Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Perubahan


__ADS_3

Hidupku terasa hancur dan mati setelah kepergian bunda.


Semuanya terasa kosong dan hampa.


Sandaran dan penopang hidupku telah pergi jauh untuk selama-lamanya meninggalkan diriku.


Arrrrggggghhhhh...... Arrghhhhhhh


Batinku meronta dalam derai luapan air mataku.


Ya Allah,kenapa...kenapa Engkau biarkan aku sendiri.


Mengapa begitu cepat Engkau memanggil bunda.


Mengapa semua ini harus terjadi padaku.


Mengapa....Mengapa...Ya Allah...,"batinku.


Aku paham akan ketetapanMu  tetapi semua begitu tiba-tiba.


Sekarang apa yang harus Rani lakukan Ya Allah,"ucapku lirih.


Tubuhku masih tergolek lemah di atas sandaran kursi.


Kubenamkan wajahku dalam lipatan kedua tanganku.


Derai air mata terus mengalir tiada henti membasahi wajah dan kerudungku.


Entah sudah berapa banyak linangan air mata yang terus mengalir namun tidak juga membuat derita hatiku berkurang.


Dalam kesedihanku perlahan suara lirih memanggilku.


"Ran..Ran..jangan sedih lagi Ran,"sambil memegang pundakku pelan.


Aku tetap diam tidak memperdulikan suara itu namun ia terus berusaha menenangkanku.


"Ran...Ran..Rani...minum dulu ya,kamu belum makan dan minum apapun Ran,"ucapnya pelan.


Suara yang tidak asing bagiku.


Perlahan kuangkat kepalaku untuk melihat suara yang terus memanggilku meskipun sebenarnya aku tidak ingin begitu meresponnya.


"Ran...,"ucapnya lagi.


Darahku terasa berkobar setelah melihat sosok orang yang dari tadi memanggilku.


"Ran...minum dulu ya,"bujuknya.


Mataku yang sayu dan sembab menatapnya sinis.


"Ran...aku tahu kamu pasti nggak suka lihat aku tetapi tolong kamu minum dulu,sedikit saja nggak apa-apa,"bujuknya lagi.


Aku hanya diam dan memandangnya dengan penuh rasa kesal dan benci.


"Ran..,"panggilnya.


"Lebih baik Kak Reno pergi saja!,"ucapku ketus dengan tubuh lemas.


"Aku nggak akan pergi Ran sebelum kamu minum.


Tolong minum sedikit saja,"pintanya.


"Kak Reno nggak perlu berpura-pura peduli dan berakting baik di depanku,"jawabku.


"Aku nggak berpura-pura Ran, aku benar-benar khawatir sama kamu,"jawab Kak Reno berusaha meyakinkanku.


Aku hanya tersenyum sinis.


"Sudah Kak Reno pergi saja.


Rani nggak butuh simpatimu.


Bukankah ini tujuan Kak Reno bahagia melihat Rani menderita dan hancur."


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Ran?,"tanyanya.

__ADS_1


"Tanya saja pada diri Kak Reno sendiri.


Sudahlah kak,lebih baik kakak pergi dari hadapanku.


Jujur Rani tidak suka melihat Kak Reno.


Pergilah kak...pergi!,"teriakku pelan.


"Aku tahu Ran, kakak banyak melakukan kesalahan padamu."


"Lalu apa mau Kak Reno,"tanyaku.


"Maaf darimu Ran dan minum sedikit air ini ya,"pintanya.


"Tidak, kumohon pergilah dari hadapanku kak".


"Aku tidak akan pergi Ran sebelum kamu minum dulu."


"Pergi..pergi dari sini,"teriakku dengan suara parau.


Kak Reno tetap tidak beranjak pergi dan berusaha menenangkanku .


Aku terus menangis dan menyuruhnya pergi.


"Nggak Ran, aku nggak mau pergi,"balasnya.


Dengan perlahan ia meletakkan gelas yang berisi air di atas meja disamping kursi tempatku bersandar.


Matanya berkaca-kaca melihat kondisiku.


Mata yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


Aku berusaha memalingkan pandanganku darinya tetapi dengan cepat kedua tangannya menarik tubuhku yang lemas.


Aku meronta dalam dekapannya.


"Lepaskan...dan menjauh dariku,"ucapku lirih.


Kak Reno memelukku dan menangis.


Hikssss....Hikkkksss...


Tubuhku terasa tidak berdaya dalam dekapannya, kepalaku pusing dan terlihat samar.


Plegggg..tubuhku lunglai.


"Ran...Ran..Raniiiiii..,"teriak Kak Reno.


Aku tidak sadarkan diri.


 


Setelah beberapa hari aku dirawat dirumah sakit.


Kakek membawaku tinggal di kediamannya.


Besar pengharapanku untuk menjauh pergi dari keluarga besar Suprapto tetapi apa dayaku yang lemah tidak berdaya setelah kepergian bunda.


Kubuka mataku perlahan untuk melihat keadaan disekitarku tampak Mbak Riska dan Bu Sri menjagaku.


Bu Sri tertidur disampingku terlihat lelah menghias parasnya yang ayu meskipun beliau sudah tidak muda lagi.


Di sisi lain Mbak Riska juga terlelap tidur diatas sofa.


Ia juga terlihat tidur dengan pulasnya dan sangat kelelahan.


Dengan perlahan kukuatkan tubuhku untuk berusaha duduk.


Kucoba dengan tenang agar tidak membangunkan Bu Sri dan Mbak Riska.


Kepalaku masih terasa sedikit pusing.


Tenggorokanku terasa kering dan kuambil gelas yang berisi air putih dari atas meja disamping tempat tidurku.


“Bismillahirrahmannirrahiim.” Yang artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

__ADS_1


Kutarik napas perlahan dan meneguk sedikit air.


Gleggg.....glegg..glengg...


“Alhamdulillahilladzi ath 'amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin.”


Artinya: "Segala puji bagi Allah yang memberikan kami makan dan minum. Dan Menjadikan kami orang Islam."


Kulap bibirku yang basah terkena air dengan jemariku pelan.


Aku Melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tiga pagi.


Lebih baik kutunaikan salat tahajud pikirku.


Dengan bersusah payah dan perlahan akhirnya akupun dapat berdiri dan mengambil air wudhu.


Sungguh terasa sejuk dan segar sekali air wudhu yang membasuh anggota tubuhku.


Tidak berapa lama akupun menunaikan salat tahajud.


Kubenamkan diriku dalam dekapan Sang Maha Pencipta dengan menegadahkan kedua tanganku mengharapkan ridho dan petunjukNya.


Bibirku berucap lirih dalam linangan airmata yang tiada hentinya mengalir.


Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih. “Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia.


Hughhhh..arrgggghhh....kutarik napas dalam agar dadaku tidak terasa sesak.


Tesss...tessssss.....tessss....airmataku mulai berkucuran.


“Robbanaa laa tuaa khidznaa innasiinaa au akhtho’na, robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘ala al ladziina min qoblinaa, robbana walaa tuhammilnaa maa laa thoo qatalanabih, wa’ fuanna waghfirlanaa warhamnaa, anta maulana fansurnaa ‘ala al qaumilkaafiriin.”


Artinya:


“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.


Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami.


Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”


Hikkkssss.....Hikkssssss.....airmataku terus mengalir semakin deras.


Kembali kutarik napas panjang agar dadaku terasa tidak sesak.


Sesekali kuseka air mata yang mengalir deras membasahi pipiku dan kulanjutkan berdo'a kembali.


“Allahumma Fighfirlii Wa Liwaa Lidhayya Warham Humaa Kamaa Rabbayaa Nii Shaghiraa.”


Artinya: “Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, serta berbelas kasihlah kepada mereka berdua seperti mereka berbelas kasih kepada diriku di waktu aku kecil.”


Aamiin yaa rabbal 'aalamiin.


Artinya : "Kabulkanlah Ya Allah Kabulkanlah".


Kubenamkan wajahku kedalam kedua tekukan kaki dan dekapan tanganku.


Aku berusaha ikhlas dan tegar menghadapi semua cobaan dari Allah.


Sebab aku yakin Allah akan membantuku melewati semua ujian ini.


La haula wala quwata illa billah artinya "Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah." ucapku sambil terisak.


"Ran...,"panggil Bu Sri memegang bahuku dengan lembut.


Rupanya beliau terbangun mendengar suara tangisku.


Ia menyeka air mataku dengan lembut dan mencium keningku penuh kasih sayang.


"Rani yang kuat ya nak, mama juga ibumu kan,"ucapnya sambil memelukku erat.


Hiksssss.....hikksssss.....


Kami berdua larut dalam isak tangis di keheningan fajar.


 

__ADS_1


__ADS_2