
Wirda masuk membawa barang-barang milik nya dibantu dengan Bik Inah.
"Lho Rafa mana Nak?, " tanya Tante Warti mamanya Wirda yang sedang duduk di ruang keluarga menikmati secangkir coklat panasnya.
Wirda menoleh ke arah Tante Warti sambil meletakkan barang yang ia bawa ke lantai, lalu mendekati Tante Warti.
"Nak Wirda, barang-barangnya bibi masukkan ke kamar Nak Wirda ya?, " tanya Bik Inah.
"Iya Bik boleh, "sahut Wirda.
Bik Inah pun mengangguk, lalu membawa koper yang berisi barang-barang Wirda ke kamar Wirda.
Sementara itu, Wirda lalu duduk di samping Tante Warti, dan menyadarkan kepalanya di bahu Tante Warti seraya memeluk tangan Tante Warti.
" Mah, Wirda kangen dengan mama, "ucap Wirda sambil memeluk erat tangan Tante Warti yang ia dekap.
Tante Warti lalu meletakkan cangkir berisi coklat panas di meja yang terletak di samping sofa ia duduk dengan Wirda Sekarang.
" Iya mama juga kangen denganmu Nak, "balas Tante Warti sambil mengusap kepala Wirda dengan tangan kanannya.
" Papa mana mah?, "tanya Wirda melepaskan diri mendekap tangan Tante Warti .
" Papa sedang tidur, papamu begitu sangat kelelahan sekali Nak." Pandang Tante Warti menatap Wirda.
"Oh ya Nak, bagaimana keadaan Rani pasca operasi pencangkokan kornea nya?, " tanya Tante Warti.
"Wirda belum mendapatkan kabar terbaru mengenai kondisi Rani Mah."
"Lha kenapa? Bukankah kamu menemani Rani menjalani operasi mata, lalu mengapa kamu tidak tahu mengenai kondisinya Nak?."
"Sebab saat Wirda pamit pulang, Rani masih di dalam ruang operasi mah. Sehingga Wirda tidak mengetahui kondisi Rani yang terbaru. Nanti Wirda akan coba menghubungi Kak Rafa atau Kak Fariz untuk bertanya mengenai kondisi Rani. "
"Iya Nak. Mama berharap semoga proses operasinya lancar tanpa kendala, dan Rani dapat melihat seperti sebelumnya. "
"Aamiin ya robbal alamiin. Wirda juga berharap seperti itu mah. Oh ya Mah, sekarang Rani sudah resmi bercerai dengan Kak Reno mah. "
Tante Warti menatap Wirda dengan ekspresi wajah terkejutnya.
"Alhamdulillah.Benarkah itu nak?. "
"Iya mah benar. Selama mama pergi banyak sekali peristiwa dan kejadian yang terjadi mah. "
"Oh ya kejadian apa itu?, " tanya Tante Warti sambil mengambil cangkir berisi coklat panas lalu menyeruputnya beberapa kali secara perlahan.
"Mama ingin mendengar kabar baik atau kabar buruk mah?. "
"Hmm, kabar buruk saja dulu . "
Tante Warti lalu meletakkan kembali cangkir yang ia bawa ke atas meja di sampingnya, kemudian menatap wajah Wirda .
"Kabar buruknya yaitu Kak Roy dan Bu Sri sudah meninggal dunia mah. "
"HAH!? Apa?, " ucap Tante Warti sangat terkejut dengan mulutnya yang menganga.
"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, " ucap Tante Warti kembali sambil memegang dadanya seakan tidak percaya.
"Berita baik nya adalah Pak Suprapto dan Pak Sugeng juga Kak Reno saat ini sudah ditahan di sel penjara untuk mempertanggungjawabkan atas perbuatan yang mereka lakukan terhadap Rani dan keluarganya mah. "
"Alhamdulillah jika begitu dan mama senang mendengarnya. "
"Iya mah, memang sudah pantas mereka mendekam di penjara untuk semua kejahatan yang mereka lakukan terhadap Rani dan keluarganya. Apalagi setelah semua aset dan kekayaan yang mereka gunakan selama ini sudah kembali kepada Rani, selaku pemilik sahnya. Maka membuat keluarga Kak Reni semakin terpuruk dan hancur mah. Ditambah lagi sekarang Mbak Riska depresi dan mengalami gangguan jiwa yang mengharuskan dirinya dirawat di rumah sakit jiwa. "
"Ya Allah, miris dan tragis sekali akhir dari keluarga Suprapto. Itulah hasil dari apa yang mereka tanam selama ini, yang membuahkan hasil banyak kesakitan dan keterpurukan yang begitu sangat menyakitkan bagi mereka. "
Tante Warti mengusap dadanya mendengar banyak berita yang sangat membuatnya terkejut.
Lalu Wirda memandang wajah Tante Warti yang masih sangat syok akan berita kehancuran keluarga Suprapto yang ia dengar. Kemudian Wirda menggenggam jemari tangan Tante Warti dan mengatakan berita yang akan membuat Wirda tersipu malu untuk mengatakannya.
"Mah, " panggil Wirda.
"Iya nak katakan saja, apa yang ingin kamu katakan. Mama akan siap mendengarkan nya. "
Tante Warti tersenyum memandang wajah Wirda.
"Mah, Kak Rafa berniat akan mengajak anggota keluarganya untuk silaturahmi ke rumah kita. "
__ADS_1
"Silaturahmi ke rumah kita. Iya tidak apa-apa. Tetapi kenapa Nak?, " tanya Tante Warti dengan wajahnya yang bingung.
Wirda tersipu malu menatap wajah mamanya.
"Untuk melamar Wirda menjadi istri Kak Rafa mah, " sahut Wirda menundukkan kepalanya dengan pipi yang terlihat merah.
Tante Warti terkejut namun tersenyum mendengar berita yang diucapkan oleh Wirda kepada dirinya, lalu Tante Warti memegang wajah Wirda dan mengangkat kepala Wirda yang tertunduk.
"Hmmm, lalu bagaimana perasaan dan tanggapan Wirda terhadap niat baik dari Nak Rafa?, " tanya Tante Warti sambil menaikkan kedua alisnya dan tersenyum.
Wirda tersipu malu dengan pipinya yang kemerahan.
"Hmmmm, Wirda.... "
Tersenyum meringgis dan malu-malu.
Tante Warti lalu tersenyum lebar melihat sikap putrinya tersebut.
"Baiklah Nak. Setelah papa bangun dari tidur,mana akan menyampaikan semuanya perihal niat Nak Rafa untuk meminangmu. Sekaligus mama akan mempersiapkan semuanya ya. "
Wirda mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu nanti kami beri tahu mama ya kapan Nak Rafa akan berkunjung ke rumah kita bersama keluarganya yang lain. "
"Baik mah. "
"Ya sudah jija begitu mama masuk ke kamar untuk beristirahat sebentar ya, mama capek dan mengantuk nak. "
Tante Warti menguap sambil menutup mulutnya.
"Iya mah. "
Tante Warti tersenyum lalu mengusap kepala Wirda dengan pelan. Kemudian menghabiskan coklat panasnya. Setelah itu, berjalan menuju kamar tidurnya untuk beristirahat.
Sementara Wirda masih tersipu malu dan senyum-senyum sendiri mengingat akan ucapan Kak Rafa kepadanya.
Wirda begitu tidak dapat berhenti untuk mengingat Kak Rafa.
Paras Kak Rafa terus terlihat jelas di pelupuk mata Wirda, meski Kak Rafa tidak berada di hadapannya.
Sementara itu Kak Rafa yang sudah tiba di rumah sakit segera bergegas menuju ruang rawat inap tempatku berada. Setelah ia kembali dari ruang operasi dan perawat mengatakan kepadanya jika diriku sudah selesai menjalani operasi yang sekarang ada di ruang rawat inap untuk masa recovery pasca operasi.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, "jawab semua orang yang berada di ruangan tempat ku sedang terbaring.
" Wirda tidak ikut lagi kemari Nak?, "tanya Ummah.
Kak Rafa berjalan mendekati Enjid dan duduk di sampingnya.
" Tidak mah, kan orangtuanya baru saja pulang dari luar kota masak harus ditinggal lagi Ummah. "
"Oh iya juga ya Nak, " sahut Ummah.
"Lalu bagaimana keadaan Dek Rani Ummah?, " tanya Kak Rafa serius.
" Alhamdulillah proses operasi mata pencangkokan kornea pada Rani berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Tetapi memang sekarang Rani belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius ,dan dokter juga masih akan memantau perkembangan dan kondisi Rani pasca operasi. Apakah ada indikasi medis seperti peradangan dan lain-lain. Dan jika setelah dokter memeriksa tidak didapatkan indikasi yang membahayakan Rani .Maka Rani boleh dirawat di rumah,namun juga boleh tetap berada di rumah sakit sampai perban di matanya dibuka, "jelas Ummah kepada Kak Rafa.
" Baguslah jika begitu Ummah. "
Lalu Kak Rafa memandang sekitarnya untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Ada apa Nak? Kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu?, " tanya Ummah yang memandang Kak Rafa dengan raut wajah heran.
Kak Rafa tersenyum meringgis.
"Iya Ummah ada yang ingin Rafa katakan kepada semuanya. "
"Iya katakan saja Nak, " sahut Ummah.
Ughhhhh.....
Kak Rafa merasa tegang dan sedikit canggung seketika.
" Katanya tadi mau berbicara kok sekarang diam dan hanya senyum-senyum seperti itu?," tanya Ustad Fariz yang berusaha untuk menggoda Kak Rafa.
Kak Rafa tersenyum lagi.
__ADS_1
"Sebentar Kak,Rafa mengatur nafas dulu.Hehehe," ucap Kak Rada meringgis.
Enjid dan Abi menatap Kak Rafa lekat.
" Apa yang ingin kamu katakan Rafa sehingga kamu terlihat begitu tegang dan sangat serius seperti itu ?,"tanya Enjid yang terus memandang Kak Rafa dengan sorot mata yang tajam dan rasa ingin tahu.
Kak Rafa berusaha memperbaiki duduknya dan tersenyum kecil memandang Abi,Enjid,Ummah dan Ustad Farid, ia berusaha untuk menghilangkan ketegangan yang menyelimuti dirinya saat ini.
" Bismillahirohmanirohim," ucap Kak Rafa secara lirih.
Kemudian Kak Rafa terlihat lebih tenang dengan sorot matanya yang teduh disertai raut wajahnya yang penuh keyakinan.
" Enjid,Abi ,Ummah dan Kak Fariz dengan ini Rafa ingin menyampaikan isi hati Rafa yaitu berupa niat Rafa yang ingin meminang Dek Wirda menjadi istri Rafa."
Semua orang tersentak dan terkejut mendengar perkataan dari Kak Rafa.
" Benarkah itu Rafa? Mengapa secara mendadak seperti ini?," tanya Enjid memandang Kak Rafa.
" Rafa tidak ingin terlalu berlama-lama menahan perasaan ini Enjid,sebab sebelum Rafa ditugaskan kembali. Rafa ingin segera melaksanakan niat Rafa untuk mempersunting Dek Wirda secepatnya," jawab Kak Rafa dengan tegas.
"Apakah kamu benar-benar sudah yakin nak?," tanya Abi yang juga memandang Kak Rafa.
" Insya Allah Rafa sudah yakin dan mantap dengan pilihan Rafa, Abi. Untuk itu Rafa meminta do'a restu dan dukungan dari Enjid,Abi ,Ummah dan Kak Fariz,serta memohon kalian semua untuk membantu Rafa melamar Dek Wirda menikah dengan Rafa," pinta Kak Rafa dengan penuh percaya diri.
Namun Ummah terlihat diam dan berpikir sejenak. "Apakah tidak apa-apa Abi jika Rafa menikah duluan dan melangkahi Fariz kakaknya ?,"tanya Ummah dengan raut wajah sedikit dingin.
Abi pun tersenyum.
"Tidak apa-apa Ummah, lagi pula jodoh itu kan rahasianya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita tidak tahu dan tidak dapat menentukan kapan ,di mana dan di waktu yang seperti apa Rafa dan Fariz akan bertemu dengan jodohnya. Mungkin saat ini jodoh Rafa lebih dahulu datang dibanding dengan Fariz. Dan untuk jodohnya Fariz mungkin Allah sedang mempersiapkan jalannya untuk Fariz agar dapat bertemu dengan jodohnya, dan Abi minta Ummah tidak perlu khawatir .Lagi pula Fariz juga terlihat santai saja. Bukankah begitu nak?," tanya Abi kepada Ustad Fariz.
Ustadz Fariz pun tersenyum dan mengangguk ,"Iya Abi benar."
"Tuh kan Ummah dengar sendiri kata Fariz," sahut Abi.
Namun raut wajah Ummah yang penuh kegelisahan dan khawatir tidak dapat disembunyikan.
" Sebenarnya Ummah tidak keberatan jika Rafa Ingin melamar Wirda menjadi calon istrinya, sama sekali Ummah tidak keberatan. Lagi pula Wirda juga anak yang baik dan santun, tetapi yang sedikit Ummah risaukan adalah Rafa menikah terlebih dahulu dibandingkan Fariz. Hal itu yang sedikit membuat Ummah merasa cemas. Padahal keinginan hati Ummah ingin sekali melihat Fariz menikah terlebih dahulu dibanding dengan Rafa .Ya tetapi takdir berkata lain," ucap Ummah dengan sedikit rasa kecewa.
Melihat Ummah sedikit risau dan khawatir yang berlebihan menurut kacamata Ustad Fariz.Maka Ustad Fariz pun beranjak dari duduknya dan mendekati Ummah. Lalu duduk di samping Ummah sembari menggenggam jemari Ummah untuk membuat hati Ummah tenang dan tidak risau.
"Wa annahuu khalaqaz zawjainiz zakara wal unsaa.Dan sesungguhnya Dialah yang men-ciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.Al-Qur'an surat An-Najm ayat 45.Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah berfirman dalam surat tersebut Ummah.Bahwa Allah sudah menciptakan manusia secara berpasangan.Sehingga Ummah tidak perlu risau akan jodoh Fariz,Ummah.Jodoh tidak akan pergi kemana pun Ummah."
"Tetapi jika kamu tidak berikhtiar lalu bagaimana kamu akan bertemu dengan jodohnya Nak?," tanya Ummah gelisah.
"Jodoh, rezeki, hidup dan mati memang merupakan rahasia Ilahi. Sebagai manusia beriman, sudah seharusnya memang kita berusaha atau ikhtiar. Dan Fariz sudah melakukan itu Ummah.Namun setelah berikhtiar Fariz hanya bisa memasrahkan diri atau bertawakkal kepada Allah. Jika sudah digariskan, jodoh yang Fariz dambakan selama ini tidak akan pergi kemana pun."
" Benarkah itu nak?Apa yang kamu katakan kepada Ummah?,"tanya Ummah sambil memegang wajah Ustad Fariz.
Ustad Fariz pun menggangguk. "Iya Ummah,untuk itu Fariz berharap Ummah tidak perlu merasa sedih jika Rafa ingin menikah terlebih dahulu mendahului Fariz. Sungguh Fariz tidak merasa keberatan, malah Fariz merasa sangat senang.Sebab Rafa memiliki niat yang baik dan sudah dapat menata untuk kehidupannya. Seperti apa yang Abi katakan, mungkin jodoh Rafa datangnya lebih awal dibandingkan dengan jodohnya Fariz.Dan itu juga bukan menjadi masalah kan Ummah. Lagi pula tidak baik jika kita menghalangi hal baik yang sudah menjadi niat Rafa. Bukankah menikah itu juga ibadah Ummah, jadi akan lebih baik jika kita menyegerakan apa yang sudah menjadi niatnya Rafa untuk segera menikahi Dek Wirda. Dan untuk itu Fariz minta.Ummah tidak perlu mencemaskan semuanya ,karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menjamin jodoh yang sudah Allah gariskan dan tetapkan untuk Fariz, " jelas Ustad Fariz panjang lebar sembari mencium tangan Ummah lalu memeluknya.
"Iya Nak, maafkan Ummah ya, " ucap Ummah.
"Mengapa Ummah harus minta maaf, Ummah tidak melakukan kesalahan, " jawab Ustad Fariz tersenyum.
"Kalau begitu daoatkah kamu memberi tahu Ummah kepada siapa Fariz sedang berikhtiar untuk mendekatkkan jodohmu Nak?, " tanya Ummah mencoba menelisik.
Ustad Fariz tersenyum kecil dan sedikit tersipu malu.
"Insya Allah di waktu yang tepat Fariz akan mengatakan semuanya kepada Ummah. Namun sekarang Fariz rasa ini bukan momentum yang tepat untuk berbicara mengenai ikhtiar yang Fariz lakukan agar dapat bertemu dan dekat dengan jodoh Fariz. Sekarang kita fokus untuk mempersiapkan lamaran Dek Rafa terhadap Wirda ya Ummah, "tutur Ustad Fariz dengan wajahnya yang terlihat sumringah dan berseri.
Ummah pun langsung membelai kepala Ustad Fariz dan mencium kening putra sulungnya itu dengan penuh kasih sayang. "Baiklah Nak Ummahpercaya kepadamu, dan menunggu momen itu datang saat Fariz mengatakan semuanya kepada Ummah. Kamu memang sangat pandai membuat hati Ummah menjadi tentram dan damai, "balas Ummah dengan senyumnya yang merekah.
Kak Rafa pun memandang Ummah dan Ustad Fariz.
" Akh, Ummah tidak adil. Masak Kak Fariz saja yang dipeluk dan dicium. Rafa cemburu Ummah, "ucap Kak Rafa pura-pura cemberut.
Semua orang pun tertawa melihat sikap Kak Rafa. "Ya sudah Rafa kemari,hayuk anak bungsu kesayangan Ummah, " panggil Ummah menggoda Kak Rafa.
Mendengar panggilan dari Ummah. Kak Rafa pun mendekat ke arah Ummah lalu duduk di samping Ummah.
Kemudian Ummah pun memeluk Kak Rafa dan mencium keningnya sama seperti yang Ummah lakukan kepada Ustad Fariz.
Kak Rafa tersenyum bahagia, lalu Ummah memandangi kedua putranya dan memeluk keduanya dengan penuh limpahan curahan kasih sayang yang ia miliki.
Abi, Enjid, Bik Siti dan Pak Budi melihat keakraban dan keintiman Ummah dan kedua putranya dengan tatapan yang begitu berbinar.
__ADS_1
" Semoga Allah selalu merahmati hubungan kalian bertiga dengan curahan kasih sayang dan juga keberkahan yang tiada henti dari Allah subhanahu wa ta'ala, "ucap Abi tersenyum senang.
" Aamiin ya rabbal alamin, "sahut semua orang yang berada di ruangan tempatku dirawat.