
Tampak raut wajah Kak Reno panik.Dengan tergopoh-gopoh ia terus mengangkat tubuhku yang terkulai lemas dalam rengkuhan dekapan tubuhnya.Sorot matanya datar penuh emosi kecemasan yang terlukis jelas pada raut wajahnya.Dengan tubuhnya yang jangkung dan tegap ia terus mengangkat tubuhku agar segera mendapatkan pertolongan medis.Sesekali pandangannya mengarah padaku.Ada butiran air yang membuat matanya berkaca-kaca dalam emosi pergulatan batinnya.
Tidak jauh dari belakang Kak Roy dan Wirda mengikuti Kak Reno sambil berlari kecil agar tidak tertinggal jauh dari Kak Reno.
"Sus...sus..suster...,"teriak Kak Reno panik.
"Tolong bantu sus,mohon segera cek kondisinya,"ucap Kak Reno.
Beberapa suster yang sedang berdiri pun dengan sigap merespon ucapan Kak Reno dan segera mengarahkan teman perawatnya yang lain untuk segera membantu Kak Reno.Dengan cepat suster menunjukkan jalan ke ruang ICU untuk segera melakukan pemeriksaan dan tindakan padaku.Dan dengan cepat pula Kak Reno mematuhi instruksi dari suster dan membaringkan tubuhku secara perlahan di ranjang pasien pada ruang ICU.
"Kami akan melakukan pemeriksaan kepada pasien,adik mohon tunggu dulu diluar,"ucap suster.
"Tapi sus...,"ucap Kak Reno ragu.
"Mohon pengertiannya ya dik,demi kenyamanan kerja kami dalam memberikan tindakan medis pada pasien.Adik berdo'a saja semoga kondisi pasien segera membaik dan tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan,"ucap suster menjelaskan dengan pelan dan lembut.
Mendengar ucapan suster Kak Reno pun akhirnya mematuhinya dan keluar.Diluar Kak Roy dan Wirda sudah sampai.
"Kak Reno gimana keadaan Rani?,"tanya Wirda khawatir.
Kak Reno menoleh kearah Wirda,"Rani sedang diperiksa keadaannya,"ucap Kak Reno pelan.
Kak Roy terlihat kesal melihat Kak Reno.Sambil berjalan mendekati Kak Reno.Kak Roy pun berbicara,"Ren,aku nggak akan maafin kamu kalau sampai terjadi hal-hal yang buruk terhadap Rani!,"ucap Kak Roy marah sambil menunjukkan jari telunjuknya ke muka Kak Reno.
Namun kali ini Kak Reno hanya diam membisu tanpa membalas ucapan Kak Roy.Wajahnya lesu dan cemas.Lalu Wirda segera menyela pembicaraan Kak Roy,
"Udah kak,jangan bertengkar.Sekarang yang terbaik kita doakan Rani agar dia sehat dan tidak terjadi hal-hal yang buruk mengenai kondisi Rani,"ucap Wirda.
Kak Roy pun mengangguk mendengar ucapan Wirda.Ia pun menjauh dari Kak Reno dan duduk di kursi diikuti dengan Wirda.Sementara Kak Reno tetap berdiri dengan tegang di depan ruang ICU.Sesekali pandangannya menengadah ke langit-langit rumah sakit dan sekilas melirik pada jendela buram pada pintu ruang ICU.Tidak lama kemudian Mbak Riska yang sedang berjalan melihat Kak Reno sedang berdiri lalu menghampirinya,
"Ren,kamu ngapain disini?,"tanya Mbak Riska sambil melihat ke arah Kak Roy dan Wirda.
Kak Reno menatap Mbak Riska dengan tatapan sayu,"Rani...Rani...,"ucap Kak Reno terbata dalam keluh lisannya.
"Rani kenapa Ren?,"tanya Mbak Riska yang mulai cemas.
__ADS_1
"Rani..Rani..ada di dalam ruang ICU mbak.Semua gara-gara Reno mbak,"ucap Kak Reno sedih.
"Hah...apa Ren!,"ucap Mbak Riska terkejut lalu memegang kedua tangan Kak Reno,"Lalu bagaimana keadaan Rani sekarang Ren?,"tanya Mbak Riska panik.
"Dokter sedang memeriksa kondisi Rani mbak,"ucap Kak Reno pelan.
"Oh...Ya Allah,kenapa bisa seperti ini,"ucap Mbak Riska sambil memegang dadanya,"Semoga Rani baik-baik saja.Rani pasti sudah sangat terpukul dengan semua kebenaran yang ia dengar ditambah lagi kondisi bundanya juga kritis.Semua ini tentunya membuat Rani begitu syok dan hancur,"ucap Mbak Riska cemas.
Kak Reno menatap Mbak Riska dengan rasa bersalah,
"Semua terjadi karena Reno mbak.Andai Reno tidak menganggu Rani dan tidak memaksanya untuk memaafkan Reno pasti semua ini tidak akan terjadi.Reno menyesal mbak.Reno sangat menyesal dengan semua sikap buruk Reno kepada Rani dan bundanya.Reno benar-benar jahat dan kejam mbak,"ucap Kak Reno sambil menangis.
Mbak Riska yang melihat Kak Reno menangis pun merasa iba hatinya,
"Sudahlah Ren,semua sudah terjadi.Mau diapakan lagi.Yang terpenting kamu sudah menyadari kesalahanmu dan berusaha meminta maaf dan memperbaikinya.Mbak senang kamu mau berubah dan sudah sadar.Sekarang kita fokus pada kesembuhan Rani dulu saja Ren.Semoga tidak terjadi apa-apa pada Rani.Mbak sangat berharap begitu,"ucap Mbak Riska menenangkan Kak Reno.
Tidak lama kemudian dokter keluar.
"Siapa keluarga terdekat pasien?,"tanya dokter.
Mbak Riska dan Kak Reno langsung mendekat
Dokter pun menjelaskan kepada Mbak Riska untuk mengisi biodata dan kelengkapan administrasi pasien.Lalu Kak Roy mendekat,
"Mbak biar saya yang urus administrasinya.Mbak Riska dan Wirda sebaiknya yang menemani dan melihat kondisi Rani didalam,"ucap Kak Roy.
Mbak Riska dan Wirda pun mengangguk setuju.
"Sementara kamu Ren,jangan menemui Rani agar kondisinya tidak semakin memburuk,"ucap Kak Roy.
Mendengar ucapan Kak Roy.Mbak Riska pun melirik kearah Kak Reno yang terlihat lemas kemudian Mbak Riska menanyakan kondisiku kepada dokter,
"Bagaimana keadaan adik saya dok?,"tanya Mbak Riska.
"Untuk saat ini kondisi pasien masih sangat lemah dan begitu tertekan.Mohon usahakan untuk tidak memicu emosional karena akan sangat berdampak buruk untuk pemulihan pasien,"jelas Pak Dokter.
__ADS_1
"Apakah ada kondisi serius dok?,"tanya Mbak Riska.
"Sejauh ini tidak ada.diagnosa awal pasien mengalami kelelahan dan tekanan emosi yang berlebihan sehingga membuat kondisinya down,"ucap dokter.
"Alhamdulillah ya Allah,"ucap Wirda.
Akhirnya Mbak Riska mengucapkan terima kasih kepada dokter dan segera masuk kedalam bersama Wirda.Sementara Kak Roy mengurusi perlengkapan administrasiku dan Kak Reno terduduk lemah seorang diri di depan pintu ruang ICU,ia begitu larut dalam rasa sedih dan penyesalan yang bergejolak dalam jiwanya.
Dan didalam Mbak Riska dan Wirda berjalan mendekat menuju ranjangku.Aku berbaring lemah dengan selang infus yang menancap pada tubuhku.Dengan perlahan Mbak Riska mendekatiku,suaranya lirih menyebut namaku dalam getir keluh suaranya yang pelan,
"Ran,cepat sembuh ya dek,"ucapnya sambil menitikan air mata.
Wirda yang berdiri di seberang Mbak Riska pun tidak terlepas menitikan air mata melihat kondisiku.
"Raniiii..kamu harus kuat ya Ran.Cepat sembuh,"ucap Wirda pelan.
Dalam kesunyian,pelan berbaur samar aku tersadar perlahan mendengar rintihan air mata Mbak Riska dan Wirda.Sayup-sayup dalam kaburnya pandanganku kutatap Mbak Riska perlahan seraya berkata,
"Rani dimana mbak,"ucapku pelan.
"Rani di ruang ICU.Tadi Rani pingsan,Rani istirahat saja dulu ya dek dan nggak usah mikir yang macam-macam,"ucap Mbak Riska.
Aku pun hanya diam dan mencoba mengingat apa yang terjadi padaku.Perlahan semua bayang peristiwa yang terjadi begitu cepat dan menyakitkanku terus berputar memenuhi isi kepalaku.Aku menangis mengingat semua kejadian yang menyiksa hatiku.
Perlahan kupanggil Mbak Riska perlahan,
"Mbak...,"ucapku lirih.
Mbak Riska mengenggam jemariku perlahan,"Iya dek,"jawabnya pelan.
Kupandangi raut wajahnya dalam keteduhan air mataku,"Mbak..bantu Rani agar bisa keluar dari keluarga mbak..,"ucapku pelan.
Mbak Riska tersentak kaget dalam tatapan yang membisu.
"Rani ingin menjauh dari keluarga Mbak Riska,"lanjut ucapanku.
__ADS_1
Mbak Riska semakin terpaku tanpa kata.Ia semakin diam membisu dalam tatapan pandangan matanya.
Aku diam menunggu jawaban dari lisannya untuk mengiyakan permintaanku.Aku dan Mbak Riska saling menatap dalam kegalauan hati kami masing-masing.