Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Perbedaan


__ADS_3

Ditemani Bik Siti dan juga Pak Budi .Aku akan pergi menuju ke rumah Tante Desi yaitu kediaman rumah almarhum Kak Roy.


Sementara Wirda tetap berada di dalam rumah dan tidak dapat keluar, sebab berada dalam masa pingitan.


Maksud dan tujuan kedatanganku ke rumah Tante Desi adalah melaksanakan mandat dari Tante Warti dan Om Akmal untuk memberikan kabar bahagia tentang pernikahan Wirda dan Kak Rafa yang akan segera dilangsungkan.Di dalam perjalanan hatiku terus merasa gelisah dan kembali teringat akan apa yang aku lihat mengenai Rere dan laki-laki yang duduk di kursi roda bersamanya, di mana wajah laki-laki itu mirip sekali dengan Kak Roy .Namun sekali lagi aku berusaha untuk menepis rasa kegelisahan di dalam hati dan pikiranku tersebut. Sebab aku tidak ingin terus memikirkan hal itu, yang nanti akan dapat merusak momen pertemuanku dengan Tante Desi.


"Mengapa Bibi lihat Nak Rani terlihat gelisah seperti memikirkan sesuatu. Apakah Nak Rani memikirkan Nak Fariz," ucap Bik Siti sambil menggoda diriku.


Pak Budi yang menyetir mobil pun tersenyum kecil, dan ikut menimpali perkataan dari Bik Siti.


" Memang ada-ada saja Bik Siti ini. Pagi-pagi sudah membuat lelucon dengan Nak Rani. Nanti kalau Nak Rani merasa kesal dan marah bagaimana? Hayo? Bik Siti juga kan nanti yang akan bingung ?,"ujar Pak Budi yang fokus menyetir.


Aku pun memandangi wajah Bik Siti dengan wajah penuh keheranan .Seraya menyatukan kedua alisku dan memandang Bik Siti dengan lekat ,sembari menghela nafas pendek untuk merespon perkataan Bik Siti yang membuatku diriku hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala untuk merespon perkataannya.


"Hahahahaa, " suara Bik Siti tertawa.


" Nak Rani itu anak yang sabar tidak mungkin dia marah, lagi pula Bik Siti juga hanya guyon alias bercanda saja, daripada melihat Nak Rani terlihat gelisah dan hanya diam melamun saja. Tetapi kalau Bik Siti buat bercanda seperti ini kan, suasananya jadi ramai, sehingga Nak Rani tidak memikirkan hal-hal yang aneh ,"ujar Bik Siti sambil tersenyum dan mengusap kepalaku.


Aku pun hanya dapat tersenyum kecil memandang tingkah dan polah Bik Siti yang terkadang begitu sangat mengagetkan diriku ,yang terkadang sangat lembut bersahaja, namun terkadang juga sangat ramai seperti anak-anak. Yah, itulah Bik Siti dengan begitu banyak warna-warni kepribadian yang selalu dapat menghiburku dalam setiap suasana .Tetapi bagaimana pun juga aku juga sangat menyayanginya, karena dia lah satu-satunya orang yang selalu menjagaku dan berada di sisiku. Bahkan tidak pernah pergi meninggalkanku dalam masa keterpurukanku. Di dalam mobil pun aku lalu memeluk erat Bik Siti sambil mendekatkan pipiku ke pipinya.


"Rani sayang sekali dengan Bik Siti ,"ucapku bersemangat sambil mencium keningnya Bik Siti.


Kemudian,Bik Siti pun tertawa sambil berkata kepada Pak Budi.


"Pak Budi lihat sendiri kan, jika Nak Rani tidak marah itu karena Nak Rani itu sayang sekali dengan saya. "


Bik Siti membalas pelukan dariku dan mengusap kepalaku. Pak Budi yang mendengar ucapan Bik Siti pun tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya..iya pokoknya Bik Siti itu kesayangannya Nak Rani. "


Kami bertiga pun tertawa bahagia di dalam laju mobil yang dikendarai Pak Budi dengan laju tidak terlalu cepat. Ini adalah hal sederhana yang mungkin tidak terlalu begitu mewah ,tetapi dapat membuat hatiku merasa tenang dan jauh lebih baik. Kehadiran Bik Siti dan Pak Budi dalam hidupku memiliki tempat tersendiri di dalam perjalanan kehidupanku, keduanya sangat penting dan bernilai untukku.Mataku sesekali memandang wajah Bik Siti dan Pak Budi. Mereka berdua sudah ku anggap layaknya sebagai orang tua kandungku sendiri, dan di dalam tarikan nafasku sambil menggenggam jemari tangan Bik Siti ,hatiku terus melantunkan do'a untuk kebaikan dan kebahagiaan kedua orang pengganti ku itu yaitu Pak Budi dan Bik Siti.


Rabbanagfir lana wa li`ikhwaninallazina sabaquna bil-imani wa la taj’al fi qulubina gillal lillazina amanu rabbana innaka ra'ufur rahim.


Ya Tuhan kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, ucapku di dalam hati.


***


Tidak lama kemudian kami pun sudah tiba di halaman rumah Tante Desi.Aku dan Bik Siti segera turun dari mobil. Sementara Pak Budi masih mematikan mesin mobil dan mengambil beberapa bingkisan yang dititipkan oleh kedua orang tua Wirda yang akan diberikan kepada Tante Desi. Aku berjalan sambil merangkul lengan Bik Siti,dan pandangan mataku mengarah ke lahan taman tropis yang luas di depan halaman rumah Tante Desi. Dari pandangan mataku aku melihat Tante Desi sedang duduk dengan nyaman di gazebo beru bersama beberapa orang di dekatnya. Aku langsung saja mengajak Bik Siti untuk menghampiri Tante Desi yang berada di dalam Gazebo sambil memandangi kolam ikan yang cukup besar yang berada di dekat Gazebo tersebut, dan Pak Budi pun sepertinya mengetahui akan kemana arah langkahku dan Bik Siti akan pergi, sehingga Pak Budi hanya mengikuti kami dari belakang.

__ADS_1


" Assalamualaikum, "ucapku memberi salam kepada Tante Desi.


Mendengar suaraku Tante Desi dan juga beberapa orang di dekatnya menoleh sambil membalas salam yang kuucapkan. "Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Tante Desi.


Tante Desi begitu terkejut dan terperangah akan kedatanganku bersama Bik Siti dan Pak Budi .Ia yang semula duduk langsung berdiri seraya berlari kecil ke arahku dan langsung memeluk diriku dengan erat.


"Ya Allah ternyata kamu Ran, " ucapnya dengan suara yang haru ada air matanya mengalir.


Kemudian,Tante Desi melepaskan pelukannya dariku dan berganti memegang wajahku dengan kedua jemarinya ,sambil menatap wajahku dengan sorot matanya yang begitu teduh juga masih terlihat sayu. "Maafkna tante ya Ran, karena tante tidak sempat untuk membesukmu di rumah sakit. Bu Putri sudah mengabarkan kepada tante akan keberhasilan operasi pencangkokan kornea matamu, dan tante merasa sangat senang sekali .Tetapi kamu tahu sendiri Ran, setelah meninggalnya Roy, tante tidak terlalu kuat untuk keluar dari rumah, karena Tante masih dalam kondisi yang masih belum mampu untuk menopang tubuh dan pikiran tante saat berada di luar. Tante juga kadang terbawa suasana kesedihan mengingat bayang -bayang Roy yang masih terlintas.Apalagi jika melihat kornea mata Roy berada di dalam tatapan matamu sayang, tante tidak akan kuat karena hal itu akan membuat tante merasakan jika Roy masih berada di dekat tante, Hiks..Hiks..," tutur tante Desi sambil menangis.


Aku pun tersenyum dan memegang jemari tangan Tante Desi."Iya Tante. Rani mengerti dan tante tidak usah bersedih ya, "kataku sambil menyeka air mata Tante Desi dari pipinya.


Tante Desi pun mengangguk lalu mengajakku ,Bik Siti dan Pak Budi untuk ikut bersamanya duduk kembali di Gazebo, sambil memperkenalkan kami bertiga dengan orang-orang yang duduk di dekatnya Tante Desi, yang tidak lain adalah saudaranya. Kemudian setelah aku, Bik Siti dan Pak Budi duduk di Gazebo seluruh keluarga Tante Desi pun menyingkir dan masuk ke dalam rumah ,sembari memberitahukan kepada asisten rumah tangga Tante Desi untuk menyiapkan makanan dan minuman dan menghidangkannya kepada kami. Tante Desi pun memberanikan dirinya menatap mataku dengan lekat, dalam pandangan wajahnya terlihat ekspresi seperti ragu,tidak percaya, meneliti dan seperti berpikir .Aku pun yang melihat ekspresi wajah Tante Desi terlihat begitu aneh dan terasa janggal. Langsung saja bertanya kepadanya.


"Ada apa Tante? kenapa Tante Desi menatapku seperti itu? Apakah ada keanehan yang tante lihat?,"tanyaku dengan rasa ingin tahu.


Tante Desi pun menarik nafas pendek ,lalu terus menatap mataku sambil berkata.


" Iya Ran. Tante pikir saat tante menatap matamu tante dapat merasakan getaran tatapan matanya Roy .Tetapi setelah tante melihat dan meneliti secara seksama tante merasakan jika itu bukanlah kornea matanya Roy, dari warnanya pun juga sangat berbeda. Apalagi tante sama sekali tidak merasakan getaran apapun dari Tatapan matamu itu. Sungguh tante yakin Ran, itu seperti bukan kornea mata milik putra Tante Roy ,"ujar Tante Desi untuk memberitahukan isi hatinya kepadaku.


Pak Budi dan Bik Siti yang berada di dekatku pun terlihat terkejut dengan ucapan yang disampaikan oleh Tante Desi ,begitu pula dengan diriku. Dimana ucapan Tante Desi kembali mengingatkanku akan perkataan Wirda yang mengatakan jika warna dari mataku memang tidak sama dengan warna mata yang dimiliki oleh Kak Roy. DEG...DEG...DEG...


Maka bertambahlah kecemasan dari raut wajahku, setelah mendengar ucapan akan keyakinan dari Tante Desi. Aku pun berpikir serius dalam diamku.


Kalau begitu korneo mata siapa yang berada di dalam mataku ini ,tanyaku di dalam hati.


Sungguh sebuah dilema yang luar biasa berkecamuk di hatiku, pikiranku pun kembali teringat akan Rere yang kulihat, entah mengapa hatiku mengaitkan semua kejadian yang terjadi kepada Kak Roy dengan Rere. Ya Allah, ada apa gerangan ini. Bantulah aku untuk menemukan kebenaran dari semua masalah ini. Allahumma inni as-alukal huda wa sadaad. Ya Allah aku meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran, ucapku di dalam hati.


Tante Desi, Bik Siti dan Pak Budi menatapku.


"Ada apa Ran? Apa yang kamu pikirkan?, " tanya Tante Desi gelisah.


Aku pun memandang Tante Desi dengan raut wajah bingung.


" Tante Apakah setelah meninggalnya almarhum Kak Roy. Apakah Rere pernah datang kemari?." Tante Desi pun menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya, dengan bibir sedikit agak terangkat ke atas .


"Tidak Ran, setelah kejadian waktu itu ,saat Roy akan dimakamkan itu saja terakhirnya kalinya Rere datang kemari ,setelahnya dia tidak pernah lagi datang . Apalagi untuk menanyakan keadaan tante melalui telepon pun juga tidak pernah sama sekali. "

__ADS_1


Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres yang berusaha untuk Rere sembunyikan dari kami semua, gumamku di dalam hati. Tetapi aku tidak mengatakan akan kecurigaanku kepada Rere kepada Tante Desi ,karena melihat raut wajah Tante Desi yang semakin terlihat suram dan penuh pertanyaan.Aku pun mengalihkan pembicaraan pada maksud dan tujuanku dan Pak Budi serta Bu Siti datang ke rumahnya. Dengan besar harapanTante Desi tidak semakin cemas dan khawatir memikirkan akan perbedaan warna Korea mataku dan Kak Roy, karena aku benar-benar takut jika Tante Desi menjadi drop dan jatuh sakit. Jika mengetahui ada keganjilan yang sebenarnya sedang terjadi.


Perlahan aku pun menggenggam jemari tangan Tante Desi dan melemparkan senyumku kepadanya. "Sudah tante.Tante tidak perlu cemas dan khawatir seperti itu, insya Allah jika Rani diberikan kelonggaran waktu Rani akan sering-sering main kemari bersama Bik Siti dan juga akan mengajak Pak Budi ya Tante, "ucapku kepada Tante Desi supaya ia tidak terlihat murung. "Benarkah itu Ran?,"tanya Tante Desi menatapku.


Aku pun menganggukkan kepala ."Iya Tante Insya Allah."


Lalu wajah Tante Desi pun terlihat sumringah dan senang.


"Tante sangat berharap kamu sering-sering main kemari Ran, sebab tante sering merasa kesepian dan tante pasti akan sangat bahagia jika kamu juga dapat menginap di sini sesekali. Supaya tante juga bisa bertukar pikiran dan sharing kepadamu, "ucap Tante Desi dengan nada sedikit meminta kepadaku.


"Iya Tante .Insya Allah, tante do'akan saja ya. Semoga Allah mengizinkan niat kita berdua itu ya tante ,"kataku.


Tante Desi pun tersenyum sambil menepuk-nepuk lembut tanganku.


"Oh ya Tante .Rani sampai kelupaan akan maksud dan kedatangan Rani ke rumah tante, yaitu untuk memberikan undangan. Sebentar ya Tante Rani mencari dulu undangannya ,sepertinya terselip di dalam tas ,"ucapku sambil mencari undangan yang ada di dalam tas.


Tante Desi mengkerut kan dahinya berpikir.


"Undangan ?undangan siapa Ran?,"tanya Tante Desi sambil menatapku.


Namun sebelum aku menjawabnya Bik Siti sudah menimpali dan menjawab pertanyaan dari Tante Desi .


"Undangan pernikahan nak Wirda dan nak Rafa Bu Desi ,"ucap Bik Siti sambil tersenyum.


Tante Desi pun terkejut. "Hah! Wirda dan Rafa akan menikah?."


"Iya Bu Desi ,"sahut Pak Budi dengan lantang. Tante Desi yang terlihat terkejut lalu menunjukkan ekspresi wajah senang. "Alhamdulillah, saya tidak menyangka jika Wirda dan Rafa itu akan menikah dan berjodoh. Saya turut senang sekali, "sahut Tante Desi. Lalu aku pun memberikan undangan kepada Tante Desi dan Pak Budi menyerahkan bingkisan yang dititipkan oleh Tante Warti dan Om Akmal yang kemudian diterima oleh Tante Desi dengan penuh suka cita.


Kami berempat pun berbincang-bincang dengan sangat intim tanpa membahas lagi tentang masalah kornea mataku dan Kak Roy yang berbeda, karena aku juga tidak ingin membuat wajah bahagia Tante Desi terlihat murung dan memikirkan hal itu setelah ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikhlaskan kepergian Kak Roy dari kehidupannya.


Sebaiknya setelah pernikahan Kak Rafa dan Wirda ,aku akan mengatakan tentang masalah perbedaan kornea mataku dan Kak Roy kepada Tante Desi ,serta mengajak Tante Desi mencari tahu kebenarannya. Tetapi sebelum pernikahan Kak Rafa dan Wirda belum terlaksana ,sebaiknya aku tahan dulu kecurigaan ini .Agar kami semua fokus akan acara penting bagi kehidupan Kak Rafa dan Wirda ,batinku di dalam hati sambil menatap wajah Tante Desi yang terlihat sangat senang sekali akan kedatanganku ,Bik Siti dan Pak Budi.


Tidak lama setelah itu aku ,Bik Siti dan Pak Budi pamit pulang kepada Tante Desi untuk kembali ke rumah kediaman Wirda .Tante Desi terlihat murung ketika kami akan hendak pulang, karena ia masih sangat merindukanku dan masih banyak ingin bercerita kepadaku, juga dengan Bik Siti dan Pak Budi. Tetapi setelah aku menjelaskan kepada Tante Desi perihal keadaan keluarga Wirda yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Wirda, dan sangat membutuhkan bantuan kami.Akhirnya dengan berat hati Tante Desi pun mengerti dan memakluminya. Tante Desi memelukku erat dengan air matanya yang mengalir ia berbisik lembut kepadaku. "Sering-seringlah main kemari ya Ran, karena kedatanganmu akan mengobati kerinduan tante kepada Roy. Rani kan juga sudah seperti putri tante sendiri, "ucap Tante Desi sambil mencium keningku dan mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.


Aku pun menganggukkan kepala tanpa dapat berkata apapun.


Aku ,Bik Siti dan Pak Budi pun lalu masuk ke dalam mobil,sementara Tante Desi terus memandang ke arah mobil yang akan dikendarai Pak Budi dengan tatapan mata yang masih berkaca-kaca dan wajah yang penuh kesedihan. Tante Desi pun terlihat termenung sambil melambaikan tangan kanannya melihat mobil yang dikendarai Pak Budi melaju meninggalkan kediaman rumahnya.

__ADS_1


Di dalam mobil pun aku masih terus memikirkan perkataan Tante Desi dan mengaitkannya dengan perkataan Wirda serta Rere. Hatiku begitu cemas memikirkan misteri perihal Rere dan alamarhum Kak Roy.


Bik Siti yang melihat kegelisahan hatiku pun mengusap pundakku untuk menenangkan hatiku.


__ADS_2