
Kehadiran Fariz kecil sungguh menjadi penawar akan rasa duka di tengah keluarga Imandar. Dimana secara perlahan-lahan guratan tawa akan kebahagiaan di paras Ummah dan Abi kembali terukir, setelah sekian lama. Khususnya Ummah yang seakan-akan mendapatkan ghiroh hidupnya lagi.
Begitu pula dengan diriku, yang juga berangsur-angsur menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik.
Mendengar setiap ucapan Ummah, Abi dan Enjid menjadi semacam cambuk bagi diriku. Supaya berusaha keras untuk sembuh seperti sedia kala
Perlahan-lahan, setelah sadar bahwa ingatanku sudah kembali lagi. Aku pun mulai menyadari segala sesuatu yang terjadi di sekelilingku, sudah seperti kehidupanku sebelumnya. Tetapi kali ini aku berjuang sendiri menapaki jalan kehidupan ku, tanpa Mas Fariz.
Pikiranku yang semakin membaik, akhirnya membuat tubuhku pun mulai membaik lagi. Aku perlahan bisa mengendalikan bagian tubuhku yang lain. Termasuk mengendalikan tubuh bagian atas, meskipun tubuh bagian bawah belum bisa digerakkan.Tetapi diriku tidak pernah menyerah dan mengeluh, akan kondisi ku. Yang mana terus memacu diriku untuk segera menjemput kesembuhan ku.
Tidak ada manusia di dunia ini yang menginginkan sakit, termasuk juga dengan diriku. Sakit adalah kondisi tubuh yang paling ingin dihindari oleh semua orang. Dimana semua orang pasti ingin selalu sehat dan tampil bugar. Akan tetapi, ada kalanya tubuh mengalami gangguan kesehatan dan takdir berkata lain, sesuai apa yang dikehendaki Sang Maha Kuasa. Sehingga kita tidak bisa mengerjakan aktivitas rutin seperti biasa dan menerima keadaan itu dengan ikhlas dan sabar.
Terkadang saat sakit berkepanjangan mendera, rasa putus asa pun menghampiri. Alih-alih berdo'a untuk kesembuhan diri, yang ada malah berburuk sangka kepada Sang Pencipta. Yah, perasaan yang dulu pernah menghinggapi diriku sesaat.Namun aku segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala.
Aku pun perlahan demi perlahan menerima kondisi ku dan berbaik sangka pada Sang Pencipta yang telah menakdirkan diriku mengalami sakit ini. Lumpuh tidak berdaya dan hanya bisa terduduk di atas kursi roda.
Yang terkadang membuat diriku seakan-akan menjadi beban untuk Ummah dan yang lainnya. Tetapi, dengan segera ku buang pikiran negatif yang berusaha untuk melemahkan hati dan pikiranku.
Dan mulai untuk berpikiran positif, dan menyikapi keadaan terburuk apa pun yang akan diriku hadapi dengan bersikap tenang dan penuh tawakal kepada Allah.
Dimana aku yakin sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,bahwa semua penyakit ada obatnya. Dan sesudah kesulitan, pasti ada kemudahan.
Harapan yang selalu kuyakini dan ku gantungkan di dalam hati dan pikiranku, selama ini.
Dengan sakit yang mendera diriku, aku semakin menjadi pribadi yang penuh akan rasa syukur,yang akan merasakan betapa nikmatnya kesehatan itu. Dengan sakit pula, diriku dapat lebih menghargai hal-hal kecil yang kuanggap biasa saja. Dimana saat sehat, aku dapat berjalan dengan mudah menuju kamar mandi atau kemana pun saja tanpa kesulitan.Namun sekarang, saat sakit menderaku, jangankan ke kamar mandi, bergerak dari tempat tidur saja terasa sulit bagiku. Dengan hal ini pula, tentu membuat diriku lebih menghargai setiap usaha yang ku lakukan ataupun bantuan seseorang untuk pergi membantu ku ke kamar mandi.
Yah, ada hikmah yang harus ku petik dari kondisi tubuhku saat ini, sebagai tanda kasih sayang dari Allah. Maka, aku pun selalu berpikiran positif pada apa yang terjadi kepada diriku, termasuk dengan kelumpuhan ku.
Hingga buah dari kesabaran dan keikhlasan itu mulai menampilkan hasilnya.
Aku dan seluruh anggota keluarga Imandar lainnya, sedang menikmati keadaan di taman pada pagi hari yang sejuk ini.
Taman yang biasa ku kunjungi bersama almarhum Mas Fariz, banyak kenangan dan memori yang kembali tampil di pikiranku.
Tetapi semua itu tidak membuat diriku lemah atau terpuruk. Aku tegar dan kuat, menghargai setiap kenangan indah ku bersamanya, meski kini ia tak bersamaku lagi.
Aku pun memejamkan kedua mataku perlahan, untuk membuat kenangan itu agar tidak membuatku bersedih.
__ADS_1
Ummah yang seakan-akan mengetahui perasaan ku, dengan segera mengusap pundakku perlahan untuk menguatkan diriku.
"Yang kuat dan tegar ya sayang. Ummah yakin putri Ummah bisa melalui semua ini dan tidak akan bersedih, meskipun tempat ini memiliki banyak kenangan bersama Fariz, " bisik Ummah padaku.
Aku pun mengangguk dan melemparkan senyuman kecilku pada Ummah.
Ummah pun mendorong kursi roda ku perlahan ditemani Bik Inah. Sementara yang lainnya sudah berjalan terlebih dulu, mendahului kami.
Di atas kursi roda, aku pun memandangi keadaan taman yang telah banyak terdapat perubahan dan renovasi. Namun,nuansa hijau yang asri dan berseri masih tetap ada.
Dengan pepohonan yang rindang memberikan ke sejukkan.
Taman ini juga menawarkan keindahan bunga-bunga yang beragam dan lengkap, mulai dari bunga-bunga khas Indonesia seperti melati, anggrek, dan bunga kantil, hingga bunga-bunga eksotis dari luar negeri seperti tulip, mawar, dan lily. Selain itu, taman ini juga memiliki taman bonsai yang menarik. Wangi semerbak saat kami melalui hamparan bunga yang indah dan menenangkan hati, sungguh menciptakan atmosfir kebahagiaan tersendiri di hatiku.
Ummah lalu memutuskan untuk membawaku menuju taman bunga, sebelum berkumpul dengan keluarga Imandar lainnya.
Sejauh mata memandang, banyak aktivitas yang dilakukan orang-orang di taman ini.
Ada yang duduk di bangku taman sambil berbincang. Ada juga yang duduk di tepi kolam atau pinggir jalan setapak. Ada yang duduk lesehan bersenda gurau bersama kawan, jogging keliling taman, bermain bersama anak, berlatih biola, sampai sekelompok orang yang asyik menggambar.
Pemandangan yang berulang kali menyita pandangan mataku, selama Ummah dan Bikin Inah mendorong kursi roda ku melalui jalur pejalan kaki yang indah dan menyenangkan.
Tidak lama setelah itu,kami sudah berada di taman bunga. Aku, Ummah dan Bik Inah menatap senang menikmati keindahan
bunga yang bermekaran di setiap sudut taman.
Ummah lalu meminta Bik Inah membeli sesuatu minuman atau makanan di food court yang tidak jauh dari taman bunga tempat kami berada saat ini. Sebab bekal makanan yang kami bawa sudah dibawa oleh Pak Budi dan Kak Rafa.
Bik Inah pun dengan segera beranjak pergi. Sementara itu , Ummah yang berada di dekatku sedang menerima telepon Abi yang mencari keberadaan kami.
Ummah sedang asyik berbicara dengan Abi melalui sambungan telepon.
Aku pun diam di atas kursi rodaku, memandangi keindahan taman bunga ditemani iringan alunan musik yang dimainkan oleh pemuda yang tadi kami lewati. Tidak jauh dari taman bunga tempatku berada,terdapat sungai buatan kecil yang menambah indah taman bunga ini.
Di saat aku tengah menikmati pemandangan dari hamparan bunga di hadapan ku. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada anak kecil yang lucu, cantik dan menggemaskan yang memakai hijab berwarna senada dengan hijab yang ku kenakan yaitu soft pink.
Anak perempuan itu bermain di taman,sembari memegangi bunga -bunga yang bermekaran. Usianya mungkin sekitar dua tahun.
__ADS_1
Kulihat di sekitar ku untuk mencari keberadaan orang tua atau keluarga nya. Hingga tidak jauh dari anak perempuan kecil itu bermain. Ada seorang wanita duduk di kursi taman, sedang memangku anak laki-laki yang usianya lebih muda dari anak perempuan itu. Lalu wanita itu tersenyum kepada diriku. Dan aku pun membalas senyuman nya.
"Oh, ternyata itu adalah ibunya, " batinku di dalam hati.
Tetapi anak perempuan itu terus membius pandangan mataku untuk terus mengawasinya. Hingga langkah kaki kecilnya terus membawa anak perempuan itu mendekati sungai buatan yang ada di dekat taman ini. Aku khawatir dan cemas, takut jika anak perempuan itu tergelincir atau terjatuh kesana.
Lalu ku alihkan pandangan mataku pada ibu anak perempuan kecil itu, untuk memberi tahu keberadaan putri kecilnya.
Tetapi sungguh membuat diriku sangat terkejut, wanita yang ku kira adalah ibu dari anak perempuan kecil itu. Justru beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja, tanpa memperdulikan anak perempuan berkerudung itu.
"Ya Allah, ternyata wanita itu bukan ibunya. Lalu dimana keluarga anak ini?, " gumamku sambil melihat ke sekitar.
Tetapi tidak kulihat keberadaan siapa pun yang ada di taman bunga ini. Dan kulihat anak perempuan itu semakin dekat dengan sungai buatan.
Aku semakin takut dan cemas akan keberadaan anak perempuan itu. Dengan segera aku berusaha memanggil Ummah, tetapi Ummah yang membalikkan tubuhnya dan berada jauh dariku. Rupanya tidak mendengar panggilan ku, karena alunan suara musik terdengar begitu nyaring dan kuat.
Aku pun semakin gelisah dan mencemaskan anak perempuan itu, tetapi kondisi ku tidak memungkinkan untuk menghampiri nya.
"Ya Allah apa yang harus ku lakukan, bantu aku ya Allah, " ucapku.
Dan tanpa kusadari, saat anak perempuan itu sudah semakin dekat menuju sungai dengan hanya tinggal beberapa langkah.
Situasi mendesak ini, mendorong tubuhku untuk berdiri dan aku berjalan bahkan langkah ku menjadi cepat tanpa ku sadari.
Dengan segera ku tangkap tubuh anak perempuan itu, yang hendak jatuh ke sungai buatan. Lalu mendekapnya erat dalam pelukan ku.
Jantungku berdetak kencang...
"Alhamdulillah ya Allah, " ucapku sambil menatap anak perempuan kecil ini yang tersenyum kepada ku.
Aku terkesima menatap wajah polosnya, yang mengusap wajahku lembut.
"Rani! Rani! Rani!, " terdengar suara bersahutan memanggil namaku secara berulang-ulang.
Aku dan anak perempuan itu menoleh pada sumber suara yang berteriak memanggil namaku.
Tidak lama terdengar langkah kaki menghampiri ku dan anak perempuan itu.
__ADS_1
"Rani!, " panggil seseorang.
Aku dan anak perempuan kecil yang berada dalam dekapan ku menoleh bersamaan, melihat seseorang yang terus memanggil namaku.