Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Tentang aku dan dirinya.


__ADS_3

Setelah Kak Reno menunjukkan tempat tinggal nan asri dengan hamparan pemandangan yang begitu memukau mata.


Aku pun akhirnya memutuskan untuk menerima permintaannya tersebut dan menetap pada rumah impian sederhana yang telah Kak Reno siapkan.


Rutinitas kebersamaan ku dan Kak Reno yang pertama. Setelah menempati rumah baru kami yaitu salat berjama'ah di masjid bersamanya.


Yah, aku tahu Kak Reno memilih rumah yang sekarang kami tinggali ini karena memiliki pemandangan alam yang indah. Selain itu, karena dekat dengan masjid dan para tetangga yang ramah dan sopan.


Pagi ini selepas pulang dari masjid.


Aku segera menuju dapur dan ingin menyiapkan sarapan untuk ku dan Kak Reno. Hal pertama yang aku kerjakan untuk pertama kalinya setelah menikah. Dan entah mengapa aku ingin melakukannya.


Meskipun hubungan ku dan Kak Reno masih berjarak. Tetapi dengan bersama dirinya ada sesuatu sensasi rasa aneh yang tidak ku mengerti dan membuat ku nyaman berada di dekatnya.


Dengan cepat aku pun segera membuyarkan lamunan ku dan kembali fokus untuk menyiapkan sarapan pagi.


Ku buka lemari es dan tidak ada sayuran segar yang bisa ku olah.


Begitu pun di dapur tidak ada bumbu-bumbu masakan yang lengkap. Maklum karena kami baru saja pindah dan belum sempat berbelanja perlengkapan persediaan makanan.


Maka sambil sedikit tertunduk lesu aku pun menghela napas pendek. Dan tiba-tiba di dalam rasa keterputusasaan yang ku alami. Ku rasakan seseorang mengusap kepala ku lembut dan hal itu sungguh membuat diri ku begitu terkejut. Maka dengan cepat aku pun menoleh dan memastikan siapa yang berada di dekat ku.


"Kak Reno!, " ucap ku terkejut.


Kak Reno tersenyum menatap diri ku yang terlihat tegang.


"Maaf Rani. Aku mengagetkan diri mu. Sungguh aku tidak bermaksud demikian, " ucap Kak Reno menatap diri ku dalam.


Aku menatap dirinya dan terdiam.


Lalu mendadak Kak Reno memajukan wajahnya mendekati ku. Hingga ujung sudut hidung nya bertemu dengan ujung sudut hidung ku. Aku menjadi semakin terkejut dan membuat tatapan ku perlahan terpaku padanya. Dengan lembut jemari tangannya mengusap kepala ku berulang kali.


Tindakannya sungguh membuat jantung ku semakin berdegup kencang dan merasakan desir aneh yang mengalir di sekujur tubuh ku.


"Ran,kita mencari sarapan pagi keluar saja sambil membeli bahan -bahan keperluan rumah tangga kita, " ajaknya sambil memegang jemari tangan ku.


Aku mengangguk saja sambil menatapnya. Dan berusaha menyembunyikan rasa ketegangan saat berada di dekatnya.


Tidak butuh waktu yang lama bagi ku dan


Kak Reno untuk segera menuju pasar tradisional menggunakan sepeda motor yang di kendarai olehnya.


Sepanjang perjalanan Kak Reno terus mengenggam jemari tangan ku dan tidak sedetik pun ia berusaha untuk melepaskan nya. Untuk sesaat aku terkadang merasa terpesona akan kharisma nya yang tanpa ku sadari begitu membius ku.


Perubahan besar pada dirinya yang tidak pernah ku duga sama sekali.


Menjadikan diri ku takjub dan menaruh simpati padanya. Dia sungguh berbeda dari Kak Reno yang dulu ku kenal. Sangat jauh berbeda hingga terkadang aku lupa jika diri ku pernah membencinya.


"Ran, kenapa diam?, " tanya nya sambil mengendarai sepeda motor.


"Tidak apa-apa, " jawab ku.


"Aku tahu kamu pasti sedang memikirkan diri ku bukan?, " ucap nya dengan penuh percaya diri sambil menggoda diri ku.


Aku menghela napas hingga terdengar olehnya.


"O.. berarti benar apa yang aku katakan barusan. "


Aku pun menggelengkan kepala ku pelan ketika mendengarkan ucapan darinya.


Dan Kak Reno melihat ekspresi wajah ku dari kaca spion motornya untuk menatap diri ku.


Aku lalu menarik jemari tangan ku yang melingkar di pinggangnya.


Namun, dengan cepat Kak Reno menarik jemari tangan ku dan mengenggamnya erat.


Kemudian pelan Kak Reno mengecup jemari tangan ku dengan lembut.


Srrrrrr...


Aliran kejutan listrik seakan mengenai diri ku. Setiap kali Kak Reno menjamah ku dengan sentuhan lembutnya.


Perasaan aneh yang tidak dapat ku kendalikan dan terasa meletup-letup dalam gemuruh rasa yang membuat ku gelisah.

__ADS_1


"Maafkan aku Ran. Aku tidak bermaksud membuat dirimu merasa kesal. Aku hanya bercanda dan tidak mempunyai maksud apa pun. Tetapi jika memang benar engkau memikirkan diri ku. Aku sama sekali tidak keberatan dan justru merasa sangat bahagia. Karena diri ku mempunyai tempat khusus di dalam hati dan pikiran mu, " kata Kak Reno.


Aku hanya diam dan tidak membalas perkataan darinya. Dimana diam ku bukan karena tidak menyukai ucapan nya. Tetapi ikhtiar diri ku untuk dapat mengendalikan perasaan ku yang semakin tidak menentu saat berada di dekatnya.


Dan aku pun merasakan jika Kak Reno seperti mengetahui akan kegelisahan yang ku rasakan. Ia pun berulang kali terus memainkann ibu jarinya dengan mengusap punggung jemari tangan ku yang ia genggam.


Dan tindakan nya itu sungguh semakin membuat sensasi rasa aneh yang bergelora dan seolah meyetrum diri ku akan sentuhan lembut nya.


Beruntung pasar tradisional yang menjadi tujuan kami letaknya tidak terlalu jauh.


Sehingga dengan cepat aku dapat melepaskan genggaman tangan ku darinya dan segera turun dari sepeda motor yang ia kendarai.


Tetapi sekali lagi usaha ku sia-sia.


Setelah turun dari sepeda motor Kak Reno kembali mengenggam jemari tangan ku dan tidak ingin melepaskannya.


Meskipun sudah berulang kali aku meminta pada dirinya untuk tidak terus menerus mengenggam jemari tangan ku.


Tetapi ia selalu tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang putih bersih dan membuat ku tersihir akan bibir tipisnya yang mengembang. Lalu ia berkata kepada diri ku sembari terus mengenggam jemari tangan ku.


"Rani istri ku yang sholehah, " ucapnya pelan sambil memandangi diri ku.


DEG..jantung ku kembali berdegup kencang dan tegang berada di dekatnya. Hingga dengan cepat ku tundukkan pandangan mata ku darinya.


Kak Reno pun seakan mengetahui jika diri ku malu menatap dirinya. Dan membuat dirinya segera meneruskan perkataan nya kembali setelah memanggil diri ku.


"Rani,hubungan antara diri ku dan diri mu yang sudah sah menjadi suami istri, dan sudah terikat oleh janji suci di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Merupakan fase hidup yang membahagiakan bagi ku dan ku harap itu juga berlaku pada mu, " ucap Kak Reno melihat ke arah ku yang juga menatap dirinya.


Untuk sesaat tatapan mata kami bertemu dan terasa menggetarkan jiwa kami masing-masing. Dimana dunia seolah berhenti seketika dan membius kedekatan kami masuk dalam dimensi yang berbeda.


Bibir ini memang diam tetapi dari sorot pandangan matanya dan mata ku.


Bahasa hati kami seolah berbicara dan mengutarakan perasaan kami masing-masing.


Aku memejamkan kedua mata ku sebentar untuk tidak membuat diri ku semakin hanyut dan tenggelam dalam pesonanya yang menjerat diri ku secara perlahan.


Aku terkejut dan membuka mata ku.


Kak Reno mengusap kepala ku lagi dengan lembut.


Lalu meneruskan perkataan nya sambil terus kembali mengenggam jemari tangan ku dan melangkah perlahan.


"Di dalam hidup berumah tangga, sepasang suami istri seperti kita berdua memiliki kedudukan spesial dalam pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena begitu spesialnya, hingga kebiasaan sepele yang kita lakukan akan dapat mendatangkan pahala yang besar.


Dimana apabila seorang suami memandang istrinya dan istrinya memandang suaminya. Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memandang keduanya dengan pandangan rahmat dan kasih sayang. Dan jika suami memegang tangan istrinya maka dosa keduanya akan berguguran dari celah jari-jarinya.


Meskipun diri ku mengetahui bahwa hadits itu palsu. Tetap aku tidak akan berhenti untuk memandang mu dan menggenggam jemari mu Ran. Dimana cukuplah rasa sayang ku kepada dirimu menjadi dasar perbuatan ku.


Maka cukuplah kiranya bagi diri ku.


Jika dirimu menerima pesan cinta ku ketika aku memandang mu dan menggenggam jemari mu, bahwa aku benar-benar mencintaimu Ran. "


Aku kembali terdiam mendengarkan perkataan darinya yang begitu sangat menyentuh hati ku. Dan entah mengapa tiba-tiba aku tersenyum kecil memandang dirinya.


Kak Reno semakin terlihat bahagia menatap diri ku dengan senyum mengembangnya.


Tanpa terasa kedekatan kami dalam langkah -langkah kecil kaki kami berdua.


Telah menghantarkan diri ku dan Kak Reno pada sebuah kedai makan sederhana.


Kak Reno memesan makanan untuk kami berdua. Setelah itu ia mengajak diri ku duduk lesehan di ruang terbuka yang membuat ku dan dirinya leluasa menghirup udara segar dengan pemandangan alam yang indah. Sembari menunggu pesanan kami datang.


Kak Reno menggeser duduknya mendekati diri ku hingga tidak ada jarak di antara kami.


Dan lagi pandangan mata kami bertemu dan bertumpu membius kebisuan lisan kami masing-masing. Pelan dan terasa hangat jemarinya menyentuh kembali jemari tangan ku dan menatap diri ku serius.


Aku pun seakan tidak bisa menghindari pandangannya yang terasa mengunci mata ku. Untuk selalu memaksa diri ini merekam wajah nya agar tersimpan dalam memori pikiran ku. Hingga lisannya yang lembut namun tegas bertutur kepada ku dan membuat diri ku terbangun dari lamunan perasaan yang berkecamuk padanya.


"Begitu banyak kesedihan dan derita yang terukir menjadi kenangan cerita pahit.


Akan hubungan kita sebelumnya.

__ADS_1


Dan aku ingin membuangnya jauh-jauh dan berharap diri mu pun juga melakukan hal yang sama aku lakukan Ran.


Tetapi aku menyadari jika hal itu tidak mungkin untuk di lakukan.


Karena kenangan akan cerita pahit itu adalah bagian dari diri ku dan diri mu yang tidak terpisahkan. Setiap kenangan akan cerita pahit itu akan terus melekat bersama diri ku dan diri mu.


Dimana aku hanya bisa meletakkan kenangan pahit itu pada lapisan terbawah memori ku dan meletakkan kenangan-kenangan indah di atasnya.


Supaya kenangan sedih dan pahit tetap tertahan hingga tidak mampu berkuasa untuk timbul kembali dalam hubungan kita saat ini.


Aku berharap kita tidak tenggelam bersamanya dan dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah cerita pahit kita terdahulu, " tutur Kak Reno sambil mengengam erat jemari tanganku dan menunggu respon dari ku.


Aku pun masih diam memandang dirinya yang menatap diri ku dalam dengan tatapan matanya yang penuh kelembutan.


Dan kali ini ia mengecup jemari tangan ku sambil memejamkan kedua matanya.


Srrrrr....


Hati ku kembali bergemuruh dan terasa sesak akan tindakan nya.


Sensasi aliran kejutan listrik yang menjalar di sekujur tubuh ku terus terasa semakin sering dan kuat.


Kak Reno membuka matanya lagi dengan perlahan dan tetap mengenggam jemari tangan ku.


"Rani," panggilnya pelan.


Aku menganggukkan kepala ku dengan perasaan yang tidak menentu.


Kak Reno tersenyum dan mengenggam kedua jemari tangan ku.


Kali ini ku lihat dirinya tampak lebih serius dari sebelumnya.


"Rani berbicara tentang diriku dan dirimu dalam perjalanan cerita tentang perasaan kita di masa lalu. Dimana banyak kesedihan dan duka yang sudah kitalewati.


Dan tidak akan pernah membawa diri kita kembali. Bahkan berharap jika cerita itu tidak akan terulang lagi. Aku berharap semoga semuanya menjadi masa lalu masing-masing dari bagian diri kita. Sementara itu, berbicara tentang hubungan kita berdua. Dimana ada tentang aku dan kamu yang sudah bersama dan bersatu dalam hubungan pernikahan yang suci.


Aku ingin membicarakan tentang aksara cinta dan mimpi indah yang akan kita susun bersama di hari ini menjadi rangkaian kalimat.


Kemudian membingkai nya hingga menjadi cerita yang kita jalani sekarang. Sehingga menjadi impian ku dan diri mu yang akan kita wujudkan di masa depan. InsyaAllah semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menuntun langkah kita untuk selalu bersama dalam ridho-Nya.


Tentang kita berdua adalah tentang kebahagiaan yang saat ini kita rasakan di hari ini dan akan kita pertahankan di esok, lusa, hingga usia kita berdua tidak lagi tersisa. Bahkan hingga kita berdua berjumpa kembali di jannahNya kelak. Aamiin ya rabbal'alamiin.


Aku ingin mematri kehidupan mu dengan kebahagiaan yang belum pernah ku berikan pada mu Ran.


Rani, aku menyadari bahwa diri ku bukanlah sosok suami yang sempurna. Namun yakinlah, aku akan selalu berusaha agar dapat menjadi sosok suami yang selalu mencintai dan menyayangimu.


I love you Rani. "


Air mata Kak Reno menetes perlahan sambil terus memandangi diri ku.


Beberapa kali ia mengecup jemari tangan ku pelan dan seakan tidak ingin pernah untuk melepaskan nya.


Hati ku tersentuh dan begitu merasakan emosi kesedihannya.


Tanpa ku sadari perlahan dan pelan jemari tangan ku mengusap lembut wajahnya yang basah dengan air matanya.


Kak Reno menatap ku dalam lalu memeluk diri ku dalam dekapan nya.


Hangat dan tenang itu yang ku rasakan.


Semuanya hening dalam gemuruh pelan tiupaan sang bayu yang lembut.


Dan aku membiarkan dirinya untuk menumpahkan semua beban di hatinya dalam kehangatan dekapan tubuhnya yang tidak dapat ku tolak.


Ku tarik napas ku perlahan dengan mata sedikit terpejam.


Percaya atau tidak kini aku mulai menyadari perasaan ku mulai tumbuh dan peduli pada diri Kak Reno.


Aku bahkan tidak menyadari dan mengerti mengapa hati ku seolah-olah dapat merasakan kesedihan dirinya.


Hari ini aku dan Kak Reno menjadi semakin dekat dalam perasaan yang terus mengalir.


Pada kebisuan dan kesunyian yang tercipta oleh alam.

__ADS_1


__ADS_2