
Masih membekas dalam sekali awal pertemuanku dengan Kak Roy. Dia adalah malaikat penjaga yang Allah kirimkan untukku di dunia. Perhatian dan kasih sayang yang ia tunjukkan dan curahkan kepadaku mengalir tulus dari hatinya yang begitu lembut. Dan kini orang yang berharga dalam hidupku telah pergi selamanya tanpa sempat aku mengucapkan sepenggal kata terakhir kepadanya.
Langkahku terasa gontai dan tidak berdaya memasuki halaman rumah Kak Roy. Terdengar lantunan ayat suci berkumandang yang menambah kepiluan akan duka dalam hati.
Wirda, Bik Siti, Bik Inah dan Ummah mendampingiku. Sesekali kudengar suara teriakkan seorang wanita yang keras melengking lalu menghilang di tengah keraimaian hiruk pikuk pelayat yang datang.
"Rooooyyyy!, " teriak suara itu berulang kali.
Aku yang mendengarnya suara itu begitu bergetar dan tidak kuasa menahan kesedihanku.
" Wir ,ayo segera lekas kita masuk ke dalam. Sepertinya itu suara dari Tante Desi, "ucapku kepada Wirda yang berada di sampingku menuntunku.
" Iya Ran, "sahut Wirda.
Maka aku dan Wirda segera berjalan cepat masuk ke dalam untuk dapat bertemu dengan Tante Desi. Sementara Ustad Fariz, Pak Budi dan Kak Rafa menyiapkan segala sesuatu untuk melakukan salat jenazah kepada almarhum Kak Roy.Sedangkan Ummah ,Bik Siti dan Bik Inah mengikuti langkah kakiku dan Wirda dari belakang.
Wirda dan Ummah membantuku mendekati Tante Desi yang terduduk bersandar pada dinding dengan air matanya yang terus berderai tiada henti. Lalu saat Tante Desi melihat kedatanganku ia segera memelukku dengan erat sembari mengusap kepalaku dengan begitu rasa tertekan dan sangat pilu.
" Huhuhuhuhu... huhuhuhuhu.... Rani.... huhuhuhuhu.... Roy.. sudah tidak ada Ran.... Huhuhuhuhu, "ucap Tante Desi dengan terisak-isak.
Hatiku begitu hancur dan terasa sesak sekali mendengar tangisan Tante Desi yang begitu menyayat hati dan sangat begitu terluka akan kepergian Kak Roy.
Dalam isak tangisnya yang keras dan erat memeluk tubuhku. Aku pun berbisik lembut ke telinga Tante Desi,"INNAA LILLAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UN. ALLOHUMMA’JURNII FII MUSHIBATII WA AKHLIF LII KHOIRON MINHAA .Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik), maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.”
Ahsanallahu azaaka wa jabara mushabaka wa ghafara limayyitika wa rahimahu wa khalafahu fii aqibihi bikhair. Semoga Allah memberi Tante Desi pelipur lara yang baik, memberi kebaikan atas musibahmu, mengampuni si mayyit, melimpahkan rahmat dan menggantikannya dengan yang lebih baik.
Sesungguhnya Allah akan memberi pelipur lara bagi segala yang telah hilang dan memberi pengganti bagi semua yang musnah, kepada Allah-lah bertakwa, kembalilah (kepada Allah) karena orang yang tertimpa musibah bisa dihalangi dari pahala".Ucapku berusaha memotivasi Tante Desi agar bersabar dan ridha akan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Dan meyakinkannya karena setelah musibah Allah akan memberikan pahala yang melimpah dan pahala atas musibah yang terjadi.
Mendengar apa yang ku katakan Tante Desi semakin memelukku dengan erat dan aku pun juga membalas pelukannya. Seraya membuat Tante Desi merasa nyaman dan tenang.Dengan perlahan Tante Desi memanggilku pelan,"Ran Ada hal penting yang ingin tante sampaikan kepadamu dan ini mengenai wasiat Roy kepada dirimu".
__ADS_1
Aku merasa sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Tante Desi mengenai wasiat Kak Roy untukku, "Apa yang Tante katakan? Mengapa Kak Roy meninggalkan wasiat untukku tante?".
Terdengar olehku Tante Desi menghela nafasnya lalu mengusap kepalaku dengan pelan dan lembut sekali.Dan masih terdengar olehku sedikit isak tangisnya yang tertahan namun berusaha ia tekan untuk dapat mengatakan hal penting yang ingin dia sampaikan kepadaku.
" Ran sebelum Roy meninggalkan kita sebenarnya Roy menyimpan satu rahasia yang ia sembunyikan selama ini darimu. Roy sudah mengidap penyakit leukimia akut stadium 4 dan dokter memvonis dirinya tidak akan bertahan hidup lama. Tetapi saat ia bertemu denganmu harapannya untuk hidup kembali muncul dan dia tidak menyerah akan penyakitnya," ucapan Tante Desi sambil menarik nafas dan menyeka air matanya yang masih mengalir.
" Apa yang tante katakan? Mengapa selama ini Tante dan Kak Roy menyembunyikan semuanya dari Rani? Berarti sudah sekian lama Kak Roy menahan rasa sakitnya tante?," tanyaku kepada Tante Desi dengan air mata yang mengalir.
" Iya Ran,"sahut Tante Desi dengan suara yang bergetar.
" Astagfirullah ya Allah,Hiks...Hiks...Hiks,"ucapkan sambil menangis.
Tante Desi lalu menggenggam jemari tanganku dan berusaha untuk membuatku fokus terhadap ucapan yang ingin dia sampaikan kepadaku," Rani. Roy menyembunyikan semua ini agar ia tidak dikasihani dan menjadi lemah di hadapan semua orang terutama di hadapanmu. Dan sebelum Roy pergi meninggalkan kita Roy sudah mendonorkan matanya untuk diwariskan kepadamu Nak.
Dia ingin mengembalikan penglihatanmu lagi.Roy ingin melihatmu bahagia. Walaupun sebenarnya impiannya adalah dapat membuatmu bahagia dengan hidup bersamanya.
Tetapi Allah tidak mengizinkan apa yang menjadi harapannya dan dia harus pergi sebelum apa yang ia inginkan dapat tercapai,Huhuhuhuhuhu....," tutur Tante Desi dan lalu menangis kembali.
Kamu orang yang seperti apa Kak Roy? Mengapa hatimu begitu mulia dan mengapa engkau harus pergi dengan cara seperti ini. Dan begitu cepat tanpa sedikitvpun aku pernah memberikan kebahagiaan untukmu, batinku di dalam hati.
Di saat aku mulai larut akan perasaanku kepada Kak Roy.Tante Desi pun kembali meneruskan perkataannya kepadaku,"Kamu tahu Ran. Kecelakaan yang dialami oleh Roy membuat wajahnya rusak parah dan sulit diidentifikasi.Bahkan Tante sendiri pun tidak dapat mengenali Putra tante Roy. Namun, kondisi matanya masih sangat baik terutama korneanya masih tetap jernih sehingga petugas dari bank mata segera mengambil bola mata Roy tidak kurang setelah 6 jam dari Roy meninggal dan melakukan operasi kecil untuk mengangkat bola matanya dan menyimpannya.Bola
mata itu sudah Roy berikan untukmu dan tante mohon Kamu menerimanya untuk memenuhi harapan terakhir Putra tante Roy. Sebab ia ingin melihat engkau dapat melihat lagi seperti semula nak".
Mendengar apa yang Tante Desi katakan hatiku begitu terenyuh dan tersentuh. Sungguh aku sangat tidak menduga jika Kak Roy sudah memikirkan semua ini untuk diriku. Air mataku terus mengalir membasahi pipiku. Sementara Wirda, Ummah, Bik Siti dan Bik Inah terdiam dalam suasana keharuan mendengarkan percakapan antara diriku dan Tante Desi.
Dalam derai air mata Tante Desi yang terus mengalir. Wirda yang duduk tidak jauh dariku tepatnya di sampingku tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.Perihal apa yang terjadi kepada Kak Roy sebenarnya, "Maaf Tante Desi. Sebenarnya apa yang menyebabkan Kak Roy mengalami kecelakaan seperti ini ?karena sebelumnya Kak Roy masih sempat menghubungi Wirda dan Rani. Dan Kak Roy ingin bertemu dengan Rani tetapi memang saat kami melakukan sambungan telepon suara Kak Roy terdengar parau dan sedih. Dia seperti sedang tertekan dan frustasi. Seperti ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat sedih sekali. Bukankah begitu Rani ,"ucap Wirda dan bertanya kepadaku .
Aku pun mengangguk, "Iya, "jawabku pelan.
__ADS_1
"Dan di dalam telepon pun Kak Roy terus menangis tante. Memang Rani sudah merasakan hal yang aneh dan tidak semestinya pada Kak Roy. Tetapi Kak Roy seakan menutupi dan enggan untuk bertemu dengan Rani .Dan Kak Roy terus menangis. Sungguh saat itu Rani begitu sangat tidak tenang dan terus memikirkan keadaan Kak Roy.Tetapi Rani tidak tahu apa yang harus Rani lakukan sebab Rani tidak mengetahui keberadaan Kak Roy,"ucapku pelan.
" Iya Ran, memang setelah keluar dari rumah Roy memang tampak begitu sangat tertekan dan sedih setelah peristiwa yang terjadi kepadanya. Dan itu semua karena Rere. Tante sangat menyesal akan hal itu. Jika Rere tidak terlalu memaksakan keinginannya kepada Roy tentunya saat ini Roy masih bersama dengan kita. Hikss.. Hikss, " tangis Tante Desi kembali pecah.
Aku yang mendengar ucapan dari Tante Desi merasa bingung karena kecelakaan dan frustasi yang dialami Kak Roy berkaitan dengan Rere.Dalam tangisanku yang pelan aku berupaya berpikir seraya mengkeritkan dahi memikirkan kata-kata Tante Desi, "Apa maksud tante hubungan antara Rere dengan kecelakaan yang terjadi kepada Kak Roy?, " tanyaku.
Terdengar olehku Tante Desi berusaha mengheka nafasnya dan menghembuskan nya secara berulang untuk membuat dirinya merasa nyaman sebelum menjawab pertanyaan dariku.
" Setelah tante dan Rere mendapat informasi jika Roy mengalami kecelakaan yang hebat dan parah. Rere dalam keadaan yang sangat syok,histeris dan begitu terpukul pun segera menceritakan semua kejadian yang telah ia lakukan kepada Roy. Dan kamu tahu apa yang telah ia lakukan kepada Roy ,Ran.Hal itu secara tidak langsung telah menghancurkan harga diri, perasaan, kemurniaan dirinya dan juga cintanya terhadapmu Ran, Hiks...hiks..., "ucap Tante Desi lalu menangis kembali.
Wirda yang sejak tadi juga ikut menyimak ucapan Tante Desi tidak dapat menahan rasa ingin tahunya akan apa yang dilakukan Rere terhadap Kak Roy sehingga membuat Kak Roy begitu tertekan dan terbenam di dalam kesedihan. " Apa yang dilakukan Rere tante?, "tanya Wirda.
Terdengar lagi Tante Desi menghalau nafasnya dan banyak ke air matanya.
" Ternyata Rere atas bujukan Riska Kakak perempuannya Reno telah memberikan obat penghilang kesadaran kepada Roy dan menjebak Roy untuk melakukan hubungan suami istri dengan tujuan mengikat dan menjadikan Roy miliknya. Rere berharap jika hal itu terjadi Roy tidak akan menceraikannya dan menjadi miliknya seutuhnya. Namun, Rere tidak menyadari jika hal itu sudah membuat Roy begitu hancur dan terluka. Rere sangat menyesal akan hal itu. Dan ia tidak membayangkan jika perbuatannya itu menghasilkan takdir seperti ini hingga dapat merenggut nyawa Roy. Karena terus frustasi akan tindakan yang Rere ciptakan untuk Roy. Ternyata Roy begitu tidak mampu menerima semuanya. Dia begitu marah, sedih dan kesal kepada dirinya sendiri. Sebab hati, jiwa dan raganya hanya ia peruntukkan kepada Rani. Karena Rani adalah satu-satunya perempuan yang ia cintai dan ia sangat dambakan untuk menjadi istrinya. Namun, karena keegoisan Rere, tante harus kehilangan putra tante. Huhuhuhuhu....., "ucap Tante Desi dengan histeris.
Ummah pun segera memeluk Tante Desi dan menenangkannya, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, wa inna ila rabbina lamunqalibun, allahummaktubhu 'indaka fil muhsinin, waj'al kitabahu fi 'illiyyiin, wakhlufhu fi ahlihi fil ghabirin, wa la tahrimnaa ajrahu wala taftinna ba'dahu.Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah kami kembali. Ya Allah, tuliskanlah ia di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang baik. Jadikanlah catatannya di 'illiyyin. Gantilah ia di keluarganya dari orang-orang yang meninggalkan. Janganlah Engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya."
Tante Desi terus menangis kembali secara histeris di dalam pelukan Ummah.
Sementara aku dan Wirda tidak dapat berkata-kata. Setelah mendengar penjelasan dari Tante Desi barulah aku sadar .Mengapa Kak Roy egitu sangat terluka dan terus menangis tiada henti .Ternyata dia begitu sangat terluka sehingga tidak mampu untuk bertemu denganku. Ya Allah, rupanya Kak Roy sangat tertekan akan kejadian yang telah menimpanya.Tindakan yang dilakukan Rere begitu menghancurkan hatinya dan membuatnya begitu terhina untuk bertemu denganku. Aku pun terdiam tidak dapat menahan air mataku yang terus mengalir. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya Kak Roysaat itu. Bagaimana terpuruknya perasaan Kak Roy tanpa ada seorang pun yang berada di sampingnya untuk menghiburnya ataupun membuatnya tidak merasa bersedih akan peristiwa yang tidak pernah ia inginkan. Dia benar-benar sendiri dalam pikiran dan hatinya yang sangat hancur saat itu .Dan sungguh air mataku terus mengalir memikirkan apa yang Kak Roy rasakan saat itu .Karena dia benar-benar sendiri di dalam fase terendah di dalam hidupnya.
Bibirku bergetar lirih dalam hatiku memanjatkan doa untuk Kak Roy yang sekarang sudah pergi jauh meninggalkan diriku, Allaahummaghfir lahu warham hu wa'aafi hii wa'fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi' madkhola hu waghsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa 'aidz hu min 'adzaabil qobri wa fitnati hi wa min 'adzaabin naar.
Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka."
Tes... Tes... Tes...
Air mataku terus mengalir bersamaan dengan isak tangis Tante Desi yang semakin keras memenuhi isi ruangan dengan luapan kesedihannya yang begitu menyayat hati semua orang.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu Ustad Fariz pun segera mengajak semua pelayat laki-laki untuk segera melaksanakan salat jenazah terhadap Kak Roy dan Ustad Fariz menjadi imamnya.
Dan saat jenazah Kak Roy akan dimakamkan Tante Desi sudah tidak sanggup untuk menahan dirinya. Tante Desi terkulai lemas tidak sadarkan diri sambil terus mengenggam jemari tanganku.