
Kupercepat langkahku menemui dokter.Dengan badanku yang sedikit terhuyung aku hampir saja jatuh."Ran,kamu nggak apa-apa,"tanya Kak Roy yang menghampiriku cemas.Aku mengangguk padanya dan bergegas menemui dokter.Kak Roy pun mengikutiku.Tidak lama dokter pun berkata,"Siapa keluarga dari Bu Tari Puspitasari".Aku langsung menjawab,"Saya pak.Saya anaknya."Dokter memandangku,"Selain kamu nak,adakah keluargamu yang cukup dewasa."Aku menggeleng.Tetapi tiba-tiba Pak Sugeng dan Bu Sri datang."Saya perwakilan keluarganya pak,"jawab Pak Sugeng.Dokter pun kemudian mengajak Pak sugeng,Bu Sri dan diriku ke ruangannya untuk membahas masalah yang penting.Semula aku tidak diizinkan ikut,namun Pak Sugeng menjelaskan kepada dokter,barulah aku diizinkan.Dalam perjalanan menuju ruangan dokter Mbak Siska memelukku sebentar.Setelah itu Bu Sri menggandeng tanganku seperti putrinya sendiri.
Setibanya di ruangan dokter.Aku,Pak Sugeng dan Bu Tari dipersilahkan duduk.Dokter memandangku dalam,ia meyakinkanku bahwa aku harus kuat memberitahukan perihal kondisi kesehatan bunda.Aku mengangguk tanda setuju.Kecemasan dan rasa tegang merasuk ke dalam ragaku.Semua orang menatapku yang terlihat sangat tegang.Bu Sri tidak henti-hentinya mengengam dan mengelus bahuku.Dokter pun membuka berkas laporan dan menjelaskan,"Ibu Tari terkena Kanker kolorektal...".Belum sempat dokter menyelesaikan ucapannya aku langsung menangis,"Astagfirullah ya Allah,bunda,"pikiranku sudah membayangkan hal yang aneh-aneh.Dokter memandangku yang terus menangis,"Nak,apakah kamu kuat untuk mendengarnya?bisa saya teruskan lagi?,"tanyanya padaku.Bu Sri langsung mendekapku dan berbisik lembut,"Rani yang kuat.Kita dengar dulu penjelasan dari dokter ya nak."Aku mengangguk dan menyeka air mataku dengan tisu pemberian dari Bu Sri.
Dokter pun melanjutkan kembali perkataannya,"Berdasarkan pemeriksaan yang kami lakukan Bu Tari Mengidap penyakit kanker kolorektal yaitu kanker usus besar.Untuk itu,harus dilakukan pembedahan atau operasi dengan cara pemotongan.Sebelum sel kanker menempel di seluruh bagian.Setelah pembedahan atau operasi baru kami dapat menentukan stadium dari kanker tersebut.Tetapi untuk itu operasi harus dilakukan segera.Oleh karena itu kami meminta persetujuan dari pihak keluarga."
Pak Sugeng menatap kearahku kemudian ia berbicara pada dokter," Baik dok,izinkan kami untuk berdiskusi memutuskan hal ini."
"Baiklah,tetapi jangan terlalu lama pak.Kasihan pasiennya jika harus menunggu."
"Baik dok,kami akan bicara sebentar,"ucap Pak Sugeng sambil mengajakku dan Bu Sri keluar dari ruangan dokter.
Diluar Mbak Riska,Kak Roy dan Kak Reno menunggu.Mereka semua menatap kearahku yang tertunduk lesu.Mbak Riska lalu datang menghampiri,"Bagaimana hasilnya pah?",tanyanya penasaran.Buru-buru Pak Sugeng dan Bu Sri mengajakku ke tempat lain untuk berbicara,"Sebentar ya Ris,papa harus bicara mengenai masalah yang sangat penting dengan Rani."
"Masalah apa pa?,"tanya Mbak Riska dengan cemas.
"Nanti ya papa jelaskan,sekarang papa dan mama harus bicara dengan Rani dulu.Ayo Ran,"sambil memegang bahuku.
Aku,Pak Sugeng dan Bu Sri pun berjalan menjauhi Mbak Riska.Pak Sugeng dan Bu Sri mengajakku duduk di samping taman rumah sakit.Suasananya teduh dan tidak ada orang sehingga nyaman jika berbincang disana.
Bu Sri memegang kepalaku yang tertutup kerudung merah muda dengan lembut,"Bagaimana keputusan Rani?",sambil memandangku.
__ADS_1
Aku menatap balik wajahnya,"Rani bingung Bu Jika bunda tidak segera di operasi akan sangat berbahaya untuk kesehatan bunda.Namun jika harus melakukan operasi Rani bingung dengan biayanya."Aku masih terlihat lesu dan lemah.
Kemudian Pak Sugeng dan Bu Sri saling berpandangan mengangguk.Mereka seperti sedang melakukan kontak isyarat.Selang beberapa lama Pak Sugeng pun berkata,"Nak Rani soal biaya jangan dipikirkan.Biar semua biayanya bapak yang tanggung.Nak Rani fokus saja pada kesembuhan Bu Tari."
Aku yang terlihat lemas menjadi terperangah,"Tetapi pak,biayanya tidak sedikit.Bagaimana nanti saya akan menggantinya?",tanyaku dengan pelan.
Kali ini Bu Sri yang menjawab pertanyaanku,"Rani tidak perlu menggantinya.Cukup dengan Rani memenuhi syarat dari kami". Raut muka Bu Sri tampak lebih serius.Dengan muka yang bingung aku pun kembali bertanya,"Syarat?syarat apa Bu?",tanyaku penasaran.
Pak Sugeng dan Bu Sri saling memandang lagi.Kali ini Pak Sugeng yang berbicara,"Sebelumnya bapak berharap nak Rani tidak salah paham akan syarat yang bapak nanti sampaikan.Bapak tau ini bukan momen yang tepat,tetapi inilah mungkin jalan dari Tuhan agar nak Rani menyetujui saran dari kami".Pak Sugeng terdiam,lalu Bu Sri melanjutkan pembicaraan,
"Syarat yang kami ajukan adalah nak Rani bersedia menikah dengan putra kami Reno."
"Mohon nak Rani jangan salah paham.Besar harapan kami khususnya ayah saya Pak Sukiman yang menginginkan Rani menjadi bagian dari keluarga besar kami,"jelas Pak Sugeng dengan lembut.
"Tapi pak saya masih sekolah dan saya tidak pantas menjadi kriteria menantu bapak.Lagipula pernikahan bukan sebuah permainan pak,"jelasku lirih.
"Iya nak bapak mengerti.Tapi ini adalah pilihan akan hidup.Kita sama-sama diuntungkan bukan.Nak Rani dapat membiayai biaya pengobatan Bu Tari dan kami dapat memiliki nak Rani sebagai menantu,"jelas Pak Sugen dengan sungguh-sungguh.
Aku terdiam,bimbang menjalar dihatiku.Di satu sisi aku butuh biaya pengobatan bunda dan di sisi lainnya aku harus mengorbankan? kehidupanku menikah dengan anak angkuh itu.
"Ran,ibu tau ini sangat berat untukmu.Karena kami juga di posisi yang sama seperti Rani.Diamana Rani butuh biaya sebaliknya kami butuh Rani demi kesembuhan Kakek Reno,"Bu Sri terus menggenggam erat tanganku dengan lembut.
__ADS_1
"Berikan saya waktu sebentar untuk berpikir Bu.Karena ini adalah keputusan berat yang harus saya ambil,"ucapku kepada Pak Sugeng dan istrinya.
"Baiklah Ran,tetapi jangan lama-lama.Bundamu harus segera mendapatkan pengobatan.Jika tidak akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya,"tutur Bu Sri lalu ia melanjutkan ucapannya kembali,"Jika nanti Rani setuju menikah dengan Reno.Kalian akan menikah secara sirih dahulu.Setelah lulus dari sekolah atau lulus kuliah baru akan diresmikan pernikahan kalian secara resmi yaitu sah sesuai peraturan negara.Dan masalah Reno itu menjadi tanggung jawab kami selaku orangtuanya.Rani tidak perlu memikirkannya".
"Iya Bu,izinkan saya melaksanakan salat istikharah dulu sebelum saya memutuskan pilihan saya".
"Baiklah nak,silahkan,"ucap Bu Sri.
Aku pun berjalan menuju musala di rumah sakit.Perlahan langkah kakiku menjauhi mereka.Hatiku bimbang akan keputusan sulit yang akan kuambil.Tibalah aku di musala,bergegas kuambil wudu.Butiran air wudu menyejukkan ragaku.Lalu aku masuk ke musala melaksanakan salat istikharah.Setelah selesai salat aku pun berdzikir dan berdo'a,
"Bismillahirrahmanirrahim.Allahumma inni as-alukal Huda was sadaad.Artinya:Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Ya Allah,aku meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran.Aamiin".
Air mataku menetes membasahi urat mukaku.Aku tidak berdaya dan memasrahkan kehidupanku pada Allah ta'ala.
Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah,Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung,ucapku lirih.
Kulipat mukena dan sajadah.Lalu melangkah keluar dari musala.Kembali ke tempat semula memutuskan pilihan yang akan kuambil.
Bismillah,bimbinglah aku Ya Allah.
Aku pun melangkah......
__ADS_1