Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Mataku terperanjat melihat dirinya berada sangat dekat denganku.


"Apa yang kamu lakukan disini?",tanyaku takut.Dengan ringannya Kak Reno berkata,"Ini rumahku,jadi sesukaku mau melakukan apapun",jawabnya menakutiku.Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa menjauh darinya.Namun lagi-lagi dayaku tidak mampu menandingi kekuatannya.


"Kamu mau kemana?",tersenyum meringis.


Aku mencoba melepaskan diri darinya.Tetapi kedua tangannya terlampaui kuat mengunci tubuhku yang masih terasa lemah tidak berdaya.Aku begitu merasa ketakutan.Melihat tatapannya seperti seekor singa buas yang kelaparan seolah-olah ia akan memangsaku saat itu juga.


"Lepaskan aku!", ucapku meronta.


Kak Reno semakin kuat mencengkram tubuhku hingga tidak berdaya.


"Kenapa?bukankah ini yang kamu inginkan".


Aku pun berteriak meminta tolong dan berharap Mbak Riska atau siapapun mendengar teriakkanku.


"Percuma kamu berteriak,karena tidak akan ada yang bisa mendengar suaramu dalam hujan yang lebat seperti ini".


Akan tetapi aku pun tidak menyerah dan terus meronta dan berteriak.Hingga tiba-tiba bunyi suara pintu terbuka yang mengejutkan Kak Reno.


"Reno!",teriak sosok itu.


Ia pun berjalan mendekat ke arahku dan Kak Reno.Dengan cepat ia menarik tubuh Kak Reno dan menyeretnya menjauh dariku.Perlahan dengan sisa tenagaku aku pun bangkit dan melihat sosok pria yang telah menyelamatkanku dari Kak Reno.


"Kak Roy,"ucapku pelan.


Kak Roy begitu sangat marah.Kedua tangannya mencengkram kuat kerah baju Kak Reno.


"Apa yang kamu lakukan kepada Rani?apa semua ini belum cukup baginya?,"ucap Kak Roy kesal.


Namun Kak Reno hanya tersenyum sinis dengan meremehkan Kak Roy.Lalu dengan cepatnya ia melepaskan cengkraman Kak Roy.


"Kamu kenapa Roy?mau jadi sok pahlawan! iya? ha,"sambil mendorong tubuh Kak Roy.


Aku terus menatap ke arah mereka.Dua pria bertubuh jangkung yang sama-sama kuatnya membuatku cemas menyaksikan pertengkaran mereka.Tubuhku yang masih terasa lemah,kucoba menggerakkannya perlahan.Dengan tertatih aku menghampiri mereka berdua dalam pandangan mataku yang nanar.


"Sudah hentikan pertengkaran ini,"ucapku lirih.


Mereka berdua menatapku dengan pandangan berbeda pula.Kak Reno yang marah dan kesal membentakku,


"Hey,kamu nggak usah ikut-ikutan.Semua masalah ini sumbernya itu dari kamu.Kalau saja kamu nggak pernah hadir dalam kehidupanku semuanya akan baik-baik saja,"ucap Kak Reno sambil menunjukkan telunjuknya dan mendorongku.


Tubuhku yang masih lemas tidak berdaya terasa akan tumbang seketika.Tetapi dengan sigap Kak Roy menopang tubuhku.Mata kami bertemu.Dalam samar pandanganku terlihat kecemasan yang sangat dalam air mukanya.Masih jelas titik-titik bekas air hujan yang membasahi tubuhnya saat menolongku.Ia sangat basah dalam belenggu kedinginan.


Kak Reno terlihat semakin kesal dan berusaha kembali ingin mendorongku dan Kak Roy.Tetapi dengan cepat Kak Roy menarik tubuhku bersamanya untuk menghindar.Dan benar saja aku dan Kak Roy tidak terjatuh.Sedangkan Kak Reno tersungkur.


"Kurang ajar ya kalian berdua!,"ucap Kak Reno semakin marah.

__ADS_1


Ia pun segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arahku dan Kak Roy.Penuh dengan api kemarahan ia ingin memukul Kak Roy.Tetapi sekali lagi Kak Roy berhasil menahan gumpalan tangan Kak Reno.


Tidak lama kemudian Mbak Riska masuk.Ia terlihat terkejut melihat kejadian di depan matanya.


"Reno?Roy?kalian ngapain sih?,"tanyanya cemas.


Ia pun mendekati mereka sambil membawa nampan dengan segelas susu yang kemudian ia letakkan dulu di atas meja.


Mbak Riska memegang kedua tangan Kak Reno dan Kak Roy.Dan memandangnya secara bergantian.


"Kalian itu ngapain?kayak anak kecil aja".


Kak Roy diam dan menatap ke arah Kak Reno begitu pula sebaliknya Kak Reno melirik sinis ke arah Kak Roy.


"Loh,kok malah pandang-pandangan.Hmmm..kalian itu kenapa sih?,"tanya Mbak Riska.


"Nggak kenapa-napa kok mbak,"ucap Kak Reno santai.


Mbak Riska pun melirik memastikan semuanya sesuai apa yang diucapkan oleh Kak Reno.


Tidak lama kemudian Kak Roy sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepada Mbak Riska tetapi buru-buru kutahan lengannya.Dengan maksud Kak Roy tidak perlu menceritakan yang terjadi.Kak Roy sepertinya tidak sepakat dengan isyaratku.Namun aku berusaha meyakinkan dirinya dengan sedikit menganggukkan kepala dan tatapan senduku.Beruntung ia mengerti dan memenuhi keinginanku.


Mbak Riska yang melihat kondisi Kak Roy yang masih basah kuyup menyuruhnya untuk berganti pakaian dulu meminjam pakaian Kak Reno.Awalnya Kak Roy dan Kak Reno tidak mau.Tetapi setelah Mbak Riska memaksa dan menjelaskan mereka akhirnya mengiyakan dan terpaksa saling berbaikkan.


Sementara itu,Mbak Riska menarik perlahan lenganku untuk duduk dan meminum susu hangat buatannya.Aku pun mematuhinya dan meminum susu secara perlahan.


"Ran,sebenarnya apa yang terjadi?mbak merasa ada yang kamu sembunyikan dari mbak.Bagaimana kamu bisa terjatuh?dan apa yang dilakukan Reno dan Roy di kamar?,"ucapnya penuh selidik.


Aku yang meminum susu pun sontak terkejut dan tersendat mendengar pertanyaan dari Mbak Riska.


"Ran,kamu nggak apa-apa?,"tanya Mbak Riska.


"Nggak apa-apa mbak,"ucapku.


Mbak Riska lalu memberikan tisu padaku untuk mengelap susu yang sedikit tertumpah.


Sorot Mbak Riska memandangku lagi,


"Bener kan Rani nggak apa-apa.Mbak berharap tidak ada yang Rani sembunyikan dari mbak ya dek.Mbak sudah menganggap Rani itu seperti adik mbak sendiri dan mbak berharap Rani juga menganggap mbak sebagai kakak Rani sendiri."


Mbak Riska dengan lembut membelai kepalaku.Aku pun tersenyum padanya.


Tidak lama kemudian Kak Roy yang telah berganti baju masuk ke kamar.Ia tersenyum padaku.Dan aku pun membalas senyumnya.Lalu aku mengajak Mbak Riska untuk duduk kembali di balkon.Di ikuti Kak Roy.Aku pun berjalan perlahan menuju balkon.


"Masih hujan Ran,nggak apa-apa Rani duduk disini?,"tanya Mbak Riska.


"Nggak apa-apa mbak.Rani suka hujan.Suara rintikan airnya membuat Rani menjadi tenang mbak,"ucapku.

__ADS_1


"Oh yaudah kalau begitu,"ucap Mbak Riska sambil tersenyum.


Tidak lama setelah itu telepon genggam Mbak Riska berbunyi.Ia pun mengangkat panggilan masuk tersebut yang rupanya dari Bu Sri.


Setelah beberapa menit Mbak Riska berbicara dengan Bu Sri.Mbak Riska izin turun untuk menyiapkan file dokumen yang diminta oleh Bu Sri.Hingga hanya aku dan Kak Roy yang duduk berdua di balkon dengan jarak yang agak berjauhan.Sekilas tatapanku dan Kak Roy beradu.Ia begitu dalam menatapku.Tatapan yang membuatku merasa risih dan berusaha berpaling darinya.Namun,ia memanggil namaku dengan perlahan,


"Ran,"ucapnya lirih.


Kak Roy berjalan mendekatiku.Dengan tatapannya yang seakan penuh misteri untukku.Aku terdiam.Mencoba menerka apa yang coba ia ingin katakan padaku.


"Ran,kok diam melamun,"ucapnya pelan.


"Akh..nggak apa-apa kok kak,"jawabku.


"Ran,kakak ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada Rani.Dan kakak berharap Rani tidak akan salah paham dengan maksud ucapan kakak,"ucapnya serius.


"Iy...iya kak,"ucapku sambil berpikir.


Kak Roy menekuk kakinya,seraya berlutut duduk dibawah kursi dekatku.Aku yang melihatnya menjadi kebingungan dengan apa yang ia lakukan.


Lama Kak Roy terdiam seperti mencoba merefleksikan dirinya menjadi dirinya semula yang penuh ketenangan dan karismatik.


Aku memandangnya perlahan menanti kata-kata yang akan keluar dari bibir tipisnya.


"Ran,sejak awal kakak melihatmu.Kakak merasa ada ikatan yang menghubungkan kakak dan Rani.Entah ikatan seperti apa itu.Tetapi kakak tidak tahan jika harus melihat Rani bersedih atau pun terluka.Kakak ingin selalu ada di sisi Rani.Untuk selalu menjaga dan membuat Rani bahagia.Ran....,"


Tiba-tiba kalimatnya terputus.Kulihat Kak Roy perlahan menarik napas.Aku pun menunggu dirinya meneruskan ucapannya.


Kak Roy kembali menatapku Tatapan yang penuh makna dalam gambar sorot matanya yang begitu teduh.Membuatku merasa tidak nyaman dan bertanya-tanya akan semua ini.


Perlahan ia mencoba lebih mendekat padaku.


"Ran,"ucapnya pelan.


"Iya Kak,ada apa katakan yang ingin kakak katakan.Jika itu dapat membuat hati Kak Roy merasa lega.Rani siap mendengarkan keluh kesah Kak Roy,"ucapku.


Kak Roy tersenyum sumringah,aku pun mengangguk meyakinkannya.


"Ran,kakak menyukai Rani,"ucapnya lugas.


Aku pun terdiam mendengar kata-katanya.Dingin dalam gemercik hujan membalut kebisuanku.


Tetapi tiba-tiba,


BRughhh..


Bunyi benda terjatuh.Aku pun menoleh.

__ADS_1


Mbak Riska dan Kak Reno sudah berdiri terdiam mendengar pembicaraanku dan Kak Roy.Suasana pun hening.Hanya irama hujan yang bernyanyi.Dalam sebuah rasa yang tercipta dalam belenggu kehampaan.


__ADS_2