Rani,"jawab Bu Sri sambil tersenyum meremehkan.
"Ooooo,"sahut Pak Sugeng meneruskan membaca korannya.
Tanpa memperdulikan mereka yang terus dan setiap hari menghina serta mencari-cari kesalahanku,maka dengan sabar aku mengambil sapu,pengki dan kain lap membersihkan kotoran tersebut.
Namun,sekali dengan sengaja Kak Reno membuang sisa makanannya di lantai untuk membuatku merasa kesusahan.
Kulihat sekilas kearahnya yang tertawa senang melihatku kepayahan.
Bel pintu rumah berbunyi...
Bu Sri berteriak kepada Bik Siti untuk membuka pintu.
Dan tidak butuh waktu lama bagi Bu Sri segera menuju pintu depan lalu kembali menuju ke ruang makan.
"Maaf Bu Sri dan Pak Sugeng ada nak Rere bersama nak Roy,"ucap Bik Siti.
"Oh..Rere..?,"ucap Bu Sri sambil melirik penuh tanya ke arah suaminya.
"Rere anak Pak Nugroho mah,teman bisnisnya papa,"jawab Pak Sugeng.
"Oh...yang kapan hari menikah dengan Roy ya pah,"ucap Bu Sri dengan suara keras.
"Iya mah,"sahut Pak Sugeng.
"Sudah persilahkan saja mereka masuk Bik Siti,"perintah Pak Suprapto (kakek).
"Mau apa mereka kemari?,"tanya Kak Reno kesal dengan wajah tidak senang.
Kak Roy dan Rere kemari,ucapku dalam hati sambil membersihkan kotoran dan pecahan piring di lantai.
"Selamat pagi Om Sugeng,"sapa Rere dan memberi salam.
"Pagi juga Re,kamu hanya berdua saja dengan Roy?,"tanya Pak Sugeng.
"Iya Om.Oh...ya om ini papa menitipkan ini buat Om Sugeng,"ucap Rere sambil menyerahkan amplop cokelat besar yang tertutup dan map.
Pak Sugeng lalu dengan sigap menerimanya.
Kulihat wajahnya sumringah dan terlihat senang mendapatkan bungkusan tersebut.
Kemudian ia serahkan pada kakek.
Sementara kulihat Kak Roy tidak fokus.
Matanya melihat kesana kemari seperti mencari sesuatu yang belum ia temukan.
Aku tahu Kak Roy mencariku,ucapku dalam hati.
Tetapi dia tidak bisa melihatku yang berada di bawah meja makan di samping Kak Reno dan Mbak Riska.
"Sudah hanya mengantar itu saja.Ya sudah langsung pulang saja,"ucap Kak Reno ketus.
Raut wajah Rere mendadak syok seketika mendengar ucapan Kak Reno.
"Kamu ngomong apa sih Ren.Rere itu tamu kita.Ia anak teman bisnis papa Pak Nugroho orang terkaya nomor satu di Indonesia dan nomor dua di Asia,"puji Pak Sugeng.
Kak Reno terdiam mendengar kata-kata Pak Sugeng.
"Akh....Om Sugeng bisa saja,"ucap Rere terlihat senang.
Dan karena aku kurang fokus jariku tertancap pecahan piring.
"Aduh....auwwww,"teriakku kesakitan.
Semua orang melihat ke arahku termasuk Kak Roy.
"Rani...,"ucapnya sambil mencari posisiku.
__ADS_1
"Kamu sedang apa di situ?,"tanya Kak Roy kembali.
"Akh...Rani..sedang..,"ucapku terputus.
"Rani...kamu disini!,"ucap Rere heran seraya mendekatiku.
"Ya ampun tanganmu berdarah banyak sekali Ran,"kata Rere cemas sambil mendekatiku.
Aku melihat ke arah jari dan tanganku.
Dan benar darah mengalir.
Rere berusaha melihat lukaku tetapi Kak Roy dengan cepat menarik tanganku.
Ia mencabut pecahan piring yang menancap di jariku.
"Kamu tahan ya Ran,ini akan terasa sedikit sakit,"tutur Kak Roy.
"Auwww ...astaghfirullah,"tuturku meringgis kesakitan.
Bik Siti lari mendekatiku.
"Ya Allah nak Rani kenapa bisa terluka seperti ini,"ucapnya cemas.
"Bik Siti tolong ambilkan perlengkapan P3K,cepat ya Bik!,"ucap Kak Roy.
Menunggu Bik Siti datang Kak Roy menutup luka jariku dengan kaosnya.
"Kamu tidak apa -apa Ran?,"tanyanya.
Aku mengangguk.
Dan semua orang melihat ke arahku dan Kak Roy.
Termasuk Kak Reno menatap dengan wajah marah dan penuh kebencian.
Sementara Rere terdiam dan bingung melihat yang terjadi.
Aku berusaha melepaskan tanganku dari Kak Roy. Namun, ia terlalu kuat memegang tanganku.
Aku merasa tidak enak dengan Rere.
Kulihat ekspresi wajahnya seperti cemburu.
"Ini nak Roy,"ucap Bik Siti sambil menyerahkan kotak P3K pada Kak Roy.
Dan dengan cepat serta hati-hati Kak Roy telah selesai mengobati dan membalut lukaku.
Rere mendekatiku dengan banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan padaku,kulihat dari raut wajahnya yang bingung.
"Ehhhh ....hmmmm,"jawabku bingung.
Melihat ekspresi ku Bu Sri segera menjawab pertanyaan Rere.
"Oh...Rani disini adalah sebagai..pem..,"ucap Bu Sri terputus.
Kak Reno dengan segera memotong ucapan Bu Sri.
Dan dengan cepat ia menarik tanganku hingga aku dan Kak Roy terkejut.
Tidak lama setelah itu,Kak Reno merangkul pundakku.
"Rani adalah istriku,dia menantu di keluarga ini,"ucap Kak Reno lantang sambil mengelus pundakku.
Semua orang terkejut melihat sikapnya termasuk diriku begitu pula Rere.
"Ren!,"ucap Bu Sri sedikit berteriak.
Namun,Kak Reno memberikan isyarat kepada Bu Sri dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya supaya Bu Sri diam saja.
"APA? ISTRI?!,"ucap Rere bingung.
Aku berusaha melepaskan rangkulan tangan Kak Reno dari pundakku.
Tetapi ia malah mendekap tubuhku semakin kuat.
"Kamu diam saja,paham!,"bisik Kak Reno padaku.
Sekilas kulihat wajah Kak Roy yang memandang kesal ke arah Kak Reno.
"Ran,apa benar kamu sudah menikah?,"tanya Rere padaku.
Aku mengangguk perlahan.
"Kenapa kamu ingin tahu Rani sudah menikah atau tidak?,"ucap Kak Reno ketus.
Rere seperti tidak suka mendengar kata-kata Kak Reno yang terdengar kasar.
Lalu ia bertanya pada Pak Sugeng untuk mengoreksi kebenaran ku.
"Om Sugeng apa benar Rani adalah menantu di rumah ini?,"tanya Rere dengan serius.
Mata Pak Sugeng melirik ke arah istri dan ayahnya (Pak Suprapto).
__ADS_1
"Ini anak di bilangin nggak percaya bener!,"ucap Kak Reno lagi.
"Betul Rere.Rani istrinya Reno,ia adalah menantu di keluarga ini.Hmmmm....ayo sebaiknya kamu duduk dulu dengan Roy,"ucap Kakek mendekati Rere.
Rere mengikuti ajakan kakek.
"Rere mau minum apa?,"tanya kakek.
"Terserah pak,"jawab Rere.
"Jangan panggil pak,panggil kakek saja biar terdengar lebih dekat dan tidak ada jarak,"tutur kakek lembut.
"Hehehe....oh ya pak,eh kek,"ucap Rere.
"Bik Siti kemari!,"panggil kakek.
"Iya Pak Suprapto,"ucap Bik Siti mendekat.
"Buatkan dua minuman teh hangat untuk tamu kita beserta kudapan ringan,"perintah kakek.
"Hmmmm...malah merepotkan kek,"ucap Rere.
"Tidak merepotkan kok.Santai saja.Oh...yah bagaimana perasaan Rere setelah menikah dengan Roy?,"tanya kakek.
Dengan tersipu malu Rere pun menjawab
"Hmmmm...bahagia kek."
"Hahahaha...bagus kalau begitu."
"Ran,ayo kemari!,"panggil Rere padaku.
Dan Kak Reno terus merangkul pundakku dengan keras mendekati kursi Rere dan Kakek duduk.
"Sebenarnya kedatangan Rere kesini juga sekalian ingin mengundang seluruh keluarga Suprapto untuk makan malam di rumah.Sekalian syukuran kecil-kecilan atas pernikahan Rere dan Kak Roy,"ucap Rere.
"Kenapa harus syukuran,pernikahan kalian kan hanya siri belum resmi,"sahut Kak Reno sinis.
Dan lagi Rere tampak kesal mendengar ucapan Kak Reno.
"Ini hanya undangan private saja.Segera pernikahanku dan Kak Roy akan segera diresmikan dan papa akan menggelar acara resepsi yang meriah,"sahut Rere dengan nada agak tinggi.
Tidak lama Rere pun berdiri mendekati Kak Roy lalu dengan tiba-tiba ia pun menggandeng tangan Kak Roy mesra tanpa rasa malu atau pun canggung.
Sementara Kak Roy terlihat tidak nyaman dan berusaha melepaskan gandengan tangan Rere.
Namun,Rere menarik tangan Kak Roy kembali dan merangkulnya kuat.
"Bukankah kami terlihat sangat serasi sekali,"ucap Rere tersenyum bahagia.
DReggggg.....
Entah kenapa aku merasa tidak nyaman melihat Rere begitu dekat dengan Kak Roy.
"Ran,aku tidak menyangka kita akan berjumpa dengan cara seperti ini setelah lama tidak bertemu.Aku harap kamu dan suamimu ini ikut datang memenuhi undanganku ya,"ucap Rere bersemangat.
Aku pun membalas ucapan Rere dengan senyuman tipis sambil menahan rasa sakit di bahuku karena Kak Reno sangat keras merangkulku.
Rasanya bahuku terasa nyeri dan remuk.
"Pasti kami akan datang,"sahut Kak Reno.
"Ini minumnya tuan,"ucap Bik Siti yang datang membawa nampan berisi minuman dan makanan.
"Letakkan di atas meja Bik,"ucap kakek santai..
"Rere silahkan diminum dulu,"ucap Pak Sugeng.
"Baik om,"jawab Rere sambil menarik tangan Kak Roy dengan manja untuk mengikutinya duduk di sampingnya.
Kak Roy tidak dapat menolak meskipun ia ingin melakukannya.
Aku hanya memandangi Rere dan Kak Roy.
"Oh...ya om boleh Rere berkeliling melihat-lihat rumah ini?,"tanya Rere sambil memegang cangkir berisi minuman teh di tangannya.
"Bolehlah silahkan,"jawab Pak Sugeng.
"Terima kasih om.Saya ajak Rani ya om sudah lama nggak ketemu dan ingin ngobrol banyak,"ucap Rere dengan meringgis.
Sebelum Pak Sugeng menjawab.
Kak Reno langsung menyahut.
"Ayo jika kamu ingin melihat-lihat rumah ini.Aku dan Rani akan menemani,"sahut Kak Reno.
Rere terkejut mendengar ucapan Kak Reno.
Ia memandang ke arah Kak Reno yang melepaskan rangkulan tangannya dan kini menggenggam tanganku,lalu menariknya perlahan mengikuti langkahnya.
"Re,sana ikuti Reno.Katanya kamu ingin melihat-lihat rumah ini kan."ucap Pak Sugeng sambil menunjuk ke arah Kak Reno.
"Iya om,"ucap Rere.
__ADS_1
Rere tertegun sesaat,lalu menarik tangan Kak Roy bersamanya.
Mereka berjalan mengikuti langkah kakiku dan Kak Reno.