
"Dapatkah saya berbicara dengan Rani berdua saja,"tanya Kak Reno kepada Ustad Fariz.
Ustad Fariz seraya berpikir atas pertanyaan Kak Reno.
"Saran saya bagaimana jika Dek Reno dan Dek Rani berbicara di depan ruang sidang ini.Sebelum masuk ke ruang ini.Saya melihat ada kursi panjang di depan.Dek Reno dapat berbicara dengan Dek Rani di ruang terbuka dengan pengawasan kami semua.Maaf Dek Reno bukannya saya tidak percaya.Tetapi hanya untuk mengantisipasi akan sikap dan tindakan Dek Reno yang tidak bisa saya prediksi.Sekaligus demi keamanan Dek Rani," ucap Ustad Fariz sambil menatap wajah Kak Reno.
Kak Reno pun tidak membantah apa yang di sarankan oleh Ustad Fariz.
"Iya Ustad,tidak masalah,"sahut Kak Reno.
Dan setelah itu,semua orang termasuk diriku keluar dari ruang sidang.Wirda menuntunku perlahan menuju kursi tunggu di depan ruang sidang.
" Ran,jika Kak Reno macam- macam kamu teriak saja.Maka dengan segera aku akan datang ya dengan yang lain," ucap Wirda.
" Iya Wir,tenang saja,"kataku pelan.
Wirda membantuku duduk pada kursi di luar ruang sidang lalu berjalan sedikit menjauh dariku diikuti oleh Ustad Fariz,Kak Rada dan Pak Budi.Mereka bertiga berdiri sedikit lebih jauh dari posisi tempatku berdiri.Kemudian Kak Reno duduk di sampingku di temani oleh seorang petugas kepolisian yang menjaga dan mengawasinya tepat berdiri di samping Kak Reno.
Aku duduk dengan tenang seraya mendengarkan pergerakan yang dilakukan oleh Kak Reno.Lama kurasakan Kak Reno terdiam membisu dan belum memulai pembicaraan denganku.Sehingga aku pun berinisiatif untuk mengawali percakapan antara diriku dan Kak Reno.
" Apa yang ingin Kak Reno katakan kepadaku?," tanyaku kepada Kak Reno.
Kak Reno memandang ke arah wajahku yang menatap lurus ke depan.Dalam pandangan matanya yang berkaca - kaca.Dia mencoba menelisik diriku dari tatapan matanya yang memandang diriku dengan iba.
Aku diam dan terus menunggu kata- kata keluar dari bibir Kak Reno.
"Ran,"panggil Kak Reno pelan dan lirih.
Mendengar suaranya memanggil diriku.Aku merasakan Kak Reno bukan seperti karakter Kak Reno yang arogant.Yang selama ini ku kenal.
" Iya Kak Reno.Katakan saja apa yang ingin Kak Reno katakan.Dan tidak usah terlalu banyak berpikir.Karena akan banyak menyita waktu yang terbuang percuma," ucapku kepada Kak Reno.
" Iya Ran,"jawab Kak Reno.
"Ran,sebelumnya kakak meminta maaf atas semua yang terjadi kepada dirimu.Termasuk dengan hilangnya indra penglihatanmu yang terjadi akibat diriku.Aku menyesal Ran,"kata Kak Reno dengan ucapannya yang terdengar bergetar.
Aku pun diam mendengarkan kata- kata Kak Reno.Dan sedikit terkejut sebab dirinya meminta maaf kepadaku.Karena itu adalah hal yang aneh serta langka.Mendengar
permintaan maaf yang terucap dari bibirnya.Rasanya aku tidak percaya untuk apa yang telah kudengar darinya.Namun,diriku berusaha tenang dan tidak terlihat terkejut akan sikap dan tutur kata yang tidak biasa dari diri Kak Reno saat ini.
"Sungguh kakak tidak menyangka jika penglihatanmu benar-benar hilang Ran.Dan untuk itu tolong maafkan atas semua kekhilafan yang telah Kak Reno lakukan kepadamu,"ujar Kak Reno.
Aku diam mendengarkan Kak Reno berbicara.Dalam pendengaranku dapat kudengar dengan jelas betapa Kak Reno sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi kepada diriku.Suaranya terdengar berat dan parau.Dan diriku hanya diam mendengarkan penuturan perasaannya kepadaku.
"Ran,jika kakak boleh meninta kepadamu.Dapatkah engkau menarik gugatan ceramah terhadap kakak Ran?,"tanya Kak Reno dengan air matanya yang berlinang perlahan.
"Mengapa aku harus menarik gugatan ceraiku terhadapmu Kak Reno?Bukankah selama ini Kak Reno menginginkan berpisah denganku? Kak Reno terkekang akan pernikahan paksa kita yang menghancurkan diri Kak Reno sendiri,itu yang Kak Reno katakan kepadaku waktu itu.Lalu sekarang mengapa Kak Reno ingin aku membatalkan gugatan cerai yang sudah ku ajukan ke pengadilan agama?,"tanyaku kepada Kak Reno.
__ADS_1
"Hiks..Hiks..Hiks,sebab....sebab..sebab,"ujar Kak Reno terbata sambil menangis.
"Sebab apa Kak Reno? katakan saja dan tidak usah mengulur waktu Kak?," ucapku sedikit kesal.
"Sebab Kakak mencintaimu Ran," ucap Kak Reno cepat dan lugas.
Mendengar apa yang Kak Reno katakan kepadaku untuk seketika hatiku berdecak dan tersentak.Ada sesuatu yang terasa nyeri menggetarkan relung hatiku secara perlahan.Perasaan yang bergejolak aneh dalam debaran detak jantungku.Namun,memori pikiranku membuat hatiku tersadar akan semua reka ulang setiap peristiwa dan kejadian yang Kak Reno lakukan kepadaku.
"Hah?,apa yang barusan Kak Reno katakan? ," ucapku tidak percaya.
"Iya Ran.Kakak mengatakan jika kakak mencintaimu.Dan kakak tidak berbohong atau pun bersandiwara dengan apa yang kakak katakan barusan Ran".
" Benarkah itu Kak Reno? Dan untuk apa Kak Reno mengatakan hal itu kepada Rani?."
"Sebab kakak tidak kuat lagi Ran.Untuk terus menutupi perasaan kakak kepadamu.Apalagi setelah kakak mengetahui jika dirimu kehilangan penglihatan akibat ulah kakak.Kakak benar- benar hancur mendengar itu Ran.Untuk itu tolong maafkan kakak Ran.Dan dapatkah dirimu memberikan kakak satu kesempatan sekali lagi supaya kakak dapat menjadi suami yang baik untukmu.Sekaligus kita memulai segalanya dari awal Ran?".
"Sungguh aku tidak menyangka jika Kak Reno akan berkata demikian kepadaku.Setelah semua yang Kak Reno lakukan kepadaku.Apakah aku harus mempercayai semua kata- kata Kak Reno?".
"Kakak tahu Ran,kamu akan sulit menerima ucapan kakak.Tetapi itulah kebenaran dari perasaan kakak kepadamu yang selama ini kakak pendam kepadamu.Selama ini pula kakak terus mencoba membuang dan menghilangkan perasaan kakak kepadamu.Namun,semakin hari rasa itu terus tumbuh dan menembus ke permukaan hati kakak.Kakak menyesal Ran,untuk semua yang telah kakak lakukan kepadamu.Maka kakak mohon jangan berpisah dari kakak Ran.Karena kakak tidak akan sanggup kehilangan dirimu," ucap Kak Reno dengan serius.
Hatiku terasa berkecamuk mendengar penuturan dari kata- kata Kak Reno.Di satu sisi aku bosan dan tidak percaya akan ucapannya lagi.Namun,di sisu sebagian hatiku mengatakan kali ini apa yang dikatakan oleh Kak Reno adalah kebenaran.Aku pun masih terdiam berusaha menenangkan hatiku yang terasa dilema.
"Kakak mohon Ran,berikan satu kesempatan lagi untuk kakak memperbaiki segalanya," pinta Kak Reno.
Aku berusaha tenang dan tidak terbawa suasana.Hatiku sudah jera dan lelah akan semua tipu muslihat,sandiwara dan kepercayaan yang telah coba kuberikan kepada Kak Reno.Namun,semuanya nihil dan disia- siakan oleh Kak Reno.
"Kesempatan tidak selalu datang setiap kali Kak.Bagiku aku sudah cukup memberikan kesempatan kepada Kak Reno dan berusaha menerima Kak Reno sebagai suamiku.Tetapi di saat keikhlasan dan kepercayaanku mulai tumbuh kepadamu.Secara tiba- tiba Kak Reno menghancurkan dan meluluhlantakkan perasaan dan juga hidupku.Dan pada saat itu Kak Reno melakukan itu semua apakah Kak Reno tidak pernah memikirkan bagaimana terlukanya diriku?,"ucapku dengan sedikit kesal.
Mendengar ucapan Kak Reno aku pun tersenyum sinis.
"Seharusnya Kak Reno tidak perlu mengatakan tentang semua perasaan kakak kepadaku.Karena semuanya sudah terlambat.Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki karena memang sejatinya hubungan pernikahan kita tidak ada ikatan yang menguatkan hati kita.Di dalamnya hanya ada paksaan,kebohongan dan kezhaliman terhadap diriku.Jadi menurut Rani.Kak Reno terimalah kenyataan yang sebenarnya jika sebentar lagi kita akan.
berpisah dan setelah itu kita akan menjadi asing.Dan satu hal lagi Kak,tidak ada kesempatan kedua atau ketiga untuk Kak Reno.Bagiku semua sudah cukup untuk dilanjutkan dan sudah saatnya kita melupakan semua.Semoga Kak Reno mendapatkan pelajaran atau pun hikmah dari setiap peristiwa yang telah Kak Reno lalui dan alami dalam kehidupan kakak.
Bahwasanya jangan pernah menyia-nyiakan sesuatu kesempatan sekecil apapun yang telah orang lain berikan kepada kita.Sebab belum tentu akan ada kesempatan lagi yang akan kita dapatkan di kemudian hari,"ucapku dengan pelan kepada Kak Reno.
"Ran,jangan lakukan ini kepada kakak Ran.Tolong jangan pergi dan berpisah dengan kakak Ran!,Hiks....Hiks....Hiks....," ucap Kak Reno sambil menangis terisak.
Aku sungguh tidak menduga jika Kak Reno akan mengatakan semua ini kepadaku.Tetapi entahlah apa pun yang coba ia katakan kepadaku juga tidak akan dapat mengubah semua keputusan yang telah kubuat.Tangisnya pecah dalam suaranya yang terdengar parah dan berat.
Diriku hanya dapat terdiam mendengar derai air matanya.Bagiku sulit untuk mempercayai akan ucapan dan sikap Kak Reno yang berusaha ia tunjukkan.Aku sudah lelah dan letih dengan semua permainannya serta saudaranya selama ini.
"Mengapa Kak Reno menangis? Bukankah perpisahan ini adalah keinginan Kak Reno sejak lama.Dan sekarang keinginan Kak Reno akan terpenuhi dan terbebas selamanya dari hubungan denganku.Menyesal di akhir tidak ada gunanya kak.Aku bahkan sulit untuk menentukan apakah yang Kak Reno katakan ini adalah kejujuran atau kebohongan.Tetapi ya sudahlah kita lupakan saja.Sebab semua itu sudah tidak penting bagiku.Dan maafkan aku Kak Reno,aku tidak dapat mengubah keputusanku untuk berpisah dariku.Tekad dan keinginanku telah bulat sehingga tidak ada penawaran lagi.Dan untuk semua yang telah Kak Reno lakukan kepadaku.Insyaallah aku akan berusaha melupakan dan memaafkannya tetapi untuk kembali kepadamu lagi itu tidak mungkin sebab aku tidak memiliki harapan atau pun keinginan ke arah itu.Baiklah Kak,aku kira cukup sampai disini saja perbincangan kita.Jaga diri Kak Reno baik- baik.Dan nanti jika gugatan perceraian kita sudah resmi di kabulkan maka pengacara dari Ustad Fariz akan memberitahukan dan menemui Kak Reno," kataku pelan.
Suara isak tangis Kak Reno terdengar semakin keras.
Huhuhuhuhuhu......Huhuhuhuhuhu....
__ADS_1
"Tidak bisakah engkau mengubah keputusanmu Ran?Hiks...Hiks...," ucap Kak Reno sambil menangis.
Sungguh aku tidak pernah mendengar Kak Reno menangis seperti ini sebelumnya.
"Tidak Kak Reno.Kumohon Kak Reno ikhlas menerima semua kenyataan ini.Dan untuk apa kita memaksakan sebuah hubungan yang di dalamnya tidak ada ikatan cinta atau pun kebahagiaan kak.Sudahlah Kak Reno,tidak perlu kakak larut dalam kesedihan.Sebab semua tidak akan dapat kembali.Semoga ini menjadi pelajaran untuk Kak Reno agar dapat menghargai seseorang yang berusaha mengerti dan memberi kesempatan kepada diri kita.Dan tidak menyia-nyiakannya begitu saja.Sebab kita tidak akan pernah tahu kapan Allah akan membolak- balikkan hatinya dan menentang keikhlasan dan kesabaran yang berusaha ia tekan dan tahan dalam waktu yang lama sama halnya dengan diriku Kak," ucapku pelan.
"Ran....jangan pergi Ran...! Jangan berpisah dariku.Aku mohon Ran! Tolong maafkan kakak.Huhuhuhuhu.....," pinta Kak Reno sambil menangis tersedu-sedu.
Aku terdiam dalam keheninganku sendiri.
Sedih memang rasanya mendengar Kak Reno seperti itu.Tetapi apa yang bisa kuperbuat semua sudah terlambat.
Di saat aku larut dalam pikiranku sendiri terdengar Kak Reno bangkit dari duduknya.
Dan BRuukkk....
Kak Reno menjatuhkan tubuhnya di hadapanku.Dia bersimpuh dan berlutut memohon kepadaku dengan kedua tangannya yang masih diborgol.
"Huhuhuhu....Huhuhuhuhu..Ran,kakak tidak sanggup jika dirimu harus mengakhiri hubungan kita.Kakak memang bodoh karena selama ini telah menyia- nyiakan dirimu.Hiks...Hiks...kakak mohon ubahlah keputusanmu Ran," pinta Kak Reno dengan sangat berharap.
Dalam isak tangisnya tiba- tiba kurasakan kepala Kak Reno menyentuh kakiku.Aku terperanjat dan kaget atas tindakannya.
" Apa yang Kak Reno lakukan?," ucapku sedikit berteriak dan langsung berdiri.
Wirda,Kak Rafa,Ustad Fariz ,Pak Budi dan Pak Hadi pun lalu langsung berjalan menuju ke arahku.Setelah mendengar suaramu sedikit berteriak.
"Ada apa Ran?," tanya Wirda cemas.
"Tidak apa - apa Wir,aku hanya kaget karena Kak Reno bersimpuh di kakiku," jawabku.
Kak Reno pun terus menangis dalam posisi terduduk di lantai dengan kepala yang tertunduk.Dia seakan tidak peduli akan tatapan semua orang kepada dirinya.
Hingga Ustad Fariz dan Pak Budi pun membantu Kak Reno untuk berdiri dan mencoba menghentikan tangisannya.Tetapi semua itu tidak mengubah sikap Kak Reno.
Aku merasa kasihan dan terenyuh mendengar bibirnya terus memanggil namaku dalam tangisnya.Karena melihat Kak Reno tidak dapat mengendalikan sikapnya.Ustad Fariz menyuruh Wirda untuk mengajak diriku masuk ke dalam mobil.
Kemudian Wirda pun membawaku menuju ke mobil diikuti oleh Kak Rafa dan Pak Hadi.
Sementara Ustad Fariz dan Pak Budi masih berusaha menenangkan Kak Reno yang menangis histeris tiada henti.
Dalam langkah kakiku perlahan masih terdengar oleh indra pendengaranku.Sayup- sayup teriakkan suara Kak Reno yang menjerit keras memanggil namaku dan menangis meraung.
Pilu dan terasa bergetar mendengarnya.
Namun,semua ini adalah hasil dari apa yang ia telah lakukan selama ini.
Hufh...
__ADS_1
Aku mencoba menarik nafas panjang dan dalam untuk melonggarkan dadaku yang terasa sesak dan nyeri mendengar kesedihan Kak Reno.
Ya Allah, jaga dan lindungilah Kak Reno. Semoga kali ini ia dapat benar-benar menginsyafi kesalahannya dan berubah menjadi orang yang baik, ucapku di dalam hati.