Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kehadiran yang tiba-tiba.


__ADS_3

Kak Roy terus berdiri menatap kepergian ku. Dimana aku dan yang lainnya sudah berada di dalam mobil yang melaju pergi meninggalkan kediaman rumahnya.


Ada kesedihan, cemburu dan juga perasaan kesal bercampur dengan kebahagiaan yang membaur di dalam dirinya. Untuk beberapa saat Kak Roy tetap diam terpaku di balik jendela. Dan terus menatap keluar.


Perlahan tangan kanannya terkepal, dan beberapa kali ia memukulkan tangannya tersebut pada dinding di dekat jendela. Tanpa ia sadari Bude Ayu datang menghampirinya.


"Mengapa kamu juga tidak keluar menemui Rani dan yang lainnya Roy?.


Apakah kamu tidak kuat melihat kebersamaan Rani dengan Reno?,"tanya Bude Ayu sambil menepuk lembut pundak Kak Roy.


Kak Roy menatap tajam ke arah Bude Ayu yang kini berdiri di dekatnya.


" Hati ku memang tidak sanggup Bude, untuk melihat perempuan yang ku cintai bersama dengan laki-laki lain. Terlebih lagi laki-laki itu adalah Reno."


Bughh.


Tangan Kak Roy meninju lagi ke dinding di dekatnya.


"Jika diri mu merasa kesal, maka jangan pernah untuk berpikir menyakiti diri mu sendiri. Kalau memang Rani berarti segala-galanya bagi mu. Maka rebut dia dari sisi Reno. Sampai kapan kamu harus mengalah dan diam membiarkan hati mu terus terluka, " ucap Bude Ayu yang mempengaruhi pikiran Kak Roy.


"Tetapi bagaimana caranya Bude?, " tanya Kak Roy memandang ke arah Bude Ayu.


"Gunakan putri mu, untuk menarik perhatian Rani. Seharusnya sedari dulu kamu mendengarkan perkataan Bude. Tetapi sudahlah sekarang semua bergantung pada mu, " ucap Bude Ayu sambil menaikkan kedua pundaknya sedikit naik ke atas.


Kak Roy terdiam dan memikirkan apa yang di katakan oleh Bude Ayu kepada dirinya.


"Roy, sayang. Bude hanya ingin melihat diri mu bahagia dan tidak terus berada dalam kesedihan seperti sekarang ini. Kamu juga sangat pantas untuk mendapatkan kebahagiaan mu Roy, " ucap Bude Ayu sambil menepuk pundak Kak Roy.


Kak Roy masih terdiam memandang ke arah luar kaca jendela.


Perlahan -lahan ia terlintas pemandangan kedekatan diri ku, saat memasuki mobil dengan Kak Reno. Seketika pula wajah Kak Roy menjadi murung dan kesal.


Bahkan saat Bude Ayu berlalu pergi. Kak Roy pun tidak memperdulikannya.


Rasa cemburu dan kesalnya benar-benar telah membakar api amarahnya.


Aku dan yang lainnya sudah berada di kediaman keluarga Imandar. Ummah masih tampak kesal dan menceritakan semua rasa kemarahannya pada Wirda dan Bik Inah.


Meskipun aku dan Wirda berusaha untuk menenangkan Ummah. Tetapi rasa kesal Ummah masih menumpuk dan menganjal di hatinya.


"Itu yang Ummah ingin coba katakan kepada diri mu Ran. Jika Roy memang sengaja ingin mempermainkan mu dan Reno. Bisa-bisanya dia membuat kita semua menunggu dirinya begitu lama sekali. Padahal saat ia datang kemari, Roy begitu mengemis agar dapat bertemu dengan diri mu, " ucap Ummah dengan nada sedikit keras.


Aku mengangguk dan mengusap punggung Ummah lembut, sembari memberikannya segelas air putih untuk menenangkan hati Ummah.


Ummah pun tidak menolak dan langsung meminum segelas air putih itu tanpa sisa.


Aku pun lalu meminta Ummah untuk beristirahat di kamarnya. Meskipun awalnya Ummah sempat menolak, tetapi aku tetap berusaha dengan keras untuk membujuk dirinya.


Dan usaha ku tidak sia-sia. Sambil merangkul lengan Ummah. Aku pun menemani dan mengantarkan Ummah menuju ke kamarnya.


Meskipun dalam perjalanan menuju kamar Ummah.


Beliau selalu meminta ku untuk segera kembali ke rumah yang ku tempati bersama Kak Reno.


"Sayang, lekaslah engkau dan Reno tinggalkan kota ini. Dan pulang ke rumah kalian. Ummah rasa itu akan jauh lebih baik, dari pada kalian di sini. Yang nantinya akan terganggu dengan Roy.


Meskipun Ummah lebih menginginkan diri mu dan Reno untuk lebih lama lagi di sini.


Tetapi, firasat Ummah mengaharapkan agar kalian berdua lekas kembali secepatnya, " ucap Ummah dengan penuh kecemasan.


Aku mengangguk pelan dan tidak menjawab atau pun membantah perkataan Ummah. Sebab aku tidak ingin membuat Ummah semakin bersedih, dan terlalu mencemaskan keadaan diri ku.


Setelah menghantarkan Ummah untuk beristirahat di dalam kamarnya.


Aku pun langsung keluar dari kamar Ummah dan mencari keberadaan Kak Reno.


Tetapi tidak dapat ku temukan.


Hingga tiba-tiba saat aku ingin memutar tubuh ku melihat ke belakang.


Kak Reno langsung berada di hadapan ku.


Aku tersentak dan terkejut sekali.


Karena ia datang dengan tiba-tiba dan begitu dekat sekali dengan diri ku.


"Apakah kamu mencari diri ku Ran?, " tanya Kak Reno sambil memandangi diri ku.


Aku merasa tegang dan salah tingkah.


Setiap kali ia berada di dekat diri ku.


Sambil menundukkan pandangan mata ku darinya.


Aku pun mengangguk perlahan.


"Iya Kak Reno. Aku sedang mencari diri mu, " ucap ku pelan.


Kak Reno tersenyum merekah.


"Itu berarti kamu sedang merindukan ku .


Pada hal baru sebentar kita berpisah Ran. Tetapi dengan cepat, engkau terus mencari keberadaan diri ku, " ucap Kak Reno yang berusaha untuk menggoda diri ku.


"Jangan bercanda Kak Reno. Aku sedang serius, " ucap ku kesal.


Kak Reno semakin tersenyum lebar, saat memandang diri ku.


"Dan aku pun juga sangat serius Ran.


Berarti diri ku yang rupanya sangat merindukan diri mu. Rasanya mata ini tidak mampu untuk tidak menatap diri mu, " ucap Kak Reno sambil terus mendekatkan dirinya pada ku.

__ADS_1


Mata ku sedikit terbelalak dengan apa yang ia lakukan.


Dengan cepat bibirnya mencium pipi ku dan tersenyum. Sembari mengusap kepala ku pelan.


"Aku mencintaimu Rani, " bisiknya pelan pada telinga ku.


DEG... DEG.. DEG..


Jantung ku kembali berdegup kencang dan kuat.


Aku kembali merasakan sensasi perasaan aneh yang menjalar di sekujur tubuh ku.


----


Beberapa jam kemudian, kami semua di kejutkan dengan kedatangan putri Kak Roy yang datang hanya dengan bibi pengasuh serta sopir pribadi.


Aku, Wirda, Bik Inah, Kak Reno, juga Pak Budi dan Enjid. Begitu sangat terkejut akan kehadiran Rani. Yang datang secara tiba-tiba. Dimana ia langsung berlari memeluk ku.


Aku begitu terpaku dan tersentak melihat keadaan putri Kak Roy. Dimana wajahnya begitu terlihat sangat pucat dan kurus.


Miris dan sedih aku memandangi dirinya.


"Mama Rani!,"panggil putri Kak Roy dengan penuh keharuan sambil memeluk tubuh ku.


Aku pun mendekap tubuh mungilnya, yang begitu terlihat rapuh dengan penuh kelembutan.


"Iya sayang. sudah lama ya, kita sudah tidak bertemu, "kata ku pelan.


"Selama ini Mama Rani ke mana saja.


Rani sangat merindukan mama, "ucapnya sambil memandangi diri ku dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Mama Rani tidak kemana-mana sayang, "jawab ku sambil mengecup lembut keningnya.


Putri Kak Roy lalu memeluk tubuh ku lagi dengan erat.


"Mama Rani ...Mama Rani, jangan pernah pergi dan tinggalkan Rani lagi, ya mah," pintanya pada ku.


Aku pun terdiam sambil mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.


Di mana semua orang yang berada di ruang keluarga menatap ke arah ku dan putri Kak Roy.


Begitu pula Kak Reno yang tersenyum kecil, saat menyaksikan kedekatan diri ku dengan putri Kak Roy.


Tidak lama kemudian bibi yang mengasuh Rani. Mengatakan kepada kami semua, jika Rani memaksa untuk datang ke rumah keluarga Imandar. Agar dapat bertemu dengan diri ku.


Meskipun Kak Roy dan Bude Ayu telah melarangnya untuk tidak datang kemari. Tetapi Rani tetap bersikeras, dengan alasan bahwa ia sangat merindukan diri ku.


Aku juga tidak memperdulikan akan hal itu, dan terus memandang wajah Rani yang terlihat tidak begitu sehat.


"Apakah Rani baik-baik saja sayang, " tanya ku padanya.


Rani pun mengangguk pelan sambil terus menatap diri ku.


Wajahnya semakin terlihat pucat dan lesu.


Aku pun segera meminta Bik Inah untuk mengambilkan Rani segelas air putih. Sekaligus menanyakan keadaan Rani pada bibi yang mengasuhnya.


Bibi yang mengasuh Rani pun mengatakan kepada ku dan semua orang. Jika keadaan putri Kak Roy setelah kepergian Tante Desi dan Om Surya semakin tidak stabil.


Di tambah lagi Kak Roy juga tidak terlalu fokus dan memperhatikan keadaan putrinya.


Setelah mendengarkan penjelasan dari bibi pengasuh Rani.


Aku begitu sedih dan sangat berempati padanya.


Namun, sebelum aku sempat bertanya lagi tentang kondisi Rani langsung pada putri Kak Roy.


Tiba-tiba Rani jatuh tidak sadarkan diri.


Aku dan semua orang panik.


Dengan segera Kak Reno mengangkat tubuh putri Kak Roy.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, " ucap Kak Reno pada ku.


Aku begitu syok dan terkejut.


Semua terjadi begitu sangat cepat.


Dengan sigap Kak Reno membawa putri Kak Roy menuju ke mobil.


Aku bersama bibi pengasuh Rani dan Bik Inah segera menyusul Kak Reno.


Sementara itu, Ummah dan Abi yang sedang beristirahat di kamar. Segera bergegas turun ke ruang keluarga, untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi.


Setelah tiba di ruang keluarga Ummah menanyakan keributan apa yang sedang terjadi pada Wirda.


Dan berapa terkejutnya Ummah, saat mendengarkan penuturan Wirda.


Jika putri Kak Roy tiba-tiba datang ke rumah ini. Dan mendadak jatuh pingsan.


Ummah semakin terlihat cemas, setelah mengetahui dari Wirda.


Jika saat ini aku bersama Kak Reno tengah membawa putri Kak Roy menuju rumah sakit.


"Ummah harus segera menyusul Rani. Semua ini pasti adalah rencananya Roy, yang sengaja ia buat. Untuk menarik perhatian Rani dengan memanfaatkan putrinya yang sedang sakit, " ucap Ummah terlihat sangat geram.


Wirda pun hanya diam dan meminta Ummah untuk bersikap tenang.


Tetapi Ummah tidak mengindahkan, dan segera mengajak Abi juga Pak Budi untuk segera menyusul diri ku yang tengah menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Aku pun begitu sangat panik memikirkan kondisi putri Kak Roy.


Tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan.


Sopir pribadi Kak Roy menghentikan laju mobilnya secara mendadak.


Aku terkejut begitu pula Kak Reno.


"Mengapa bapak menghentikan laju mobil ini?. Apakah bapak tidak melihat keadaan Rani yang harus segera mendapatkan pertolongan di rumah sakit?, " kata ku dengan penuh tanya.


Tetapi pak sopir itu diam dan menunjukan wajahnya yang penuh ketegangan.


Aku dan Kak Reno saling melihat satu sama lain. Dan merasakan ada sesuatu hal yang aneh, yang sedang di sembunyikan oleh sopir pribadi Kak Roy.


Keringatnya terlihat membasahi keningnya.


Lalu tiba-tiba, pak sopir melajukan kembali mobil yang kami tumpangi.


Perasaan ku semakin tidak enak.


Apalagi saat ia membawa mobil yang kami tumpangi ke arah lain.


Kak Reno pun melihat ke arah ku.


Dimana sepertinya ia pun juga merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan.


"Bapak mau membawa kita semua kemana ini?, " tanya Kak Reno tegas.


Namun, pak sopir tetap diam tanpa mengatakan hal apa pun.


Hingga akhirnya Kak Reno meminta pak sopir untuk menghentikan laju mobil yang di kendarai nya.


Tetapi pak sopir tetap diam dan tidak mau melakukan apa yang Kak Reno minta.


Hingga akhirnya Kak Reno memaksa pak sopir untuk segera berhenti.


Dan di sini mulai terjadi ketegangan dan perebutan stir mobil antara Kak Reno dan pak sopir.


Aku semakin takut dan cemas, karena mobil yang sekarang aku naikki melaju dengan tidak seimbang.


"Kak Reno hati-hati ,Kak, "ucap ku sedikit berteriak.


BRukkkkk.


Terdengar dentuman keras.


Mobil yang kami tumpangi menabrak pohon.


Tubuh kami semua terguncang.


Hingga mobil berhenti seketika.


Aku melihat ke sekitar.


Dimana semua orang terluka dan tidak sadarkan diri.


Dan saat aku hendak berusaha untuk membantu menyadarkan Kak Reno.


Tiba-tiba pintu mobil yang kami tumpangi terbuka.


Dalam rasa pusing yang menjalar di kepala ku.


Aku melihat beberapa sekelompok orang berjaket hitam, dengan perawakan yang menyeramkan keluar dari mobil jeep.


Lalu menuju ke mobil tempat kami semua berada.


Dalam sayup-sayup pandangan mata ku.


Aku masih dapat melihat sekelompok orang tersebut menarik tubuh Kak Reno dengan kasar. Lalu membawanya pergi menuju mobil jeep yang mereka naikki sebelumnya.


" Kak Reno, "ucap ku pelan memanggil Kak Reno.


Dan aku tidak sadarkan diri.


Dalam ketidaksadaran diri ku.


Sekelompok orang-orang yang berperawakan tinggi besar dan terlihat sangat menyeramkan.


Menghampiri diri ku dan putri Kak Roy.


Kemudian mereka membawa ku juga dengan putri Kak Roy, untuk masuk juga ke dalam mobil jeep yang membawa Kak Reno.


Kemudian, dengan cepat sekelompok orang-orang tersebut segera bergegas pergi, untuk meninggalkan tempat terjadinya kecelakaan mobil yang baru saja kami alami.


Bik Inah yang berada antara kondisi sadar dan tidak sadar, berusaha untuk bangun dan berteriak minta tolong.


Namun, tiba-tiba tas kecil ku masih berada di dalam mobil.


Telepon genggam milik ku berdering beberapa kali.


Bik Inah berusaha untuk mengambilnya, dalam keadaan dirinya yang terluka.


Setelah berusaha keras, akhirnya Bik Inah dapat mengambil telepon genggam milik ku dari dalam tas.


Beruntung Ummah yang menelepon.


Dengan suara menahan rasa sakit.


Bik Inah segera menceritakan kejadian yang kami alami pada Ummah.


Mendengarkan hal itu Ummah pun menjadi sangat panik dan mencemaskan diri ku.

__ADS_1


Dengan segera Ummah meminta Pak Budi dan Abi , untuk bergegas menuju ke tempat Bik Inah berada sekarang.


__ADS_2