
Mobil yang dikendarai Pak Budi sudah tiba di kediaman rumah Ustad Fariz .Terlihat rumah yang sangat megah, besar namun tetap terlihat sederhana dan elegan. Perlahan Bik Siti juga Wirda membantuku turun perlahan dari mobil untuk berjalan masuk ke rumah Ustad Farid. Sementara Pak Budi , Ustad Fariz , Kak Rafa dan Bik Inah mengambil barang-barang keperluanku beserta barang lainnya yang kami kemas dalam beberapa koper untuk dibawa masuk ke dalam rumah ustad Fariz.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, "ucapku berbarengan dengan Wirda, Bik Siti dan Bik Inah melangkahkan kaki menuju pintu masuk rumah Ustad Fariz. "Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh ,"jawab Ustad Fariz menjawab salam dari kami semua .
"Ayo masuk silahkan masuk semuanya. Dan silahkan duduk dulu di ruang tamu .Saya akan panggilkan kedua orang tua saya dan kakek untuk menyambut kedatangan kalian semua, " ucap Kak Rafa sambil membawa koper di kedua tangannya dan meletakkannya di dekat ruang tamu.
"Iya baik terima kasih nak Rafa ,"ucap Bik Siti pelan sambil terus menuntunku untuk duduk di kursi tamu yang tidak jauh dari Bik Siti dan Wirda berada. Tidak lama kemudian Ustad Fariz dan Pak Budi pun juga sudah masuk di ruang tamu sambil membawa beberapa koper.
" Dek Rani dan Dek Wirda tunggu sebentar di sini bersama Bik Siti dan Bik Inah ya.Saya akan masuk ke dalam memanggil Bik Inem untuk membuatkan kalian minuman serta untuk datang membantu Bik Siti juga Bik Inah menyiapkan kamar untuk Dek Wirda dan Dek Rani ,"ucap Ustad Fariz kepada kami.
"Tidak usah repot-repot ustad Fariz tadi kan di rumah Wirda kami semua sudah minum dan makan. Jadi tidak perlu dibuatkan minuman lagi ,"ucapku kepada Ustad Fariz.
"Tidak apa-apa Dek Rani .Sekalian nanti kita berbincang-bincang dengan orang tua dan kakeknya saya, "ucap ustad Fariz kepadaku. "Ya sudah kalian tunggu dulu sebentar ya. Saya akan masuk ke dalam untuk memanggil Bik Inem sebentar, "kata Ustad Fariz.
"Iya silahkan Ustad Fariz,"sahutku.
Sambil menunggu Ustad Fariz dan Kak Rafa kembali aku ,Wirda, Bik Siti dan Bik Inah duduk di ruang tamu. Sementara Pak Budi masih mengangkat beberapa barang yang masih ada di dalam bagasi mobil untuk dibawa masuk.
" Masya Allah kediaman rumahnya nak Fariz dan nak Rafa ini sungguh megah dan jauh lebih besar dari kediaman rumahnya di keluarga Suprapto. Tetapi Bibi heran nak Rafa dan nak Fariz itu penampilannya sangat sederhana seperti orang biasa dan seperti bukan berasal dari anak orang kaya. Bibi benar takjub dengan mereka berdua ya nak Wirda ,"ucap Bik Siti memuji kemegahan rumahnya Ustad Fariz.
Wirda hanya tersenyum mendengar Bik Siti yang berbicara seperti itu .
"Iya benar Bik Siti. Saya pun sangat takjub melihat rumah nak Fariz dan nak Rafa layaknya seperti istana bahkan melebihi istana .Sungguh saya tidak menyangka keduanya itu berasal dari orang yang sangat kaya raya tetapi begitu menghormati orang lain .Seperti kita ini yang hanyalah bekerja sebagai asisten rumah tangga saja. Tetapi Nak Rafa dan Nak Fariz tetap santun dan sopan terhadap kita ya Bik Siti, "ucap Bik Inah menimpali.
" Iya benar sekali apa yang dikatakan Bik Inah. Sungguh memang budi pekerti nak Rafa dan nak Fariz itu baik dan mulia berbeda dari anak-anak orang kaya lainnya yang hanya bisanya menghambur-hamburkan uang dan pamer kekayaan dari orang tuanya saja ,"ucap Bik Siti menanggapi perkataan Bik Inah.
__ADS_1
" Aduh Bik Siti dan Bik Inah ini kok malah membicarakan Kak Rafa dan Kak Fariz, "kata Wirda sambil tersenyum.
" Hehehehe.... tidak apa-apa kan Nak Wirda. Lagi pula Bik Siti dan Bik Inah bukan membicarakan kejelekan mereka berdua. Bibi itu kagum dan senang bisa melihat dua sosok pemuda yang sholeh, sederhana dan jarang bibi temui di zaman sekarang. Seandainya saja Bibi punya anak perempuan pasti bibi akan mengajukan lamaran kepada Nak Rafa dan Nak Fariz hahaha ,"ucap Bik Siti sambil tertawa.
Aku, Wirda dan Bik Inah yang mendengar guyonan dari Bik Siti pun ikut tertawa.
"Hahhaha.. Bik Siti ini ada-ada saja ," ucap Wirda tertawa.
" Tidak apa-apa kan Nak Wirda sekali-sekali kita bercanda supaya tidak terlalu bersedih terus. Kan bibi juga senang jika melihat Nak Rani dan Nak Wirda bisa tersenyum seperti itu ,"ucap Bik Siti dengan pelan sambil tersenyum.
Di saat aku ,Wirda, Bik Siti dan Bik Inah sedang asyik berbicara dan mendengar gurauan dari Bik Siti. Ustad Fariz pun sudah datang bersama dengan Bik Inem asisten rumah tangga di kediamannya yang membawa nampan berisi makanan dan minuman yang juga dibantu oleh Ustad Fariz.
Bi Siti dan Bik Inah yang melihat Ustad Fariz ikut serta membawa nampan berisi makanan dan minuman langsung tegak berdiri dan mengambil nampan yang di bawa oleh ustad Fariz tersebut ."Aduh nak Fariz ini malah repot. Sudah sini berikan kepada bibi saja.Dan biarkan bibi saja yang membawanya,"ucap Bik Siti sambil mengambil nampan langsung dari tangan Ustad Fariz.
"Tidak boleh Nak Fariz.
Sudah biar Bik Siti dan Bik Inah saja. Nak Fariz duduk saja di sana ,"ucap Bik Siti sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan diikuti oleh Bik Inah yang juga membantu Bik Inem untuk menyusun minuman dan makanan di atas meja.
Bik Inem pun tersenyum menyambut kedatangan Bik Siti dan Bik Inah.Setelah mereka Meletakkan makanan dan minuman di atas meja Bik Inah, Bik Inem dan Bik Siti saling berkenalan dengan ramah dan langsung akrab.
" Ya sudah kalau begitu nak Fariz.Bik Siti langsung saja ikut dengan Bik Inem untuk memasukkan koper dan menyiapkan barang-barang untuk Nak Wirda dan Nak Rani ya Nak Fariz, "ucap Bik Siti kepada Ustad Fariz.
"Loh Bik Siti dan Bik Inah tidak minum dulu, "kata ustad Fariz.
"Sudah gampang Nak Fariz, tadi kan di rumah Nak Wirda bibi juga sudah makan dan minum. Nanti kalau bibi haus .Bibi bisa ambil sendiri di dapur ,boleh kan?,"tanya Bik Siti sambil tersenyum kepada Ustad Fariz. "Masya Allah tentu saja boleh Bik Siti, "jawab Ustad Fariz sambil membalas senyum Bik Siti.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya, " ucap Bik Siti.
"Iya Bi ,silahkan, " balas Ustad Fariz.
Bik Siti ,Bik Inah dan Bik Inem pun langsung bergegas membawa koper menuju ke dalam kamar yang akan kamar yang akan ditempati oleh diriku dan juga Wirda. Setelah itu ,Pak Budi juga ikut membantu mengangkat beberapa koper mengikuti Bik Siti, Bik Inah dan Bik Inem.
"Dek Wirda dan Dek Rani silahkan minum dahulu, " ucap ustad Fariz.
"Iya terima kasih kak Fariz, " ucap Wirda sambil mengangkat gelas yang berisi sirup lalu meminumnya.
"Ran, kamu mau minum juga tidak?, " tanya Wirda sambil meneguk air sirup.
"Tidak Wirda, nanti saja aku belum haus, " jawabku.
" Oh ya ustad Fariz mohon maaf sebelumnya .Apakah tidak apa-apa jika Rani, Wirda ,Bik Siti dan Bik Inah berada di rumah Ustad Fariz. Apakah anggota keluarga Ustad Fariz lainnya dapat menerima kedatangan kami ?,"tanyaku pelan kepada Ustad Fariz.
" Tidak apa-apa Dek Rani .Alhamdulillah saya sudah berkonsultasi sebelumnya kepada kakek ,Umi dan Abi serta dengan Dek Rafa lagi pula kita tidak mempunyai pilihan lain kan untuk menghindari pengaruh atau perbuatan yang mungkin tidak bisa kita duga dari keluarga Suprapto terhadap Dek Rani khususnya maupun kepada Dek Wirda, "jawab ustad Fariz.
" Maafkan Rani ya ustad Fariz karena Rani banyak dan sudah sangat merepotkan Ustad Fariz .Bahkan sekarang turut merepotkan keluarga Ustad Fariz semuanya pula. Dan membuat Ustad Fariz beserta keluarga harus terseret masuk ke dalam pusaran masalah yang melilit Rani selama ini ,"ucapku pelan dengan rasa bersalah. "Dek Rani jangan berkata seperti itu .Insya Allah apapun yang saya lakukan itu ikhlas karena Allah Ta'ala dan mungkin pertemuan Dek Rani dan saya itu semua atas kehendak dari Allah Subhanahu WA ta'ala. Mungkin juga melalui saya Allah telah memberikan pertolongan agar Dek Rani keluar dari masalah yang membelenggu Dek Rani selama ini. Dan untuk itu saya berharap Dek Rani tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf terus. Saya tidak mengharapkan imbalan apapun untuk menolong Dek Rani. Sekarang yang terpenting Dek Rani fokus untuk kesembuhan Dek Rani dan berpikiran yang positif serta membuang semua bentuk-bentuk pikiran negatif yang akan membuat kesehatan Dek Rani menjadi menurun, "ucap ustad Fariz.
" Iya Ran, apa yang dikatakan Kak Fariz itu benar. Dan kamu tidak perlu memikirkan perkataan orang lain. Kami semua itu peduli dan sangat sayang padamu .Jadi kamu itu harus selalu bahagia dan berpikiran optimis ya ,"ucap Wirda menimpali.
Aku pun tersenyum kecil mendengar ucapan Wirda. Walaupun sesungguhnya di hati kecilku. Aku merasa sangat sungkan dan begitu terasa berat dengan selalu merepotkan orang-orang yang berada di sekitarku. Tetapi semakin ku utarakan beban yang mengganjal di hatiku .Wirda ataupun Ustad Fariz pasti akan berusaha untuk membuatku merasa tidak memikirkan rasa bersalahku yang terus-menerus merepotkan mereka semua.
Sesungguhnya terkadang aku juga sangat bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena telah mengirimkan begitu banyak orang-orang yang baik dan peduli kepadaku. Di tengah himpitan masalah dari segelintir orang yang berusaha untuk mencelakakanku.
__ADS_1