Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Cinta Ustad Fariz.


__ADS_3

Abi dan Enjid sudah terlebih dahulu masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Sementara Ummah dan Bik Siti masih berada di dekat diriku.


Ummah mengusap kepalaku pelan, "Hari sudah malam sayang. Ayo Ummah dan Bik Siti antar ke kamar. "


Untuk sesaat aku terdiam mendengarkan ucapan dari Ummah. Wajah tegang dan bingung tampak tergambar jelas dari parasku.


Ustadz Faris yang melihat ke arahku seakan mengetahui perasaan gundah dan risau yang menyeruak di dalam hatiku ,kemudian tidak lama setelah itu Ustad Fariz pun berjalan mendekat ke arahku dan Ummah. "Ummah dan Bik Siti istirahat saja dulu, biar Dek Rani dan saya akan menyusul nanti, " ucap Ustad Fariz mencoba menjelaskan kepada Ummah.


Namun, Ummah yang mendengar perkataan dari Ustad Fariz sedikit mengkerutkan dahinya, ia seolah tidak yakin akan perkataan Ustad Fariz, "Tidak nak, Ummah ingin mengantar Rani ke kamarmu dan Ummah ingin memastikan kalian benar-benar beristirahat .lagi pula Rani tampak lelah setelah seharian menjalani prosesi yang cukup panjang. Jadi kalian berdua tidak usah lagi untuk berbincang-bincang, dan langsung saja beristirahat di kamar."


Ummah kemudian memandang ke arah ku


dan dengan perlahan menarik tanganku untuk berdiri, "Ayo sayang!."


Sementara Ustad Fariz terlihat diam sambil memandang diriku, "Tidak apa-apa Ummah, nanti setelah Fariz dan Dek Rani mengantuk kami pasti akan segera ke kamar dan beristirahat. Ummah tidak usah khawatir ya, "pinta Ustad Fariz kepada Ummah tetapi Ummah tetap menolak permintaan Ustad Fariz.


Aku pun juga hanya diam sambil memandang Ummah dan sesekali melirik ke arah Ustad Fariz,dimana hatiku semakin merasa berdebar dan tidak tenang, tetapi sekeras apapun Ustad Fariz mencoba untuk membantuku keluar dari rasa ketidaknyamanan. Namun, tetap saja Ummah terus memaksakan keinginannya supaya diriku dan Ustad Fariz segera langsung masuk ke kamar, dan akhirnya kami berdua pun hanya bisa mematuhi apa yang diminta oleh Ummah. Setelah drama tarik ulur yang panjang aku pun mengalah dan pasrah.


Di dalam langkah kakiku yang mengikuti langkah kaki Ummah,dimana beliau menuntun diriku untuk naik ke atas menuju kamar Ustad Fariz. Tampak dari pandangan mataku wajah Ummah dan Bik Siti terlihat tersenyum seperti membuat kode dan isyarat akan sesuatu yang tidak ku mengerti. Namun aku hanya diam sambil terus larut dalam perasaanku yang tidak nyaman dan sangat cemas, karena begitu sangat tegang. Sementara Ustad Fariz hanya mengikuti langkah kaki kami bertiga dari belakang, dan dengan perlahan-lahan sambil terus berjalan.Maka tidak lama kami semua pun sudah tiba di depan kamar Ustad Fariz yang terlihat sedikit berbeda dengan hiasan bunga di depan pintunya. Dari depan kamar Ustad Fariz. Indra penciuman ku sudah dapat mencium aroma semerbak bunga yang begitu tajam menusuk hidungku.Aku pun sedikit mengusap hidungku dengan jemari tanganku dan sesekali menekan pipiku untuk menghilangkan rasa tegang yang begitu sangat tinggi menyelimuti diriku. Ummah lalu dengan perlahan mengusap pundakku dengan lembut, "Sayang mulai hari ini kamarmu di sini ya bersama Fariz.Dan semua barang-barang kepunyaan Rani sudah di pindahkan disini semuanya.Semoga malam ini putri Ummah tidur dengan nyenyak dan tidak memikirkan hal yang hal lain yang tidak berfaedah ya sayang. "


Aku pun hanya dapat tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalaku sedikit. Sementara Ummah terlihat begitu sangat sumringah menatap diriku ,lalu tangannya membukakan pintu kamar Ustad Fariz dan menuntunku masuk ke dalam kamar tersebut, diikuti dengan langkah kaki Bik Siti juga Ustad Fariz.


Aku pun melihat ke sekitar kamar Ustad Fariz yang telah disulap dengan dekorasi pencahayaan redup dan taburan bunga mawar di atas ranjang tempat tidur. Dengan sarung bantal, guling berwarna putih gading berpadu dengan warna soft pink. Kemudian ada buket bunga berbentuk hati yang menghiasi dinding di atas ranjang tempat tidur.

__ADS_1


Rupanya saat diriku dan Ustad Fariz turun, Ummah pasti menyuruh Bik Siti, Pak Budi serta asistennya yang lain menyiapkan semua ini, batinku di dalam hati.


Setelah diriku dan Ustad Fariz masuk ke dalam kamar. Ummah lalu menarik tangan Bik Siti untuk segera keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Ustad Fariz.Melihat tindakan Ummah dan Bik Siti.Aku pun hanya bisa terdiam sambil memandangi kepergian Ummah dan Bik Siti dari kamar ini. Dan di dalam diamku suara Ustad Fariz pun memecahkan keheningan diriku, "Dek Rani silahkan ambil wudhu dulu, setelah ini kita salat berjamaah dua raka'at," pinta Ustad Fariz kepadaku .


Aku pun hanya mengangguk pelan, lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera mengambil wudhu, dan setelah selesai Ustad Fariz pun bergantian mengambil air wudhu setelah diriku. Sambil menunggu Ustad Fariz selesai mengambil air wudhu. Aku pun mencari mukena dan sajadah di dalam lemari. Dengan tatapan yang begitu takjub melihat semua pakaian dan barang-barangku yang sudah tertata rapi di dalam lemari dalam waktu yang secepat ini aku hanya dapat menggelengkan kepalaku, sambil terus mencari perlengkapan salat yang akhirnya dapat kujumpai juga. Maka dengan perlahan aku pun memakai mukena dan meletakkan kain sarung juga songkok di atas ranjang tempat tidur agar dapat digunakan oleh Ustad Fariz. Setelah itu aku membentangkan dua sajadah menghadap ke arah kiblat.


Aku sudah duduk di atas sajadah dengan memakai mukenah putihku yang dihias dengan full bordir warna gold.


Tidak lama setelah itu Ustad Fariz pun keluar ,dan seperti dugaanku. Ia pun juga langsung memakai sarung dan songkok yang telah aku siapkan ,dengan langkahnya yang perlahan .Ia pun menuju ke tempat ku, dan segera mengajakku untuk menunaikan salat dua rakaat.Aku pun tanpa banyak berkata langsung mematuhi perintahnya dan menjadi makmumnya.Di dalam keheningan malam yang sunyi dan suasana yang begitu teduh penuh keheningan, sungguh membuat ibadah kami semakin khusyuk ditambah lagi dengan lantunan ayat-ayat suci dari surat panjang yang dibaca oleh Ustad Fariz menambah kenikmatan rasa khidmat diriku bersujud menghadap Sang Maha Pencipta.


Setelah selesai menunaikan salat ,aku pun mencium tangan Ustad Fariz perlahan ,dan Ustad Fariz pun mengusap kepalaku. Dimana untuk sesaat pandangan mata kami bertemu pada satu titik tatapan mata,yang membuat perasaan kami menjadi tertaut di dalam hening malam yang begitu menyentuh. Perasaan ku semakin berdebar-debar saat jemarinya menyentuh kepalaku yang tertutup mukenah. Aliran darahku terasa mengalir hangat dalam rasa sesak yang membuat lidahku terasa keluh untuk berucap. Dan inilah untuk pertama kalinya di mana pandang mataku dan pandangan mata Ustad Fariz saling bertumpu dalam jarak yang begitu dekat, dimana setiap hembusan nafasnya dapat kurasakan begitu pelan mengenai wajahku. Namun, terkadang hembusan napasnya terasa cepat menyentuh pipiku, dan di dalam ketegangan yang tercipta di antara diriku dan Ustad Fariz.Tiba-tiba bibir mungilnya yang tipis itu tersenyum lebar kepada diriku sembari jemarinya mengusap lembut kepalaku. Aku seolah terpaku dan begitu terkesima melihat parasnya yang begitu meneduhkan dan rupawan.Paras yang selama ini berusaha untukku tundukkan pandangannya dan ku hindari tatapannya saat memandang diriku. Tetapi kini wajah dan mata itu telah terangkat penuh menatap wajahku tanpa rasa malu dan ragu.


Ustad Fariz pun berkata kepada diriku, "Maafkan saya Dek Rani, karena sebelum menikah dengan Dek Rani.Saya pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang gadis dan dimana saat pertama kali saya bertemu dengan dirinya. Saya sudah memiliki niat ingin menikah dengannya Dan sampai saat ini saya masih mencintainya.Bahkan perasaan saya terhadap gadis itu semakin dalam."


Hatiku begitu tersentak mendengar ucapan dari bibir Ustad Fariz. Ada perasaan nyeri yang tiba-tiba bersarang di hatiku.Ucapan yang tidak ingin kudengar sama sekali dari dirinya. Mataku pun berkaca-kaca dengan pemikiran yang simpang siur berkelana di pikiranku. Perasaan ketakutan muncul dengan tiba-tiba.Rasa takut akan kegagalan dan kepahitan dalam mengarungi biduk rumah tangga mulai terbayang dan terlintas di benakku.


Ya Allah apakah keputusan diriku menerima pinangan Ustad Fariz salah, batinku sambil sedikit menundukkan pandangan mataku untuk menyembunyikan rasa sedih dan syokku setelah mendengar ucapan dari Ustad Fariz kepadaku. Dan Ustad Fariz hanya terdiam memandang diriku yang tertunduk lemas, dimana jemari tangannya masih memegang kepalaku.


Rasanya leherku terasa tercekik dan tidak mampu untuk berkata-kata, tetapi aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Ustad Fariz.


Aku menyeka air mataku yang mengambang di ujung sudut mataku, setelah itu ku angkat kepalaku yang tertunduk perlahan menatap wajah Ustad Fariz yang juga memandangi diriku dengan serius. "Jika memang Ustad mencintai gadis lain, lalu mengapa Ustad Fariz meminang diriku? Apakah Ustad Fariz memintaku menjadi istri Ustad Fariz hanya karena rasa iba dan atas desakan Ummah saja?. "


Air mataku kembali berkaca-kaca dengan rasa sesak yang menyelimuti hatiku semakin nyeri dan sakit.

__ADS_1


Tetapi Ustad Fariz hanya diam dan memandangi diriku dengan serius dan dalam, seolah dirinya tidak ingin melepaskan tatapannya dari diriku.


Dan dengan suara bergetar, aku pun kembali bertanya lagi kepada Ustad Fariz, "Mengapa Ustad Fariz tetap mau menikah dengan Rani dan tidak menikah saja dengan gadis yang Ustad Fariz cintai itu? Dan apakah Ustad Fariz menyesal telah menikah dengan Rani?. "


Tanpa kusadari air mataku pun tumpah mengalir membasahi kedua pipiku, dan dengan perlahan aku mencoba melepaskan jemari tangan Ustad Fariz yang ia letakkan di kepalaku. Namun, saat aku melepaskan jemari tangan Ustad Fariz dari kepalaku dan dalam posisi sudah menurun di hadapan ku.


Jemari tangan Ustad Fariz semakin mengenggam jemari tangan ku dengan kuat.


DEG..


Perasaan berdebar-debar semakin kuat menjalar dan mengusik diriku.


Kemudian,aku menatap wajah Ustad Fariz yang tersenyum memandangi diriku.


Dimana salah satu jemari tangan kanannya mengenggam jemari ku, dan salah satu jemarinya yang lain mengusap air mataku. Aku ingin mengelak darinya karena perasaan terluka yang kurasakan, tetapi tenaga nya tak mampu untuk ku lawan. Dengan perlahan Ustad Fariz semakin mendekatkan dirinya padaku, dimana jarak wajah kami begitu dekat hingga aku mampu mencium aroma wangi tubuhnya. Dan dengan lembut jemari tangan nya mengusap pipiku seraya berkata, "Gadis yang saya cintai itu adalah dirimu Dek


Rani. "


Aku terperangah mendengarkan ucapannya. Ustad Fariz tersenyum lalu mengecup keningku dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Aku tidak mampu berkata-kata mendengar ucapan Ustad Fariz, hingga jemari tangannya menarik tubuhku perlahan untuk berada dalam dekapan tubuhnya.


Subhanallah, Maha Suci Allah.

__ADS_1


Diriku benar-benar merasakan luar biasa indahnya cinta Ustad Fariz untukku. Dimana selama ini kerahasiaan cintanya kepada diriku begitu terjaga dalam sikap, ekspresi, dan kata-katanya, hingga akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyatukan cintanya dalam diam dengan diriku dalam suatu ikatan pernikahan yang suci nan agung. Begitu sangat rahasianya Ustad Fariz menyimpan cintanya untukku, bahkan selama ini aku pun tidak pernah menyadari nya sama sekali.


__ADS_2