
Atas rekomendasi setelah mengobservasi gejala gangguan penglihatan dan bicara ku.
Dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan CT scan padaku supaya dokter dapat mendiagnosis indikasi medis yang terjadi pada kondisiku .Akibat mengalami cedera atau luka di kepala saat terjatuh terkena pukulan keras dari kepalan tangan Kak Reno. Selebihnya dokter juga akan sekaligus menentukan rencana pengobatan yang akan digunakan padaku untuk memandu prosedur medis selanjutnya yang harus aku tempuh jika terdapat indikasi medis yang sekiranya membahayakan keselamatan diriku.
Semoga semua baik- baik saja dan tidak ada hal yang buruk terjadi padaku Ya Allah, ucapku di dalam hati.
Sebelum pemeriksaan CT scan perawat membantuku menggenakan pakaian khusus saat prosedur pemeriksaan CT scan.
Namun,sebelumnya perawat terlebih dahulu melepas benda logam yang menempel pada tubuhku seperti perhiasan yaitu cincin dan anting-anting.
Aku pun juga di haruskan untuk melakukan pantang makan atau minum selama beberapa jam sebelum menjalani prosedur. Perawat juga menanyakan kepadaku. Apakah aku memiliki alergi dan riwayat gejala penyakit kronis sebelumnya yang pernah aku derita atau alami.
Karena kondisiku masih kesulitan dalam berbicara untuk menjawab pertanyaan dari perawat .Maka perawat menintaku untuk mengenggam tangannya jika aku tidak pernah mengalami dan menderita penyakit kronis ataupun alergi. Tetapi jika aku pernah mengalami penyakit kronis dan memiliki riwayat alergi maka aku diminta untuk melambaikan telapak tangan kananku.
Meskipun, aku tidak dapat melihat posisi keberadaan perawat tetapi aku dapat mendengar ucapannya.
Maka setelah mengerti dan mendengar ucapannya secara seksama. Aku pun mengenggam tangan perawat yang ia
letakkan di dekat tanganku. Aku pun mengisyaratkan kepadanya bahwa diriku tidak pernah mengalami penyakit kronis sebelumnya dan tidak memiliki riwayat alergi apapun juga.
Setelah semua prosedur awal dilakukan barulah perawat membawaku ke ruang radiologi untuk melakukan pemeriksaan CT Scan Kepala.
Dokter pun berusaha untuk membuatku tenang dan tidak terlalu tegang.
"Dek Rani santai saja.Dan jangan tegang atau pun merasa takut.Pemeriksaan CT scan kepala umumnya tidak terasa sakit, prosesnya cepat, dan mudah. Biasanya, pemeriksaan ini dapat berlangsung selama sepuluh sampai lima belas menit ( 10–15 menit).
Untuk itu Dek Rani tetap mengikuti prosedur dan instruksi dari saya.Agar semuanya berjalan lancar,"ucap dokter yang berusaha menjelaskan kepadaku supaya aku tidak merasa takut dan berpikiran negatif.
Aku pun menganggukkan kepala perlahan agar dokter tahu jika aku mendengar suaranya dan mengerti akan maksudnya.
Dokter meminta bantuan para perawat untuk membantuku berbaring telentang di atas tempat tidur yang telah disesuaikan dengan keperluan pemeriksaan CT scan.
Dan perawat memasang tali dan meletakkan bantal yang digunakan untuk membantuku supaya tetap berada di posisi yang benar dan diam selama menjalani prosedur CT scan.
"Dek Rani tolong diingat dan dilaksanakan selama pemeriksaan, Dek Rani tidak diperkenankan untuk bergerak.Jadi harus tetap diam dan tenang. Supaya hasil gambar terlihat jelas dan tidak kabur.Lalu akan ada petugas yang memantau dan berkomunikasi dengan Dek Rani melalui interkom yang tersambung di kedua ruangan.Nanti saat proses pemindaian sinar-X. Data dari sinar-X akan dideteksi oleh pemindai dan dikirimkan ke komputer untuk mendapatkan gambar dalam bentuk dua dimensi( 2D )atau tiga dimensi (3D) secara rinci dan mendalam.Oleh karena itu sangatlah penting untuk Dek Rani tetap diam, tenang dan tidak bergerak.Apakah Dek Rani mengerti?,"tanya dokter padaku.
Aku pun menjawab dengan menganggukkan kepalaku pelan.
"Dok apakah pasien perlu diberikan obat penenang agar tidak banyak bergerak? supaya pasien tenang sehingga pasien tidak melakukan gerakan yang akan berpengaruh terhadap hasil gambar,"tanya salah seorang perawat pada dokter.
"Oh,tidak perlu.Saya rasa pasien tidak membutuhkannya.Pasien In syaAllah dapat bekerjasama dengan baik saat prosedur pemeriksaan.Lagi pula dalam pemeriksaan CT scan juga terdapat zat kontras yang dapat digunakan untuk memperjelas visualisasi area kepala yang akan dianalisis,"jawab dokter menjelaskan pada perawat yang bertanya kepadanya.
Dan tibalah pemeriksaan CT scan pada diriku.
Bismillahirrahmanirrahim,permudahkanlah urusanku Ya Allah,ucapku dalam hati.
Selama pemeriksaan, tempat tidur dimana tubuhku berbaring secara terlentang bergerak perlahan ke dalam alat pemindai CT scan yang berbentuk seperti donat dengan terowongan pendek di tengahnya.
Alat pemindai terasa mulai berputar di sekitar ku, lalu sinar-X melewati tubuh dan mulai memindaiku.
Lalu petugas memintaku untuk menahan napas selama menjalani prosedur.
Tidak berapa lama setelah prosedur selesai, aku pun dikeluarkan dari alat pemindai.
Perawat pun membantuku setelah proses pemeriksaan CT Scan Kepala.
Dokter mengatakan kepada perawat untuk sementara waktu memindahkan diriku di ruang rawat inap sambil menunggu dari hasil proses pemindaian selesai sebab petugas masih dalam memverifikasi bahwa gambar telah memiliki kualitas yang baik untuk dianalisis dengan akurat.
Perawat pun membawaku keluar dari ruang radiologi.
Terdengar olehku bagaimana langkah kaki yang berbunyi cepat menuju ke arahku.
"Dok, bagaimana keadaan nak Rani?,"tanya Pak Budi dengan suara cemas.
"Saat ini saya belum bisa menyimpulkan kondisi pasien pak.Karena masih menunggu hasil dari verifikasi gambar pemeriksaan CT scan.Namun,untuk sementara waktu pasien dipindahkan ke ruang rawat inap dahulu.Sambil menunggu dan melihat hasil gambar CT scan kepala pasien.Jika hasil gambarnya sudah cukup baik maka tidak diperlukan lagi CT scan kepala ulang.Namun jika kualitas hasil gambar CT scan kepala dinilai tidak cukup baik akan dilakukan CT scan kepala ulang. Untuk itu bapak harap bersabar dahulu karena hasil pemeriksaan akan ditinjau oleh dokter radiologi. Dan nanti jika diperlukan, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani pemeriksaan lain guna mendapat hasil pemeriksaan yang lebih akurat.Jika di dalam hasil pemeriksaan ditemukan kelainan, dokter akan menentukan penanganan yang tepat sesuai kondisi pasien.
Untuk itu mohon untuk bersabar ya pak,"ucap dokter menjelaskan kepada Pak Budi.
"Baik dok.Apakah akan ada efek samping yang akan dirasakan pasien pasca menjalani pemeriksaan CT scan kepala?,"tanya ustad Fariz kepada dokter.
"Pemeriksaan CT scan kepala sebenarnya tergolong prosedur yang relatif aman dan tidak menimbulkan efek samping secara langsung Mas. Namun, CT scan yang menggunakan zat kontras biasanya berisiko menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang sering kali terjadi yaitu
merasa seperti tebakar dan sensasi rasa logam di mulut saat zat kontras masuk ke pembuluh darah.Ada yang mengalami mual, muntah, gatal-gatal, atau bersin pada orang yang alergi terhadap yodium yang terdapat pada zat kontras,"jawab dokter kepada ustad Fariz.
"Berarti zat kontras pada proses CT scan berbahaya dok?,"tanya ustad Fariz kembali kepada dokter dengan ekspresi wajah khawatir.
" Mas tidak perlu khawatir berlebihan.
In syaAllah reaksi alergi yang ditimbulkan tersebut sebenarnya hanya bersifat ringan, tidak berbahaya, dan biasanya berlangsung kurang dari satu menit saja,"ucap dokter menjelaskan kepada ustad Fariz.
__ADS_1
"Baik dok.Lalu apakah penggunaan CT scan dengan tingkat radiasi yang tinggi dapat berisiko menyebabkan kanker?,"tanya ustad Fariz lagi.
"Penggunaan CT scan dengan tingkat radiasi yang tinggi memang diketahui berisiko menyebabkan kanker.Namun, kemungkinannya masih sangat kecil dan manfaat dari hasil CT scan yang sangat akurat jauh lebih besar daripada resikonya mas.Jadi mas tidak perlu khawatir,"tutur dokter pada ustad Fariz.
Ustad Fariz menganggukkan kepala.Tanda bahwa ia mengerti akan ucapan dokter.
"Dok apakah pasien boleh dijenguk dok saat di ruang rawat inap?,"tanya Pak Budi kepada dokter.
"Boleh pak,"jawab dokter.
"Baik terima kasih dokter,"sahut pak Budi.
"Sama-sama Pak,saya permisi dulu,"balas dokter yang berlalu pergi.
Kemudian para perawat membawaku menuju ruang rawat inap ditemani oleh Pak Budi,Wirda ,Bik Siti dan Ustad Fariz.
Sesampainya di ruang rawat inap perawat menyuruhku beristirahat dan tidur.
Sementara Pak Budi,Wirda ,Bik Siti dan Ustad Fariz menungguiku di ruang rawat inap.
Pintu terbuka dan terlihat mama Kak Roy masuk ke dalam ruangan tempat di mana aku dirawat sekarang.
"Assalamualaikum," ucap Mama Kak Roy sambil melangkah masuk mendekati yang lainnya.
"Wa'alaikumsalam ,"jawab semua orang yang menungguiku secara bersamaan.
"Bagaimana keadaan nak Rani sekarang nak Wirda?," tanya Mama Kak Roy kepada Wirda.
"Dokter belum bisa menyimpulkan keadaan Rani sekarang tante sebab hasil pemeriksaan kepala Rani belum keluar hasilnya,"jawab Wirda pada mamanya Kak Roy.
"Lalu Bagaimana keadaan Kak Roy sekarang tante?,"tanya Wirda balik pada mamanya Kak Roy.
"Alhamdulillah keadaan Roy sekarang jauh lebih tenang Wir .Sekarang Roy sedang tidur dan ditemani oleh Rere.Makanya tante langsung turun ke ruang radiologi untuk melihat keadaan Rani. Tetapi saat tante turun di bawah perawat mengatakan pasien bernama Rani sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dan ternyata kamarnya bersebelahan dengan kamarnya Roy .Ya sudah jadi tante langsung naik dan kemari,"ucap namanya Kak Roy kepada Wirda.
"Iya Tante,"sahut Wirda.
Lalu mamanya Kak Roy menuju ke Pak Budi yang sedang duduk di sofa tunggu pasien.
"Pak Budi saya menghaturkan banyak terima kasih karena Pak Budi dengan segera membawa Roy ke rumah sakit .Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Budi karena Pak Budi sudah banyak sekali membantu Roy. Saya tidak bisa membayangkan keadaan Roy jika Pak Budi tidak segera membawa putra saya ke rumah sakit,"ucap Mama Kak Roy kepada Pak Budi.
"Sama-sama Bu Desi. Sebenarnya saya itu tidak banyak membantu. Yang telah banyak membantu Nak Roy itu sebenarnya adalah nak Fariz," ucap pak Budi sambil menunjuk ke arah ustad Fariz sedang duduk di hadapannya.
"Benar Bu,"jawab Pak Budi dengan pelan dan sambil menganggukkan sedikit kepalanya ke arah mamanya Kak Roy.
"Masya Allah berarti saya harus banyak mengucapkan terima kasih kepada Nak Fariz,"ucap Mama Kak Roy sambil melihat ke arah ustad Fariz.
"Terima kasih banyak nak Fariz untuk bantuannya yang telah menolong putra saya Roy sehingga keadaannya sudah berangsur-angsur membaik .Saya do'akan semoga Allah Subhanahu Wa ta'ala membalas kebaikan nak Fariz dengan balasan yang terbaik,"ucap mama Roy lagi sambil melihat ke arah ustad Fariz dan mendekatinya.
"Aaamin ya robbal alamin.Sama-sama ibu. Ibu tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada saya. Karena tolong menolong sesama muslim itu hukumnya wajib. Jadi sudah sepatutnya Saya menolong Dek Roy yang membutuhkan bantuan saya.
Insya Allah saya menolong Dek Roy dengan niat yang ikhlas dengan mengharapkan ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala. Tanpa mengharapkan imbalan,pujian ataupun sanjungan apapun ibu. Jadi ibu tidak perlu merasa sungkan dan tidak enak kepada saya. Anggap saja saya seperti putra ibu sendiri .Di mana saya menganggap Dek Roy sebagai adik saya sendiri pula,"sahut Ustad Fariz.
"Masya Allah nak. Saya sungguh merasa senang putra saya Roy dapat berteman dan bersahabat dengan nak Fariz,"balas mama Kak Roy kepada Ustad Fariz.
Ustad Fariz pun tersenyum kecil mendengar ucapan mama Kak Roy.
Tidak lama kemudian telepon genggam milik ustad Fariz berbunyi. Dengan segera ia mengambil telepon genggam dari dalam saku baju kokonya. Dia takut jika suara telepon genggam miliknya akan membangunkan tidurku.
Maka dengan cepat ia bergegas keluar dari ruangan setelah meminta izin kepada yang lainnya.
"Maaf Pak Budi, Bu Desi saya keluar sebentar adik saya menelpon saya," ucap ustad Fariz sambil berdiri dan berjalan keluar.
"Iya silakan nak," ucap Pak Budi dan Bu Desi secara bersamaan.
Maka ustad Fariz pun bergegas keluar untuk menerima telepon dari adiknya.
"Bi Siti ikut ke rumah sakit apakah tidak dimarahi oleh Bu Sri dan keluarga Suprapto lainnya?," tanya Wirda kepada Bik Siti yang sedang duduk di samping ranjang tempat tidurku.
Untuk sesaat Bik Siti terdiam dengan wajahnya yang terlihat murung dan sedih.
"Apa yang membuat Bik Siti terlihat murung dan sedih seperti itu? apakah Bik Siti ada masalah ?apakah keluarga Suprapto menyakiti Bibi ?,"tanya Wirda dengan rasa ingin tahu.
"Hmmmm...,"jawab Bik Siti dengan wajah bingung dan tegang.
Melihat keadaan Bik Siti yang terlihat tegang dan bingung. Pak Budi segera mendekat ke arah Wirda dan Bik Siti.
Pak Budi tahu bahwa Bik Siti sangat sulit untuk mengungkapkan peristiwa atas kejadian yang menimpanya kepada Wirda.
Maka dari itu Pak Budi berinisiatif untuk membantu BikSiti menjawab pertanyaan Wirda.
__ADS_1
"Begini nak Wirda. Mungkin Bik Siti masih merasa syok dan bingung untuk mengungkapkan apa yang telah Ia alami,"ucap pak Budi kepada Wirda.
"Memang apa yang sebenarnya terjadi kepada Bik Siti, Pak Budi? ,"tanya Wirda dengan wajah penasaran.
Mendengar percakapan antara Wirda, BikSiti dan Pak Budi. Mamanya Kak Roy pun berjalan mendekat dan ikut mendengarkan perbincangan mereka.
"Sebenarnya saat Pak Budi dan ustad Fariz pergi ke rumah kediaman keluarga Suprapto. Terjadi sedikit keributan, yang memicu kemarahan Bu Sri kepada Bik Siti. Yah, karena Bik Siti bersikeras untuk melihat keadaan nak Rani di rumah sakit.
Namun, dilarang keras oleh Bu Sri tetapi Bik Siti tetap tidak memperdulikannya. Sehingga Bu Sri mengancam Bik Siti jika Bik Siti tetap bersikeras menjenguk dan melihat nak Rani di rumah sakit, maka Bu Sri tidak segan-segan untuk memecat Bik Siti sebagai asisten rumah tangga di rumah kediaman keluarga Suprapto.
Dan Bik Siti tidak memperdulikan ancaman dari Bu Sri dan malah ikut dengan pak Budi dan Ustad Fariz ke rumah sakit.
Jadi, intinya Pak Budi dan Bik Siti sudah berhenti bekerja dari rumah kediaman keluarga Suprapto,"ucap pak Budi menjelaskan kronologi peristiwa yang dialami Bik Siti kepada Wirda.
"Ya Allah jadi sekarang Pak Budi dan Bik Siti bekerja di mana?," tanya Wirda sambil melihat ke arah Bik Siti dan Pak Budi.
"Saat ini saya belum berpikir mau bekerja di mana nak Wirda. Sungguh saya merasa senang karena bisa keluar dan berhenti bekerja dari rumah kediaman keluarga Suprapto.Yah, sesungguhnya saya bertahan di sana karena saya kasihan dan tidak tega jika melihat nak Rani sendirian di sana.Dimana tidak ada seorang pun yang membantu dirinya saat nak Rani mengalami kesulitan karena perlakuan buruk dari seluruh anggota keluarga Suprapto. Dan melihat keadaan nak Rani seperti ini Bibi merasa sangat tidak tega dan kasihan.
Apalagi saat Pak Budi datang ke rumah dan mengatakan jika nak Rani dirawat di rumah sakit .Hati Bibi seakan tergetar dan sangat cemas sehingga memicu keberanian Bibi yang sudah terakumulasi menahan kesabaran akan sikap buruk dari keluarga Suprapto. Qodarullah nak Wirda semua ini insya Allah adalah keputusan yang terbaik Bibi ambil,"jawab Bik Siti dengan panjang lebar dan wajahnya yang sendu.
Wirda pun terdiam sesaat mendengar curahan hati Bik Siti secara singkat.
Dia seraya memikirkan sesuatu yang harus ia putuskan secepat mungkin.
"Wirda sangat setuju dengan keputusan yang Bik Siti ambil. Namun tidak bisa dipungkiri Bik Siti juga perlu pekerjaan bukan?,"tanya Wirda kepada Bik Siti.
"Betul sekali nak Wirda tetapi keinginan Bibi adalah...,"ucap Bik Siti terputus sambil berpikir.
"Kalau Wirda boleh tahu apa yang menjadi keinginan Bik Siti ?siapa tahu Wirda dapat membantu mewujudkan keinginan Bik Siti walaupun mungkin tidak sesuai yang Bik Siti harapkan tetapi insya Allah Wirda akan berusaha semampu Wirda,"ucap Wirda sembari bertanya kepada Bik Siti.
"Sebenarnya BiK Siti ingin bekerja di mana nak Rani tinggal nak Wirda. Entah mengapa Bibi sangat menyayangi nak Rani dan Bibi ingin terus mendampinginya dan ada di sisinya Nak Rani selalu.Sebab Bibi sudah menganggap Nak Rani seperti putri Bibi sendiri,"ucap Bik Siti dengan mata berkaca-kaca sambil memandang ke arahku yang sedang tertidur pulas di atas ranjang pasien rumah sakit.
Mendengar ucapan Bik Siti Wirda pun tersenyum.
"Kalau Wirda boleh saran bagaimana selama Rani masih dalam kondisi sakit bibi bekerja di rumah Wirda? Dan Bibi juga masih boleh menemani Rani di rumah sakit. Dan Wirda tidak akan membatasi dan melarang Bik Siti. Bagaimana Bik Siti ?apakah Bik Siti setuju?,"tanya Wirda kepada Bik Siti sambil menunggu tanggapan dari Bik Siti.
Bik Siti berpikir sejenak,"Baiklah nak Wirda saya terima tawaran dan saran dari nak Wirda.
"Baiklah Bik Siti terserah Bik Siti mau memulai bekerjanya kapan. Nanti Bik Siti bisa langsung bilang kepada Wirda yah. Dan Bik Siti jangan sungkan kepada Wirda.Bik Siti juga bisa menganggap Wirda sebagai Putri Bibi sendiri juga kan seperti Rani.Hehehehe....,"ucap Wirda dengan serius lalu sedikit bercanda untuk mencairkan suasana kepada Bik Siti.
Bik Siti, Wirda, Pak Budi dan mamahnya Kak Roy tersenyum bersama.
"Lalu Pak Budi bekerja di mana?,"tanya mamanya Kak Roy kepada Pak Budi.
"Oh, iya saya juga mau menanyakan itu kepada Pak Budi tante,"sahut Wirda.
Pak Budi tersenyum tipis,"Alhamdulillah saya sudah ditawari pekerjaan oleh nak Fariz sebagai sopir pribadinya,"jawab Pak Budi.
"Alhamdulillah saya senang mendengarnya Pak,"sahut Wirda.
"Iya Pak Budi saya juga senang mendengarnya. Semoga ini adalah awal yang baru bagi kita semua untuk menatap hari esok yang lebih cerah dan baik.Sehingga tidak ada lagi kesedihan yang menimpa kita,"ucap mama Kak Roy dengan penuh harapan dalam wajahnya.
"Aamin ya robbal alamin ,"ucap mereka secara bersama-sama.
Wirda,Pak Budi, Bik Siti dan Mamanya Kak Roy tersenyum bersama.
Cekrekkkk....
Pintu terbuka perlahan. Semua orang yang berada di dalam ruangan tempatku dirawat menoleh ke arah pintu.
Lalu terlihat ustad Fariz yang datang membawa bungkusan plastik yang berisi makanan di kedua tangannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap ustad Fariz kepada semua orang.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ,"ucap semua orang yang ada di dalam ruangan secara bersama-sama menjawab salam dari ustad Fariz.
"Mari Dek Wirda, Pak Budi ,Bik Siti dan Tante Desi kita makan dulu. Ini saya sudah belikan minuman hangat, kue dan nasi rames,"ucap ustad Fariz sambil meletakkan banyak bungkusan di kedua tangannya di atas meja pada sofa tamu untuk menunggu pasien di ruanganku berada.
Semua orang pun mendekat ke arah ustad Fariz.
"Masya Allah merepotkan nak Fariz lagi dan lagi ,"ucap pak Budi sambil tersenyum.
"Insya Allah tidak Pak,"sahut ustad Fariz.
"Mari Bik Siti ,Tante Desi dan Dek Wirda kita makan dulu. Saat menunggu orang terdekat atau siapapun yang sedang sakit kita yang diberi kesehatan wajib menjaga kesehatan kita. Supaya kita yang menunggui mereka juga tidak ikut sakit.Ayo mari silahkan !,"ucap Ustad Fariz kepada semua orang.
"Bismillahirohmanirohim.Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Artinya: "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami, dan karuniakanlah rezeki yang lebih baik dari itu dan peliharalah kami dari siksa api neraka,"ucap ustad Fariz sambil berdoa sebelum memulai makan dan memimpin doa makan bagi Wirda,BikSiti,Pak Budi dan mamanya Kak Roy.
Akhirnya semua orang yang ada di ruangan tempatku dirawat mulai menyantap makanan yang dibawa ustad Fariz meskipun dengan menu sederhana tetapi mereka menikmatinya dan mensyukuri atas rezeki yang diberikan Allah Subhanahu Wa ta'ala.
__ADS_1