Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Terluka kembali dan hancur lagi.


__ADS_3

Hatiku terasa nelangsa.


Cih....rasanya jijik.


Kali ini Kak Reno benar-benar membuatku malu.


Sungguh tega sekali dirinya mempermalukanku di hadapan semua orang.


Huhuhhuhu.......


Huhuhhuhu......


Teriris seperti tertusuk sembilu.


Air mataku tidak berhenti berderai. Rintihannya begitu terasa sangat menyakitkan.


Malam semakin pekat.


Gelap dan dingin seperti suasana hatiku sekarang.


Pak Budi yang sedang menyetir pun terlihat bingung dan tidak dapat berkata-kata.


Tatapannya iba melihat keadaanku.


"Apakah Nak Rani baik-baik saja? Apa yang Pak Budi bisa lakukan untuk nak Rani?,"tanya Pak Budi cemas.


Kring kring kring!


Suara telepon genggam Pak Budi berbunyi nyaring. Pak Budi melihat sekilas pada layar telepon genggamnya siapa yang menghubunginya. Kemudian Pak Budi menepikan mobilnya sebentar untuk mengangkat seseorang yang sedang menelpon dirinya. Pak Budi menyalakan speaker dari telepon genggamnya sehingga aku pun dapat mendengar percakapan antara Pak Budi dan Kak Roy. Meskipun saat ini kondisiku sedang sedih.


"Assalamualaikum Pak Budi," tanya Kak Roy.


"Wa'alaikumsalam Nak Roy,"jawab Pak Budi.


"Pak Budi, apakah saat ini Rani sedang bersama Bapak?,"tanya Kak Roy dengan suara cemasnya.


"Iya nak Roy saat ini nak Rani sedang bersama saya. Saya bingung nak Roy dari tadi Nak Rani tidak berhenti menangis. Sebenarnya apa yang terjadi kepada nak Rani?,"Pak Budi balik bertanya.


"Ceritanya panjang Pak tetapi untuk saat ini saya mohon Bapak menjaga Rani ya pak."


"Tentu nak Roy."


"Bisakah Pak Budi sekarang mengirimkan saya lokasi keberadaan Pak Budi dan Rani?,"ucap Kak Roy ingin tahu.


"Baik nak sebentar saya tutup dulu teleponnya. Saya akan kirimkan lokasinya kepada nak Roy,"Pak Budi menjawab.


"Baiklah Pak saya tunggu pesan dari bapak. Dan selama saya belum datang ke lokasi saya mohon bapak untuk menjaga Rani,"pinta Kak Roy kepada Pak Budi.


"Insya Allah Iya nak,"jawab Pak Budi.


Beberapa saat kemudian Pak Budi menutup teleponnya.


"Apakah nak Rani ingin minum atau menginginkan sesuatu?," tanya Pak Budi kepadaku.


Namun sekali lagi aku hanya tetap diam terpaku melihat jalan yang sunyi ,sepi dan gelap dengan tatapan mata yang seolah kosong.


Lalu terdengar lantunan ayat suci Al-Quran dari sebuah mikrofon yang menggema pada sebuah masjid tak jauh dari mobil kami yang sedang menepi.


Merdu suara sang Qori hingga memecah lamunanku seketika.


Suaranya seperti medan magnet yang menarikku kesana.


Hatiku yang kini resah dan gundah gulana menjadi syahdu seketika.


Mataku menatap ke depan dan dengan sedikit nafas panjang aku menyeka air mataku yang berlinang membasahi wajahku.


Aku membuka pintu mobil perlahan.


"Nak Rani mau kemana?,"tanya Pak Budi cemas.


Aku melihat ke arah ke Pak Budi sambil berkata, "Pak Rani ingin ke masjid itu sebentar. Rani ingin mencari ketenangan sekaligus Rani ingin melaksanakan salat isya karena tadi Rani belum salat."


"Baiklah nak Rani kalau begitu bapak juga ikut ke sana ,sekaligus bapak juga akan salat isya .Bapak juga belum salat tadi. Oh... iya bukankah masjid itu sepertinya pernah kita datangi sebelumnya?,"tanya Pak Budi sambil melihat ke arah masjid yang ingin aku datangi.


Setelah mendengar ucapan Pak Budi aku melihat jalan di sekitar mobil kami menepi. Lalu mengamati masjid yang akan aku dan Pak Budi datangi.


"Iya Pak Budi sepertinya memang benar kita pernah lewat di sini. Itu adalah masjid yang tempo hari kita singgahi saat hujan lebat disertai angin kencang,"ucapku dengan pelan.


"Iya nak Rani, betul sekali bapak juga ingat. Ya sudah, kita ke sana saja ya sekarang,"ajak Pak Budi padaku sambil menyalakan mesin mobil.


Bremmmm.....


Mesin mobil pun menyala dan mobil maju perlahan menuju masjid yang akan kami singgahi.


Tidak lama kemudian aku dan Pak Budi sudah tiba di halaman masjid. Saat aku turun dari mobil dan melangkahkan kakiku masuk ke dalam masjid entah kenapa hatiku merasa sangat tenang, damai dan merasakan sesuatu yang menarikku begitu kuat.


Akh .....mungkin ini adalah bentuk kerinduanku akan rumah Allah yang sudah jarang aku datangi ucapku dalam hati.


Aku menoleh ke arah Pak Budi ia sedang memeriksa telepon genggamnya.


"Pak Budi sedang apa?," tanyaku.


Bapak sedang membalas pesan dari nak Roy, nak Rani. Bapak mengirim ulang lokasi kita berada saat ini.


"Apakah Bapak sudah mengirimkan lokasi keberadaan kita sekarang?,"tanyaku kepada Pak Budi.

__ADS_1


"Belum nak Rani, Bapak baru saja mau menekan tombol kirim,"jawab Pak Budi padaku.


"Sebaiknya Pak Budi tidak usah mengirim lokasi kita berada saat ini,"pintaku kepada Pak Budi.


"Kenapa nak ?sepertinya nak Roy sangat mencemaskan keadaan nak Rani ,"tanya Pak Budi padaku dengan sedikit heran.


"Rani tidak ingin merepotkan Kak Roy Pak. Apalagi saat ini Kak Roy itu sudah menikah. Dan Rani tidak ingin membuat Rere selaku istrinya Kak Roy menjadi salah paham akan perhatian Kak Roy kepada Rani,"jawabku pelan dan sedikit lesu.


"Iya nak, Pak Budi mengerti akan hal itu. Tetapi nak Rani tahu kan jika Nak Rot itu menikah karena terpaksa dan di bawah tekanan dari keluarga Suprapto. Dan bapak juga tahu sebenarnya Nak Roy itu sangat mencintai Nak Rani tetapi keadaan tidak memihak hatinya untuk bersama orang yang dicintainya yaitu Nak Rani."


Aku terdiam mendengar ucapan Pak Budi.


"Rani tahu Pak dan sangat memahami keadaan Kak Roy. Tetapi akan jauh lebih baik jika Kak Roy tidak kemari menemui Rani.


Rani tidak ingin kak Roy mendapatkan masalah lagi karena Rani ,Pak,"ucapku dengan raut wajah sedih.


"Bapak mengerti nak. Baiklah jika itu keputusan Nak Rani. Bapak tidak akan mengirimkan lokasi kita berada saat ini kepada Nak Roy. Meskipun sebenarnya bapak kasihan kepada Nak Roy. Tetapi seperti yang dikatakan Nak Rani demi kebaikan Nak Roy dan kita semua.


Ya sudah Bapak menurut saja apa yang Nak Rani katakan,"tutur Pak Budi padaku.


"Terima kasih Pak. Baiklah kalau begitu Rani mengambil air wudhu dulu ya pak,"ucapku kepada Pak Budi.


"Iya Nak Rani, bapak juga akan mengambil air wudhu,"sahut Pak Budi.


"Baik Pak nanti kita bertemu lagi di sini ya,"ucapku pelan.


Setelah selesai mengambil air wudhu aku masuk ke dalam masjid dan menunaikan salat tahiyatul masjid sebelum melaksanakan salat isya.


Sebagai bentuk penghormatan terhadap Masjid, sebagaimana layaknya perumpamaan seseorang masuk ke rumahnya dengan mengawali ucapan salam, dan juga sebagaimana pula seseorang yang mengucapkan salam kepada sahabatnya disaat keduanya bertemu.


Salat tahiyatul masjid juga dimaknai sebagai pembuka komunikasi kita dengan masjid dan sebagai pusat pengabdian kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.


Tidak berapa lama kemudian aku sudah selesai melaksanakan salat.


Sambil duduk aku pun berdzikir untuk menguatkan hatiku terhadap hal-hal buruk yang kuterima.


"Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir."


Artinya: “ Tidak ada Tuhan selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kekuasaan dan milik-Nya lah segala pujian. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Atasnya kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,"ucapku lirih berusaha untuk menenangkan hatiku.


Bibirku bergetar.


Air mataku turun.


Nyeri... nyeri dan sesak relung hatiku terasa terbakar.


Saat memori di pikiranku teringat kembali akan perlakuan Kak Reno padaku.


Cih....


Lalu aku mengelap bibirku dengan jemariku berulang kali.


Hingga air mataku semakin berlinang membasahi wajahku yang semakin sembab.


"Astaghfirullahaladzim .Ya Allah ampunilah aku, kuatkanlah aku ya Allah", ucapku dengan suara lirih dan bibir bergetar.


Huhuhhuhu......


Huhuhhuhu......


Tangisku semakin terisakbdan aku betul-betul bersimpuh di hadapan Allah meluapkan semua kegundahan dan kesedihanku.


Dengan berderai air mata aku terus membaca lantunan dzikir tanpa memperdulikan orang di sekitarku.


Aku begitu sangat khusyuk dan menikmati kalimat demi kalimat dzikir yang kulontarkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala supaya hatiku menjadi kuat kembali.


Suara lirihku tersamar pelan dalam gema suara lantang seorang Qori yang membaca ayat suci Alquran.


Aku terbius saat mendengarkan lantunan suara merdu sang Qori yang begitu sangat menggugah hatiku.


Kali ini hatiku bergetar tetapi bukan karena rasa sakit yang aku terim.


Melainkan sebuah rasa takjub akan kerinduanku yang membutuhkan cinta dari Sang Pencipta yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Aku pun menyimak Qori membaca ayat kursi yang termasuk dalam surat Al-baqarah ayat 255.


"Allahu la ilaha illa huw, al-hayyul-qayyum, la ta`khuzuhu sinatuw wa la na`um, lahụ ma fis-samawati wa ma fil-ard, man zallazi yasyfa'u 'indahu illa bi`iznih, ya'lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum, wa la yuhituna bisyai`im min 'ilmihi illa bima sya`, wasi'a kursiyyuhus-samawāti wal-ard, wa la ya`uduhu hifzuhumāa, wa huwal-'aliyyul-'azim."


Artinya: “ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."


Entah kenapa suara qori ini tidak asing bagiku aku merasa pernah mendengar suara merdu ini sebelumnya.


Aku berusaha memutar kembali ingatanku dan membuka file memori ku untuk mengetahui siapa gerangan pemilik suara merdu ini.


Namun, seketika hasratku untuk berusaha mengingat suara itu hilang seketika.


Saat terdengar ada seseorang yang memanggil namaku dengan kuat namun tidak berteriak.


"Rani ....nak Rani!.


Lalu aku pun mencari sumber suara itu dan melihat di sekitarku dan ternyata seseorang yang memanggilku adalah Pak Budi.


Aku menggangguk ke arah Pak Budi menandakan bahwa aku mendengar panggilannya.


Dengan segera pula aku melepaskan mukena lalu melipatnya dan menaruhnya di tempat semula dengan rapi setelah itu aku bergegas menemui Pak Budi.

__ADS_1


"Nak Rani mari kita pulang sekarang. Saya takut Pak Sugeng dan yang lainnya akan sangat marah jika kita pulang terlambat,"ucap Pak Budi.


Mendengar kata pulang wajahku menjadi sendu kembali. Dan aku tahu Pak Budi mengetahui perasaanku saat ini tidak nyaman untuk pulang ke kediaman keluarga Suprapto.


Tetapi, dengan berat hati aku menerima ajakan Pak Budi untuk pulang.


Dengan melangkah sedikit malas aku dan Pak Budi berjalan menuju mobil yang diparkir di halaman masjid.


Namun, sebelum sempat aku dan Pak Budi masuk ke dalam mobil.


Terdengar suara seseorang sedikit berteriak memanggil Pak Budi.


Sehingga membuatku dan Pak Budi menoleh ke belakang dan mencari suara tersebut.


"Pak Budi...!."


Teriak seseorang yang berjalan menuju ke arahku dan Pak Budi.


Dari kejauhan wajahnya terlihat samar. Tetapi setelah ia mendekat aku dan Pak Budi mengenal sosoknya.


"Oh...Masya Allah Nak Fariz rupanya Pak Budi kira siapa yang memanggil Pak Budi,"ucap pak Budi dengan tersenyum.


"Iya Pak maaf saya mengagetkan Pak Budi ya. Alhamdulillah akhirnya kita bertemu lagi Pak Budi. Saat berada di dalam tadi saya kurang yakin apakah saya melihat Pak Budi atau tidak.


Tetapi ,setelah saya amati ternyata memang benar Pak Budi ada di sini. Lalu dengan cepat saya mengejar Pak Budi. Oh ya pak Budi sedang apa di sini?,"tanya ustadz Fariz kepada Pak Budi.


"Oh ,saya dan nak Rani tadi singgah melaksanakan salat isya. Ngomong-ngomong nak Fariz sedang apa di sini?,"tanya Pak Budi.


"Fariz di sini mengisi tadarus dan tadabur Quran Pak Budi. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap malam ba'da sholat isya di masjid ini. Pak Budi jika senggang dan memiliki kelonggaran waktu bisa bergabung di sini kapan-kapan jika Pak Budi menginginkan sekaligus dengan dek Rani juga bisa ikut,"ucap ustaz Fariz dengan senyum.


"Insya Allah nak Fariz,"jawab Pak Budi.


"Oh ya dek Rani apa kabarnya,"tanya ustad Fariz padaku.


"Alhamdulillah saya baik ustad,"jawabku.


"Tetapi maaf saya melihat dek Rani sepertinya kurang baik.Apakah dek Rani ini sedang sakit atau mengalami masalah?,"tanya ustaz Fariz padaku.


Mendengar pertanyaan ustadz Fariz aku agak sedikit kaget dan melirik ke arah Pak Budi.


"Alhamdulillah saya baik ustad,"jawabku pelan meyakinkan ustaz Fariz.


"Oh benarkah begitu. Mungkin saya salah melihat dan salah menafsirkan keadaan dek Rani,"ucap ustadz Fariz sambil sedikit berpikir.


"Ya sudah nak Fariz kami izin pulang dulu soalnya sudah malam. Nanti kapan-kapan jika ada waktu insya Allah saya berkunjung ke rumah nak Fariz,"ucap pak Budi dengan sedikit tergesa.


"Oh iya baik Pak Budi, silahkan."


Namun, belum sempat aku dan Pak Budi pamit kepada ustad Fariz tiba-tiba Kak Roy datang.


"Bagaimana keadaanmu? kakak sangat mengkhawatirkanmu?,"ucap Kak Roy dengan terengah-engah dan wajah yang sangat cemas.


Aku sangat terkejut melihat Kak Roy tiba-tiba ada di hadapanku.


"Bagaimana Kak Roy bisa tahu Rani berada di sini? tanyaku kepada Kak Roy."


"Tadi setelah Pak Budi mengirimkan lokasi keberadaanmu yang pertama kakak terus mencari tetapi tidak menemukanmu dan Pak Budi.


Lalu entah kenapa naluri hati kakak tergerak untuk ke sini.Dan benar saat di parkiran kakak melihat mobil yang dikendarai Pak Budi ada di sini. Mungkin Allah menuntun kakak untuk mencarimu Ran,"ucap Kak Roy.


"Seharusnya Kak Roy tidak mencariku."


"Kenapa Ran? kakak sungguh sangat mengkhawatirkan dirimu."


"Rani tidak ingin kak Roy mendapat masalah karena Rani. Dan Rani juga tidak ingin jika Rere salah paham dengan kedekatan kita,kak.


Dan yang terpenting sekarang Kak Roy harus tahu bahwasanya Kak Roy sudah menikah dan memiliki seorang istri yang bernama Rere.


Dan Rere adalah sahabatku ,kak.


Dan aku tidak ingin membuatnya terluka dan sakit hati karena Rani tahu dia sangat mencintai Kak Roy,"ucapku dengan emosional.


"Lalu bagaimana dengan perasaan kakak padamu Ran? apakah kamu tidak peduli sama sekali? Apakah kakak tidak berarti bagimu?,"tanya Kak Roy.


Dan aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Kak Roy.


"Meskipun Rere menjadi istri kakak atau siapapun itu. Di dalam hati kakak hanya ada kamu seorang Ran tidak ada wanita lain yang dapat menggantikan posisimu sampai kapanpun. Dan kakak ingin kamu tahu Ran, kakak benar-benar sangat mencintaimu,"ucap Kak Roy dengan mata berkaca-kaca.


Aku melihat ke arah Kak Roy. Hatiku terasa tersayat melihatnya seperti itu .aku benar-benar merasa sangat bersalah padanya.


"Tetapi saat ini kita sudah menjauh Kak dan masing-masing dari kita sudah terikat oleh sebuah hubungan yang membatasi perasaan kita untuk saling mencintai,"ucapku pelan.


"Jangan bicara seperti itu Ran. Kita akan bersama-sama mencari solusi atas semua permasalahan yang membelenggu diri kita, masalah yang membatasi perasaan kita,masalah yang merampas rasa cinta yang kita miliki untuk bersama. Dan kakak hanya butuh dirimu untuk meyakinkan dan menguatkan diri kakak dalam melalui semua ujian ini,"pinta Kak Roy padaku.


Dan saat aku dan kak Roy sedang mengutarakan kata.


Tiba-tiba....


PLAKkkkkkk....


Kak Reno datang memukul wajah Kak Roy hingga Kak Roy jatuh tersungkur di atas tanah.


Dan melihat kejadian itu aku pun berteriak histeris.


"Astagfirullah, Kak Roy....".

__ADS_1


__ADS_2