Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Gusarnya hati.


__ADS_3

Selama di dalam mobil menuju perjalanan pulang ke rumah. Ummah tampak gelisah dengan raut wajahnya yang terlihat murung. Diriku yang duduk di samping Ummah pun mengenggam jemari tangannya, "Ada apa Ummah? Apa yang membuat Ummah tampak begitu gelisah? . "


Ummah memandang diriku dengan senyuman kecilnya, lalu jemarinya perlahan berbalik mengenggam jemari tangan ku dengan kedua tangannya.


"Ummah memikirkan Fariz dan kamu sayang."


Mas Fariz yang sedang menyetir dan mendengarkan apa yang Ummah katakan, dengan cepat bertanya kepada Ummah, "Mengapa Ummah memikirkan Fariz dan Dek Rani Ummah? Apakah ini ada kaitannya dengan Dek Roy dan ibundanya Ukhti Aisyah?. "


"Iya nak, benar sekali, " jawab Ummah.


"Apa lagi yang membuat Ummah gelisah, bukankah sekarang Fariz dan Rani sudah resmi menjadi suami istri sesuai apa yang menjadi keinginan Ummah. Lalu sekarang mengapa Ummah merasa gelisah?, " ucap Abi yang ikut menimpali percakapan.


Ummah menarik nafasnya pelan, "Entah Abi, ada sesuatu perasaan yang membuat Ummah tidak tenang. Seperti akan ada sesuatu hal yang tidak mengenakan dan itu membuat Ummah gelisah. Khususnya untuk hubungan pernikahan Fariz dan Rani. "


Abi yang duduk tepat di samping Ummah langsung mengusap lembut punggung Ummah seraya berkata, "Perbanyaklah beristighfar dan basahi lisan Ummah dengan dzikir. Karena hanya dengan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka hati akan menjadi tenang. Segala sesuatu di dunia ini sudah Allah tetapkan, dan kita sebagai mahluk-Nya hanya bisa berdo'a dan berikhtiar dalam mencapai ketentuannya. Khususnya untuk hubungan Fariz dan Rani. Allah Ta'ala yang membuat ikatan hubungan di antara mereka berdua. Dan yang dapat dilakukan oleh mereka berdua hanyalah berusaha mempertahankan ikatan hubungan itu, selebihnya biarkan Allah pula yang akan membantu menjaga hubungan di antara Fariz dan Rani tetap terikat dalam penjagaan dan ridhoNya. "


Ummah terdiam mendengarkan perkataan Abi, yang sedikit membuat hati Ummah merasa jauh lebih tenang.


Ummah memandang ke arahku, dengan memegang dahulu lalu senyum Ummah mengembang kecil dan memeluk diriku. Dimana tangannya mengusap kepalaku dengan lembut dan menciumnya, "Semoga Allah senantiasa selalu menjaga hubunganmu dan Fariz, sayang. "


"Aamiin ya robbal 'alamiin, " sahut Mas Fariz dan Enjid keras secara bersamaan.


Aku pun hanya terdiam merasakan perasaan gusar yang menyelimuti hati Ummah.


Mas Fariz, Abi dan Enjid tersenyum melihat kedekatan Ummah dan diriku yang semakin lekat.


Mas Fariz terus mengemudikan mobil, melewati jalan raya yang panjang dan ramai dengan laju kendaraan.


***


Setelah mendapatkan obat penenang dari dokter Kak Roy tertidur dengan pulas. Tampak Tante Desi dengan rambutnya yang terurai lurus terlihat berantakan. Sorot matanya begitu sayu memandang wajah Kak Roy yang sudah terlelap seperti anak kecil. Om Surya mendekat ke arah Tante Desi dan merangkulkan tangan kirinya sambil mengusap lengan istrinya. Tante Desi yang tidak dapat menahan air matanya menangis dengan terisak, dengan menyandarkan tubuhnya dalam dekapan Om Surya.


"Mengapa Roy dan Rani tidak berjodoh pah? Setiap kali ada celah bagi Roy untuk merengkuh kebahagiaannya bersama perempuan yang sangat ia cintai, lalu celah harapan itu dengan seketika tertutup tanpa meninggalkan sedikit pun berkas sinar cahaya harapan untuknya. Hiks... Hiks... Hiks, " ucap Tante Desi sambil menangis.


Om Surya tidak dapat berkata apapun, yang hanya dapat ia lakukan adalah berusaha membuat Tante Desi tenang dengan mengajak istrinya duduk di sofa tunggu pasien. Sambil berjalan perlahan dituntun oleh Om Surya. Tante Desi terus menangis.


"Sudahlah mah... Jangan seperti ini. Nanti Roy malah terbangun mendengar suara isak tangis mama, " ucap Om Surya sambil memegang kedua lengan Tante Desi dan menuntunnya untuk duduk di sofa.


Huhuhuhu... Huhuhuhu...


Tante Desi masih menangis sambil menarik lembaran-lembaran tisu untuk menyeka air matanya. Dan Om surya pun mengambil satu botol air mineral, lalu memberikannya kepada Tante Desi, "Mama minum dulu. Supaya perasaan mama jauh lebih tenang. "


Tante Desi mengangguk, lalu mengambil botol air mineral dari tangan Om Surya. Dengan perlahan Tante Desi membuka tutup botol air mineral sambil menyeka sesekali air mata yang masih menetes membasahi wajahnya yang terlihat lusuh.


Gleeeek.... Gleeeek... Gleeeek


Tante Desi meneguk tiga kali tegukan air dari botol air mineral, lalu ia menyeka kembali wajahnya dengan tisu.

__ADS_1


Om Surya memegang pundak Tante Desi, "Bagaimana perasaan mama sekarang?. "


Tante Desi memandang wajah Om Surya dengan tatapan lesu dan suaranya masih sesenggukan akibat menangis, "Alhamdulillah pah jauh lebih baik. "


Om Surya tersenyum kecil sambil memeluk tubuh Tante Desi dengan penuh kasih sayang, "Sekarang papa minta, mama jangan terus memikirkan hal yang sudah terjadi. Jika Rani sudah menikah dengan Nak Fariz. Sudah mah, ikhlaskan saja. Itu berarti memang Roy tidak berjodoh dengan Rani. Dan kita pun tidak bisa marah atau tidak suka akan pernikahan Nak Fariz dan Rani, karena semua itu adalah sudah menjadi ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu pula akan pernikahan Roy dan Rere. Tidak ada yang bisa melawan takdir yang sudah Allah buat. Untuk itu kita sekarang harus kuat dan fokus untuk memulihkan kesehatan Roy, mah. Dan secara perlahan demi perlahan kita berikan pengertian kepada dirinya supaya mengikhlaskan Rani menikah dan menjadi istrinya Nak Fariz. Sebab tidak baik jika Roy terus menerus memikirkan Rani yang sudah nyatanya tidak berhak untuk Roy cintai. Meskipun kita tahu betapa besarnya cinta putra kita terhadap Rani, tetapi apa yang dapat kita lakukan mah. Jika Allah tidak mengizinkan Roy membuat ikatan dengan Rani. "


Tante Desi mengangguk mengerti akan perkataan Om Surya, "Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya, pah?. "


Tante Desi tampak juah lebih tenang dengan memandang wajah Om Surya lekat.


"Setelah ini papa akan menemui dokter dan juga keluarga Rere untuk melakukan tes DNA, dan jika terbukti benar anak yang ada di dalam rahim Rere adalah darah daging Roy. Kita langsung hentikan saja mah laporan akan tindakan kejahatan yang dilakukan Rere terhadap Roy. Hal ini demi perkembangan yang baik bagi janin yang ada di dalam kandungan Rere, sesuai saran Enjid. "


"Lalu bagaimana dengan Roy pah? Jika ia tidak menerima bayi yang dikandung Rere, jika terbukti itu adalah anaknya?, " tanya Tante Desi cemas.


Om Surya membelai lembut kepala Tante Desi, "Secara pelan-pelan saat bayi itu lahir ke dunia. Roy pasti akan menerima nya mah. Apalagi jika terbukti jika itu adalah anaknya, darah dagingnya sendiri. "


"Dan jika melalui tes DNA terbukti jika bagi yang ada di dalam kandungan Rere adalah bukan anaknya Roy. Lalu apa yang akan kita lakukan pah?. "


Om Surya tampak serius, "Maka kita tidak akan mencabut laporan kita ke pihak kepolisian dan tetap meneruskan tindak kekerasan yang dilakukan Rere terhadap Roy. Sekaligus meneruskan proses perceraian Roy dan Rere mah. Setelah itu kita harus pindah dari kota ini supaya Roy dapat melupakan Rani, dan supaya Ranj juga dapat bahagia dengan kehidupan barunya. "


Tante Desi terdiam dan mengangguk, beliau sepertinya setuju akan pemikiran Om Surya.


Tidak lama kemudian Bude Ayu datang, setelah Om Surya memintanya ke rumah sakit untuk menemani Tante Desi.


Setelah itu Om Surya pun bergegas untuk menemui keluarga Rere, dengan niat melakukan tes DNA mencari kebenaran akan siapa sebenarnya ayah biologi dari bayi yang berada di dalam rahim Rere.


Sepeninggalnya Om Surya.


Bude Ayu pun dengan sabar mendengarkan keluh kesah akan kesedihan Tante Desi.


***


Di Lapas, Kak Reno banyak menghabiskan waktunya dengan memperdalam ilmu agamanya. Kak Reno sekarang telah banyak berubah ke arah yang lebih positif. Sikap arogant, pemarah, kasar dan sifat buruk lainnya yang ada pada dirinya perlahan mulai berangsur-angsur memudar.


Setelah selesai belajar membaca Al-Quran dan mendengarkan tausyiah dari Ustad yang ditunjuk langsung oleh pihak lapas. Kak Reno berjalan pelan menuju kursi panjang, lalu duduk sambil melihat napi yang lain sedang asyik bermain futsal. Pikirannya menerawang entah kemana, mengingat setiap kebersamaannya dengan keluarganya yang sudah tidak ada. Dan kini rasa kerinduan itu muncul, membuka memori kenangan hangat bersama kedua orang tuanya dan kakak perempuannya yang kini telah berpulang mengahadal Sangat Maha Kuasa dengan kematian yang tragis. Kedua matanya berkaca-kaca jika mengingat akan hal itu. Tiba-tiba Kak Reno teringat akan kakek, satu-satunya keluarganya yang tersisa. Dan ia miliki saat ini.


"Bagaimana keadaan kakek sekarang? Sudah lama aku tidak bertemu dengan kakek, "batinnya di dalam hati. Dan disaat Kak Reno tengah sibuk akan pikirannya, tiba-tiba pak sipir datang menepuk pundaknya , " Hayo! Nak Reno sedang memikirkan apa!. "


"Astagfirullah, eh Pak Sipir..., " kata Kak Reno terkejut.


Pak Sipir tersenyum lalu duduk di samping Kak Reno, "Mengapa Nak Reno tidak ikut dengan teman -teman Nak Reno yang lain, daripada hanya melamun dan duduk sendirian saja. "


Kak Reno menatap ke arah lapangan futsal, "Saat ini kesendirian dan menepi dari kedamaian adalah sahabat terbaik bagi diri saya pak. "


Pak Sipir mengelengkan kepalanya, "Tetapi sampai kapan Nak Reno akan terus menyendiri? Nak Reno juga butuh teman dan bersosialisasi dengan yang lainnya, hingga nanti saat Nak Reno keluar dari lapas setelah menyelesaikan hukuman Nak Reno disini. Nak Reno juga harus berbaur kembali ke masyarakat kan. "


"Saya masih nyaman seperti ini pak, hati saya jauh lebih tenang. Lagi pula ada bapak sebagai teman saya disini, " ucap Kak Reno sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hahahaha, " tawa Pak Sipir.


Pak Sipir lalu menepuk pundak Kak Reno lagi, "Tetapi bapak sudah tua menjadi teman mu nak. Kamu perlu berteman supaya dirimu merasa tidak sendiri dan kesepian nak. "


Kak Reno memandang Pak Sipir, "Untuk saat ini kesepian adalah teman terbaik bagi saya pak. Dimana kesendirian saya saat ini dapat mengajari diri saya, akan pentingnya arti sebuah ikatan dan hubungan, akan pentingnya menjaga seseorang yang berharga dalam hidup kita agar tidak meninggalkan kita. "


Rait wajah Kak Reno berubah sendu seketika.


"Apakah Nak Reno memikirkan keluarga dan perempuan berhijab yang terakhir kali menemui Nak Reno?, " tanya Pak Sipir.


Kak Reno menganggukkan kepalanya sambil menekan ke dua sudut matanya yang bertumpu di dekat ujung hidung supaya tidak mengalirkan air mata.


"Bapak tahu semua mungkin berat dan tidak mudah untuk kamu jalani. Tetapi yakinlah keberadaan Nak Reno tentunya tidak sia-sia disini, begitu pula akan semua yang terjadi pada kehidupan Nak Reno. Tentunya Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menetapkan semua kejadian ini supaya Nak Reno dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari semua hal buruk yang telah menimpa Nak Reno. "


"Iya Pak. InsyaAllah saya paham dan sudah ikhlas dengan semua yang telah terjadi kepada saya, " sahut Kak Reno.


Pak Sipir tersenyum dan hendak beranjak dari duduknya. Tetapi mendadak Kak Reno menghentikan Pak Sipir, "Pak, apakah bapak bisa membantu saya?. "


Pak Sipir menoleh ke arah Kak Reno dengan menaikkan kedua alisnya, lalu duduk kembali, "Hal apa yang Nak Reno inginkan untuk mendapatkan bantuan dari saya. "


"Emm...., " Kak Reno tampak berpikir.


Pak Sipir memandang serius, "Katakan saja Nak Reno, selagi saya mampu untuk membantu Nak Reno dan bantuan yang saya berikan tentunya dalam hal positif. "


Kak Reno segera merespon, setelah mendapatkan sinyal dari Pak Sipir yang mau membantu dirinya.


"Begini pak, jika bapak berkenan apakah bisa bapak mencari tahu keadaan kakek dan mantan istri saya, " ucap Kak Reno pelan.


Pak Sipir tersenyum, "Insya Allah bapak bisa mencari tahu keadaan kakek Nak Reno, tetapi mantan istri Nak Reno, apakah bapak harus memata-matainya? Jika demikian bapak tidak mau. "


Kak Reno dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Bukan mematainya pak. Saya hanya ingin tahu keberadaannya sekarang dan bagaimana kondisinya. Sebab dalam beberapa hari ini saya begitu gelisah dan tidak dapat berhenti untuk memikirkannya, pak. Saya seperti merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, dan entah mengapa hati saya begitu terasa nyeri dan sakit. "


Pak Sipir bangun dari duduknya, lalu menepuk kembali pundak Kak Reno, "InsyaAllah nak Reno, bapak akan berusaha mencari informasi nya. Namun, sekarang bapak permisi dulu untuk kembali bertugas ya. "


Kak Reno mengangguk kembali dan tersenyum kecil, "Iya pak silahkan, dan terima kasih. "


Pak Sipir tersenyum lalu berjalan meninggalkan Kak Reno yang masih duduk menepi seorang diri sambil memandangi angkasa. Pikirannya kembali tertuju pada kerinduan akan kegelisahan hatinya kepada diriku.


"Dek Rani, apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Mengapa pikiran dan hatiku terus mengingat dirimu?, " ucap Kak Reno pelan.


Angin pun datang berhembus seketika, seolah-olah menarik perkataan Kak Reno lalu mengirimkan pesan itu kepada diriku.


Dalam kesendirian nya, Kak Reno terus terpaku dalam kesepian yang menemaninya.


Kedua matanya ia pejamkan sebentar untuk menikmati belaian lembut sang bayu yang mengusap wajahnya yang terlihat sangat tirus. Hingga kemudian ia bangun duduknya lalu berjalan pergi menuju sel tahanannya.


Dengan langkah kakinya yang gontai, dimana pikiran dan hatinya terus menerus mengingat akan diriku.

__ADS_1


Huft...


Berulang kali Kak Reno menghembuskan dan menarik napasnya dalam, untuk membuat rda sesak akan kerinduan hatinya berangsur -angsur memudar mendera batinnya.


__ADS_2