Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menemui Kak Roy


__ADS_3

Langkahku dan Wirda terhenti seketika saat keluar dari rumah sakit.


"Nak Rani,"panggil Pak Budi.


"Iya pak.Ada apa pak?,"tanyaku.


"Saya di tugaskan oleh Pak Suprapto kakeknya Mas Reno untuk mengantar nak Rani ke penjara menemui Mas Roy,"jawabnya.


Aku dan Wirda saling melirik dan menaikkan alis masing-masing dengan maksud saling memberi kode untuk ikut atau tidak dengan Pak Budi.


"Bagaimana Ran?Ikutkah kita dengan Pak Budi?,"tanya Wirda menatapku menunggu jawabanku.


Aku berpikir sejenak.


"Nak Rani ikut saja,nanti ada Pak Gukul yang ikut serta membantu mengurus semua berkas dan hal-hal yang diperlukan Mas Roy,"tutur Pak Budi.


Aku masih terdiam dan berpikir.


Takut-takut kalau kakek membuat sandiwara baru,pikirku.


Pak Budi memandang ke arahku.


Ia melihat kecemasan di wajahku.


"Nak Rani tidak perlu takut.Mas Reno atau anggota keluarga Suprapto lainnya tidak ada di mobil.Mari nak Rani,kita berangkat sekarang,"pintanya sambil mengintruksikan diriku untuk segera masuk ke dalam mobil.


Pak Budi memandangku kasihan.


"Nak Rani perlu saya bantu?,"tanyanya.


"Hmmm....tidak usah pak,terima kasih,"balasku.


Dengan mengucap Bismillah dari dalam hati.Aku memantapkan hati melangkah dengan sedikit pincang dibantu Wirda menuju mobil.


Sesampainya di mobil,terlihat ada Pak Gukul yang sedang duduk di kursi depan mobil.


Ia menoleh kepadaku sambil tersenyum sekilas.


Pak Budi membantuku membuka pintu mobil.


Aku dan Wirda lalu duduk di bagian kursi tengah.


Brmmmmmm....


Mobil pun melaju.


Namun,beberapa saat berhenti karena macet.


"Kenapa Pak Budi?,"tanyaku.


"Ada perbaikan jalan nak Rani,"jawab Pak Budi.


Cukup lama kami terjebak kemacetan yang cukup parah.


Hingga Pak Gukul menyuruh Pak Budi mengambil alternatif rute lainnya.


Tetapi,perjalanan menuju ke tempat Kak Roy di tahan semakin bertambah jauh.


Hmmmmm.....entah kenapa aku memiliki firasat yang tidak enak.


Dadaku berdetak kencang sesekali terasa nyeri lalu pergi menghilang.


Keringat dingin menyelimuti tubuhku seketika.


"Ran,kamu baik-baik saja?,"tanya Wirda sambil memegang keningku dengan telapak tangannya.


"Iya Wir,"jawabku.


"Tetapi kamu tampak pucat Ran dan tanganmu dingin sekali,"ucap Wirda cemas.


"Tidak apa-apa Wir,in syaAllah aku akan baik-baik saja.Aku hanya merasa khawatir dan cemas.Entah...apa yang menganggu pikiranku.Hatiku tiba-tiba tidak tenang,seolah-olah sesuatu yang buruk telah terjadi,"ucapku.


Aku memandang ke depan mobil.


Kulihat pada pantulan kaca spion dalam mobil mata Pak Budi dan Pak Gukul melirik ke arah kami.


Mereka terlihat mencurigakan,batinku.


Seperti ada yang aneh dan mereka sembunyikan,gumamku dalam hati.


"Pak,kok lama sekali ya sampainya?.Sepertinya dari tadi kita hanya berputar-putar mengelilingi jalan ini,"sahut Wirda sambil memandang ke luar jendela kaca mobil.


"Akhh.....ini...nak Wirda....Anu...Pak Budi kelupaan jalannya,jadi ini...bingung...,"ucapnya terbata dan gugup.


Sementara Pak Gukul fokus memencet telepon genggamnya dan sesekali melirik tanpa berkomentar.


"Aduh. ...pantesan Pak Budi.Yaudah Pak Budi dari sini langsung belok kanan saja.Nanti ada perempatan jalan Pak Budi ambil kiri.Wirda sering kok lewat jalan ini.Jadi,rutenya Wirda sudah hafal,"ucap Wirda sambil memandang ke arah Pak Budi.


"Iy...iy...iya nak Wirda,siap,"jawab Pak Budi tegang.


Aku hanya terdiam memandang gelagat Pak Budi yang aneh tidak seperti biasanya.


Sepertinya ia merasakan jika aku mulai memperhatikannya dan mencurigainya.


Brmmmmmmm.....


Mobil kembali melaju dengan cepat.


Sesampainya di rumah tahanan tempat Kak Roy di tahan.Dengan cepat Pak Gukul masuk ke dalam meninggalkan aku da Wirda.


Sementara Pak Budi izin pergi entah kemana.


Perlahan dengan menahan rasa sakit Wirda membantuku berjalan.


Namun,belum berapa lama aku berjalan.


Kulihat kakek dan Pak Sugeng dari kejauhan.


Langkahku terhenti menatap mereka berdua yang sedang berbicara dengan Pak Gukul dan salah satu pria yang berdiri di samping Pak Gukul sambil membawa map dan tas besar.


"Ada apa Ran?kok berhenti jalannya?,"tanya Wirda menatapku.


"Hmmm..itu Wir ada kakek dan papa Kak Reno,"ucapku sambil menunjuk ke arah mereka.


Wirda menoleh,"Iya Ran,benar mereka.Kira-kira kenapa mereka kemari ya?," ucap Wirda seraya menerka keadaan.


"Aku tidak tahu Wir,tetapi perasaanku tidak enak,"sahutku.

__ADS_1


"Jadi bagaimana Ran?kita langsung masuk ke dalam atau menunggu sampai mereka pergi?,"tanya Wirda.


"Kita tunggu di sana saja dulu Wir,kita tunggu sampai mereka pergi,"ucapku sambil menunjuk pada kursi tunggu yang kosong.


"Ok kalau begitu,ayo kita kesana,"ajak Wirda sambil menuntunku berjalan.


Aku dan Wirda duduk sambil menatap ke arah sekitar.


Namun,suara seseorang pria menganggu pendengaranku.


Aku sepertinya mengenal suara tersebut,batinku sambil mencari sumber suara itu berasal.


Yah,tidak jauh dariku dan Wirda duduk kulihat seorang pria dewasa yang sudah berumur tetapi tidak terlalu tua sedang menelpon dengan telepon genggamnya.


Kemeja batiknya aku kenal sepertinya,pikirku.


Akh....iya itu Pak Budi,jawabku dalam hati.


Maka dengan penasaran dan antusias kecurigaanku kepada Pak Budi maka aku bangkit dari duduk seraya mendekati dan mengguping pembicaraannya.


"Ran,kamu mau kemana?,"tanya Wirda ingin tahu.


"Stttttttt.....,"ucapku menyuruh Wirda mengecilkan volume suaranya.


Wirda mengangguk mengerti lalu ikut berdiri di sampingku.


"Kamu mau kemana?,"Wirda mengulangi pertanyaannya seraya berbisik kepadaku.


"Itu coba kamu lihat,"ucapku pelan sambil menunjuk.


"Itu kan Pak Budi!,"kata Wirda.


"Betul Wir,aku merasakan seperti ada yang aneh dengan Pak Budi.Seperti ada yang ia sembunyikan.Kamu merasa tidak ia seolah-olah membuat kita berlama-lama menuju kesini,"ucapku.


"Iya Ran,aku juga berpikir begitu."


"Baiklah kalau begitu untuk memastikan kecurigaan kita benar atau tidak.Kita dengarkan pembicaraanya dengan siapa,"ucapku mengajak Wirda.


Wirda mengangguk setuju dengan ajakanku.Perlahan kami berdua mendekati Pak Budi untuk mengguping pembicaraanya dari balik dinding di dekat ia berdiri.


"Iya Bu,perintah bapak sudah saya jalankan.Saya dan nak Rani baru tiba disini.Sesuai permintaan bapak saya membuat perjalanan kemari semakin lama agar nak Rani tidak menganggu rencana Pak Suprapto dan Pak Sugeng,"ucap Pak Budi membalas pertanyaan seseorang dari telepon genggam miliknya.


Aku dan Wirda saling melihat.


"Ran,benar dugaanmu,"bisiknya.


"Iya,"jawabku dengan berbisik.


Lalu kami kembali mendengarkan percakapan Pak Budi dengan seseorang dari sambungan teleponnya.


"Sepertinya acara pernikahannya sudah selesai Bu.Tepat saat nak Rani sampai kemari,"ucap Pak Budi.


Pernikahan? Pernikahan siapa? tanyaku dalam hati sambil memandang Wirda yang juga terlihat bingung.


"Nak Roy dan keluarganya masih berada di dalam Bu,bersama istrinya yang baru saja ia nikahi secara siri.Dan nak Rani belum mengetahui berita ini.Ia pasti terkejut mengetahuinya.Kalau begitu saya tutup teleponnya Bu,"ucap Pak Budi sambil mematikan telepon genggamnya dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.


DReggggg......


Napasku terasa sesak dan tersenggal.


Ya Allah,permainan apa lagi yang mereka buat sekarang,ucapku dalam hati.


"Ran,apa aku tidak salah mendengar tadi.Kak Roy menikah?tetapi dengan siapa?dan kenapa tiba-tiba?,"tanya Wirda terkejut.


Aku masih terdiam dan belum mampu merespon pertanyaan Wirda.


"Aku yakin sekali Ran,ini pasti rencana keluarga Kak Reno.Mereka ingin menjauhkanmu dari Kak Roy dan memaksanya menikah siri dengan seseorang.Tetapi siapa perempuan itu?Apakah Mbak Riska? Akh...pasti bukan.


Lalu siapa?,"ucap Wirda sambil berpikir.


"Ayo Wir,kita bertanya kepada Pak Budi sebelum ia pergi,"ajakku sambil memegang tangan Wirda.


"Tunggu Ran,kamu yakin kita bertanya kepada Pak Budi?Apakah ia akan memberitahu kepada kita tentang kebenarannya?,"tanya Wirda ragu.


"Aku juga ragu Wir,tetapi setidaknya kita berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Roy,"ucapku dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah jika menurutmu itu baik,Ayo!,"Wirda menarik tanganku.


Sebelum Pak Budi melangkah pergi.


Aku dan Wirda menghentikannya.


Pak Budi begitu sangat terkejut melihat kehadiranku dan Wirda yang datang secara tiba-tiba.


"Nak Rani....nak Wirda,"ucapnya gugup.


"Pak Budi kita tidak akan berbasa-basi.Kami sudah mendengar semua percakapan antara Pak Budi dan Bu Sri.Untuk itu Rani mohon Pak Budi katakan yang sebenarnya.Apa yang terjadi pada Kak Roy,pak?tolong katakan sejujurnya pak,"pintaku dengan mata berkaca-kaca.


Pak Budi terlihat gelisah dan takut.


Tetapi,dari sorot matanya ia iba melihatku.


"Rani mohon Pak,katakan.Pak Budi tidak perlu takut.Rani tidak akan memberi tahu siapapun jika Pak Budi yang memberi tahu Rani,"ucapku memelas.


Pak Budi terdiam seraya menelan air ludahnya.Wajahnya terlihat tegang dengan keringat yang mengguyur keningnya.


"Iya Pak Budi,apa Pak Budi tidak kasihan melihat Rani?,"ucap Wirda membantuku menekan Pak Budi.


Setelah terdiam agak lama.


Pak Budi pun berbicara sambil mengusap keringat di keningnya dengan sapu tangan yang ia ambil dari saku celananya.


"Sebenarnya bapak takut nak mengatakan ini.Tetapi naruni bapak mengatakan, bahwa bapak harus memberi tahu nak Rani.


Selama ini bapak yang membantu nak Roy memberi setiap detail informasi keadaan nak Rani setelah nak Roy dan keluarganya di asingkan oleh keluarga Suprapto ke Swiss."


"Jadi,tiba-tiba Kak Roy pulang saat acara pesta pernikahan itu juga atas bantuan Pak Budi?,"tanyaku.


"Iya nak,anggap saja Pak Budi menjadi mata-mata nak Roy."


"Dan melakukan semua itu.Apakah Pak Budi tidak takut ketahuan dengan keluarga Suprapto?,"tanyaku lagi.


"Awalnya ketakutan itu pasti ada nak.Tetapi bapak yakin dan bergantung kepada Allah saja.Sebenarnya bapak sudah lama mengetahui rencana jahat keluarga Suprapto pada nak Rani.Namun,bapak bingung mengatakannya pada nak Rani sebab bapak tidak mempunyai bukti.Oleh karena itu,bapak membagi semuanya kepada nak Roy,"ucapnya sedih.


"Lalu kenapa Kak Roy harus menikah?,"tanyaku lagi.


"Itu bagian rencan mereka juga untuk menjauhkan nak Roy dan nak Rani.Mereka khususnya Pak Suprapto dan Pak Sugeng mengancam akan menyakiti nak Rani jika nak Roy tidak menuruti perintah mereka yaitu memaksa nak Roy melakukan pernikahan siri dengan putri kolega bisnis mereka yang ternyata putrinya sudah lama menyukai nak Roy."

__ADS_1


"Ya Allah,Rani pikir dengan menuruti apa yang mereka mau.Mereka akan melepaskan dan tidak menganggu kehidupan Kak Roy tetapi sekali lagi mereka begitu licik dan jahat.Hiksss...hikkksss....sekali lagi.....kehidupan Kak Roy hancur dan rusak karena Rani.Huhuhuhuhu......,"ucapku sambil menangis terisak.


Pak Budi memandang ke arahku iba.


Begitu pula dengan Wirda.


"Sudahlah Ran,ini semua bukan salahmu.Ini semua sudah bagian dari takdir yang Allah tetapkan.Kamu jangan menangis Ran,aku jadi ikutan sedih,"bujuk Wirda menenangkan diriku.


"Iya nak,benar apa yang dikatakan nak Wirda.Nak Rani harus kuat dan tidak boleh bersedih.Nak Roy melakukan semua ini karena ia ingin nak Rani baik-baik saja sebab nak Roy sangat mencintai nak Rani,"ucap Pak Budi.


Pak Budi melanjutkan ucapannya.


"Dulu almarhum kakek nak Rani selalu membantu keluarga Pak Budi dan memfasilitasi semua keperluan Pak Budi dan keluarga.Beliau adalah orang yang sangat baik hingga kebaikannya dimanfaatkan oleh Pak Suprapto untuk menghancurkan kehidupannya,"tutur Pak Budi.


Mendengar perkataan Pak Budi aku terkejut dan menatap ke arahnya.


"Pak Budi bagaiamana bisa tahu tentang kakek Rani?,"tanyaku penasaran sambil sesunggukkan.


"Dulu ayah dan ibu Pak Budi bekerja di kediaman rumah almarhum kakek nak Rani.


Beliau tidak pernah membedakan antara Pak Budi dan putra tunggal beliau almarhum Pak Sugeng.Dan Pak Budi mengetahui semua kejahatan yang di lakukan Pak Suprapto kepada kakek nak Rani ,ayah dan ibu nak Rani.Tetapi sekali lagi Pak Budi tidak bisa berbuat apapun.


Oleh karena itu Pak Budi bekerja menyamar sebagai sopir di keluarga Suprapto untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan mereka nak,"jelas Pak Budi panjang lebar.


Air mataku mengalir.


Tesss....tessss....tessss ...


Pak Budi mengusap kepalaku pelan.


"Pak Budi banyak berhutang budi pada keluarga nak Rani.Terutama almarhum kakek Rani yaitu bapak Widiyanto.Nak Rani tidak perlu merasa sendiri Pak Budi bersama kamu.Tetapi,nak Rani harus banyak bersabar karena keterbatasan kemampuan Pak Budi dan semoga nak Rani memahaminya,"ucapnya pelan.


"Terima kasih pak,"kataku sambil menyeka air mataku.


"Ya sudah,ayo kita masuk agar Pak Suprapto dan Pak Sugeng tidak curiga.Tetapi,nak Rani berjalan duluan bersama nak Wirda baru setelah itu Pak Budi menyusul,"saran Pak Budi.


Aku dan Wirda mengangguk lalu pergi meninggalkan Pak Budi.


Namun,belum sempat aku dan Wirda masuk ke dalam.


Kak Roy keluar bersama orang tuanya.


Dan tentu Pak Sugeng,kakek dan Pak Gukul serta asistennya dan beberapa orang lain yang tidak ku kenal berada di sana.


Aku terhenti menatap wajah lusuh dan lemas Kak Roy dari kejauhan.


Ia membalas menatapku dengan tatapan dingin dan dalam.


Kulihat garis kesedihan tergambar jelas di wajahnya.


Hatiku terasa teriris melihatnya seperti itu.


Ia berada di dekatku namun terasa semakin jauh.


Seolah jarak yang begitu besar memisahkan ku dan Kak Roy.


Maafkan aku kak,karena diriku Kak Roy harus mengalami kesulitan terus menerus,batinku dalam hati.


Mataku berkaca-kaca.


Wirda menggandeng tanganku untuk membuatku kuat.


"Rani ....,"teriak seseorang memanggilku.


Lamunanku tersentak mencari sumber suara yang memanggil namaku.


"Ran,apa kabar?,"panggilnya.


"Rere!,"ucapku terkejut.


Ia memelukku erat.


"Lama kita tidak bertemu Ran,aku kangen sama kamu,"ucapnya memandangku.


"Siapa Ran?,"tanya Wirda penasaran.


"Oh...Wir,kenalin ini Rere.Teman baikku di SMP,"kataku.


"Dan kenalin Re,ini Wirda teman baikku juga."


Mereka berdua berkenalan satu sama lain.


"Apa yang kamu lakukan disini Re?,"tanyaku heran.


Rere tampak tersipu malu dan gerogi menjawab pertanyaanku.


Ia banyak berubah baik penampilan dan sikap,ucapku dalam hati.


Wirda dan diriku saling memandang.


"Hmmmm....Ran,aku baru saja melakukan akad nikah?,"tuturnya.


"Akad nikah?,"tanyaku.


"Iya,baru menikah secara siri karena mendadak.Itu suamiku Roy namanya,"ucap Rere sambil menunjuk ke arah Kak Roy.


"HAh!,"ucap Wirda kaget.


Aku terdiam dan terpaku.


Bibirku bergetar.


Rasa sakit yang menusuk.


Kakek dan Pak Sugeng melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum sinis.


Sementara Kak Roy termangu menatap ke arahku.


Ya Allah,permainan apa lagi yang kakek dan Pak Sugeng rencanakan.


Aku lemas.


Brukkkkk....


Tubuhku lunglai dan lemas.


Aku terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2