
"Ran,bagaimana keadaanmu sekarang?,"tanya Wirda sambil memegang tanganku.
Kepalaku terasa berat,pusing dan berputar.
Pandanganku terasa kabur.
Rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhku.
Aku ingin bangkit tetapi tidak mampu.
"Ran,jika masih pusing jangan dipaksakan.Lebih baik kamu tiduran saja disini,"ucap Wirda cemas.
Sayup-sayup suara Wirda terdengar olehku.
Dengan berusaha keras aku mencoba membuka kedua mataku secara sempurna.
Semua terlihat putih.
Dengan selang infus menancap di pergelangan tanganku.
"Wir,aku ada dimana?,"tanyaku sambil memicingkan mata.
"Kamu di rumah sakit Ran,"jawab Wirda.
"Kenapa aku bisa ada di sini?,"tanyaku kembali.
"Tadi kamu tiba-tiba terjatuh lalu tidak sadarkan diri,"kata Wirda.
Wirda memegang tanganku.
"Kamu tahu Ran,saat kamu terjatuh Kak Roy dengan cepat langsung berlari menolongku dan saat kamu tidak sadarkan diri Kak Roy berteriak kencang memanggil namamu.Ia sangat histeris dan ketakutan melihat kondisimu.Lalu tanpa berpikir panjang ia lalu menggendongmu dan membawamu ke rumah sakit,"jelas Wirda.
"Lalu Rere?,"tanyaku.
"Awalnya dia terlihat kaget melihat sikap Kak Roy padamu.Tetapi,setelah itu ia terlihat biasa."
"Lalu apa kata dokter Wir?,"tanyaku kembali.
"Kamu terkena anemia Ran, karena rendahnya pasokan darah dan oksigen yang masuk ke dalam otak.Kamu juga terlalu letih Ran,"tutur Wirda.
"Wir,bisa bantu aku untuk duduk?,"tanyaku.
"Kamu kan masih pusing Ran,lebih baik kamu tiduran saja dulu,"saran Wirda.
"Tidak apa-apa Wir, badanku terasa tidak nyaman untuk di buat tiduran.Mungkin dengan duduk akan terasa lebih enak,"jawabku.
"Baiklah kalau begitu Ran."
Wirda pun membantuku untuk duduk dan merapikan kerudungku.
"Terima kasih Wir,"ucapku.
"Iya Ran sama-sama,"balasnya.
Cekrek.....
Suara pintu terbuka.
Aku dan Wirda menoleh mencari tahu siapa yang masuk.
"Kak Roy..,"ucap Wirda.
Mataku menatap ke arah Kak Roy yang berjalan mendekati hospital bed (tempat tidur) tempat dimana aku duduk bersandar.
Kak Roy tersenyum lesu ke arah Wirda.
Lalu menarik kursi besi dan duduk disamping ranjangku.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Ran?,"tanyanya cemas.
"Alhamdulillah sudah membaik kak.Kak Roy sendiri bagaimana keadaannya?,"tanyaku.
__ADS_1
Ia menatapku,"Tidak baik Ran,"ucapnya lesu.
Aku melirik ke arah Wirda untuk menetralisir keadaan hatiku.
Ughhhhhhh.....
Kutarik napas perlahan.
"Kak,maafkan Rani.Karena Rani Kak Roy harus mengalami kesulitan dan penderitaan yang terus menerus dari keluarga Kak Reno,"ucapku sedikit tertunduk.
"Kamu bicara apa Ran.Semua ini bukan kesalahanmu.Ini semua adalah bagian dari takdir.Ketetapan Allah yang harus Kak Roy jalani,"bantah Kak Roy.
"Tetapi,Kak Roy akan baik-baik saja dan memiliki kehidupan bahagia jika tidak bertemu dengan Rani,"timpalku dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa bilang Kak Roy tidak bahagia.
Karena kehadiran Rani di kehidupan kakak.Maka,kakak memiliki banyak alasan untuk terus berjuang dan bermimpi.Kamu alasan terbesar kakak menjadi kuat Ran,"ucapnya lirih.
Air mataku menetes melihat guratan kesedihan di wajahnya.
"Jangan menangis Ran,itu akan membuat kakak ikut bersedih,"pinta Kak Roy.
"Tidak kak,ini air mata yang layak jatuh.Melihat kondisi Kak Roy seperti ini.Rani merasa sangat bersalah padamu kak,"ucapku.
"Sudahlah Ran,jangan bersedih.Semua bukan salahmu.Seperti yang Kak Roy katakan ini semua bagian dari takdir,"sela Wirda.
"Betul yang Wirda katakan.Sekarang kita harus memikirkan cara agar kamu dapat terlepas dari belenggu keluarga Suprapto,"ucap Kak Roy.
"Lalu bagaimana dengan dirimu kak?dengan pernikahanmu?,"tanyaku.
Kak Roy terdiam dengan bibir bergetar.
Ia seperti tidak nyaman mendengar pertanyaanku.
"Kita bicarakan hal yang lain saja Ran,"pintanya.
"Ini penting kak.Menyangkut kehidupan dan masa depanmu Kak Roy,"kataku sambil menatapnya.
"Kakak tidak ingin membahas masalah ini Ran,"ucapnya dengan menolak.
Wirda dan Kak Roy tertegun sesaat mendengar ucapanku.
"Kakak tidak mengorbankan diri kakak Ran.Kakak ingin melindungimu agar Rani tidak terluka walaupun imbalannya kakak akan menerima rasa sakit yang teramat dalam tetapi kakak ikhlas asalkan Rani bahagia dan .....,"ucap Kak Roy terputus.
"Tetapi Rani tidak bahagia kak.Mana mungkin Rani bahagia melihat Kak Roy dan Wirda berada dalam kesulitan karena Rani,"ucapku memotong kalimat Kak Roy.
"Kamu egois Ran,kenapa hanya dirimu saja yang boleh berkorban.Mengapa hanya kamu saja yang berhak mengambil keputusan?mengapa kamu tetap bertahan dengan Reno dan keluarganya padahal kamu menderita?Karena kamu mengorbankan dirimu demi untuk melindungi kakak dan Wirda bukan.
Lalu apa salah kakak jika kakak melakukan ini semua juga untuk melindungimu,"ucap Kak Roy sedikit marah.
"Tetapi tidak seperti ini kak,"bantahku.
"Tidak ada pilihan lain Ran.Ini semua adalah pilihan terakhir yang dapat kakak lakukan untuk melindungimu,"ucap Kak Roy tegas.
"Tetapi ini hal yang berbeda kak.Kak Roy menikah dengan sahabat lamaku dan ia tidak tahu menahu tentang semua ini,"ucapku.
"Kalau begitu kakak akan memberitahu semua kebenaran padanya,"kata Kak Roy yakin.
"Jangan kak,itu akan menyakiti hatinya.Ia sepertinya sangat mencintai Kak Roy,"ucapku sambil melirik Kak Roy.
"Tetapi kakak tidak mencintainya Ran.Pernikahan yang kakak lakukan hanyalah sebuah negosiasi belaka dan Rere wajib mengetahui hal ini agar dia tidak berharap terlalu jauh kepada kakak."
"Tetapi itu akan sangat menyakiti hatinya kak,"ucapku.
Dan cekrek......
Pintu kembali terbuka.
Tuk..tuk....tuk....
Bunyi langkah kaki seseorang.
__ADS_1
Kamu bertiga terdiam sesaat melihat Rere sudah berada masuk.
Wajahnya sumringah.
"Ran,apakah sudah baikkan?,"tanya Rere.
Aku mengangguk pelan.
Wirda dan Kak Roy terlihat tidak suka akan kehadirannya.
"Kalian bertiga sudah saling kenal?,"tanyanya penasaran.
"Iya,kita bertiga sangat mengenal satu sama lain dan sangat dekat,"sahut Wirda.
"Sangat dekat?,"tanya Rere berpikir.
"Iya dekat sekali.Seperti hubungan Kak Roy dan Rani yang....,"ucap Wirda terpotong.
Aku menggenggam tangan Wirda dan memelototinya agar tidak meneruskan kata-katanya.
"Kita bertiga berteman baik Re,"ucapku mencairkan suasana.
"Oh....baguslah kalau begitu.Jadi kita berempat bisa saling dekat,"ucap Rere tersenyum.
Rere memandang ke arah Kak Roy.
Ia lalu mengambil kursi seperti yang diambil Kak Roy lalu menarik kursi tersebut dan duduk dekat dengan Kak Roy.
Kak Roy sangat tidak peduli dengan kehadirannya.
"Ran,kamu masih ingat tidak?dulu saat kita di bangku SMP aku pernah menceritakan kepada kamu laki-laki yang aku sukai alias cinta pertamaku,"ucap Rere.
"Iya Re,aku masih ingat.Kenapa?,"tanyaku pelan.
Rere mengumbar senyum padaku dan Wirda.
"Kamu tahu Ran,laki-laki itu sekarang telah menjadi suamiku yaitu Kak Roy,"ucap Rere sambil memegang tangan Kak Roy.
Kak Roy terkejut dengan sikap Rere.
Ia berusaha melepaskan tangannya.
Tetapi Rere langsung menarik lengan Kak Roy dan menggandengnya.
Aku dan Wirda terdiam dan terkejut melihat sikap agresif Rere.
Entah kenapa tiba-tiba hatiku merasa tidak nyaman melihat Rere dan Kak Roy berdekatan.
Srrrrrrrr.....
Ada perasaan tidak suka dan nyeri di hatiku.
"Ran,kami berdua terlihat sangat serasi kan?,"tanya Rere.
"Akh....iy...iy..iyaa,"jawabku terbata.
Kak Roy memandang ke arahku.
Mata kami bertemu lalu aku berusaha mengindari tatapannya.
Semua terasa canggung bagiku.
Aku berpura-pura tenang dan melihat ke arah lain untuk membuat suasana hatiku nyaman.
Ya Allah,apakah aku cemburu melihat Kak Roy dan Rere?tanyaku dalam hati.
Kak Roy tersenyum menyeringai kecil padaku.
Ia seakan tahu isi hatiku.
DReggggg....hatiku berdebar....
__ADS_1
Kualihkan tatapanku darinya,
Menyembunyikan perasaanku pada Kak Roy.