Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Perenungan.


__ADS_3

Banyak jama'ah yang sudah berlalu pergi meninggalkan masjid. Pandangan ku pun terus memandang sekitar dengan langkah perlahan. Ummah merasakan keraguan dan kegelisahan hatiku. Maka, dengan lembut ia pun mengusap punggung ku.


"Apa yang membuat putri Ummah terlihat gelisah seperti ini? Apakah karena kehadiran Nak Reno, sayang?, " tanya Ummah memandangi diriku.


Aku terdiam dan memandangi Ummah.


Ummah mengusap kepalaku sembari menundukkan sedikit kepalanya bersamaan dengan senyuman nya yang berusaha meyakinkan diriku. Lalu kuberanikna diriku untuk bertanya kepada Ummah, akan maksud dan tujuan kami semua datang ke masjid ini.


Sekali lagi Ummah terlihat menghembuskan napasnya dan meminta Wirda juga Bikin Inah untuk berjalan terlebih dahulu, sambil membisikkan sesuatu pada telinga Bik Inah dan Wirda.


Bik Inah mengangguk lalu pergi berlalu bersama Wirda yang sedang menggendong Fariz.


Kemudian, Ummah mengajak diriku untuk berjalan-jalan ke halaman taman masjid, sembari menikmati pemandangan laut. Ummah mengajak diriku duduk, di halaman taman masjid, yang banyak juga terdapat jama'ah atau pengunjung lainnya yang menikmati keindahan bangun masjid, dengan panorama alamnya yang sangat memukau mata.


Gemuruh ombak sungguh mengusik sanubari,dengan warna biru yang menyilaukan mata. Angin pun berhembus menusuk hati dan menebarkan bau air laut yang bersatu dengan keharuman bunga-bunga yang bermekaran di halaman taman masjid. Aku memandang indahnya laut lepas, ditemani Ummah yang berada di sampingku. Aku tahu Ummah sengaja membiarkan diriku menepi dari sesuatu yang tidak suka, dan membuat hatiku untuk sementara waktu menjadi rileks.


Setelah beberapa saat Ummah membiarkan diriku, mencari kenyamanan dalam keindahan alam yang memanjakan mataku.


Jemari tangan Ummah mengusap kepala ku pelan dan lembut. Dimana lisannya pun kembali bertutur pada diriku, dengan kasih sayangnya laksana bundaku sendiri.


"Apa yang Ummah katakan lagi, tolong dengan sangat Ummah pinta dapat Rani terima dan pahami ya anak ku sayang. "


Pandangannku tertuju pada Ummah,dengan tatapan yang dalam. Aku seolah-olah mengerti akan apa yang ingin Ummah katakan. Pikiranku meminta ku untuk menolaknya , tetapi hatiku seakan ingin memberikan kesempatan.


Sekali lagi petarungan antara gejolak pikiran dan hatiku terus bergemuruh, seperti dentuman ombak yang meninggi menghantam batu karang. Lalu, menghilang pergi dan berulang kembali.


Tetapi, hatiku terasa lebih condong untuk mendengarkan penuturan Ummah dari pada pikiran ku yang ingin melaranganya.


Aku terdiam menatap sayu dalam ketenangan yang ku ciptakan sendiri.


"Nak,setiap kesalahan akan selalu memberikan pelajaran yang dapat kamu petik hikmahnya.Namun,meskipun di masa lalu Reno pernah melakukan kesalahan pada dirimu, bukan berarti Reno tidak berhak mencintai lagi."


"Maksud Ummah? Apakah Rani harus memberikannya kesempatan? Begitu?, " tanyaku pada Ummah dengan rasa penolakan yang bergemuruh di pikiran ku.


Ummah menghela napasnya dan berusaha membuatku tenang dan mengendalikan diriku. Tetapi tiba-tiba diriku seakan-akan menolak apa yang ingin Ummah jelas kan padaku.


"Aku tidak bisa menerimanya Ummah, sebab aku tidak mencintainya. Dan tidak ingin berharap untuk mencintainya, " bantah ku.


"Sayang!, " ucap Ummah lirih sambil memegamg wajahku dengan kedua tangan nya.


"Rani! Rani! Rani! Tolong dengarkan Ummah nak, dengarkan Ummah, " pinta Ummah dengan suara merintih penuh keibaan.


Aku kalah dan menyerah dalam deru suara pinta Ummah yang terus memohon padaku.


"Ummah ingin dirimu melangkah ke depan dan jangan pernah takut untuk membuka hatimu lagi, untuk mencintai seseorang nak.


Termasuk pada Reno.


Ummah tahu hatimu kesal dan tidak menerima apa yang ingin Ummah katakan. Tetapi, sungguh sayang di dalam sikap, ucapan, sorot mata Reno. InsyaAllah Ummah dapat melihat ketulusan cintanya padamu, sama seperti cinta almarhum putra Ummah Fariz padamu. Namun, Ummah merasakan kali ini cinta yang Reno semai di dalam hatinya untukmu, begitu jauh lebih besar dari pada cinta Fariz terhadap dirimu, sayang. "


"Mengapa Ummah berkata seperti itu lagi?, " tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sebab Ummah adalah ibumu. InsyaAllah,Ummah dapat merasakan siapa seseorang yang benar-benar mencintaimu dan layak bagimu nak. Intinya dari apa yang ingin Ummah sampaikan adalah, supaya dirimu membuang jauh-jauh pikiran negative mu terhadap Reno. Karena dapat berpengaruh buruk dalam pikiran dan hatimu, sayang."


Ummah lalu mengenggam jemari tanganku kuat dan berkata lagi, " Setiap orang tentunya berhak untuk mendapatkan rasa sayang yang tulus sekalipun memiliki masa lalu yang kelam.


Karena, sering kali cinta tidak direncanakan atau lebih tepatnya datang tiba-tiba. Bahkan ditujukan kepada siapa perasaan yang kamu miliki pun bisa jadi tak terduga, semuanya datang begitu saja. Termasuk akan rasa kebencian. Ingat nak, kebencian yang tertanam di hatimu itu dapat berubah menjadi benih rasa cinta. Sebab,cinta dan benci tidak memiliki batasan sekat yang jelas. Tentang rasa yang tersembunyi di dalam sanubari. Ketika ada seseorang yang benar-benar sangat mencintaimu. Maka nikmatilah rasa itu. Dimana perasaan nya akan tergambar dalam sikapnya. Salah satunya, bisa dilihat dari bagaimana dia berbicara denganmu. Tapi, satu hal yang tidak boleh dilupakan, dirimu pekalah dan bedakanlah mana perkataan seseorang yang benar-benar tulus atau tidak.


Hargailah perasaan seseorang yang tulus mencintaimu nak, sebelum seseorang itu pergi dan menjauh dari kehidupan mu, dan akan membuat dirimu menyesal karena kepergiannya. "


Tidak lama setelah itu, aku di kejutkan dengan kehadiran Pak Budi dengan Pak Sipir yang datang bersamaan.


Ummah menyapa kedatangan mereka berdua. Lalu, menganggukkan kepala Ummah pelan kepada keduanya sembari tersenyum kecil. Aku tidak mengerti, apa yang berusaha Ummah isyaratkan pada Pak Sipir dan Pak Budi. Hingga tiba-tiba Pak Sipir pun mulai bernarasi menceritakan keadaan Kak Reno selama di sel, dan semua peristiwa kerusuhan yang saat itu terjadi di Lapas serta keikhlasannya dalam mencintaiku.


"Tidak ada satu orang pun yang dapat melihat seperti apa wujud cinta yang sebenarnya Nak Rani. Namun, setelah saya mengenal Nak Reno dengan dekat dan baik. Akhirnya saya bisa merasakan apa itu cinta.


Yah, cinta dalam diamnya yang sanggup melakukan segala apapun bentuk pengorbanan , agar dapat melihat Nak Rani tersenyum bahagia meskipun dengan orang lain, dan ia tetap ikhlas melakukannya.Walaupun hal tersebut membuat nya sangat menderita.Tetapi, ia tidak bersedih atau marah. Justru saat Nak Reno mengetahui jika Nak Fariz adalah suami Nak Rani. Nak Reno begitu bahagia hingga melupakan rasa sakit nya, dan memilih menjauh dari kehidupan Nak Rani dan Nak Fariz, supaya kalian dapat hidup dengan bahagia serta tidak terganggu akan kehadirannya, " ucap Pak Sipir pada ku.


Aku terdiam mendengarkannya, bahkan saat Pak Sipir memberitahu diri ku. Bagaimana Kak Reno berusaha mati-matian menyelamatkan diriku dari sekapan para penculik hingga membuat dirinya terluka parah. Dan yang paling mengejutkan diriku adalah Pak Sipir mengatakan padaku, kehidupan ku dapat berlanjut dan bahagia bersama Mas Fariz, karena Kak Reno telah mendonorkan darah nya padaku. Meskipun saat itu, kondisinya juga sangat parah. Tetapi Pak Sipir mengatakan jika saat itu Kak Reno tidak memperdulikan dirinya sendiri, dan langsung pergi dari rumah sakit. Untuk segera menjauh pergi dari diri ku dan Mas Fariz saat itu.


Aku tersentak mendengar kebenaran yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya.


"Padahal saat itu Nak Reno dalam keadaan lemah, tetapi ia tidak peduli akan kondisinya dan bersikeras untuk tetap menjauh pergi dari kehidupan Nak Rani dan Nak Fariz saat itu.Nak Reno sangat ingin melihat Nak Rani bahagia, dan percaya pada saat itu. Dia meyakini jika hanya almarhum Nak Fariz lah laki-laki tepat yang dapat membuat Nak Rani bahagia. Meskipun, bapak tahu di dalam hatinya.Ada perasaan yang lebih membahagiakan lagi untuknya,yaitu saat perempuan yang sangat di cintainya dapat tersenyum karenanya. Perasaan yang tidak akan pernah bisa diungkapkan oleh kata-katanya.


Dan yang lebih memilukan lagi yaitu saat kandasnya hubungan Nak Reno dan Nak Rani sebagai suami istri. Hal itu seringkali membuat Nak Reno merasa sedih bahkan frustasi dalam waktu yang lama. Dia begitu hancur dan merasa kehilangan Nak Rani. Dimana ia berpikir tidak akan di pertemukan lagi dengan Nak Rani. Namun, perlahan demi perlahan ia tidak terus menerus larut dalam kesedihan. Dan membalas kesedihan nya itu dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.Hingga ia menyadari jika memang Nak Rani adalah jodohnya, maka ia percaya akan ada banyak jalan yang Allah sudah sediakan untuk mendekatkan kalian kembali.


Dan sekarang apa yang ia yakini dan gantungkan harapan nya kepada Allah telah terbukti, dengan bertemunya raga kalian kembali dalam cara dan takdir yang tidak pernah kita semua mengerti."


Pak Sipir melihat ke arah diriku yang sedikit tertunduk memandangi laut.


Dimana pandangan ku juga Ummah dan Pak Budi mengarah kepada dirinya.


"Nak Rani. Pada dasarnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitupun dengan cinta. Dimana kesempurnaan cinta bisa di dapatkan dari ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh pasangan atau seseorang yang mencintai dan diri kita sendiri.Percayalah, bahwa setiap kisah cinta sejati pasti memiliki jalannya sendiri dan tidak akan terpisahkan meski dihadang oleh badai.


Begitu pula dengan kisah cinta Nak Reno dan Nak Rani."


Aku terdiam tidak bergeming.


"Iya Nak Rani, sekarang sudah saatnya Nak Rani dan Nak Reno memulai lembaran kisah bab baru dalam perjalanan kisah cinta kalian, " sahut Pak Budi.


"Dimana Nak Rani, tidak perlu takut, sebab Allah dan semesta akan selalu menuntun Nak Rani untuk menemukan cinta sejati Nak Rani yang sudah hadir di dekat Nak Rani.Tentunya bukan bapak dan Pak Budi lho, hahaha...


," ucap Pak Sipir bercanda.


"Hahaha... Hahaha.., " Pak Budi tertawa.


Ummah pun tersenyum begitu pula diri ku.


Pak Sipir seakan tahu memecah ketegangan dan kerisauan di dalam hati ku.


Lalu Pak Budi pun bertanya pada Pak Sipir, "Dimana cinta sejatinya Nak Rani?. "


Pak Sipir tersenyum sambil menunjukkan jarinya ke arah masjid. Pak Budi pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala nya tanda mengerti akan maksud Pak Sipir.

__ADS_1


"Nak Rani, InsyaAllah hubungan kalian tidak akan pernah terpisahkan kali ini.


Intinya, Nak Reno benar-benar mencintai mu, dan tidak akan melepaskanmu.Dia akan terus berjuang untuk mempertahankan hubungan kalian agar dapat kembali terjalin. Tentunya dalam ikatan cinta yang tertinggi yaitu pernikahan."


Pak Sipir tersenyum kecil melihat wajah ku yang masih sayu dalam kebisuan.


Ummah mengusap kepala ku pelan dan mencium kening ku.


Wajahnya terlihat sumringah dan tersenyum manis pada ku.


Lalu Ummah bangun dari duduknya dan meraih jemari tangan ku untuk mengajak diri ku segera turut bangun dari duduk ku dan mengikuti langkahnya.


Ummah mengangguk pada ku juga dengan Pak Sipir dan Pak Budi, untuk mengisyaratkan agar kami segera mengikuti langkahnya berjalan masuk ke dalam masjid.


Pak Sipir dan Pak Budi mengangguk menurut, begitu pula diriku yang ikut berjalan tanpa beban dan mengalir seperti air yang mengikuti arah arus membawa diri ku menuju.


Yah, aku menuju pada muara arus langkah yang menuntunku. Meskipun aku berusaha untuk menjauh dan mengelak, tetapi takdir terus mempertemukan dan membawa diri ku untuk mendekat padanya.


Aku hanya terus diam dan tidak berkata apapun, begitu pula Ummah yang terus tidak berhenti mengusap punggung ku. Dari kejauhan tempat ku berada dan berjalan, tercium aroma bau bunga yang bermekaran menusuk ke hidung ku.


Angin pun terus bertiup lembut, seakan-akan mereka mengiringi langkah ku untuk semakin dekat pada sesuatu yang menarik raga ku untuk mendekati nya.


Memasuki pintu masuk masjid kulihat dekorasi indah dengan bunga-bunga yang telah ditata rapi dan memukau mata.


Hingga dari kejauhan pandangan mata ku bertemu dengan dirinya yang menatap ku dengan senyuman khas nya.


Pak Sipir dan Pak Budi segera berjalan lurus menghampiri keberadaan Abi, Enjid , Kak Reno dan beberapa orang lainnya.


Sementara itu, Ummah membawa ku pada ruangan lain untuk sedikit menjauh dari keberadaan Kak Reno.


Tidak lama kemudian, Bik Inah dan Wirda datang menghampiri diri ku yang sudah duduk di samping Ummah.


Mereka menatap diri ku dalam dan penuh ketegangan. Dimana diri ku pun hanya terus diam membisu.


Hingga Abi dan Enjid pun telah tiba berada di dekat Ummah dan diri ku.


Enjid mengusap kepala ku pelan dan berkata tanpa ragu, "Nak, apakah kamu menerima lamaran Nak Reno untuk meminang dirimu menjadi istrinya?. "


Aku diam memandangi wajah Enjid dan yang lainnya bergantian.


Semua orang pun memandang tegang ke arahku. Dan entah ada sesuatu hal yang tidak ku mengerti, dengan tiba-tiba aku pun mengiyakan pertanyaan Enjid tanpa keraguan sedikit pun juga.


Enjid dan yang lainnya tersenyum bahagia, sembari mengucapkan rasa syukur.


Kemudian, Abi bergantian mengusap kepala ku bersamaan dengan Ummah yang mengusap punggung ku seraya merangkulkan tangannya pada tubuhku.


"Anak ku Rani, setelah dirimu menerima lamaran Reno. Maka bersediakah saat ini juga dirimu menikah dengan Reno?, " ucap Abi dengan pelan dan tegang.


DEG... DEG... DEG....


Pertanyaan Abi membuat ku semakin tercengang dan syok. Begitu pula semua orang yang berada di dekat diri ku, yang sama tegang nya dengan Abi, untuk mendengar akan jawaban dari ku yang sudah sangat mereka nanti-nantikan.

__ADS_1


__ADS_2