Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kegalauan Tante Desi.


__ADS_3

Tante Desi mengenggam jemari tangan Kak Roy dengan lembut sembari tangannya yang lain mengusap kepala Kak Roy yang masih tertidur pulas karena pengaruh obat yang di minumnya. Air mata Tante Desi seakan tidak terbendung menahan derita dari melihat kondisi Kak Roy seperti itu. Hatinya sungguh berkecamuk dan bingung untuk berbuat apa, hingga suara tangisnya terdengar pecah, maka dengan cepat Tante Desi segera menutup mulutnya agar tidak menganggu Kak Roy yang sedang terlelap.Lalu Tante Desi berjalan menuju ke sofa di ruangan itu dimana suami dan beberapa kerabat Tante Desi sedang berkumpul.


Suami dan kerabat Tante Desi terlihat terkejut melihat Tante Desi menghampiri mereka dengan berderai air mata. Kegundahan dan rasa penasaran pun menghampiri perasaan juga pikiran Om Surya selalu suami dari Tante Desi.


"Ada apa mah? Papa lihat dari mama masuk ke ruangan ini wajah mama terlihat sangat murung dan gusar. Apakah ada sesuatu yang membebani pikiran dan hati mama? Jika ada tolong katakan mah, jangan mama pendam sendiri bagilah dengan papa. Supaya beban di hati mama jauh lebih baik dan segera berkurang, " pinta Om Surya dengan pelan dan lembut sambil mengusap punggung Tante Desi.


Tante Desi menatap wajah Om Surya sambil menyeka air matanya, "Hal ini berkaitan dengan Rere pah. "


Om Surya terlihat mengkerutkan dahinya dan menunjukkan ekspresi wajah yang tidak suka, "Ada apa lagi dengan Rere mah? Apakah dia membuat masalah dan gara-gara lagi, tetapi bukankah saat ini Rere sedang ditahan mah. "


Tante Desi menggelengkan kepalanya, "Tidak pah, saat ini Rere sedang di rawat di rumah sakit, pihak kepolisian segera membawanya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan sebab Rere jatuh pingsan berulang kali dan yang terakhir membuat dirinya tidak sadar dalam waktu yang cukup lama."


Kemudian, salah seorang kerabat Tante Desi yang juga ikut menyimak pembicaraan Tante Desi dan Om Surya dengan cepat berkomentar, "Kamu jangan percaya dengan perempuan bernama Rere itu Desi, bukankah selama ini istrinya Roy itu sudah menipu kita semua akan kematian Roy dan menyembunyikan keberadaan Roy serta membuat keponakanku menjadi lumpuh seperti itu. Lalu untuk apa lagi dirimu masih bersimpati terhadap perempuan jahanam seperti itu, sudah lupakan dan jangan dipikirkan. Siapa tahu ini juga bagian dari rencananya untuk menipu semua orang lagi, agar ia dapat terbebas dari jeratan hukum."


Tante Desi dan Om Surya juga kerabat mereka yang lain menyimak ucapan yang di sampaikan oleh Bude Ayu yaitu kakak perempuan dari Tante Desi.


Om Surya memegang pundak Tante Desi perlahan, "Papa pikir apa yang di sampaikan oleh Mbak Ayu itu benar mah. "


Tante Desi memikirkan kata-kata suami dan kakak perempuannya.


"Apa lagi yang kamu pikirkan Desi?, " tanya Bude Ayu.


Tante Desi terlihat gusar, hingga akhirnya ia mengungkapkan semua perasaannya, "Tidak Mbak, hanya saja aku masih memikirkan Rere. "

__ADS_1


Bude Ayu terlihat jengkel, "Untuk apa lagi dirimu memikirkan perempuan itu, bukankah sebentar lagi Roy akan bercerai dengannya, lalu untuk apa dirimu sibuk memikirkan perempuan itu, Desi. "


Tante Desi memandangi wajah Bude Ayu, suaminya dan kerabatnya yang lain, " Rere saat ini sedang dirawat di rumah sakit ini, dan saat saya menemuinya serta mendengarkan apa yang telah dijelaskan dokter alasan tentang Rere jatuh pingsan adalah bahwa saat ini ia sedang mengandung anaknya Roy. "


Bude Ayu ,Om Surya dan kerabat Tante Desi yang lainnya pun sangat terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh Tante Desi.


Bude Ayu dengan wajahnya yang penuh pertanyaan memandang ke wajah Tante Desi ,"Mengapa kamu terlihat begitu sangat sedih Des, kalau dia mengandung ya biarkan saja. Lagi pula belum tentu jabang bayi yang dikandung di dalam perutnya Rere itu adalah anak putramu ya kan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang sudah Rere rencanakan untuk Roy dan juga keluargamu Des. Sudahlah kamu tidak usah terlalu memikirkan hal itu, sungguh aku tidak benar-benar yakin jika janin yang dikandung di dalam perut perempuan itu adalah anaknya Roy. "


Tante Desi terlihat tidak setuju akan persepsi dari Bude Ayu, "Mengapa Mbak bisa yakin mengatakan jika janin yang dikandung Rere itu bukanlah anaknya Roy, Mbak?. "


Bude Ayu memandang serius ke arah Tante Desi, " Tentu saja aku sangat yakin sekali setelah melihat perbuatan dari menantumu itu yang sudah terlampau di luar batas normal dan akal pikiran sehat manusia perbuatan nya. Apa yang tidak mungkin yang dapat perempuan itu lakukan untuk terus membelenggu putramu itu Des, agar berada di dalam genggamannya terus. Semua hal tentunya akan halal menurut pandangan dan pemikirannya. Lagi pula kan kita sama-sama tahu Roy tidak pernah mencintai perempuan itu, lalu bagaimana bisa Roy dapat menghamili perempuan itu, sehingga perempuan itu dapat mengandung anaknya Roy. Pastilah perempuan itu menggunakan tipu daya atau akal liciknya untuk menjebak dan memanipulasi keadaan. "


" Tetapi bagaimana Mbak jika janin yang ada di dalam kandungan Rere itu adalah benar-benar anaknya Roy ,tentu aku sebagai neneknya tidak bisa mengabaikan keberadaannya kan. Aku juga harus memperhatikannya, "bantah Tante Desi sambil menatap balik Bude Ayu.


Wajah Bude Ayu pun terlihat kecut sambil sedikit memonyongkan bibirnya, "Kamu itu terlalu terbawa suasana Des, belum ada bukti yang nyata jika janin yang ada di dalam perempuan itu adalah cucumu. Lagi pula jika Mbak berada di dalam posisimu. Mbak tidak akan mau peduli lagi terhadap perempuan itu. Walaupun dia sedang mengandung anaknya Roy, mengingat akan perbuatannya yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan untuk apa Mbak menginginkan cucu dari perempuan yang akan dapat menitiskan atau menurunkan perbuatan dan perilaku jahatnya kepada calon anaknya kelak.Sungguh Mbak tidak Sudi Des, lebih baik mbak memilih Roy berpisah dengan perempuan itu dan tidak perlu memperdulikan janin yang ada di dalam kandungannya. Lebih baik Roy melanjutkan kehidupannya atau menikah lagi dengan perempuan lain yang seribu kali jauh lebih baik dari istrinya sekarang. "


Bude Ayu tersenyum sinis memandang wajah Tante Desi, " Baiklah Des, Mbak mengerti apa yang kamu katakan. Tetapi apakah kamu berpikir jika Roy mengetahui akan hal ini apakah putramu itu mau menerima janin yang ada di dalam perempuan itu .Roy saja sudah jijik dan muak berada dekat dengan perempuan itu. Apalagi jika dia mengetahui jika perempuan itu mengandung anaknya. Apakah hal ini tidak akan membuat putramu merasa tertekan dan menjadi stress Des?. Sekarang kamu harus benar-benar memikirkan hal ini secara cermat dan bijaksana, supaya apa yang kamu pilih tidak menimbulkan kesalahan yang fatal terhadap putramu. Apalagi mengingat kondisi putramu saat ini yang begitu sangat memprihatinkan. Yah, itu kan saran dari Mbak .Semuanya Mbak kembalikan lagi kepadamu dan juga Surya, karena kalian berdualah yang lebih berhak dan tahu mana yang terbaik untuk Roy. Sebab disini kapasitas Mbak hanya dapat memberikan pandangan dan saran kepada kalian ,selebihnya silahkan kalian berembuk untuk memutuskan.Apa langkah selanjutnya yang akan kalian tempuh mengenai hal ini. "


Tante Desi terdiam, begitu juga dengan Om Surya. Mereka berdua benar-benar bingung harus berbuat apa, karena kedua nya begitu sulit untuk mereka putuskan.


Di saat kebingungan melanda Tante Desi tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk menyampaikan keluh kesahnya terhadap Ummah, dan dengan cepat Tante Desi mengambil telepon genggam miliknya dari dalam tas yang bermaksud ingin menghubungi Ummah untuk sekedar berbicara dari hati ke hati supaya mendapatkan solusi yang terbaik dari permasalahan yang menghimpit Tante Desi. Karena Tante Desi paham dan yakin jika Ummah akan dapat memberikan pemecahan masalah yang ia hadapi. Tetapi setelah beberapa kali Tante Desi menghubungi Ummah. Panggilan Tante Desi melalui telepon genggamnya tidak terjawab oleh Ummah.


Mungkin saat ini Ibu Putri sibuk atau sedang beristirahat setelah menunggui Rani selama ini di rumah sakit, sehingga tidak dapat mengangkat telepon dariku, batin Tante Desi di dalam hati.

__ADS_1


Lalu Tante Desi pun mencoba untuk menghubungi diriku melalui telepon genggam miliknya, tetapi sama juga seperti saat beliau menghubungi Ummah, panggilan telepon Tante Desi kepadaku juga tidak terjawab. Tante Desi pun lalu menghela nafas dengan perasaannya yang sedikit kecewa sebab niatnya untuk dapat bertemu atau mengobrol melalui sambungan telepon dengan diriku dan Ummah tidak dapat terpenuhi. Tante Desi pun semakin tidak menentu perasaa gundahnya, lalu beliau memasukkan kembali telepon genggam ke dalam tasnya sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa. Sementara itu, Om Surya, Bude Ayu dan kerabatnya yang lain hanya dapat memandangi kelakuan Tante Desi yang begitu sangat bingung dan galau akan permasalahan yang mendera Kak Roy.


***


Di ruangan lain tempat Rere di rawat. Kedua orang tua Rere terus menjaga dan menemani Rere, terkadang air mata Tante Sinta yaitu mamanya Rere terus mengalir menatap Rere yang masih terbaring lesu di ranjang pasien. Dari paras wajah Tante Sinta sudah tidak terlihat lagi raut keangkuhan dan keegoisannya, kali ini ia benar-benar hancur dan sedih memikirkan Rere yang akan harus berada didalam penjara dalam kondisinya yang sedang mengandung. Om Nugroho selaku suaminya Tante Sinta pun tidak kuasa melihat kesedihan istrinya itu, maka dengan perlahan Om Nugroho berjalan menghampiri istrinya dan mengusap lembut pundak Tante Sinta.


Tante Sinta pun menyandarkan kepalanya ke tubuh Om Nugroho yang berdiri tepat di sampingnya. Mereka berdua saling menggenggam tangan satu sama lain dan menatap dengan lesu wajah Rere yang masih tertidur pulas di atas ranjang pasien.


Tante Sinta sambil menangis, ia pun terus menyesali akan dukungan yang ia berikan terhadap perbuatan Rere,"Hiks..Hiks...Hiks...Jika saja Mama tidak menyetujui akan rencana Rere. Pastilah semua ini tidak akan terjadi Pah. Tetapi saat itu Mama bingung Pah. Mama benar-benar takut.Rere akan melukai dirinya sendiri, jika Mama tidak mendukung akan rencananya, tetapi ketakutan Mama itu malah harus Mama bayar dengan hal yang begitu besar pada hari ini dengan melihat putri dan juga calon cucu mama yang akan benar-benar merasakan penderitaan. Mama tidak akan sanggup membayangkannya Pah, huhuhuhuhu. "


"Papa tahu itu mah, tetapi mau bagaimana lagi Mah, semuanya sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar waktu untuk kembali pada posisi semula.Hal ini semua terjadi akibat papa yang juga terlalu memanjakan Rere ,sehingga ia selalu berusaha untuk mewujudkan dan memaksakan setiap keinginannya harus terpenuhi, begitu juga dengan apa yang terjadi kepada Roy, " ucap Om Nugroho.


Tante Sinta lalu menggenggam jemari tangan Om Nugroho dengan erat, sambil memiringkan sedikit kepalanya memandang wajah suaminya.


Om Nugroho pun yang merasakan genggaman erat dari istrinya lalu memandang wajah sendu Tante Sinta dengan penuh perasaan iba, "Ada apa Mah?,"tanya om Nugroho.


"Pah,kita harus berupaya dan memikirkan cara supaya kedua orang tua dan juga keluarganya Roy tidak melanjutkan kasus akan tindakan yang telah dilakukan oleh putri kita Rere. Kita harus benar-benar meyakinkan mereka ,jika Rere melakukan semua ini karena sangat mencintai Roy. Terlebih lagi saat ini Rere benar-benar sedang mengandung anaknya Roy, " ucap Tante Desi sambil meneteskan air mata.


Om Nugroho terlihat tidak yakin akan pemikiran istrinya, " Entah mengapa Papa tidak begitu yakin mah ,jika kedua orang tua Roy dan keluarganya akan mau menerima janin yang ada di dalam kandungan putri kita Rere, karena selama ini kita mengetahui jika Roy tidak pernah mencintai Rere .Papa takut keluarga mereka akan meragukan bayi yang ada di dalam kandungan Rere, khususnya Roy dan jika hal itu benar-benar terjadi papa tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi kepada Rere.Dan juga sangat mustahil bagi kedua orang tua Roy untuk menarik laporan akan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Rere terhadap Roy, sebab rasanya sulit mah untuk membujuk mereka.Apalagi Mama juga sudah tahu saat Bu Desi kemari, ia seakan tidak peduli lagi dengan Rere dan mengabaikan apa yang Mama utarakan. Meskipun Mama sudah mengemis dan berlutut di bawah telapak kakinya. Bu Desi pun tidak menghiraukan Mamah sekalipun. "


Tante Sinta menjadi bertambah sedih dan galau setelah mendengar perkataan dari Om Nugroho.Dia benar-benar bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan putrinya dan juga kelangsungan hidup janin yang ada di dalam kandungan Rere. Tante Sinta benar-benar rapuh hingga Ia tidak mampu lagi untuk berpikir, dan dengan cepat Tante Sinta langsung memeluk erat tubuh suaminya dan menangis terisak untuk meluapkan rasa kesedihannya yang begitu sangat menghujam di relung hatinya.


Om Nugroho pun begitu tidak kuasa melihat derita Tante Sinta yang begitu teramat sangat terluka, "Baiklah mah, kita sekali lagi akan mencoba menemui kedua orang tua Roy, keluarganya maupun Roy .Dengan sekuat tenaga kita akan membujuk mereka, supaya tidak melanjutkan kasus akan tindakan yang dilakukan oleh putri kita Rere. Papa akan sama-sama berlutut dan mengemis memohon maaf dan belas kasihan mereka dengan mama di hadapan seluruh keluarga Roy,sampai mereka semua benar-benar mau memaafkan dan tidak menceraikan Rere untuk terus menjadi istrinya Roy, "ucap Om Nugroho dengan pelan sambil mengusap lembut kepala Tante Sinta.

__ADS_1


Tante Sinta pun yang semula menangis terisak ,kini dengan cepat mengangkat kepalanya yang sengaja ia benamkan di tubuh Om Nugroho.


Tante Sinta merasakan ada sedikit peluang dan secerca harapan, setelah mendengar perkataan dari Om Nugroho yang sedikit membakar semangatnya untuk terus berjuang demi kebahagiaan Rere dan juga janin yang ada di dalam kandungan putrinya.


__ADS_2