Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Pemeriksaan Lanjutan


__ADS_3

Dokter masuk ke dalam ruangan tempatku di rawat bersama dengan dua orang perawat yang berjalan mengikutinya.


"Maaf menganggu yah, " ucap dokter kepada semua orang yang berada di dalam ruangan ku di rawat.


Wirda, Bik Siti, ustad Fariz, Mama Kak Roy dan Pak Budi terkejut seketika melihat kedatangan dokter bersama perawat yang masuk.


"Oh, tidak dok. Mari silahkan dok, " sahut Pak Budi kepada dokter.


Pak Budi yang telah selesai menyantap nasi rames yang dibawa ustad Fariz dengan segera menghampiri dokter.


"Bagaimana kondisi pasien saat ini?, " tanya dokter sambil berjalan menuju ketempat ranjang tidur pasien tempatku berbaring sekarang.


"Nak Rani sedang tidur dok. Apa mungkin kelelahan ya dok?, " tanya Pak Budi kepada dokter.


Dokter pun melihat dan memeriksa diriku.


Sementara perawat mengganti cairan infus yang sudah habis.


Tidak lama kemudian Ustad Fariz dan Bik Siti menyusul melihat keadaanku setelah ia selesai makan.


"Kondisi pasien stabil saat ini dan berangsur pulih untuk fisiknya, " ucap dokter sambil memeriksa diriku.


"Lalu bagaimana hasil dari pemeriksaan CT scan Dek Rani dok?, " tanya ustad Fariz.


Dokter yang telah selesai memeriksa kondisiku segera menghadap ke arah ustad Fariz dan Pak Budi.


"Hasil dari pemeriksaan CT scan belum keluar. Saya juga masih menunggu dari instansi radiologi. Namun, melihat kondisi pasien saat ini saya menyarankan supaya pasien dilakukan pemeriksaan penunjang MRA (magnetic resonance angiography) mungkin perlu dilakukan selain CT scan. Pemeriksaan MRA (magnetic resonance angiography) ini berguna untuk melihat pasokan darah ke area di belakang otak (occipital), batang otak, dan otak kecil. Gangguan aliran darah yang terjadi pada area-area itulah yang mungkin menyebabkan hilangnya penglihatan pada kedua mata pasien secara tiba-tiba saat terjadi benturan keras, " ucap dokter menjelaskan kepada Pak Budi dan ustad Fariz.


Mendengar suara dokter yang sedikit gaduh untukku. Maka aku pun terbangun dan membuka kedua mataku dengan pelan.


Namun, sekali lagi yang kulihat hanyalah gelap.


"Jadi maksud dokter saat ini Nak Rani tidak bisa melihat?, " tanya Pak Budi dengan wajah terkejut dan sangat sedih.


"Terakhir kali saat saya melakukan pemeriksaan kepada pasien keadaan pasien dalam kondisi belum dapat berbicara dan terdapat gangguan penglihatannya, " jawab dokter.


"Oh Ya Allah, " ucap Bik Siti dengan sedikit histeris.


"Lalu kenapa Nak Rani belum mampu untuk berbicara dok?, " tanya Pak Budi.


"Kemungkinan ada indikasi sedikit gangguan kecil pada indra pendengaran pasien akibat cedera atau traumatik. Yang membuat pasien menjadi syok berat sehingga pasien kehilangan kemampuan untuk berbicara nya, " jelas dokter.


"Lalu apakah hal ini akan berlangsung lama dan permanen dok?, " tanya Ustad Fariz.


"Kemungkinan kecil tidak. Sebab kemampuan indra pendengaran pasien masih bekerja optimal dan dapat mendengar serta merespon suara di sekitarnya.Setelah keadaan dan kondisi trauma yang dialami pasien berkurang. Kemampuan berbicara pasien akan kembali seperti semula secara perlahan dan bertahap. Dan untuk itu harus bersabar serta jangan memberikan tekanan kepada pasien yang akan mengakibatkan goncangan psikis yang memicu stress pada pasien. Tentunya hal itu dapat memperlambat kesembuhan pasien, " jelas dokter kembali.


"Baik dok, akan kami usahakan, " kata Ustad Fariz.


Aku yang terbaring di atas ranjang pasien mendengarkan perkataan dari dokter.


Perlahan aku menggerakkan tanganku.


Dan perawat melihat gerakan tanganku.


"Dok, pasien sudah bangun, " ucap perawat memanggil dokter.


Mendengar panggilan perawat maka dokter langsung berbalik badan dan melihat kondisiku.


"Apa yang Dek Rani rasakan sekarang?, " tanya dokter.


Aku yang mendengar ucapan dokter ingin berusaha menjawabnya.


"Dek Rani tidak perlu memaksakan untuk langsung berbicara dan menjawab pertanyaan saya. Sekarang Dek Rani coba untuk membuat dirinya merasa tenang dan rileks supaya Dek Rani tidak merasa tertekan, " kata dokter padaku.


Dan MasyaAllah secara spontan lidahku yang keluh dan terasa berat dengan seketika pula dapat membalas ucapan dokter.


"Iy... Iy... Iy.. . a.. dok...., " ucapku dengan sangat terbata dan bergetar pelan.


Dan santai saja dokter dan semua orang yang berada di ruangan tempatku di rawat terkejut dan merasa senang.


"Alhamdulillah ya Allah, " ucap Bik Siti dan Pak Budi bersamaan dengan suara yang sedikit keras.


Mendengar suara Bik Siti dan Pak Budi yang sedikit berteriak. Wirda dan mamahnya Kak Roy beranjak dari duduknya dan menuju ke tempat ku terbaring di ranjang pasien.


" Apa yang sedang terjadi? Mengapa pak Budi dan Bi Siti berteriak histeris ?Wirda menjadi sangat terkejut mendengarnya ,"ucap Wirda sambil melihat ke arah Pak Budi dan Bik Siti.


" Begini nak Wirda. Bibi dan Pak Budi merasa sangat senang sebab nak Rani sudah mulai dapat berbicara. Walaupun masih dengan terbata-bata dan pelan. Tetapi Alhamdulillah Bibi sangat merasa sangat senang dan bersyukur sekali karena kemampuan nak Rani untuk berbicara berangsur-angsur sudah mulai kembali dan pulih, "jelas Bik Siti kepada Wirda.


" Benarkah itu dok?, " tanya Wirda kepada dokter.


Dokter pun membalas pertanyaan Wirda dengan menganggukkan kepalanya pelan. Wirda sambil tersenyum mendengar respon dokter seperti itudan sedikit berteriak histeris.


"Akhhh.... Alhamdulillah Ya Allah, " pekik Wirda sambil menangkupkan kedua tangannya di mulut seraya mengucap syukur kepada Tuhan.


Wirda begitu sangat gembira melihat diriku dapat mulai berbicara lagi.


Perlahan Wirda berjalan mendekat ke arah tempatku terbaring di atas ranjang pasien. Lalu Wirda menggenggam tanganku sambil menghela nafasnya dan seraya berkata kepadaku. "Cepat sembuh ya Ran,aku sudah sangat merindukan dirimu untuk berbincang-bincang mendengar suaramu, "ucap Wirda sambil menyekap air matanya yang tidak terasa mengalir karena rasa bahagianya melihat diriku.


" Iii.. Iy.... Iya, Air, "sahut ku lagi pelan.


" Alhamdulillah tante sangat senang mendengar Rani sudah mulai dapat berbicara kembali, "ucap Mama Kak Roy. "Kalau begitu saya permisi dulu Dok, Sus, nak Fariz, Pak Budi ,Bik Siti dan Nak Wirda juga nak Rani .Saya akan memberitahukan kabar yang baik ini kepada Roy .Dan Roy pasti akan sangat senang mendengar berita kemajuan akan kesembuhan Nak Rani dan Untuk itu saya permisi dulu semuanya. Assalamu'alaikum, " ucap mamanya Kak Roy.


"Wa'alaikumussalam, " jawab semua orang bersamaan.


Mama Kak Roy pun berjalan pergi meninggalkan ruangan tempatku di rawat dan kembali menuju ruangan tempat Kak Roy di rawat yang berada di samping ruangan ku.

__ADS_1


"Baiklah karena Nak Rani sudah bangun setelah ini Nak Rani akan melakukan pemeriksaan mata dan diteruskan dengan pemeriksaan lanjutan MRA (magnetic resonance angiography) sebagai penunjang dari pemeriksaan CT scan, " ucap dokter.


"Pemeriksaan mata untuk apa lagi dok?, " tanya Wirda.


"Pemeriksaan fisik mata seperti pemeriksaan ketajaman mata, pemeriksaan lapang pandang, pemeriksaan tekanan pada bola mata, serta nanti dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan mikroskop mata dan pemeriksaan melalui oftalmoskop untuk melihat organ mata bagian belakang, dan lainnya, " jelas dokter kembali pada Wirda.


"Apakah pemeriksaan mata pada Rani diharuskan dok? Dan mengapa dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan MRA (magnetic resonance angiography. Bukanlah kondisi Rani dokter bilang sudah mulai membaik?, " tanya Wirda penuh dengan selidik.


"Kepala pasien yang terbentur merupakan kondisi cedera kepala traumatik (traumatic brain injury). Hal ini biasanya terjadi akibat adanya pukulan atau sentakan pada tubuh.


Kasus kebutaan atau hilangnya kemampuan indra penglihatan yang dialami oleh Dek Rani akibat trauma/cedera pada bagian kepala belakang terjadi karena benturan tersebut mengenai saraf pengelihatan yang berada di belakang saraf bola mata (yakni di bagian rongga kepala). Kuatnya benturan tersebut kemudian disebarkan, sehingga menyebabkan rusaknya serabut saraf secara langsung, berkurangnya suplai aliran darah di persarafan tersebut, ataupun penekanan tehadap serabut saraf atau pembuluh darah yang menyuplai saraf pengelihatan. Akibatnya terjadi gangguan dalam pengelihatan Dek Rani, termasuk kebutaan yaitu hilangnya kemampuan indra penglihatan mata Dek Rani untuk melihat.


Sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk melihat apakah ada perdarahan pada retina (lapisan yang berada di belakang bola mata, yang mengandung sel-sel saraf) di mata Dek Rani. Supaya dapat segera ditangani dan dilakukan tindakan medis secepatnya jika ditemukan indikasi medis yang membahayakan bagi keselamatan dan keberlangsungan hidup Dek Rani, "jelas dokter secara detail dan panjang lebar.


" Oh baik dok. Saya paham sekarang, "sahut Wirda sambil mengangguk.


" Baiklah, sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan pada pasien. Tolong nanti pasien diusahakan untuk makan terlebih dahulu supaya memiliki tenaga saat prosedur pemeriksaan berlangsung. Dan setelah ini suster akan membawakan makanan untuk pasien, "ucap dokter.


" Baik dok, "sahut Bik Siti.


" Kalau begitu saya permisi dulu semuanya, "ucap dokter lagi dengan sangat sopan.


" Baik dok, Terima kasih banyak dok, "ucap ustad Fariz kepada dokter.


Setelah dokter pergi dari ruangan ku di rawat.


Bik Siti mendekatiku,ia membelai dan mengusap kepalaku yang tertutup kerudung dengan lembut.


"Cepat sehat dan segera sembuh kembali ya nak Rani,"ucap Bik Siti lirih.


Dan mendengar ucapan Bik Siti aku pun tersenyum seraya berkata,"Aa...miin,"sahutku.


Tidak lama kemudian perawat datang membawa makanan untukku.


"Maaf permisi,ini makanan untuk pasien.Mohon pasien makan terlebih dahulu sebelum pasien melakukan prosedur pemeriksaan lanjutan,"ucap perawat sambil meletakkan makanan dalam nampan besar di atas meja di samping ranjang pasien tempatku terbaring.


"Baik sus,"jawab Wirda sambil mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi dulu.Nanti sekitar dua jam setelah pasien makan.Saya akan kemari lagi untuk menyiapkan kondisi pasien untuk melanjutkan pemeriksaan lanjutan,"ucap perawat lagi sambil menundukkan kepala lalu pergi.


"Nak Wirda,biar Bik Siti saja yang menyuapi Nak Rani,"pinta Bik Siti pada Wirda.


"Baik Bik, sebentar ya Bik.Wirda bukakan dulu plastik penutup makanannya,"sahut Wirda sambil menyiapkan makanan untukku.


Setelah Wirda melepaskan plastik penutup pada yang membungkus makanan.Lalu Wirda mempersilahkan Bik Siti untuk pindah duduk di tempat Wirda.


"Bik Siti,mari kesini.Bik Siti bisa menyuapi Rani sekarang,"ucap Wirda kepada Bik Siti.


"Baik Nak Wirda,"ucap Bik Siti sambil berjalan untuk berpindah tempat.


Pak Budi yang tidak mengerti maksud Ustad Fariz yang mengajaknya terlihat sedikit kebingungan tetapi tetap mengikuti ustad Fariz berjalan dari belakang.


"Ada apa Nak Fariz?Kenapa tiba-tiba mengajak bapak keluar?Apakah ada hal penting yang ingin Nak Fariz sampaikan kepada bapak?,"tanya Pak Budi kepada Ustad Fariz.


Ustad Fariz tersenyum ke arah Pak Budi dengan menampilkan wajahnya yang tenang dan teduh.


"Kita cari tempat untuk duduk dan sambil mengobrol yang nyaman Pak Budi,sekalian saya menunggu adik saya yang akan datang kemari,"jawab Ustad Fariz dengan santai sambil mengajak Pak Budi turun ke bawah.


"Baiklah Nak Fariz,bapak ikut dan menurut saja pada Nak Fariz,"sahut Pak Budi pasrah.


"Baiklah jika begitu pak.Kita duduk sambil minum kopi di warung kopi dekat rumah sakit ini.Bagaiamana pak?,"tanya ustad Fariz kepada Pak Budi.


"Saya ikut Nak Fariz saja,"jawab Pak Budi tersenyum dengan malu-malu.


"Mari pak,"ajak Ustad Fariz sambil membalas senyum Pak Budi.


Tidak lama kemudian Pak Budi dan Farid Fariz pun turun ke bawah dari ruangan tempatku dirawat. Mereka menuju warung kopi sederhana terdekat untuk meminum kopi hangat sambil membicarakan sesuatu yang penting menurut Ustad Fariz.


Sesampainya di warung kopi Ustad Fariz memesan dua gelas kopi hitam yang panas. Dan disertai dengan kudapan atau cemilan ringan seperti pisang goreng .ubi goreng dan bakwan untuk menemani mereka meminum kopi.


" Mari Pak Budi Silakan duduk di sini , "ajak Ustad Fariz kepada Pak Budi .


"Baik nak Fariz ,"ucap Pak Budi yang segera duduk berhadapan dengan ustad Fariz.


Lalu beberapa saat kemudian dua cangkir kopi hitam panas disertai dengan kudapan atau gorengan telah dibawakan oleh pemilik warung dan meletakkannya di atas meja tempat di mana Pak Budi dan Ustad Fariz duduk.


" Terima kasih Bu, "ucap Ustad Fariz kepada ibu si pemilik warung.


" sama-sama. Silahkan dinikmati kopinya, "balas ibu pemilik warung kopi kepada Ustad Fariz dan Pak Budi.


Lalu ibu pemilik warung itu beranjak Pergi dari tempat duduk Ustad Fariz dan Pak Budi berada .


"Pak Budi Silakan diminum kopinya selagi masih panas dan jangan malu-malu Pak Budi, "ucap Ustad Fariz sambil tersenyum kepada Pak Budi .


"Hehehe...iya nak terima kasih banyak ya, "sahut Pak Budi dengan tersenyum malu melihat ke arah Ustad Fariz.


Lalu tanpa rasa canggung Pak Budi mengangkat cangkir yang berisi kopi hitam dan menuangkannya sedikit demi sedikit di bawah tatakan cangkir yang berbentuk piring seperti mangkok. Kemudian diangkatnya perlahan piring kecil tersebut seraya berkata, "Bismillahirrahmanirrahim .......Sruuuuppppp..........," ucap suara Pak Budi menyeruput kopi hitam tersebut dengan wajah penuh kenikmatan.


"Arghhhhhh..... MasyaAllah nikmatnya, " ucap Pak Budi lagi.


Ustad Fariz tersenyum melihat ekspresi wajah Pak Budi sambil melihat layar telepon genggam miliknya.


" Oh iya nak Fariz hal penting apa yang ingin nak Fariz katakan kepada bapak hingga kita harus berbicara di sini?,"tanya Pak Budi kepada Ustad Fariz.


" Begini Pak saya ingin memberitahukan sebuah kabar bahwa pihak kepolisian telah menghubungi saya. Pihak kepolisian telah memberitahukan kepada saya bahwa Dek Reno telah ditangkap dan saat ini ditahan di sel tahanan kantor Kepolisian, " ucap Ustad Fariz kepada Pak Budi.

__ADS_1


Mendengar ucapan Ustaz Faris Pak Budi sedikit terkejut dan tersentak .


"Ternyata prosesnya begitu cepat ya nak Fariz. Dengan ditangkapnya nak Reno ,nak Fariz harus lebih waspada karena Pak Sugeng dan Pak Suprapto tidak akan membiarkan nak Reno berada di dalam penjara .Dan mereka tentunya akan memburu siapa yang telah melaporkan nak Reno hingga harus ditahan di dalam penjara. Untuk itu kita harus berjaga-jaga nak Fariz khususnya demi keselamatan nak Rani ,nak Roy dan juga nak Fariz sendiri .Sebab saya tahu bagaimana liciknya keluarga Suprapto untuk memutar balikkan fakta dan menghalalkan segala cara apapun agar tujuan mereka terpenuhi, " jelas Pak Budi serius.


"Bismillah, kita yang penting sudah berikhtiar Pak Budi dan sekarang saatnya kita bertawakal menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena cukuplah Allah Subhanahu WA Ta'ala menjadi penyelamat dan penolong bagi kita. Dan satu hal lagi Pak Budi kita harus yakin akan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala di mana kejahatan tidak akan pernah menang di atas kebenaran .Insya Allah semuanya akan baik-baik saja dan Pak Budi tidak usah khawatir, " tutur ustad Fariz dengan tenang dan lembut.


Pak Budi pun mengangguk mendengar ucapan Ustad Fariz.


"Oh ya nak Fariz. Bapak minta maaf sebelumnya. Selama nak Rani dirawat di rumah sakit ini bagaimana dengan biayanya? Tentunya biaya pengobatan nak Rani tidak sedikit dan pasti sangat mahal. Lalu kira-kira Bagaimana solusi dari Nak Fariz sendiri mengenai pembayaran semua administrasi pengobatan Nak Rani di rumah sakit ini?,"tanya Pak Budi dengan wajah serius dan sambil berpikir.


" Pak Budi tidak usah khawatir mengenai seluruh biaya pengobatan Dek Rani. Insya Allah semua biaya pengobatan yang dibebankan kepada Dek Rani akan saya tanggung dan saya bayar sekarang yang terpenting adalah kesembuhan dan kesehatan Dek Rani agar dapat kembali sehat seperti sedia kala .Dan untuk semua hal lainnya Pak Budi tidak usah banyak berpikir, "tutur Ustad Fariz dengan tenang.


" MasyaAllah Nak Fariz. Terima kasih banyak nak, "ucap Pak Budi dengan mata berkaca-kaca.


" Sama-sama Pak, "sahut ustad Fariz.


" Ya sudah pak, ayo dilanjutkan lagi minum kopinya dan dimakan gorengannya, "ucap Ustad Fariz lagi kepada Pak Budi.


Pak Budi mengangguk lalu mencicipi pisang goreng.


Dretttttt.....Drettttt.....Drett.......


Telepon genggam milik ustad Fariz bergetar.


Dengan cepat Ustad Fariz melihat dan memencet pada layar telepon genggamnya.


Dia berusaha melihat siapa yang sedang menghubunginya.


Di layar utama telepon genggam milik ustad Fariz tertulis:


Panggilan masuk ADIK RAFA.


Wajah ustad Fariz tersenyum senang.


"Telepon dari siapa nak?,"tanya Pak Budi penasaran melihat ekspresi wajah ustad Fariz yang bahagia.


"Telepon dari adik saya pak,"jawab Ustad Fariz.


"Sebentar ya Pak Budi,saya angkat dulu telepon dari adik saya,"ucap Ustad Fariz.


"Iya Nak Fariz,silahkan,"sahut Pak Budi sambil menikmati pisang goreng di tangannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,Kak Fariz,"ucap adik ustad Fariz dari balik sambungan telepon.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Dek Rafa,"ucap ustad Fariz membalas salam dari adiknya.


"Kak Fariz dimana sekarang?saat ini Rafa sudah berada di parkiran rumah sakit yang alamatnya sudah kakak kirim ke telepon genggam milik Rafa,"ucap adik ustad Fariz sambil menanyakan keberadaan ustad Fariz.


"Oh,ya dik.Kakak sekarang ada di warung kopi dekat rumah sakit.Kamu kesini saja.Nanti kakak akan keluar dari warung dan menunggu kamu di depan warung,"ucap ustad Fariz.


"Baik Kak Fariz jika begitu.Ya sudah kak saya tutup dulu teleponnya,"ucap Rafa adik ustad Fariz.


"Assalamualaikum Kak,"ucap Rafa lagi.


"Wa'alaikumsalam Dek,"balas ustad Fariz.


Tut....Tut...Tut...


Telepon pun terputus dan mati.


"Pak Budi duduk disini dulu sebentar ya pak.Saya akan keluar sebentar supaya adik saya dapat mengetahui keberadaan saya.Pak Budi silahkan di makan dulu gorengannya dan diminum kopinya.Dan jika Pak Budi menginginkan yang lain.Pak Budi langsung pesan saja kepada ibu pemilik warung ya pak,"ucap Ustad Fariz yang telah bersiap berdiri untuk menemui adiknya.


"Iya nak Fariz, silahkan,"sahut Pak Budi.


Lalu Ustad Fariz keluar dari warung kopi dan berdiri di dekat warung tersebut. Sambil melihat ke kanan dan kiri serta sekitarnya untuk mencari sosok adiknya yang akan menemuinya .


"Assalamualaikum Kak Fariz,"ucap seorang pemuda yang sudah berdiri di belakangnya ustad Fariz.


"Wa'alaikumsalam,"jawab Ustad Fariz sambil menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sedang memberi salam kepadanya.


"MasyaAllah Rafa,"ucap Ustad Fariz senang.


Lalu pemuda yang menyapa ustad Fariz tidak lain adalah adiknya sendiri yang bernama Rafa.


Rafa kemudian mencium tangan kanan Ustad Fariz.


Dan Ustad Fariz memeluk adiknya lalu mengajak adiknya Rafa masuk ke dalam warung kopi untuk duduk bersama dengan Pak Budi.


"Pak Budi kenalkan,adik saya Rafa,"ucap Ustad Fariz memperkenalkan adiknya kepada Pak Budi.


Pak Budi tersenyum menyambut Rafa.


Mereka bertiga pun duduk bersama.


"Bu,pesan teh hangat tawarnya satu,"ucap Rafa tegas.


Pak Budi masih sedikit terpaku melihat adik ustad Fariz yang bernama Rafa.


Mereka berdua sungguh berbeda,gumam Pak Budi di dalam hati.


"Ini teh tawar hangatnya,"ucap si ibu pemilik warung sambil meletakkan nampan yang berisi satu gelas teh tawar hangat di meja tepat di hadapan Rafa.


"Terima kasih bu,"sahut Rafa dengan suaranya yang tegas dan lantang.


Dan Pak Budi masih tertegun melihat kharismatik dan ketegasan adik ustad Fariz.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Pak Budi,Ustad Fariz dan Rafa melebur berbincang -bincang sambil menikmati kudapan di hadapan mereka.


__ADS_2