
Pak Budi dan Ustad Fariz keluar dari ruangan dokter yang menanganiku dengan wajah tampak lesu dan tidak bersemangat.
Wajah Pak Budi sembab dan terlihat bengkak sebab ia tidak berhenti menangis sejak tadi.
"Nak Fariz kita duduk di sini sebentar, "pinta Pak Budi kepada ustad Fariz.
" Baik pak, "jawab ustad Fariz mengiyakan permintaan Pak Budi.
Mereka berdua lalu duduk di kursi tunggu tidak jauh dari ruang dokter sebelumnya mereka berada.
Pak Budi duduk dengan lemas seraya berkata kepada Ustad Fariz.
" Nak Fariz bagaimana kita akan menyampaikan semua ini kepada Nak Rani? huhuhuhuhu..., "ucap Pak Budi sambil menangis dan menyeka air matanya berulang-ulang.
Ustad Fariz terdiam sesaat seraya memikirkan sesuatu.
" Sungguh Nak Fariz. Saya benar-benar tidak membayangkan semua ini terjadi kepada Nak Rani. Semua yang ia miliki telah hilang dan di renggut oleh Keluarga Suprapto. Dan sekarang ia harus menerima takdir buruk nya kembali yaitu kehilangan penglihatannya. Huhuhuhuh...., "ucap Pak Budi sambil menangis tersedu-sedu.
Ustad Fariz berusaha untuk menguatkan Pak Budi seraya menepuk pelan bahu Pak Budi.
" Astagfirullah, Ya Allah, "ucap Pak Budi dengan bibir bergetar.
" Pak Budi harus kuat dan sabar. Ini semua adalah bagian ujian yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan kepada kita semua khususnya kepada Dek Rani.
Untuk itu kita harus lebih kuat, tegar dan sabar menerima ketetapan yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan kepada Dek Rani. Bukankah kita selaku orang-orang terdekatnya yang harus mensupport Dek Rani untuk tegar dan menerima hasil dari rangakaian pemeriksaan yang telah Dek Rani lakukan. Jika kita menjadi lemah lalu bagaimana kita akan membantu Dek Rani menjadi tegar dalam menerima takdirnya, "ucap Ustad Fariz dengan pelan seraya menasehati Pak Budi agar membuatnya tenang.
" Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan memberi ujian kepada hambanya di luar kemampuan yang dimiliki oleh hambanya. Percayalah Pak Budi, InsyaAllah Dek Rani akan mampu melewati semua ujian yang Allah berikan kepadanya. Karena saya yakin Dek Rani adalah wanita yang kuat, tegar dan sabar serta tidak lemah seperti yang kita bayangkan. Untuk itu Pak Budi jangan berlarut dalam kesedihan. Karena sebaiknya yang kita pikirkan adalah kelangsungan hidup Dek Rani selanjutnya. Bagaimana usaha kita untuk membantu kesembuhan Dek Rani, agar dapat bertahan melewati ujian Allah dengan keadaan hilangnya kemampuan indra penglihatannya dalam melihat. Kita harus membuatnya kuat dan semangat menjalani kehidupannya sebelum Dek Rani mendapatkan donor mata, "ucap ustad Fariz dengan wajah sangat serius kepada Pak Budi.
Mendengar perkataan dari ustad Fariz. Pak Budi pun seakan setuju dengan pemikiran yang di sampaikan oleh ustad Fariz.
Dengan cepat pula Pak Budi mengusap air matanya dan berhenti menangis meski rasa sedih dan iba menyelimuti hatinya akan kondisiku saat ini.
" Lalu bagaimana kita akan menyampaikan kabar ini kepada Nak Rani?, "tanya Pak Budi sambil memandang ke arah wajah ustad Fariz lalu meneruskan kembali ucapannya, " Saya tidak akan mampu Nak Fariz untuk menyampaikan kabar ini kepada Nak Rani.".
"Pak Budi tidak usah khawatir. Saya yang akan menyampaikan kabar dari dokter kepada Dek Rani. Semakin cepat ia mengetahui tentang kondisinya maka semakin baik pula untuk Dek Rani supaya ikhlas dan beradaptasi menerima keadaannya sekarang?, " jawab ustad Fariz.
Pak Budi mengangguk, "Baiklah Nak Fariz, mari sekarang kita menuju ke ruangan Nak Rani di rawat, " ajak Pak Budi kepada Ustad Fariz.
Ustad Fariz pun tersenyum kecil merespon balik ucapan dari Pak Budi.
Lalu mereka berdua pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke ruangan tempat ku dirawat.
____________________________________________
Saat ini beberapa perawat telah membantuku kembali dari ruang pemeriksaan. Ditemani oleh Bik Siti dan Wirda serta adiknya ustad Fariz yaitu Kak Rafa.
Perawat memasangkan infus kembali pada pergelangan tangan kananku.
"Bagaimana keadaan mu sekarang Rani?, " tanya Wirda sambil memegang tangan kiriku.
"Ba.. ik Wirda, " jawabku pelan.
"Alhamdulilah jika begitu Rani. Aku senang mendengarnya, " kata Wirda.
"Lalu bagaimana dengan lidahmu saat berbicara? Apakah masih terasa kaku dan keluh Rani?, " tanya Wirda lagi kepadaku.
"Su.. dah mu.. lai enak un... tuk ber... bicara, " jawabku pelan dengan masih terbatas tetapi aku merasakan sudah ada kemajuan.
__ADS_1
"Syukur jika begitu Rani, " sahut Wirda.
"Oh ya Sus. Apakah pasien boleh diajak berjalan-jalan diluar misalnya ke taman yang ada di rumah sakit untuk menghifup udara segar dan berjemur misalnya?, " tanya Wirda kepada perawat.
"Boleh, tetapi tidak untuk sekarang. Tadi dokter juga berpesan setelah ini pasien harus beristirahat untuk memulihkan tenaganya setelah menjalani pemeriksaan. Maka sebaiknya besok pagi saja adek membawa pasien untuk berjalan-jalan
menggunakan kursi roda tentunya, " ucap perawat kepada Wirda.
Wirda mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan dari perawat.
"Ya sudah Ran, sebaiknya sekarang kamu beristirahat dulu ya. Supaya kamu lekas sehat kembali, " ucap Wirda sambil mengusap kepala ku.
"Kalau begitu aku dan Bik Siti menunggu di sofa tunggu di depan ya Ran. Kamu silahkan tidur dan beristirahat, " ucap Wirda lagi kepadaku.
"Iya Ran, " balas ku dengan suara yang lebih lancar dari sebelumnya.
Aku memang merasa lelah dan sangat mengantuk setelah menjalani pemeriksaan.
Kedua mataku tertangkup perlahan dan terasa berat untuk segera memejamkan mata dan tertidur.
Sementara aku telah terlelap tidur. Bik Siti dan Wirda duduk di sofa tunggu pada ruangan tempatku di rawat bersama Kak Rafa.
Cekrekkkk....
Pintu terbuka perlahan dan terlihat Pak Budi ustad Fariz masuk secara bersamaan ke dalam ruang tempatku dirawat.
Wirda, Bik Siti dan Kak Rafa melihat ke arah Pak Budi dan ustad Fariz yang terlihat sedikit lesu dan berwajah sedih.
Melihat ada sesuatu yang aneh dari paras mereka berdua. Wirda pun secara spontan langsung menanyakan apa yang membuat Pak Budi dan ustad Fariz terlihat lesu dan sedih seperti banyak pikiran.
"Apakah ada sesuatu hal yang terjadi Pak Budi ?mengapa wajah Pak Budi dan Kak Fariz terlihat begitu muram dan sedih seperti itu?," tanya Wirda dengan rasa ingin tahu.
"Rani barusan saja tertidur Pak Budi. Suster menyuruh Rani untuk banyak beristirahat dan mungkin Rani juga kelelahan karena menjalani rangkaian prosedur pemeriksaan yang menguras tenaganya. Oh ya, Pak Budi belum menjawab pertanyaan Wirda. Mengapa pak Budi terlihat begitu muram dan sedih?,"tanya Wirda lagi kepada Pak Budi.
Pak Budi melihat ke arah Wirda lalu berjalan perlahan dan duduk di sofa dekat ustad Fariz dan Rafa yang letaknya berhadapan dengan Wirda dan Bik Siti.
Wirda pun terus memandang ke arah Pak Budi dan Ustad Fariz yang terlihat begitu aneh dengan sikapnya yang tidak seperti biasanya.
Setelah duduk di sofa Pak Budi terdiam sebentar sambil melihat ke arah Ustad Fariz. Dia seraya berpikir untuk menjelaskan semua hal yang terjadi kepadaku kepada Wirda. Tetapi bibirnya terasa berat untuk mengatakan hal tersebut. Dadanya terasa kembali sesak dan nyeri jika memikirkan hasil dari pemeriksaan yang telah aku jalani.
Ughhhhh.....
Berulang kali pak Budi tampak menarik nafas yang panjang dan dalam untuk benar-benar membuat hatinya terasa plong dan lega. Namun, tetap saja ia seperti tidak kuasa untuk menahan kesedihan akan musibah yang telah menimpaku saat ini.
Tesss...Tessss...Tesss...
Air mata Pak Budi pun mengalir tanpa ia sadari dan inginkan. Bi Siti dan Wirda yang melihat Pak Budi menangis terkejut dan semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Pak Budi tampak begitu gelisah sedih dan sangat terpukul.
"Pak Budi kenapa?,"tanya Bik Siti dengan wajah cemas.
Namun, Pak Budi tetap tidak dapat berkata-kata .Dia tertunduk lesu sambil menyeka air matanya perlahan.
Melihat Pak Budi seperti itu maka Wirda pun bertambah semakin penasaran. Lalu ia pun bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Pak Budi untuk menanyakan hal apa yang telah membuat Pak Budi menjadi bersedih seperti itu.
Wirda duduk di samping Pak Budi sambil memegang lengan Pak Budi seraya berkata,"Mengapa pak Budi bersedih seperti ini?Apakah semua ini ada kaitannya dengan Rani ?,"tanya Wirda dengan raut wajah yang terlihat cemas dan panik.
Pak Budi diam sambil menatap wajah Wirda dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Pak Budi Wirda mohon katakanlah sesuatu. Jangan membuat Wirda semakin penasaran dan cemas. Apakah dokter mengatakan sesuatu tentang Rani saat Pak Budi dan Ustad Pariz menemui dokter ?,"tanya Wirda lagi.
Pak Budi mengangguk perlahan. Ia pun ingin berusaha mengatakan semua yang dokter sampaikan kepadanya kepada Wirda. Dengan bibirnya yang bergetar ia berusaha untuk memberitahu perihal tentang diriku kepada Wirda. Tetapi sekali lagi lidahnya tidak kuasa untuk mengatakan semua itu dan lagi air matanya kembali tumpah.
"Ma..af kan bapak Nak Wirda.Ba..pak tidak bisa menyampaikan semuanya kepada Nak Wirda?,"ucap Pak Budi dengan bibir bergetar.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak?,"sahut Wirda penuh kecemasan.
Ustad Fariz melihat ke arah Pak Budi yang terus bersedih meskipun mencoba untuk tegar.Ustad Fariz mengerti akan kondisi Pak Budi yang masih syok dan terkejut untuk menerima keadaanku sekarang.Sehingga Ustad Fariz pun berusaha untuk menjelaskan semua yang Wirda tanyakan kepada Pak Budi.
"Dek Wirda,biar saya yang akan menjawab semua pertanyaan dari Dek Wirda,"ucap Ustad Fariz dengan tenang.
Wirda yang mendengar ucapan ustad Fariz lalu beralih menatap ke arah Ustad Fariz.Begitu pun dengan Pak Budi,Bik Siti,dan Kak Rafa pandangan mereka semua tertuju pada Ustad Fariz.
Wirda dan Bik Siti terlihat begitu tegang dan cemas.
Ustad Fariz pun lirih dan pelan membaca do'a untuk memperlancar bicaranya sehingga dapat menyampaikan kepada Wirda dan lainnya mengenai kondisiku sekarang.
"Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii. (Artinya: "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku"). (QS. Thaha ayat 25-28),"ucap Ustad Fariz pelan.
"Dek Wirda dan Bik Siti sebelum saya akan menyampaikan apa yang harus memang kalian dengar untuk itu saya mohon Dek Wirda dan Bik Siti jangan bersikap histeris atau semakin larut dalam kesedihan,"ucap ustad Fariz pelan.
Wirda dan Bik Siti menjadi semakin tegang.
"Tadi setelah pemeriksaan terakhir yang dilakukan dokter kepada Dek Rani maka dengan melihat semua hasil-hasil yang terlampir dari hasil pemeriksaan.Maka dokter menyimpulkan bahwa Dek Rani mengalami kebutaan permanen dan hanya dapat disembuhkan jika Dek Rani mendapatkan donor mata,"ucap Ustad Fariz.
Wirda yang mendengar perkataan dari Ustad Fariz langsung terduduk dengan lemas dan melepaskan tangannya dari lengan Pak Budi. Air matanya pun seketika mengalir dengan pandangan mata yang kosong. Dan bibirnya bergetar.Ia terlihat begitu sangat terkejut dan terpukul mendengarkan hasil pemeriksaan diriku yang di sampaikan oleh Ustad Fariz.
Begitu pun juga dengan Bik Siti yang menangis histeris dan tidak dapat menahan kesedihannya.
"Astagfirullah ya Allah Nak Rani.....Huhuhuhuhuhu....Huhuhuhuhuhu...!,"teriak Bik Siti sambil menangis.
"Bu Siti dan Wirda saya mohon untuk tenang dan dapat menahan dirinya masing-masing.Saya paham hal ini sangat lah bagi kita semua. Tetapi kita pun tidak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Sebab kita harus kuat dan tegar agar dapat memberikan semangat dan mensupport Dek Rani agar ia dapat menerima keadaannya dan terus melanjutkan kehidupannya. Untuk itu saya mohon Bik Siti,Dek Wirda dan Pak Budi bersama-sama dengan saya.Kita saling bahu-membahu untuk membantu Dek Rani melewati ujian yang Allah Subhanahu Wa ta'ala berikan kepadanya.Supaya Dek Rani dapat dengan ikhlas sabar dan tawakal mengahadapi ujian dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Insya Allah perlahan demi perlahan Allah akan membukakan jalan keluar bagi kesembuhan Dek Rani,"ucap Ustad Fariz berusaha menenangkan semua orang.
"Iya Kak Fariz.Wirda setuju dengan perkataan Kak Fariz,"sahut Wirda yang telah mengusap air matanya dan berusaha membuat dirinya tegar.
Lalu Wirda memegang lengan Pak Budi dan menatap ke arah Bik Siti.
"Pak Budi dan Bik Siti pun juga tidak boleh larut dalam kesedihan seperti yang telah disampaikan oleh ustad Fariz. Kita harus kuat dan tegar untuk Rani dan jika kita lemah bagaimana Rani akan kuat menjalani penderitaannya seorang diri ,"ucap Wirda dengan pelan dan lirih.
Pak Budi dan Bik Siti pun mengangguk perlahan dan mengusap air mata mereka secara bersamaan.
mereka berusaha untuk menekan kesedihan di dalam hatinya masing-masing supaya dapat membuatku kuat dan tidak terluka akan hasil pemeriksaan yang mengejutkan diriku.
GEDUBRAK.....
semua orang yang berada di sofa untuk menungguku di ruang rawat inap segera menoleh dan bangkit dari duduknya menuju ke arah tempatku berbaring di ranjang pasien.
Dan betapa terkejutnya mereka melihat diriku yang telah berada di bawah lantai sambil tertunduk lemas.
"Rani...!,"teriak Wirda histeris.
"Mengapa Nak Rani bisa terjatuh seperti ini?,"tanya Bik Siti sambil membantu tubuhku untuk bangkit berdiri.
"Nak Rani ya Allah,"ucap Pak Budi histeris.
Tetapi aku terdiam dalam kepalaku yang tertunduk lesu.
__ADS_1
Bagaimana ucapan Ustad Fariz terus menggema dalam pikiranku,"Dek Rani mengalami kebutaan permanen dan hanya dapat disembuhkan jika Dek Rani mendapatkan donor mata".
Hatiku begitu hampa dan kosong.