Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Permintaan Kak Aisyah.


__ADS_3

Rangkaian acara demi acara prosesi pesta pernikahan Kak Rafa sudah selesai digelar. Kesemuanya berjalan dengan lancar tanpa kendala. Dan sekarang adalah acara terakhir, yakni ngunduh mantu yang merupakan upacara penyambutan kehadiran mempelai wanita sebagai anggota keluarga baru di keluarga mempelai pria. Berbeda dengan rangkaian pernikahannya seperti akad dan pesta pernikahan yang digelar secara intimate wedding yang sederhana.Namun, kali ini acara ngunduh mantu ini kodigelar secara mewah. Dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima milik keluarga Imandar yang terletak di pusat Kota,tetapi acara ini tetap kental dengan konsep yang mengusung nuansa islami.Tidak ada pembatasan tamu undangan, sebab dalam pesta ngunduh mantu ini Enjid dan Abi menggundang seluruh teman relasi bisnis mereka, baik dari kalangan apapun.


Dalam acara ngunduh mantu ini digelar di ballroom hotel untuk menampung para tamu undangan yang berjumlah kurang lebih 7000 orang. Dengan dekorasi khas bertema Timur Tengah diambil dengan penataan bentuk masjid di bagian depan,dan acara ngunduh mantu ini bertema Classic & Glamour Middle East Style.Dengan menggabungkan hal serba klasik dan vintage dalam sentuhan Elegant and Glamour. Kali ini ada konsep pemikiran Ummah begitu kental disini dalam acara ngunduh mantu. Yah,sudah tidak asing lagi jika Ummah sangat menyukai sesuatu yang indah dan budaya ke Timur Tengahan, sebab Ummah masih memiliki darah Arab.


Salah satu faktor yang mendukung perawakan tubuh Kak Rafa dan Ustad Fariz begitu tinggi besar dengan paras yang paripurna melelehkan para hawa yang memandang mereka dengan pesona ketampanan dan very good quality personality traits.


Di dalam acara ngunduh mantu bertema ala timur tengah yang bernuansa serba putih dan elegan, membuat Kak Rafa dan Wirda tampak serasi dengan busana ala Ratu dan Raja Middle East.Acara ngunduh mantu yang digelar pada malam hari ini berkombinasi dengan konsep classic vintage yang tetap membuat keduanya terlihat elegan. Terlihat pemilihan Colour palette yang mendukung tema dekorasi acara,seperti : pastel, champagne, ivory dan sentuhan emas untuk efek glamour.


Malam ini Wirda tampil sangat memesona. Apalagi saat prosesi Wirda berjalan di area red carpet menuju pelaminan , diikuti dengan ballgown yang memiliki panjang 5 meter full dengan pearls dan crystals.Dimana gaun pengantinya juga dipenuhi dengan bordiran emas, pernak-pernik gemerlap, dan juga tak lupa sabuk emas yang menghiasi pinggang Wira,yang membuat semua tamu undangan takjub dan begitu terpesona. She looked so beautiful at her best on her wedding day.


Wirda terlihat seperti puteri-puteri Maroko dengan riasan wajah nude dan bold eyes, sehingga memiliki kesan mata yang indah dan tajam. Tentunya dengan hijab yang menutup kepalanya, bersama mahkota full kristal sebagai aksesoris hiasan di kepalanya serta lukisan hena body painting putih pada tangan Wirda,sehingga membuatnya tampil cantik dengan nuansa islami khas Timur Tengah.


***


Di tengah keramaian acara pesta ngunduh mantu Kak Rafa dan Wirda, aku tetap menepi dari hiruk pikuk limpahan tamu undangan yang begitu banyak dan terbagi -bagi menjadi beberapa sesi. Aku berjalan sebotol air mineral menuju ke taman hotel yang terhubung langsung dengan ballroom tempat digelarnya acara ngunduh mantu oleh keluarga Imandar.


Huft,


Terasa lebih sejuk disini setelah berada di dalam penuh dengan kepenatan. Mataku memandang sekitar mencari kursi di taman, supaya tubuhku dapat beristirahat sejenak untuk melepaskan rasa lelah. Akhirnya, pandangan mataku menemukan kursi kayu panjang berwarna silver yang berdekatan dengan air mancur. Langkah kakiku perlahan menuju ke kursi yang akan kutuju, suasana hijau yang asri membuat mata dan perasaan menjadi nyaman. Terdapat pula jenis tanaman keras, dihiasi dengan ornamen batu alam hias dan pasir sebagai penambah kesan estetikanya.Tanaman hias berdaun hijau hingga tanaman hias bunga yang cantik dan berwarna-warni menjadi daya tarik tersendiri dalam pandanganku.


Aku sudah duduk pada kursi taman menghadap kolam renang yang biru ditemani suara gemercik air mancur memecah gema suara berisik yang masih terus berputar di telingaku.


Aku membuka tutup botol air mineral perlahan sambil mengucapkan basmalah, aku meminum tiga tegukkan besar air untuk membasahi kerongkonganku yang terasa kering.


Ingatanku kembali pada pertemuanku dengan Kak Reno. Ucapannya akan Rere yang menemui dirinya dan tawaran Rere untuk membujuk Kak Reno menjadi tanda tanya besar untukku akan apa sebenarnya tujuan Rere, dan yang sedang ia sembunyikan sekarang.


Dan dalam ketermenungan diriku, tiba-tiba Kak Aisyah datang menghampiri diriku dan duduk di sampingku.


"Apa yang sedang Dek Rani lakukan disini seorang diri?, " tanyanya sambil memandangiku.


Aku pun tersenyum kepadanya.


"Lalu apa yang Kak Aisyah lakukan juga disini?, " uacapku bertanya balik.


"Dek Rani tidak menjawab pertanyaanku, hihihi."


Kak Aisyah tertawa lalu berkata lagi kepadaku.


"Saya penat di dalam Dek Rani, terlalu banyak orang. Sehingga saya ingin keluar mencari udara sejuk, lalu saat saya berjalan menuju ke taman dari kejauhan saya melihat Dek Rani sedang duduk seorang diri, sehingga saya langsung saja kemari. "


"Berarti Kak Aisyah sama dengan Rani, yang tidak terlalu suka dengan keramaian yah?, " tanyaku.


Kak Aisyah tersenyum kecil sambil menyipitkan kedua matanya.


Kami berdua pun mengobrol banyak hal yang membuat kami semakin akrab dan dekat.


"Masih ingat kah Dek Rani awal pertama kita bertemu, saat hujan angin yang begitu lebat ketika itu?. "


Aku mengangguk pelan.


"Tidak terasa dari situ, Dek Rani sekarang semakin dekat dengan Ustad Fariz dan keluarga Ustad Fariz yah. "

__ADS_1


DEG...


Hatiku merasa tidak enak mendengar akan perkataan Kak Aisyah. Mata kami saling menatap, meskipun aku melihat Kak Aisyah melempar senyum ke arahku. Tetapi aku merasakan ada sesuatu hal tersirat dari balik tatapannya padaku. Namun, lisanku tetap diam untuk tidak bertanya kepadanya tentang apa maksud ucapannya kepadaku. Aku membiarkan Kak Aisyah sendiri yang akan menuturkan gerangan hal apa akan mengganjal di dalam hatinya akan ucapannya tersebut.


Lama Kak Aisyah terdiam, dan sesekali aku melirik ke arahnya untuk menelisik apa yang ia lakukan, dan benar dugaanku ternyata Kak Aisyah berusaha untuk menyusun kata-katanya untuk membawa percakapan kami pada inti masalah ganjalan hatinya kepada diriku.


"Apakah Ustad Fariz pernah mengatakan sesuatu kepada Dek Rani?, " tanya Kak Aisyah sedikit berpikir dan menatap diriku.


Aku merasa bingung akan maksud pertanyaan dari Kak Aisyah.


"Maksud kakak bagaimana? Rani tidak paham, pastinya banyak hal yang Rani dan Ustad Fariz bicarakan. "


Aku memandang ke wajah Kak Aisyah sambil mengkerutkan dahiku.


"Yah,misalnya tentang perasaan Ustad Fariz, " ucap Kak Aisyah dengan bimbang.


Aku semakin bingung akan arah pembicaraan Kak Aisyah.


"Perasaan? Maksud kakak perasaan siapa. Sebaiknya Kak Aisyah bicara langsung saja pada pertanyaan yang jelas Kak. Soalnya Rani bingung akan pertanyaan dari kakak, " ucapku serius.


Kak Aisyah tampak diam dengan wajah dinginnya setelah mendengar perkataan dariku. Aku pun memalingkan wajahku darinya dan menatap kolam renang yang berada agak jauh dari tempatku berada, sengaja kulakukan untuk membuat Kak Aisyah tidak merasa tegang sehingga dapat mengutarakan isi hatinya yang mengganjal. Tidak lama saat aku sudah memalingkan pandanganku darinya tangan Kak Aisyah memegang tanganku dan sontak saja aku langsung melihat ke wajahnya, kali ini aku melihat ekspresi wajah Kak Aisyah begitu sangat serius menatap diriku.


" Dek Rani sebenarnya kakak tahu tidak pantas untuk kakak mengatakan hal ini kepada dirimu. Tetapi setelah sekian lama saya memendam perasaan ini dan melihat kedekatan antara Ustad Fariz dan Dek Rani perlahan membuat hati saya merasa sakit dan tidak nyaman."


Kak Aisyah pun lalu terdiam sebentar untuk menyusun kembali kata-katanya, dan aku pun yang memandang Kak Aisyah sekarang perlahan memahami kemana arah pembicaraannya kepadaku.


Aku melihat Kak Aisyah begitu berat untuk mengatakan ganjalan hatinya kepadaku, tetapi ada sesuatu hal yang membuat dirinya memiliki keberanian untuk mengungkapkan ketidaknyamanannya kepadaku.


Aku terdiam tanpa dapat berkata apapun, setelah mendengarkan apa yang Kak Aisyah katakan. Sungguh di luar dugaanku, sosok seperti Kak Aisyah dapat berkata demikian dan tidak dapat menahan perasaannya. Tetapi aku menginsyafi dirinya, karena Kak Aisyah juga seorang hamba biasa yang tidak luput dari hawa nafsu seperti halnya diriku.


Setelah mengatakan ganjalan hatinya kepadaku. Kak Aisyah pun pamit pergi meninggalkan diriku yang masih duduk termenung memikirkan kata-katanya kepadaku.


Cinta...


Yah, cinta yang membuat Kak Aisyah berani untuk meminta kepadaku. Cintanya pula yang membuat dirinya melepaskan semua harga dirinya untuk mengutarakan isi hatinya.


Dari sorot matanya kulihat ia begitu sangat berharap kepadaku untuk pergi menjauh dari kehidupan Ustad Fariz.Sebuah permintaan yang membuatku tersentak dan memikirkannya cukup lama.


Aku begitu tidak menyangka jika kehadiran diriku di dalam kehidupan Ustad Fariz dan keluarganya dapat menyakiti hati dan perasaan Kak Aisyah.


Hufh....


Berat rasanya perasaan hatiku untuk melakukan hal yang harus kuambil, karena permintaannya itu cukup sulit untuk kulakukan. Karena keluarga Ustad Fariz sudah kuanggap seperti keluarga ku sendiri, dan jika tiba-tiba aku menjauh dari mereka tentu akan menyakiti perasaan mereka.


Di saat aku sedang larut dalam lamunanku.Tante Desi pun datang menghampiriku.


"Lho kok Rani malah sendirian disini Nak?,"tanya Tante Desi sambil memegang bahuku dengan lembut.


Aku terkejut dengan kedatangan Tante Desi.


"Sejak kapan Tante berada disini? ,"tanyaku memandang Tante Desi.

__ADS_1


"Tante baru saja datang Nak.Tadi tante mau pulang terus tanpa sengaja dari kejauhan tante melihat Rani,jadi tante langsung saja kemari.Oh ya kalau tante boleh tahu apa yang sedang Rani pikirkan,hingga duduk sendirian disini.Apalagi ini kan juga sudah malam?."


"Tidak Tante.Alhamdulillah Rani baik-baik saja ,namun memang hanya sedikit hal yang menganggu pikiran Rani."


Tante Desi membelai kepalaku dengan lembut.


"Jika boleh tahu,apa yang mengganggu pikiran Rani.Rani dapat membaginya dengan Tante untuk menceritakan semua hal yang menganggu pikiran Rani."


Aku tersenyum sambil menyipitkan mataku.


"Tidak apa-apa Tante.Bukan hal yang penting kok tante,"kataku mengalihkan pembicaraan.


"Benarkah itu Ran?."


"Iya tante,"kataku sambil memegang jemari tangan Tante Desi untuk meyakinkannya.


"Baiklah jika Rani berkata demikian,tetapi tante minta kepada Rani, jika Rani mempunyai masalah Rani dapat membaginya dengan tante ya nak."


"Iya Tante.InsyaAllah ,"kataku.


Setelah itu,Bik Siti ditemani Ustad Fariz datang menghampiriku dan Tante Desi.


"Aduh,ternyata Nak Rani disini toh.Bibi dan Nak Fariz muter-muter nyariin lho,"ucap Bik Siti sambil memegang kepalaku.


"Maaf Bik,tadi di dalam ramai sekali.Rani merasa penat jadi Rani duduk dulu disini menghirup udara segar.Dan saat Rani mau pamit ke bibi.Rani lihat bibi sedang sibuk,sehingga Rani langsung saja datang kemari."


"Iya sudah tidak apa-apa Nak Rani.Nak Fariz yang begitu mencemaskan Nak Rani,dan terus mencari keberadaan Nak Rani.Oh ya ini susu coklat hangat kesukaan Nak Rani yang dipesankan oleh Nak Fariz khusus untuk Nak Rani."


Bik Siti lalu memberikan cup gelas berisi susu coklat hangat kepadaku.


"Ya ampun Nak Fariz begitu perhatian sekali ya kepada Nak Rani,"kata Tante Desi tersenyum.


Ustad Fariz pun tersipu malu sambil sesekali melirik ke arahku.


Aku pun yang melihat Ustad Fariz kembali teringat akan ucapan Kak Aisyah kepadaku.


Setelah meminum susu coklat hangat.Ustad Fariz kemudian mengajak kami semua untuk masuk ke dalam mengikuti sesi foto bersama Kak Rafa dan Wirda.


Ustad Fariz sengaja memperlambat langkah kakinya untuk berbicara kepada diriku.


" Apakah Dek Rani baik-baik saja?, "tanyanya dengan wajah khawatir.


Aku pun mengangguk pelan tanpa berkata kepadanya.


" Tetapi saya lihat Dek Rani sedang memikirkan sesuatu. Saya tidak meminta Dek Rani untuk menceritakan hal yang menganggu pikiran Dek Rani, tetapi saya meminta Dek Rani jangan terlalu keras untuk terus memikirkan sesuatu hal yang akan dapat menganggu kondisi kesehatan Dek Rani, karena saya akan sangat cemas sekali jika Dek Rani sampai jatuh sakit. "


Ustad Fariz begitu serius mengatakan hal itu kepadaku.


Mengapa dirimu begitu mencemaskan diriku Ustad Fariz, batinku sambil melihat ke arah Ustad Fariz yang juga melihat ke arahku.


Aku pun diam, dan kami berdua sama-sama menundukkan pandangan mata kami dan terus berjalan menuju ke pelaminan untuk berfoto bersama yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2