Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menuangkan rasa.


__ADS_3

Setibanya di kediaman keluarga Imandar.


Ummah langsung menyambut kedatangan ku,dengan penuh kegelisahan.Aku melihat wajah Ummah begitu mengkhawatirkan diriku. Namun, Ummah seakan tidak percaya dengan perkataan ku, meski berulang kali diriku berusaha meyakinkan dirinya, jika aku memang baik-baik saja.


Ummah masih tetap ragu dan cemas akan kondisiku, hingga dirinya menarik tangan ku perlahan menuju ruang keluarga, untuk mengajak diriku berbicara berdua saja.


Aku pun mengikuti kemauan Ummah, dan mengikuti langkahnya.


Ummah duduk tepat di samping ku, sembari memegang tanganku.


"Apakah kamu berusaha menghindari Roy, sayang?," tanya Ummah menatap ku serius.


Aku merasa canggung dan gelisah akan pertanyaan Ummah, yang membuat diriku diam seketika.


Ummah seakan tahu arti kebisuan ku, dan kembali mengenggam jemari tanganku.


"Katakan sayang, jangan diam. Apa yang membebani dirimu? Bukankah kamu putri Ummah, dimana seorang putri tidak akan merahasiakan apapun dari ibunya, " ujar Ummah membujuk diriku.


Aku masih diam seraya berpikir, tetapi diriku bingung harus mengatakan apa pada Ummah.


"Sayang!, " panggil Ummah dengan lembut memintaku untuk segera berbicara.


Aku pun luluh dan berterus terang kepada Ummah, akan perasaan ku sebenarnya pada Kak Roy, yang sebenarnya Ummah sendiri sudah tahu akan kebenaran hatiku.


Ummah terdiam sambil memandangi ku.


Aku pun melihat ke arah Ummah sesaat, lalu menundukkan sedikit kepalaku.


Ummah memegang wajahku dan mengangkat nya perlahan.


"Sayang, maafkan Ummah. Jika perkataan Ummah akan lamaran Roy, membuat dirimu tertekan seperti ini. Seharusnya Ummah tidak berusaha untuk mendoktrin dirimu, maafkan Ummah sayang. Ummah hanya ingin dirimu menjalani kehidupan , seperti semua orang dan tidak terus terbenam dalam masa lalu bersama kenangan Fariz. "


Mata Ummah berkaca-kaca memandangi diriku.


Aku menggelengkan kepalaku dan berganti memegang jemari tangan Ummah.


"Ummah tidak salah, dan tidak perlu meminta maaf kepada Rani. "


Kali ini aku pun memandangi wajah Ummah dalam dan lekat, "Selama ini kenangan Mas Fariz lah yang membuat Rani hidup, Ummah. Lalu bagaimana bisa Rani mengubur kenangan itu pergi menjauh dari kehidupan Rani, dan menggantikan kenangan itu dengan kenangan baru milik orang lain?. "


Bibir ku bergetar haru, mengatakan semua hal itu kepada Ummah.


Ummah tidak kuasa membendung air matanya, lalu memeluk tubuhku erat.


"Ya Allah. Maafkan Ummah sayang, sungguh maafkan Ummah, betapa tidak tahunya Ummah, jika perasaan mu kepada Fariz sangat dalam seperti itu, sayang. "


Aku mengusap punggung Ummah, dan berkata kepada dirinya untuk tidak terus meminta maaf kepada diriku.


Ummah kembali memandang diriku, sambil menyeka air matanya, "Mulai hari ini, Ummah tidak akan pernah lagi memaksa atau meminta dirimu untuk membuka hatimu untuk orang lain nak. Ummah akan menerima dan menunggu, dimana hatimu benar-benar siap dan ikhlas untuk mengizinkan seseorang singgah di dalam kehidupan mu, menggantikan posisi Fariz yang telah pergi. "


Aku terdiam mendengar perkataan Ummah.


Tidak lama setelah berbicara dengan Ummah, aku langsung menuju kamar dan membersihkan diriku juga berganti pakaian.


Hujan rupanya enggan untuk berhenti, hampir di depan hari ini guyuran hujan terjaga dalam tetesan airnya yang mengalir deras lalu perlahan, dan kembali lagi lebat.


Ia seakan senang bermain dalam tariannya, seolah-olah memainkan perasaan seseorang yang diselimuti mendung kegelisahan.

__ADS_1


Setelah selesai berganti pakaian, terdengar pintu kamarku di ketuk. Aku segera mematikan pengering rambut yang ku gunakan, dan memakai hijabku lalu menuju ke pintu kamar.


Aku mengintip dari door viewer atau lubang pengintip pintu yang terpasang di pintu kamarku, untuk melihat siapa gerangan yang datang ke kamarku.


Setelah kku intip, ternyata Wirda yang datang sambil menggendong Fariz.


Aku merapikan hijabku, sebelum membuka pintu kamarku.


Cekrek...


Pintu kamar ku terbuka, aku langsung melemparkan senyumku pada Wirda yang juga menatap diriku cemas.


"Kamu dari mana saja Ran?aku mengkhawatirkan dirimu?, " ucap Wirda langsung padaku.


Aku melihat nya, lalu mengambil Fariz dari gendong Wirda, dan ku dekap lembut dalam gendongan ku.


Aku mengajak Wirda masuk ke dalam kamar, dan Wirda langsung menutup pintu kamarku.


Sambil menggendong dan mencium Fariz berulang, aku pun menjawab pertanyaan Wirda dengan tenang dan santai.


"Aku ke masjid Wirda, tempat dimana pertama kali diriku bertemu dengan Mas Fariz. "


Aku dan Wirda berjalan menuju ranjang tempat tidur, tetapi Fariz merenggek dan tidak nyaman, sehingga aku mengajaknya duduk lesehan di permadani dekat sofa bed.


Rupanya Fariz ingin leluasa bergerak, dan berjalan menyusuri setiap tempat di kamar ini. Hingga akhirnya ia lelah, dan duduk di antara diriku dan Wirda, dengan memandangi jendela kaca besar di hadapan nya melihat guyuran hujan yang masih turun dengan lebatnya.


Tidak lama kemudian, Bik Inah datang membawa camilan untuk Fariz. Tanpa aba-aba lagi, dengan cepat Fariz langsung menyantap camilan yang di bawa oleh Bik Inah yang berupa barongko pisang kesukaan Fariz.


Bik Inah pun ikut bergabung dengan diriku dan Wirda, sambil mengawasi Fariz yang makan kudapan dengan lahapnya.


Sementara itu, Wirda langsung memberitahu ku. Jika Kak Roy menunggu diriku hingga lama, namun diriku tidak kunjung pulang. Hingga membuatnya segera pulang ,karena merasa tidak enak terhadap Ummah, Abi dan Enjid.Sebab sudah terlalu lama bertamu.


Aku dan Bik Inah saling menatap satu sama lain.


" Ran! Kenapa dirimu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan ku?, "tanya Wirda lagi dengan memegang pundakku pelan.


Aku tersenyum pada Wirda dengan sikapku yang tenang, " Kamu sudah tahu jawabannya Wir,jadi aku tidak perlu lagi menjawab nya. "


Wirda menghela napasnya, "Hmmm, sudah kuduga itu. Tetapi mengapa Ran? Apakah dirimu tidak dapat memberikan kesempatan pada Kak Roy?. "


"Kesempatan apa maksud mu Wir?, " tanyaku.


"Kesempatan untuk mendapatkan cinta dan hatimu Ran. Bukan rahasia lagi untuk kita dan semua orang, jika dari dulu Kak Roy sudah menaruh hati pada dirimu, bahkan hingga sekarang perasaannya padamu tidak pernah berubah dan berkurang. Kak Roy masih terus mencintaimu, Ran, " ujar Wirda.


Bik Inah memandang lagi ke arahku, sambil membersihkan tangan Fariz yang kotor.


Aku memejamkan kedua mataku sebentar, sambil mengalihkan pandangan ku menatap hujan yang turun.


"Cinta adalah kebahagiaan, itulah yang seharusnya,Wir. Tidak ada kesedihan, tidak ada paksaan, yang ada hanyalah saling mencintai, saling menyayangi tanpa syarat apapun.Terhadap dua hati yang saling terpaut dan terkait satu sama lain. Memiliki rasa cinta adalah sebuah anugerah dari Sang Maha Pencipta.Tapi, seringkali membuat pemilik perasaaan tersebut bernafsu untuk memaksakan orang yang dicintainya supaya mencintai kembali.Dan itu yang ku rasakan akan cinta Kak Roy padaku.


Aku tidak bisa mencintainya, Wir. Bahkan memberikan kesempatan untuk berusaha mencintainya. Aku pun tidak bisa melakukan nya, karena diriku tahu. Sampai kapan pun aku tidak bisa memberikan perasaan ku kepadanya. Dan itu akan semakin membuat Kak Roy terluka dan bahkan akan sangat menyakitinya, jika diriku berpura-pura memberikan asa yang ujungnya, sudah ku tahu akhirnya seperti apa. "


Wirda terdiam mendengarkan perkataan ku.


"Aku menghargai perasaan Kak Roy padaku Wirda. Tetapi tidak semua perasaan harus mendapatkan respons sesuai keinginan.


Tidak ada yang salah dengan perasaan cinta Kak Roy. Tetapi sungguh diriku tak mampu untuk memberikan perasaan yang lebih dari rasa persahabatan pada dirinya. Hal ini yang ku takutkan selama ini, saat kami menjadi dekat kembali.Kak Roy seakan salah dan keliru menyikapi kedekatan ku dan dirinya,juga dengan putrinya. Nyatanya dari dulu hingga sekarang,aku selalu menganggap dirinya seperti kakak bagiku. Namun, dirinya yang sudah tahu akan hal itu,terus memaksakan dirinya untuk terus mencintai diriku. Apalagi setelah kepergian Mas Fariz, membuat keinginannya untuk memiliki diriku semakin besar dan jujur membuat diriku takut, Wir. "

__ADS_1


Wirda terus terdiam mendengarkan apa yang ku katakan kepada dirinya, sekaligus diriku menceritakan pertemuan ku dengan Kak Reno, yang juga membuat Wirda terkejut.


"Mengapa setelah sekian lama Kak Roy dan Kak Reno hadir kembali di kehidupan mu, secara bersamaan? Apa yang Allah rencanakan pada kehidupan mu Ran?, " ucap Wirda khawatir menatap diriku.


"Entahlah, Wirda. Aku tidak tahu akan hal itu, yang jelas diriku berusaha menjalani sisa kehidupan ku dengan sebaik-baiknya. Apapun alasan di balik kehadiran mereka berdua di dalam kehidupan ku, biarkan menjadi urusan dan rencana Allah. Karena aku yakin dan percaya pada kekuasaan-Nya, bahwa takdirNya akan indah pada waktu yang tepat, " jawabku sambil memegang pundak Wirda pelan.


Wirda mengangguk dan melemparkan senyuman nya kepada diriku.


"Maafkan aku Ran, jika aku terlalu memaksakan hatimu untuk membuka hatimu pada Kak Roy. "


"Tidak perlu meminta maaf, Wir. Aku tahu niatmu itu baik untuk diriku. Dan aku menghargainya, " sahut ku.


"Terima kasih Ran, sudah mau mengerti diriku. "


Aku tersenyum dan menepuk lembut jemari tangan Wirda.


"Lalu apa yang akan engkau lakukan setelah ini Ran?, " tanya Wirda lagi.


"Aku hanya akan terus menjalani kehidupan ku dengan takdir yang sudah Allah tetapkan padaku dengan hati yang lapang dan ikhlas. Karena aku tahu bahwa selama kita masih bernafas, ujian dan cobaan akan terus hadir dalam hidup kita. Dimana kesedihan dan kebahagiaan saling bersisihan, satu sama lain.Dan aku menyadarinya,bahwa tentunya setiap manusia tidak bisa memperoleh semua kebahagiaan di dalam perjalanan kehidupannya, meski itu menjadi sebuah harapan dan do'a yang kerap kita dilangitkan. Termasuk dengan diriku sendiri.


Kepergian Mas Fariz memberikan pelajaran dan hikmah padaku, bahwa kita boleh meletakkan ekspektasi bahwa apa yang diinginkan akan menjadi milik kita, namun setelahnya kita haruslah menyiapkan hati yang lapang untuk menerima segala kemungkinkan karena diatas segala pinta kita, Allah lebih dulu tahu apa yang terbaik untuk kita. Allah Maha Mengetahui apa-apa saja yang terbaik bagi tiap manusia karena Dialah pemegang hak prerogatif atas takdir manusia. Dengan mengambil kepunyaannya kembali padaNya, yaitu Mas Fariz.


Setelah melewati fase kehilangan yang sulit,kini hati dan pikiranku sudh dapat berprasangka baik terhadap kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala , atas apa yang menjadi keputusannya terhadap apa yang terjadi di dalam kehidupan ku."


Wirda lalu memelukku erat, "Dan kamu tidak akan pernah sendirian Ran. Ada aku yang akan selalu mensupport mu, kapanpun dirimu membutuhkan diriku. "


Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Wirda.


Begitu pula Bik Inah yang memandang diriku dan Wirda, dengan tawa bahagianya.


Setelah ujian hidup bertubi-tubi yang menimpa diriku.Aku tetap meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan segera mengangkat beban di atas pundak ku, mengangkat kesedihan dalam hatiku dan Allah akan memberikan kebahagiaan seperti matahari terbit seusai malam berakhir.


Dimana diriku sangat memahami, bahwa setiap manusia yang masih hidup dan bernapas akan diberikan cobaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan kita diminta untuk selalu bersabar akan ketetapanNya yang menjadi hal misterius bagiku. Namun, dalam kekecewaan dan kesedihan yang diriku terima saat ini, InsyaAllah dapat menjadi sesuatu yang melegakan diwaktu kedepan bagiku. Dimana kesedihan yang ku terima saat ini sangat mungkin berujung pada kebahagiaan di waktu yang lain dan menjadi rahasiaNya terhadap jalan hidupku.


Sesuatu hal yang baru dapat diriku sadari, saat membaca surat dari Kak Reno,dimana hatiku merasa mampu untuk menerima ketetapanNya tanpa berkompromi lagi.


Benar apa yang Kak Reno sampaikan dalam suratnya, bahwa cobaan yang dihadirkan dalam hidupku untuk menguji diriku sendiri, kemana diri dan hatiku akan berlari dan mengadu, saat ujian tiada henti itu datang menerpa.


Aku yakin akan mampu melalui ujian hidup yang diberikan Allah,yang tentunya sesuai dengan kemampuan diriku.


Apapun ujian yang sedang datang menguji,aku tidak akan menyerah untuk mendekat padaNya dan sesering mungkin akan kuletakkan dahiku untuk bersujud padaNya.


Sebab kebahagiaan itu berawal dari pikiran dan bersumber dari hati kita sendiri yang mengimani, akan titik terang kasih sayang keridhoan Sang Maha Kuasa.


Dan aku semakin menyadari bahwa di luar sana, banyak kehidupan yang bertubi-tubi diberikan ujian hidup ,namun mereka tetap berjuang untuk bertahan hidup. Terkadang masalah yang mereka alami jauh lebih pelik dari masalahku.


Segala fase hidup yang diberikan Allah untuk diriku, pasti memiliki banyak catatan yang dapat diambil poin pentingnya.


Yang mana dalam proses perjalanan kehidupanku ,harus tetap terus dikawal dengan keimanan padaNya,supaya menjadi benteng diriku,agar tidak melakukan sesuatu yang tak disukai olehNya dan menjadikan pandangan diriku lebih luas untuk melihat kebaikan-kebaikan atas keadaan yang dihadirkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam kehidupan ku. Yah, saat ini mungkin diriku sedang menjalani kehidupan yang tidak pernah dapat ku bayangkan sebelumnya, bahkan kehidupan yang tidak pernah ku inginkan. Namun, satu hal yang sangat penting adalah ikhlas dalam menjalani takdirNya dengan lapang dada, adalah cara terbaik yang dapat ku ikhtiarkan saat ini.


Karena bagaimana pun juga, kehidupan yang ku jalani saat ini adalah yang terbaik bagi diriku. Aku hanya bisa berharap dan berdo'a kepada Rabbku.


Semoga di sisa umur ku ini terdapat penuh hikmah yang dapat ku petik, sehingga membuat kebaikan diriku semakin bertambah, dan istiqomah dijalanNya.


Ku tarik napas panjang dan kuat, sembari menatap hujan yang sudah berhenti dan menghasilkan pelangi setelahnya.


Indah dan mempesona pandangan ku,bahwa setelah gelap dan keheningan akan selalu Allah hadirkan kebahagiaan.

__ADS_1


Kunci nya hanya perlu bersabar... bersabar dan bersabar...


__ADS_2