
Setelah pertemuan ku dengan Kak Roy dan putrinya, telah banyak mengubah perasaanku juga cara berpikir ku dalam menjalani kehidupan ini.
Rindu..
Terus bergelayut memenuhi rongga hatiku, terhadap Rani. Perasaan aneh yang sulit untuk ku pahami. Padahal aku dan dirinya baru saja bertemu,sungguh tak ada alasan yang jelas mengapa diriku tiba-tiba memikirkannya, apakah rasa iba atau kasihan karena dirinya memiliki nasib sama sepertiku, atau memang karena diriku benar-benar menyayanginya. Entahlah..
Namun, mungkin perasaan ini hanya bersifat spontan dan random. Sama seperti perubahan suasana hati yang kurasakan, hal ini mungkin terjadi secara supranatural yang menunjukkan bahwa kemungkinan besar Rani juga mungkin sedang memikirkan diriku.
Di sofa dekat jendela kamarku, aku menatap langit senja. Panorama senja yang menjadi pemandangan paling indah, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Momen senja adalah waktu favorit menjelang malam.Dimana aku duduk menunggu memandang senja, sembari menikmati segelas coklat hangat kesukaan ku. Bagi diriku, senja kadang memberikan makna tersendiri. Kehadiran senja yang sesaat.Namun ,hadirnya selalu kunanti sebab membuat diriku terkadang mengerti.Bahwa yang indah terkadang cuma datang sesaat saja. Sinar senja yang redup cenderung gelap, banyak mengajarkan diriku, bahwa yang indah tak selalu tentang keterangan yang menyilaukan pandanganku.
Kenangan dari beragam perjalanan kehidupanku, baik perasaan sedih, senang, kecewa, galau, dan perasaan lainnya terangkum dalam fenomena senja ini.
Setumpuk perasaan itu bertebaran dan berlarian di dalam benakku.
Dimana kerinduan akan perpisahan terhadap Mas Fariz, kembali hadir dalam kesendirianku.
Ughhh...
Senja di sore hari ini mampu membuat diriku terlena dan tersungkur dimabuk memori kenangan dan rindu yang mendalam padanya. Dan sungguh membuatku teringat terus menerus akan dirinya, dan semakin merindukan Mas Fariz.
Senja sore,
yang mewakili perasaanku tanpa harus mengungkapkannya.Ia lebih tau bagaimana caranya mengungkapkan rindu ,tanpa diketahui oleh angin dan juga derai nafas yang menderu menahan gelora rindu. Dimana ia mengajarkan padaku pula, bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian besar hanya bersifat sementara dan tidak akan pernah kenal. Begitu pula dengan hubungan dan kehidupan.
Bukan senja namanya jika tak sendu, bukan senja namanya jika tak sunyi penuh ketenangan, dan bukan senja namanya jika tak menciptakan dan mengajarkan rindu pada hati yang membeku.
Aku hanyut dalam rindu ku yang tak berdurasi padamu, dengan menatap lembayung senja yang mencuatkan sinarnya. Dan terus setia menanti matahari menepi, dimana hati berharap menantimu kembali. Tetapi itu tidak mungkin dan mustahil. Aku sadar dan menitikan air mata.
Hingga Ummah dan Wirda yang menggendong Fariz masuk ke dalam kamarku.Menyadari kedatangan mereka aku pun segera menyeka air mataku.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum sayang,"ucap Ummah membelai kepalaku.
"Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.Eh..ada Ummah dan Wirda juga Fariz,"ucapku sambil tersenyum.
Ummah dan Wirda lalu duduk mengapit di kedua sisiku.Aku lalu memangku Fariz yang tenang bersamaku.
Ummah mengusap kepalaku pelan dan lembut,"Apa yang sedang putri Ummah pikirkan?."
Aku tersenyum dan mengelengkan kepalaku,"Tidak ada Ummah.Rani hanya memandangi senja dan teringat akan kenangan bersama Mas Fariz."
Ummah terlihat menghela napasnya,dan melirik ke arah Wirda beberapa kali.
Mereka berdua seperti memainkan isyarat yang tidak kumengerti.Hingga tidak lama kemudian,setelah Ummah terdiam cukup lama.Wirda tiba-tiba berkata kepadaku,"Ran,ada yang ingin diriku dan Ummah katakan.Tetapi sebelum aku dan Ummah mengatakannya kepadamu.Aku berharap dirimu tidak marah ataupun salah paham,akan maksud perkataan dan niatku juga Ummah terhadap dirimu."
Mendengar perkataan Wirda,pandanganku langsung tertuju kepada dirinya.
Wirda tampak menelan air ludahnya dan merasa tidak nyaman dengan tatapanku.
Wirda mengangguk,lalu Ummah melanjutkan perkataan Wirda.
Wirda mengambil Fariz dari pangkuanku,agar Ummah dapat berbicara serius dengan diriku.
Kemudian,Ummah menggengam jemari tanganku pelan dengan tatapannya yang dalam"Sayang ,Ummah ingin kamu melanjutkan hidupmu nak.Dan tidak terus terbenam akan memori kenanganmu bersama Fariz."
Aku menatap Ummah,"Rani sudah melanjutkan hidup Rani Ummah.Apakah Ummah tidak melihatnya,jika sekarang Rani telah kuat dan tegar akan kepergian Mas Fariz,tetapi untuk menghapus kenangannya dari pikiran Rani ,itu mustahil Ummah.Karena Mas Fariz mempunyai tempat spesial di dalam hati Rani,"jelasku pada Ummah.
Ummah tersenyum getir dan memandang ke arah Wirda dengan ekspresi ragu,tetapi Wirda menganggukkan kepalanya.Seraya mengisyaratkan Ummah untuk tidak ragu dan meneruskan niatnya berkata kepadaku.
Ummah menghela napasnya sesaat,lalu mengenggam jemari tanganku pelan.
__ADS_1
"Sayang,maksud Ummah dengan melanjutkan hidup adalah dengan menerima seseorang di dalam kehidupanmu ,yaitu dengan menikah nak."
DEG...
Aku langsung terperanjat mendengar perkataan Ummah,yang belum siap untuk kudengar.Bahkan tidak ingin kudengar sama sekali.Dengan cepat aku pun melepaskan genggaman tangan Ummah,dan menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
Ummah dan Wirda terkejut dengan sikapku.Mereka tidak menyangka jika hal itu dapat melukai perasaanku.
Ummah pun merasa tidak enak,dan buru-buru mengangkat wajahku yang tertunduk.
"Sayang,maafkan Ummah.Jika perkataan Ummah melukai hatimu.Sungguh nak,Ummah tidak bermaksud buruk kepadamu sayang.Ummah hanya ingin melihatmu bahagia dan menjalani kehidupanmu seperti orang lain.Dimana ada pasangan hidup yang dapat menjadi sandaran dan tempatmu membagi duka ,bahagia,tawa dan juga kesedihanmu sayang," jelas Ummah lembut sambil menitikan air matanya.
Aku perlahan menyeka air mata Ummah dengan jemari tanganku, dan memandang wajahnya yang sendu menatap diriku.
"Tidak Ummah. Hati, pikiran dan diri Rani belum siap bahkan tidak siap untuk menggantikan posisi Mas Fariz di dalam hati Rani. Dan bahkan tidak akan ada seseorang yang mampu mengantikannya Ummah, " ucapku sambil menangis pula.
Ummah memegang wajahku dengan kedua tangannya, "Jangan berkata seperti itu sayang. Bagaimana pun, kamu harus terus menjalani kehidupan mu. Meskipun tanpa Fariz. Jika bukan sekarang, nanti atau di kemudian hari. Tidak apa-apa nak, jika hatimu belum mampu untuk menerima orang lain masuk dalam kehidupan mu.
Ummah hanya ingin melihat putri Ummah bahagia, dan tidak hidup seorang diri dalam menjalani kehidupannya. "
Aku mengangguk dan mengerti akan perkataan Ummah, lalu aku pun memeluk nya erat untuk menenangkan dirinya.
Aku dan Ummah larut dalam keharuan, sementara Wirda juga turut menitikan air matanya memandang kedekatan ku dan Ummah.
Tidak ada yang bisa ku katakan lagi pada Ummah, sebab diriku takut melukai perasaan dan hati Ummah.
Aku pun hanya diam dalam keheningan, sembari memikirkan perkataan Ummah yang sebenarnya sulit untuk hatiku menerima nya.
Tetapi biarlah semua kupendam dalam diamku, dan biarkan Allah yang menentukan bagaimana takdirku.
__ADS_1
Sementara ini, aku akan terus menjalani kehidupan ku dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan yang telah ku terima.