Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kabar yang mengejutkan


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi aku tidak melihat Kak Reno dimanapun.Entah kemana perginya dia aku juga tidak ingin terlalu peduli.


Saat ini aku dan yang lainnya sedang duduk di taman belakang rumah keluarga Suprapto menikmati gemercik suara air mancur yang teduh dalam kerindangan tanaman hias yang hijau dan asri.


Lembut semilir angin pagi menyapu wajahku yang tersorot cahaya matahari pagi.


Perasaan teduh tetapi kosong dalam sanubariku.


Tiba-tiba pandanganku terhalang oleh sosok yang tinggi.


"Selamat pagi Ran,"ucapnya pelan.


Mataku beradu pada suara yang memanggil di hadapanku.


Aku tersentak sedikit terkejutnya melihat Kak Reno yang berdiri di depanku.


Ia memandangiku dan tersenyum.Aku hanya diam melihat sikapnya yang demikian.


Tidak lama kemudian ia menuju sebuah kursi kosong yang ada di samping kakek.


"Ren,dari mana aja kamu dek?,"tanya Mbak Riska.


Kak Reno membalasnya dengan senyuman.


"Ditanya malah senyum aja dek,aneh....,"Mbak Riska sedikit ketus.


"Yah...gitu aja kok kesel mbak,"jawab Kak Reno bergurau.


"Sssstttttt......udah...udah...kok malah pada rame aja,"timpal Bu Sri sambil menggoyangkan tangan kanannya keatas bawah.


"Ren,kamu sudah sarapan nak?,"tanya Pak Sugeng.


Kak Reno mengangguk.


"Reno ingin ngomong yang penting banget untuk semua,bisa?,"tanyanya serius sambil melirik ke arahku.


"Iya ngomong saja Ren," jawab kakek.


"Kek,mama dan papa....,"terdiam sejenak.


"Iya nak,"Bu Sri menunggu lanjutan kalimat Kak Reno.


Kak Reno menatap kearah semua orang.


"Reno ingin masuk pondok pesantren.Meneruskan sekolah di sana,"ucapnya tegas.


Semua orang kaget begitu juga denganku.


"Pesan......tren....?,"tanya Mbak Riska heran.


"Kamu nggak sakit kan Ren?,"ucap Mbak Riska sambil memegang dahi adiknya.


"Reno serius mbak."


"Sejak kapan kamu jadi orang serius,"goda Mbak Riska.


"Udah Riska jangan ganggu adikmu terus loh,"bela Bu Sri sedikit tegas.


"Papa nggak salah denger kan Ren?,"tanya Pak sugeng yang juga kaget mendengar ucapan Kak Reno.


"Serius pa. Reno sudah memikirkan semuanya dengan matang,"jawab Kak Reno tegas.


"Bagaimana menurut kakek?,"tanya Kak Reno.


"Kakek setuju saja dan mendukung keputusanmu.Sekalian supaya kamu dapat memperdalam ilmu agama dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."


Kak Reno tersenyum.


"Tapi kenapa mendadak seperti sih Ren?,"tanya Bu Sri.


"Nggak mendadak mah.Anggap aja ini hidayah dari Allah mah buat Reno.Tetapi mama dan papa setuju kan?."


Lama Bu Sri dan Pak Sugeng terdiam memikirkan jawaban apa yang ingin mereka utarakan.Terlihat guratan keraguan di wajah Bu Sri.


"Kalau kamu sudah yakin dan mantap akan keputusanmu papa mendukung saja."


"Terima kasih pah,"jawab Kak Reno.


"Jika mama boleh tahu apa motivasi Reno ingin masuk pondok pesantren.Bukankah selama ini Reno nggak suka dengan namanya pesantren,"tanya Bu Sri serius.


"Iya, mama betul tuh,"timpal Mbak Riska.


Mimik wajah Kak Reno berubah menjadi serius.Diusap wajahnya yang putih perlahan dan merapikan posisi duduknya.


Semua mata tertuju padanya termasuk aku yang melihatnya.


Drama baru apa lagi yang kali ini akan ia tampilkan gumamku dalam hati.


"Ayo jawab dek...kok malah diem aja....kebanyakan mikir,"ucap Mbak Riska yang tidak sabar menunggu jawaban Kak Reno.


"Iya mbak....sabar,"balas Kak Reno.


"Reno sadar Reno banyak sekali memiliki kekurangan termasuk dalam hal ilmu agama.Padahal ilmu agama itu pondasi penting dalam mengarungi kehidupan.Reno ingin menjadi lebih baik lagi dalam menjalani hidup ini.


Menjadi cucu yang baik,anak yang baik dan membanggakan mama papa,adik yang baik dan.......,"ia terdiam sejenak.


"Dan apa Ren?,"tanya kakek.


Kak Reno tersenyum kecil kearah kakek lalu melihat ke arahku.


Pandangan mata kami bertemu ia menatapku dalam dan tajam.Ingin segera kualihkan tatapanku tetapi dengan cepat ia menjawab.


"Dan menjadi suami sekaligus imam yang baik untuk istri Reno."


"Hmmmmmmm.......cieeeeeeeee,"goda Mbak Riska.

__ADS_1


Semua tersenyum sumringah.Sementara aku dan Kak Reno terdiam.


Pak Sugeng menyela di antara keheningan kami berdua.


"Papa dukung keputusanmu Ren.Kalau boleh papa saran Reno masuk ke pondok pesantrennya setelah kita mengadakan pengajian untuk almarhumah ibunda Rani.Bagaimana menurut Reno?,"tanya Pak Sugeng.


"Iya pah,nggak apa -apa pah,"jawab Kak Reno.


"Hmmmmm.....kalau boleh Reno mau bicara berdua saja sama Rani.Bisa kek,mah,pah dan Mbak Riska?,"memandang sekitar sambil menunggu jawaban.


Semua orang saling memandang dan tersenyum kecil.Mereka semua kompak menjawab dengan senda gurau menggoda Kak Reno.


"Hmmmm.....boleh dong,"jawab kakek,Bu Sri ,Pak Sugeng dan Mbak Riska bersamaan.


"Cieeeeee......yang mau berduaan saja,"goda Mbak Riska.


"Apaan sih mbak.Reno mau ngomong penting nih."


"Udah....udah Riska ayo kita ke dalam biarkan mereka bicara berdua,"ajak kakek tersenyum.


"Ran,mama masuk dulu ya nak,"Bu sri berkata sambil mengusap lembut kepalaku.


Aku mengangguk perlahan.Semua orang sudah masuk kedalam.Hanya tinggal aku dan Kak Reno.


Di tariknya kursi untuk duduk pindah di hadapanku.Aku hanya melihat tanpa berkata apapun.


Lalu duduklah ia dengan tenang dan menatap kearahku.Beberapa saat ia terdiam sambil menggerakkan kedua jemarinya perlahan.


"Ran...,"ucapnya lirih dan dalam.


Aku melirik kearahnya.


"Aku tahu Rani masih kesal dan marah padaku.Tapi jika Rani tidak ingin bicara padaku tidak apa-apa.Rani cukup dengarkan saja apa yang akan aku sampaikan pada Rani," menghela napas sebentar.


"Aku ingin berubah menjadi orang yang baik Ran.Memulai semuanya dari awal dengan kebaikan.Tetapi untuk melakukan itu semua aku ingin Rani tetap bersamaku.Terdengar egois dan naif tetapi jujur dari hatiku yang terdalam selama ini aku salah menilaimu Ran.Entah dari mana kebencian yang tertanam di hatiku padamu mulai melebur dan memudar.Hatiku terasa sangat sakit sekali melihatmu menangis.Rasanya aku ingin selalu menjaga dan menghapus kesedihanmu.


Meskipun aku tahu kesedihanmu juga karena ulahku.


Awalnya aku sendiri meragukan perasaan ini.Tetapi semua menjadi nyata.


Jika boleh kukatakan Ran.....,"ia bangkit dari duduknya mendekatiku.


Ia berlutut di hadapanku seraya mengenggam lembut jemariku.


Dreggggggggg.....jantungku terasa berdegup.Mengapa tubuhku terasa kaku batinku.


Pandangan mata kami beradu perlahan dalam buaian semilir angin pagi yang menari.


Di tatapnya dalam mataku seolah Kak Reno ingin meyakinkanku.


"Ran, aku men...cintai....mu,"bibirnya gemetar.


Dregggggggggg........


Napasku terasa berhenti.


Dunia terasa terhenti.Apakah yang kurasakan ini?.


Pikirku dalam hati.


Lama kami terdiam tanpa kata hanya ada nyanyian gemercik air kolam yang melantunkan ketegangan di hati kami.


"Tetaplah bersamaku Ran dan tunggulah aku kembali pulang setelah aku layak benar-benar menjadi imam yang terbaik bagimu.Sebab aku ingin mencintaimu karena Allah bukan karena nafsu,keegoisan,paksaan dan apapun juga,"jelasnya.


Bibirku masih keluh untuk berkata-kata.


Rasanya seperti mimpi.


Laki-laki yang selama ini membuat kesedihan dan derita padaku dapat berkata demikian.Apakah ini sandiwara barunya lagi?apakah ia memiliki niat lain?


Pikiranku terus berkelana menerka sikap Kak Reno.


Ia memandangiku dan seolah-olah paham jika aku meragukan kata-katanya.


"Ran,aku tahu kamu pasti tidak percaya dengan apa yang ku katakan dan aku tidak memaksamu untuk tidak meragukanku.Tapi inilah perasaan yang kurasakan padamu sekarang Ran.


Perasaan yang aku sendiri sulit memahaminya tetapi aku sadar bahwa ini adalah anugerah.


Rasa cinta yang Allah berikan padaku melalui kehadiranmu dalam diriku untuk bermetamorfosa menjadi laki-laki yang baik."


Mata kami kembali menatap dalam kebisuan bibirku yang terkunci.


"Ran....Raniii...."


Suara panggilan tersebut memecah keheninganku dan Kak Reno.


"Wir...da..",ucapku pelan.


Lalu dengan cepat kulepaskan genggaman tanganku pada Kak Reno.


Wirda melirik ke arahku dan Kak Reno dengan penuh tanda tanya.


"A..ku ganggu ya?,"tanya nya.


"Oh...nggak Wir,"ucapku.


Kak Reno bangkit dan menatap ke arahku.


"Kak Reno masuk ke dalam dulu ya Ran,"sambil mengusap lembut kepalaku yang tertutup kerudung.


Aku dan Wirda terlihat kaget akan perlakuan Kak Reno padaku.


Kak Reno berjalan masuk kedalam sambil melempar senyumnya padaku dan Wirda.


"Ran?aku nggak salah lihat.Ngapain Kak Reno kayak gitu?,"tanya Wirda penasaran.

__ADS_1


Aku hanya menggeleng.


"Ikhhhhh...aneh ya.Apa dia suka sama kamu Ran?,"ucap Wirda sambil memegangku.


Aku hanya diam.


"Kok diam sih Ran, ditanyain loh.Kak Reno nggak bikin ulah sama kamu lagi kan Ran?,"tanyanya penuh selidik.


"Nggak Wir,"jawabku.


"Oh...yaudah syukur deh klo gitu, Bagaimana kedaanmu sekarang Ran?."


"Alhamdulillah sudah mulai membaik Wir."


"Alhamdulillah kalau begitu.Lalu selanjutnya apa keputusanmu Ran?."


"Aku tetap tinggal disini Wir."


"Hah...kamu yakin Ran!."


"In sya Allah iya Wirda.In sya Allah semua sudah kupertimbangkan."


"Hmmmm....jika itu keputusanmu Ran.Aku hanya bisa support saja.Tetapi jika kamu butuh bantuan kamu harus ngomong ke aku ya Ran."


"Iya,"jawabku sambil tersenyum.


"Terima kasih ya Wir,sudah selalu ada di sampingku dan menolongku."


"Iya sama-sama.Kita kan sahabat.Sahabat harus saling membantu kan."


Tiba-tiba raut wajah Wirda berubah menjadi serius.


"Ran,aku mau kasih tahu ke kamu ini penting banget,"sedikit tegang.


"Tentang apa Wir?,"tanyaku penasaran.


"Tapi kamu jangan kaget ya Ran,"pinta Wirda.


"In sya Allah iya,"jawabku.


"Hmm....Kak Roy dan keluarganya mendadak pindah ke luar negeri Ran.Ia dan keluarganya menetap Swiss."


"Hah....tanpa memberi tahuku dan pamit Wir?,"ucapku syok.


"Aku juga nggak tahu Ran.Setelah pemakaman almarhumah ibundamu Kak Roy ke rumahku dan menitipkan ini untukmu,"sambil menyerahkan kotak kecil padaku.


"Kenapa mendadak sekali ya Wir,jika menetap kemungkinan belum tentu bisa bertemu dengan Kak Roy lagi ya,"ucapku sedih.


"Iya,aku juga kaget.Saat ke rumahku raut wajah Kak Roy lesu dan tidak bersemangat.Cuma bilang akan pindah dan menitipkan kotak itu padaku lalu pergi tanpa berkata apapun lagi."


Ada apa sebenarnya dengan Kak Roy.


Apakah dia baik-baik saja?Apakah dia mendapatkan masalah?


Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku gerangan apa yang terjadi padanya.


Tidak berapa lama Wirda berpamitan pulang setelah mengantarkanku ke kamar untuk beristirahat.


Hufhh....kuhela napas pendek.


Begitu banyak yang terjadi secara tiba-tiba batinku sembari memegang kotak kecil dari Kak Roy.


Dengan perasaan penasaran aku buka kotak tersebut perlahan.


Jret....


Sepucuk surat dan sebuah gelang tasbih yang indah.


Perasaanku semakin tidak menentu.


Kugenggam gelang tasbih pemberian Kak Roy sambil membuka sepucuk surat darinya.


"Bismillah...,"ucapku lirih.


Teruntuk Rani...


Ran,sebelumnya kakak minta maaf karena tidak sempat untuk pamitan padamu.Jika pun dapat kakak ragu dapat mengatakan salam perpisahan denganmu.Sungguh kakak merasa beruntung dapat bertemu Rani meskipun hanya pertemuan singkat tetapi sungguh membekas indah dalam hati kakak.


Kamu wanita yang kuat dan hebat Ran.Apapun yang menjadi keputusanmu pasti telah Rani putuskan atas petunjuk Allah.Saat ini kita terpisah jarak yang sangat jauh Ran.Tetapi kakak percaya suatu hari nanti entah itu kapan kita dapat bertemu kembali memulai sebuah cerita bersama.Maka kakak tidak pernah takut jauh darimu karena ada Allah sebaik-baiknya penjaga dirimu.


Inna waliyyiyallahullazi nazzalal-kitaba wa huwa yatawallas-salihin.


Artinya: Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab


(Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.


Quran Surat Al A'raf Ayat 196.


Ada gelang tasbih yang sengaja kakak berikan pada Rani dengan harapan saat Rani bermunajatkan cinta kepada Allah,Rani dapat selalu mengingat kakak dalam kebaikan pula.


Selalu bahagia dan tersenyum Ran.Do'a kakak selalu menyertaimu.Semoga Allah senantiasa melindungimu.


Yang selalu menunggumu


Roy


Tes...tes...tes....


Air mataku tiba -tiba menetes perlahan.


Hatiku terasa luka dan sedih kehilangan sosok kakak sekaligus sahabat terbaik yang selalu membantuku.


Kini rasanya aku benar-benar sendiri.


"Kak Roy....semoga kamu baik-baik saja dan dalam lindungan Allah ta'ala,"ucapku sambil meletakkan tasbih dan surat pemberian Kak Roy di dadaku.

__ADS_1


-------------------------------------------------------------------


__ADS_2