Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Salah paham.


__ADS_3

Tubuhku mendadak terasa kaku dan berat. Wirda datang menghampiri diriku dan menarik tangan ku perlahan untuk duduk bergabung dengan yang lainnya.


Aku ingin menghindari ajakan Wirda, tetapi entah mengapa langkah kakiku begitu patuh, saat Wirda terus menuntunku mendekati Ummah dan yang lainnya.


"Ran,aku begitu terkejut saat bertemu Kak Reno. Dan benar apa katamu, dia begitu banyak telah berubah, " ucap Wirda padaku sambil tersenyum.


Aku memandang sekilas ke wajah Wirda, sambil terus mendekap Fariz. Tidak butuh waktu yang lama, bagiku dan Wirda, akhirnya sampai di tempat Kak Reno duduk bercengkrama dengan anggota keluarga Imandar lainnya.


Ummah memintaku duduk di sampingnya, dan aku pun menurutinya. Kemudian, Wirda mengambil Fariz dari gendongan ku, lalu ia pun duduk di sampingku sembari menyuapi Fariz makan.


Ku arahkan pandang ku yang penuh tanya pada Kak Reno, dan ia pun membalas balik pandangan ku dengan senyumannya yang teduh dan terlihat bahagia.


Abi, Ummah dan Enjid melihat ke arahku.


"Ran,kamu tentu masih ingat dengan Reno kan?, " tanya Abi memecah pandangan ku pada Kak Reno.


"I.. I.. Iya , Abi, " jawabku terbata.


Abi tersenyum padaku, sambil meminum jus buah dari gelas yang ia pesan.


Srupppp... Akhhh....


"Semoga hubungan kalian baik, dan merupakan hal pahit yang pernah terjadi pada kehidupan kalian sebelumnya, " ucap Abi lagi padaku.


Hatiku makin berdebar mendengar apa yang Abi katakan padaku.


Sementara itu, Kak Reno hanya tersenyum dengan sesekali mencuri pandang padaku.


"Reno sudah mengatakan semuanya kepada Abi, Ummah dan Enjid. Dan Abi setuju juga sangat mendukung, atas apa yang Nak Reno sampaikan kepada Abi, Enjid dan Ummah mu, " kata Abi memandang diriku.


Jantungku semakin berdebar kencang.


"Kak Reno benar-benar berani mengutarakan isi hatinya, meskipun sudah jelas-jelas aku melarangnya. Tetapi ia benar-benar egois dan memaksakan kehendaknya, tanpa mengerti perasaan ku, " gumam ku di dalam hati.


Ummah mengusap kepalaku, yang tertutup hijab berwarna hitam.


Seperti pandangan ku yang gelap dan kesal pada Kak Reno saat ini.


"Ada apa sayang? Mengapa kamu tampak murung dan kesal? Apakah terjadi sesuatu padamu?, " tanya Ummah padaku.


Hatiku terlalu bergemuruh menahan rasa kesal pada Kak Reno, hingga aku pun memuntahkan ganjalan pada hatiku tanpa kusadari.

__ADS_1


"Ummah!, " panggillku. "


"Iya sayang ada apa?," tanya Ummah memandang ke arahku sambil mengenggam jemari tanganku.


Ku pandang wajah Ummah lekat lalu bergantian memandang wajah yang lainnya.


"Mengapa Ummah, Abi dan Enjid begitu saja menerima apa yang di sampaikan pada Kak Reno, tanpa mempertanyakan terlebih dulu perasaan dan keinginan Rani!, " ucapku dengan napas naik turun.


Semua orang memandang wajahku bingung.


"Apa maksud perkataan mu sayang? Ummah tidak mengerti nak, " jawab Ummah.


Aku menarik napas pendek, dan mengenggam tangan Ummah kali ini.


Dengan penuh keyakinan dan penuh percaya diri. Aku pun mengatakan semua hal yang kurasakan di dalam hatiku.


"Rani tidak ingin menikah dengan Kak Reno Ummah. Rani tidak mau menerima pinangan nya. Sampai saat ini Rani masih sangat mencintai Mas Fariz, dan tidak akan ada yang pernah dapat menggantikan posisinya di dalam hati Rani, " ucapku berapi-api.


Semua orang pun menatap diriku dengan penuh keterkejutan dan wajah termangu.


"Bagaimana Abi bisa langsung menerima apa yang di sampaikan Kak Reno, sebelum menanyakan persetujuan Rani, Bi? Rani tidak mau menikah dengan Kak Reno, Bi!," kataku pelan dan memohon pada Abi.


"Rani, apa yang sedang kamu katakan barusan?, " tanya Abi.


Aku pun memandang ke arah Abi dengan serius, dan mengulang kembali perkataan ku padanya.


"Rani tidak menerima lamaran Kak Reno untuk menjadi istrinya Bi, " jawabku.


Abi memandang ke Enjid, lalu menatap pada Ummah kemudian melihat ke arahku.


"Rani, Abi tidak mengerti apa yang kamu katakan tentang Nak Reno. "


Aku memandang ke arah Kak Reno lagi yang melirik ke arahku dengan tersenyum.


Ku hela napas pendek sambil berkata lagi pada Abi.


"Abi, kedatangan Kak Reno menemui kalian adalah untuk meminang diriku menjadi istrinya bukan. Dia memang keras kepala, meski aku sudah mengatakan untuk tidak menemui kalian. Padahal ia sendiri sudah sangat tahu, jika aku tidak mau menikah dengannya. Tetapi dia memang egois dan memaksa kan keinginannya, " ucapku kesal.


Ummah memegang wajahku, dan meminta ku berhenti bicara.


"Sayang, tetapi kedatangan Nak Reno kemari tidak untuk melamar dirimu, nak. "

__ADS_1


Aku terkejut dan menatap Ummah serius.


"Maksud Ummah?. "


Ummah tersenyum dan memandang ke arah Abi, untuk menjelaskannya padaku.


"Rani.. Abi yang sengaja meminta Reno kemari. Karena ia menjadi salah satu pengurus inti masjid milik keluarga kita. Dan ia datang kemari pun bersamaan dengan pengurus masjid lainnya. Sengaja Abi dan Enjid meminta mereka datang berlibur bersama kita. Sekaligus agar Abi dan Enjid dapat bermusyawarah untuk melakukan kegiatan-kegiatan amal dan acara lainnya, guna untuk memakmurkan masjid keluarga kita, yang dulu di kelola oleh almarhum Fariz semasa hidupnya. Namun, kini saat Fariz tidak ada Abi dan Enjid sangat kesulitan untuk mengelolanya, " jelas Abi.


"Lalu kenapa harus Kak Reno, Bi?. "


"Karena ia cukup kompeten dalam hal ini, lagi pula Nak Reno juga sudah lulus dan selesai belajar di pondok pesantren milik sahabat Enjid. "


Abi tersenyum padaku dan meneruskan perkataannya lagi.


"Nak Reno sudah banyak bercerita tentang pertemuan mu dengannya. Dan Nak Reno pula yang meminta pada Abi, Ummah dan Enjid supaya dirimu juga terlibat dan ikut andil berperan dalam semua kegiatan di masjid keluarga kita. Dan kami semua pun setuju akan permintaannya itu. "


Aku terdiam mendengar perkataan Abi, dimana pipiku memerah seketika.


Aku melirik ke arah Kak Reno, sepertinya ia tampak tersenyum senang karena sudah mengerjai diriku.


Ummah mengusap punggung ku pelan, "Sayang mengapa kamu berpikir Reno akan melamarmu nak?. "


Gleeekkkk....


Aku terdiam menelan air ludah dan tersenyum meringgis ke arah Ummah.


Wirda pun berbisik padaku, "Ran, mengapa kamu bisa salah paham seperti ini. "


Aku mengelelegkan kepala ku, dan bingung untuk mengatakan apa.


Semua orang memandang kebisuan ku, dan bingung akan sikap yang ku tunjukkan.


Kak Reno melirik ke arahku dengan senyumannya yang membuat diriku merasa sangat malu dan di bodohi nya.


Apa yang sebenarnya sedang engkau rencakan Kak Reno?, "batinku sambil menundukkan kepalaku.


Karena merasa tidak enak, akhirnya aku pamit pada semua orang untuk beranjak pergi dari atas rooftop, dan bergegas menuju kamarku.


Huft,


Aku masih tidak dapat menduganya, jika Kak Reno benar-benar mengerjai diriku seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2