Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Bersiasat kembali.


__ADS_3

"Kenapa kamu terkejut melihatku?,"tanya Kak Reno.


"Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain selain mengangguku?,"tanyaku sambil terus menyapu lantai.


"Menganggumu adalah hal yang paling menyenangkan untukku,"ucap Kak Reno sambil mengunyah permen karet.


Aku melangkah mendekatinya dengan masih membawa sapu di tanganku.


"Oh...itu berarti kamu mengakui bahwa kehadiranku membuatmu bahagia!,"ucapku sambil menatapnya tajam.


Kak Reno tersentak dan sedikit meremehkan.


"Terserah apa persepsimu kenyataannya kamu tidak bisa jauh dariku.Itu berarti tanpa engkau sadari hidupmu sudah bergantung padaku secara tidak langsung,"tuturku sambil meneruskan menyapu.


"Ughhhh....wow...kamu terlalu percaya diri sekali.Hahahhaha....dasar perempuan konyol!,"ucap Kak Reno sambil meniup permen karet di mulutnya.


"Itu bukan kekonyolan tapi realita.Yah...tentu saja pemuda pemalas,pemarah dan hanya bergantung pada orang tuanya saja mana mungkin bisa membedakan antara nyata dan ilusi."


"Ohhhh.....kamu sudah berani mengolokku ya sekarang.Apa kamu tidak takut denganku?,"ucap Kak Reno membuang sapu di tanganku dan melemparkannya.


Aku melihat ke arahnya lalu mengambil sapu yang Kak Reno lemparka dan berjalan ke arahnya.


"Aku tidak pernah takut denganmu.Aku hanya takut kepada Allah,Tuhan yang Maha menciptakan.


Dan kamu itu siapa harus membuatku takut,kamu itu hanya manusia pendosa penuh dengan keburukan,"ucapku sambil menunjuk ke arah Kak Reno.


Wajahnya terlihat marah dan sangat kesal.


Lalu ia menarik kedua tanganku.


Wajahnya begitu dekat denganku hingga dapat kulihat tatapan matanya yang penuh kebencian padaku.


Ia meremas lenganku dengan kuat hingga tubuhku sulit untuk ku gerakkan.


Aku menahan rasa sakit.


Dan aku tahu Kak Reno akan semakin senang jika aku merintih kesakitan karena memang itu yang dia inginkan.


"Sakit kan!Rasakan ini,"ucapnya sambil meremas jariku yang terluka.


Astaghfirullah ya Allah kuatkanlah aku,batinku.


Aku tersenyum kecil ke arahnya.


Kak Reno terbelalak melihat ekspresi ku.


"Sekuat apapun dan sebesar apapun kamu berusaha menyakitiku.Aku tidak akan menyerah dan takut padamu.


Meskipun hingga ribuan kali engkau menghancurkan diriku.Aku akan tetap bangkit dan terus berdiri.Sebab, tidak ada satu pun kekuatan yang dapat menjadi tumpuan selain kekuatan dan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta'ala. Hasbunallah Wanikmal Wakil (Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung,"ucapku.


Lalu kudorong tubuhnya menjauh dariku.


Kak Reno kaget ia hampir jatuh.


Namun,dapat menyeimbangkan tubuhnya kembali.


Aku berjalan menjauh darinya.


Kak Reno terlihat kesal lalu menendang ember berisi air untuk mengepel.


PRAkKkkkkkk....


Ember terguling...


Airnya tumpah kemana-mana.


Aku menoleh ke arah Kak Reno yang pergi dengan marah sambil menunjukkan telunjuknya padaku.


"Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih.


(Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya),"ucapku sambil melihatnya pergi menjauh.


 


Semua orang di keluarga Suprapto bersiap menghadiri undangan private dari keluarga Rere.


"Biarkan Rani naik kendaraan umum saja,"ucap Mbak Riska jutek.


"Ini sudah mau malam non Riska.Apa tidak kasihan jika Nak Rani harus naik kendaraan umum.Nanti jika terjadi sesuatu di jalan pada nak Rani.Maka keluarga non Riska yang akan mendapat masalah,"ucap Pak Budi menakuti.


"Hmmmm...bener juga kata Pak Budi.Terus gimana dong pak baiknya? Riska nggak mau satu mobil dengan anak itu,"ucap Mbak Riska ketus.


Pak Budi diam seraya berpikir.


"Begini saja Non Riska,Nak Reno ,Pak Sugeng dan Bu Sri beserta Pak Suprapto naik dengan mobil yang dikendarai oleh Non Riska atau Nak Reno sedangkan Nak Rani biarkan satu mobil dengan saya saja bagaimana non?,"tanya Pak Budi kepada Non Riska.


"Hmmmmm...boleh juga idenya Pak Budi, saya setuju sih. Ya sudah Pak kalau begitu saya dan yang lainnya berangkat duluan nanti Pak Budi menyusul ya dengan anak itu,"ucap Mbak Riska masuk ke dalam mobil yang sudah ditunggu oleh anggota keluarganya.


"Baik Non Riska .Hati-hati ya Non. Baik-baik di jalan,"ucap Pak Budi.


"Lho Ris ,Pak Budi ke mana kok malah kamu yang menyetir?,"tanya Bu Sri dengan sedikit ketus.


"Begini mah Riska menyuruh pak Budi berangkat dengan tuh si Rani. Sementara kita berangkat bersama-sama saja tanpa anak itu. Soalnya Riska jadi bete dan males mah kalau ada anak itu di dekat Riska,"ucap Mbak Riska yang sudah bersiap di sopir kemudi mobil.


"Lho mbak Riska ini bagaimana sih kok mengambil keputusan sendiri. Seharusnya Mbak itu sebelum mengambil keputusan tanya dulu ke Reno jangan mutusin sendiri. Seenaknya saja!,"ucap Kak Reno dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Oh jadi kamu nggak suka dengan keputusan yang mbak Riska ambil. Atau kamu memang ingin satu mobil sama si Rani itu?,"sahut mbak Riska dengan sedikit nada marah.


Pak Sugeng yang mendengar Kak Reno dan mbak Riska saling adu langsung melerai percakapan mereka.


"Sudah.. sudah kalian ini kok malah bertengkar. Hanya karena anak itu kalian malah jadi ribut!,"timpal Pak Sugeng dengan marah..


"Iya sudah, ayo lekas berangkat nanti kita malah mendapatkan macet di jalan. Ris, kamu yakin mau menyetir mobil?,"tanya kakek kepada mbak Riska.


"Iya kek,"sahut mbak Riska lalu ia menghidupkan mesin mobil.


Tidak lama kemudian mobil yang ditumpangin oleh keluarga Suprapto pun melaju.


Sementara aku berdiri di dekat Pak Budi melihat mobil itu pergi.


"Nak Rani ,ayo masuk kita berangkat sekarang!,"ajak Pak Budi padaku.


"Baik Pak,"ucapku.


Setelah berpamitan dengan Bi Siti aku dan Pak Budi pergi menuju ke rumah Rere mengikuti mobil yang dibawa oleh Mbak Riska.


 


Beberapa jam kemudian, mobil yang dikendarai Pak Budi tiba di kediaman Rere.


Kulihat dari kejauhan dari dalam mobil sudah terparkir mobil keluarga Suprapto yang telah duluan sampai.


Aku pun turun dengan perlahan dari mobil.


Dan betapa terkejutnya diriku saat ingin membuka pintu mobil.


Kak Reno sudah berdiri di depan pintu mobil dengan senyumannya yang penuh dengan misteri.


Aku sedikit terkejut sambil berpikir sandiwara apa lagi yang akan ia perankan kali ini.


Bibirnya menyeringai dan matanya penuh dengan kepalsuan.


Aku hanya dapat berharap semoga dia tidak membuat ulah atau hal buruk lagi padaku, gumamku dalam hati.


Sambil melirik ke arahnya aku menutup pintu mobil perlahan ia mendekat kepadaku dan berbisik


"Aku akan membalas apa yang terakhir kali kau lakukan padaku. Dan aku berjanji akan membuatmu malu dan merasa jijik pada dirimu sendiri. Percayalah aku akan benar-benar menyakitimu istriku!,"ucap Kak Reno menakutiku.


Tidak lama kemudian Rere dan Kak Roy keluar menyambut kedatanganku.


"Halo Rani! selamat datang di rumah baruku kamu terlihat cantik malam ini,"puji Rere sambil memelukku.


Mendengar ucapan Rere aku hanya tersenyum simpul lalu Rere menggandeng tanganku masuk ke dalam rumahnya. Tampak anggota keluarga Suprapto yang lain sedang duduk berbincang-bincang berbincang-bincang dengan papa mamanya Rere sambil menikmati makanan yang telah disajikan.


Setelah itu Rere mengenalkanku kepada papa dan mamanya.


Sementara itu, Bu Sri,Mbak Riska dan Pak Sugeng menatapku dengan sedikit sinis.


"Hmmmm...... Mama sepertinya pernah mendengar nama itu. Jika tidak salah Rani itu sahabatmu yang selalu menjadi juara kelas dan menjadi lulusan terbaik di sekolahmu kan?,"tanya mamanya Rere.


"Iya betul sekali mah."


"Selamat malam Rani senang bertemu denganmu lagi,"ucap mamahnya Rere sambil memeluk tubuhku.


Mamahnya Rere menyapaku dengan ramah.


"Hmmmm.... Tetapi kenapa Rani bisa datang bersama keluarga Pak Sugeng?,"tanya mamahnya Rere heran.


"Begini mah Rere akan menjelaskan.


Kami ini ternyata sudah menikah dengan putra dari keluarga Suprapto."


"Maksudnya?,"tanya mamanya Rere yang terlihat bingung.


"Rani ini adalah menantu dari Om Sugeng dan Bu sri mah."


"Oh ... benarkah itu?,"tanya mamanya Rere ragu.


"Iya benar mah, jika mama tidak percaya tanya saja dengan om Sugeng atau Bu Sri."


Lalu untuk meyakinkan dirinya mamanya Rere menanyakan perihal kebenaran pernikahanku dengan Bu Sri.


"Bu Sri saya ingin bertanya, apakah benar Rani ini adalah menantu dari keluarga Suprapto?."


Bu Sri terlihat tidak senang mendengar pertanyaan itu. Diabmelirik ke arah suaminya dan kakek.


Lalu kakek menjelaskan kepada mama dan papanya Rere.


"Iya benar Rani itu memang menantu dari keluarga kami .Dia menikah dengan cucu saya Reno,"ucap kakek tenang.


"Tetapi bagaimana bisa keluarga Suprapto yang sangat besar namanya dan sangat terpandang menikahkan putra tunggalnya dengan perempuan yang latar belakangnya itu sangat berbeda. Yah, boleh dikatakan Rani itu dari keluarga yang tidak mampu lalu bagaimana bisa Pak Suprapto menyetujui pernikahan cucu anda?,"tanya papanya Rere.


Kakek tersenyum kecil.


"Itu ceritanya panjang ya biasalah anak-anak dari keluarga mapan itu menjadi target atau incaran bagi gadis-gadis muda yang memiliki ekonomi sangat rendah atau di bawah garis kemiskinan.Hehehehe... sudah kita bicarakan yang lain saja,"ucap kakek.


"Saya tidak menyangka Bapak mempunyai hati yang besar untuk menerima Rani sebagai bagian dari keluarga Bapak,"puji papanya Rere kepada kakek.


Mendengar ucapan kakek aku hanya dapat beristighfar di dalam hati.


Setelah itu Rere mengajakku ke taman di samping rumahnya hanya berdua saja.

__ADS_1


"Apakah benar yang dikatakan oleh kakeknya Kak Reno tentang dirimu? Jujur aku tidak mempercayainya tetapi kenapa kamu hanya diam tidak membela dirimu?,"tanya Rere ingin tahu.


Namun, sekali lagi aku hanya diam.


"Sekarang kamu sudah banyak berubah ya Ran. Kamu lebih banyak diam, tidak ceria sangat tertutup, tidak seperti Rani yang dulu pernah kukenal."


"Keadaan yang membuatku berubah Re,"jawabku singkat.


"Keadaan seperti apa Ran yang bisa mengubahmu menjadi seperti ini. Sungguh aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa kamu menikah dan bertahan dengan Kak Reno sebagai istrinya. Bukankah dulu waktu di sekolah menengah pertama kamu pernah mengatakan padaku jika kamu tidak ingin menikah muda sebab kamu ingin meraih cita-citamu dan membahagiakan bundamu. Lalu bagaimana bisa kamu lari dari ucapanmu sendiri. Dan aku tahu kamu itu orang yang sangat konsisten dan teguh dalam perkataanmu Ran. Aku yakin sekali pasti ada sesuatu hal yang sangat besar yang memaksamu harus menikah muda terutama menikah dengan pemuda yang sangat jauh dari kriteria mu."


Rere berjalan mendekatiku lalu ia memegang bahuku.


"Ran apakah kamu tidak ingin menceritakan semuanya padaku ?apakah aku ini juga bukan sahabatmu lagi?,"ucap Rere sedikit sedih.


"Bukan begitu maksudku Re. Tetapi aku sendiri juga bingung harus dari mana menceritakannya padamu dan aku takut akan membawa bahkan menyeretmu dalam lingkaran masalahku dan aku tidak menginginkan hal itu. Nanti di saat dan waktu yang tepat jika aku telah mampu untuk mengatakan semuanya padamu dengan hati yang tenang maka akan ku ceritakan semuanya padamu. Tetapi untuk saat ini aku mohon kamu mengerti. Aku tidak bisa mengatakan semuanya sekarang."


"Baiklah Ran, jika itu adalah keputusanmu aku tidak tidak akan memaksakan itu juga hakmu bukan dan kamu juga bebas menentukan apa yang baik dan buruk bagi dirimu sendiri."


"Terima kasih Re untuk pengertianmu."


"Oh ya, ayo kita masuk ke dalam!,"ajak Rere.


Aku pun menerima ajakan Rere.


Dan saat berada di dalam aku merasa aneh dengan tatapan Kak Reno.


Iya menatapku tajam sambil membawa gelas yang berisi minuman di tangan kanannya.


Tatapan yang membuatku merasa sangat tidak nyaman.


Sementara Kak Roy tidak bisa lepas dari gandengan tangan Rere.


Meskipun sesekali mataku dan mata Kak Roy saling bertemu .Namun tidak banyak kata yang keluar dari bibir kami masing-masing.


Tiba-tiba Kak Reno berjalan mendekat ke arahku dengan masih membawa gelas yang berisi minuman.Dan kupalingkan wajahku sebab aku merasa malas melihat dirinya.


Lalu tiba-tiba entah dengan sengaja atau tidak minuman yang ia bawa tumpah mengenai kerudungku.


"Astaghfirullahaladzim," ucapku.


Dengan cepat aku mengambil tisu untuk membersihkan air yang membasahi kerudungku.


Dan semua orang melihat ke arahku.


Dan di saat aku sedang fokus mengelap kerudungku dengan tisu.


Kak Reno dengan cepat menarik tubuhku.


Ia memelukku erat meskipun aku sudah meronta dan dengan lancangnya dia mencium bibirku.


Aku terkejut sekali begitupun dengan semua orang yang ada di sana.


Mendapatkan tindakan yang semena-mena dengan spontan tanganku menampar wajahnya dengan sangat keras.


PRAKKKkk .......


Semua orang terkejut akan tindakanku.


Sementara Kak Reno terlihat tersenyum menyeringai.


"Kamu kurang ajar!," ucapku dengan menitipkan air mata.


Aku merasa malu dan hatiku terasa sangat sakit dan hancur. Dengan air mata yang berderai aku berlari dari ruangan itu menuju keluar rumah dari kediaman Rere.


Huhuhuhu....


Huhuhhuhu....


Dengan menangis sesenggukan .


Aku menghampiri Pak Budi yang sedang duduk mengobrol dengan satpam yang ada di rumah Rere dengan berlari.


Melihat kedatanganku dan kondisiku yang berderai air mata Pak Budi sangat terkejut.


"Apa yang terjadi Nak Rani?,"ucap pak Budi sangat khawatir.


Namun aku terus menangis.


Dan membuat Pak Budi bingung.


"Pak Budi aku mohon bawa aku pergi dari sini,"ucapku sambil terisak.


"Tetapi kenapa nak Rani?,"tanya Pak Budi bingung.


" Tolong pak..... tolong bawa Rani pergi dari sini..... Rani mohon....huhuhuhu.....,"ucapku dengan meminta.


"Ba...baik..nak,"sahut Pak Budi cemas.


Pak Budi membukakan pintu mobil untukku. Perlahan aku pun masuk dengan tetap menangis terisak-isak.


Rasanya perih dan begitu menyayat hatiku. Harga diriku terasa hancur dan runtuh seketika.


Dari dalam mobil kulihat Kak Roy berusaha mengejar diriku.


Bremmmm......

__ADS_1


Dengan cepat Pak Budi menyalakan mesin mobil.


Aku dan Pak Budi pergi meninggalkan kediaman Rere.


__ADS_2