Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menunggu.


__ADS_3

Seminggu sudah Ummah dan Abi menemaniku, dan tidak pernah sedikit pun mereka meninggalkan diriku. Aku masih belum tersadar dari komaku.Namun, Ummah dan Abi segera meminta agar diriku dapat segera di bawa pulang ke Indonesia. Setelah dokter memeriksa keadaan diriku dan memastikan tidak akan ada indikasi medis yang berpengaruh secara signifikan terhadap kondisi ku. Akhirnya, Ummah dan Abi di bantu oleh pihak perwakilan KBRI dan otoritas setempat, membantu Ummah dan Abi membawa diriku pulang lewat jalur penerbangan udara.


Air mata Ummah dan Abi tidak lagi menetes, kini keduanya jauh lebih tegar setelah mengetahui akan kondisiku yang akan banyak membutuhkan bantuan mereka berdua. Tidak ada lagi keputusasaan atau ekspresi wajah rapuh akan keadaan yang mengharukan perasaan Ummah dan Abi. Keduanya telah sepakat untuk membuang rasa kesedihan, dan menatap hari baru kedepan.


"Kita harus kuat dan tegar Ummah, karena keberadaan kita akan begitu di butuhkan saat Rani tersadar dari komanya, " ucap Abi.


Ummah mengangguk pelan dan mengerti akan semua perkataan Abi. Bagi Ummah, sekarang kesadaran ku lebih utama dari hal apapun juga.


Ummah dan Abi ditemani perwakilan pihak KBRI dalam perjalanan pulang ke Indonesia.


Lisan Ummah dan Abi tidak pernah sedikit pun berhenti memanjatkan do'a untuk keselamatan kami semua hingga tiba di tempat tujuan dengan selamat.


Sementara itu, di kediaman keluarga Imandar. Enjid, Wirda, Kak Rafa dan Pak Budi menunggu kedatangan Ummah dan Abi dengan harap-harap cemas.


Wirda terlihat gusar dan tidak tenang menunggu detik-detik kepulangan Ummah dan Abi yang membawa diriku. Kak Rafa berulang kali mengingatkan Wirda untuk bersikap tenang dan sabar, apalagi kondisinya saat ini tengah mengandung.


Awalnya Wirda tetap bersikeras, tetapi setelah Pak Budi dan Enjid turut menasehati nya. Wirda pun mau duduk dengan tenang dan menunggu info kedatangan Ummah juga Abi.


"Kak Rafa apakah Abi dan Ummah sudah tiba?, " tanya Wirda cemas.


"Belum Dek, " sahut Kak Rafa.


"Ummah dan Abi mu pasti langsung membawa Rani ke rumah sakit, karena keadaan Rani belum memungkinkan untuk dibawa ke rumah, " sahut Enjid.


"Sepertinya iya Njid,tetapi Abi belum memberitahu rumah sakit mana yang akan mereka tuju, " kata Kak Rafa.


Enjid memandang wajah Kak Rafa, "Iya Rafa, kita tunggu saja. Nanti setelah Abi mu memberitahu lokasi rumah sakit yang mereka pilih untuk Rani. Kita segera meluncur ke sana. "


Kak Rafa mengangguk pelan sambil mengusap punggung Wirda untuk membuatnya tenang.

__ADS_1


Semua orang tampak begitu khawatir dan penuh kecemasan menunggu kepulangan Ummah dan Abi yang membawa diriku.


***


Setelah mendapatkan informasi dari Abi akan waktu kedatangan, dan rumah sakit pilihan Ummah juga Abi untuk tempat ku di rawat. Enjid, Kak Rafa, Wirda dan Pak Budi langsung bergegas dengan segera menuju rumah sakit tempat Ummah dan Abi berada sekarang. Semua orang yang berada di dalam mobil penuh ketegangan dan perasaan yang tidak menentu, terlebih lagi Wirda yang begitu sangat mengkhawatirkan diriku. Beberapa kali wajah nya basah dengan air mata yang mengalir tanpa ia sadari, berat dan sesak rasanya dada Wirda jika harus mengingat peristiwa yang sungguh membuat hatinya tidak kuat membendung derita.


Kak Rafa yang melihat kesedihan Wirda, tampak beberapa kali memeluk tubuh Wirda. Seraya berbisik kepada Wirda untuk kuat dan tidak terus menangis.


Wirda mengangguk pelan, dan berusaha melakukan apa yang diminta oleh Kak Rafa. Tetapi tetap saja air matanya seakan tidak bisa Wirda kendalikan. Setiap memorinya teringat akan diriku, maka butiran-butiran air dari matanya yang sembab itu terus menetes tiada henti.


Kak Rafa memahami apa yang Wirda rasakan dan terus merangkulkan tangannya ke pundak Wirda, berharap perasaan Wirda jauh lebih tenang.


Tidak lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi sudah tiba di rumah sakit yang di tuju oleh Ummah dan Abi. Tanpa menunggu aba-aba lagi, semua orang lekas turun dari mobil dan berjalan cepat menuju ruang ICU, dimana Ummah dan Abi berada disana menemaniku.


Tidak butuh waktu lama, setelah menaikki lift. Wirda, Enjid, Kak Rafa dan Pak Budi sudah tiba di depan ruang ICU.


Wirda yang melihat Ummah, langsung berjalan cepat mendekati Ummah dan memeluknya. Keduanya pun saling melepaskan rindu dan menumpahkan air mata. Begitu pula dengan Enjid, Kak Rafa, Abi dan Pak Budi yang bergantian berpelukan, setelah satu pekan tidak berjumpa. Suasana pun menjadi haru seketika, apalagi saat Abi menceritakan kondisiku saat ini.


Wirda yang mendengarkan penuturan Abi, langsung menangis semakin menjadi. Wirda tidak mampu membayangkan, bagaimana perjuangan diriku agar dapat lolos dari maut.


"Ya Allah, Rani!, " ucap Wirda lirih sambil terus menangis.


Ummah memeluk Wirda lalu mengajaknya untuk duduk, sebab Ummah juga mengkhawatirkan Wirda. Dimana keadaan Wirda tengah hamil muda dan tidak boleh terlalu banyak mendapatkan tekanan dan banyak beban pikiran.


Ummah memberikan botol air mineral supaya Wirda segera meminumnya.


Wirda pun tidak menolak dan langsung meminum air mineral yang di berikan oleh Ummah sambil terus mengusap air matanya dengan tisu.


Ummah pun terus mengusap punggung dan kepala Wirda, untuk membuatnya tenang dan berhenti menangis. Dan dengan tenang nya Ummah berkata, "Janganlah bersedih lagi Wirda, sungguh Allah bersama kita. "

__ADS_1


Wirda menatap Ummah lekat, seakan belum bisa menerima akan semua peristiwa yang telah terjadi.


Ummah menggenggam tangan Wirda, "Kita harus Ridha terhadap takdir yang Allah berikan, jangan mengeluh dan berkeluh kesah, karena Ummah sangat yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kita."


Wirda memandang wajah Ummah lekat dan dalam, dan semakin merasakan gusar di dalam hatinya.


"Mengapa tiba-tiba Ummah dapat sekuat dan setegar ini, setelah apa yang telah terjadi. Aku semakin mengkhawatirkan keadaan Rani, " gumam Wirda di dalam hatinya.


Ummah menatap Wirda yang terlihat bingung dan tegang.


Semua orang pun masih menunggu dokter keluar dari ruang ICU dan memberikan keterangan lanjutan akan kondisiku.


Kak Rafa lalu mendekat ke arah Ummah dan Wirda, lalu duduk di samping Wirda.


"Apa yang kamu pikirkan Dek Wirda?, " tanya Kak Rafa yang melihat kegelisahan di raut wajah Wirda.


"Aku hanya memikirkan keadaan Rani, kak, " sahut Wirda pelan.


Kak Rafa menggenggam jemari tangan Wirda, "Dokter sedang memeriksa keadaan Rani. Kakak berharap kamu tidak terlalu banyak berpikir yang macam-macam Dek, tolong ingat bahwa saat ini ada janin yang sedang tumbuh di dalam rahim mu. Maka dari itu jangan terlalu membebani pikiran dan hatimu. Rani pun pasti tidak akan suka, jika melihat mu terlalu memikirkan hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan buah hati kita."


Wirda terdiam dan menyandarkan kepalanya di pundak Kak Rafa.


Huftt


Ditarik nya napas pendek perlahan, untuk membuat dadanya terasa sedikit longgar dari rasa sesak.


Ummah pun membelai kepala Wirda, dan merasakan kegundahan nya.


"Insya Allah, semua akan baik-baik saja Wirda," ucap Ummah berusaha meyakinkan hati Wirda.

__ADS_1


__ADS_2