Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Pertemuan.


__ADS_3

Malam ini langit begitu terlihat gelap tanpa adanya kerlap-kerlip bintang yang menghiasinya. Bahkan rembulan pun tidak ingin keluar menghadirkan sinarnya yang memenangkan.Dedaunan pada pohon yang rimbun pun hanya diam membatu tanpa melambai untuk menyapa. Pun juga tak terdengar suara jangkrik meski malam begitu hening. Pandangan mataku menatap ke arah luar kaca jendela besar ,dimana tirainya sengaja sedikit ku buka. Aku duduk pada sofa dan membenamkan pikiran akan perkataan Ummah yang terus terlintas di benakku. Cekrek..


Suara pintu kamar terbuka, dan ku lihat Mas Fariz masuk perlahan dengan membawa bungkusan besar di kedua tangannya. Aku pun langsung berdiri membantunya.


"Sini mas Rani bantu, " ucapku sambil melihat ke arah Mas Fariz.


Mas Fariz tersenyum memandang diriku, "Tidak usah Dek. Kamu duduk saja, Mas kira kamu sudah tidur Dek. "


"Belum mas, Rani belum mengantuk, " jawabku sambil tersenyum kecil.


Mas Fariz lalu meletakkan dua bungkusan besar itu di dekat sofa tempatku duduk semula. Dan aku pun lalu duduk secara lesehan di permadani dekat sofa bersamaan dengan Mas Fariz.


Mas Fariz yang juga duduk sambil memegang dua bungkusan besar itu, lalu memandang ke arah diriku, "Mengapa Dek Rani belum mengantuk? Apakah ada sesuatu hal yang menganggu pikiran Dek Rani?. "


Aku mengangguk.


"Apa itu Dek?, " ucap Mas Fariz lalu meletakkan bungkusan yang ia pegang.


"Ummah Mas, " jawabku pelan.


Mas Fariz tersenyum kecil kepadaku, "Alhamdulillah Ummah sudah tenang Dek, tadi barusan Mas dan Dek Rafa melihat Ummah di kamarnya. Meskipun Ummah masih meminta Mas untuk mengajak Dek Rani menjauh sementara waktu dari sini. "


Aku memandang serius Mas Fariz, "Lalu apa yang Mas katakan kepada Ummah?. "


"Mas meminta waktu untuk berpikir dan menanyakan juga akan keputusan Dek Rani mengenai permintaannya Ummah, " jawab Mas Fariz.


Aku terdiam dan memandang dua bungkusan besar di dekat diriku dan Mas Fariz.


"Apa ini Mas?, " tanya ku sambil memegang bungkusan besar di dekatku.


"Ini buku-buku tentang agama Dek, ingin Mas bawa dan sumbangkan besok saat Mas diminta untuk mengisi tausyiah, " jawab Mas Fariz sambil menatap diriku.


"Mengisi tausyiah dimana Mas?boleh Rani ikut bersama Mas Fariz?, " tanyaku dengan rasa ingin tahu.


"Benar Dek Rani ingin ikut?, " tanya mas Fariz.


Aku mengangguk.


"Tetapi tempat yang akan mas datangi untuk memberikan tausiyah dan pengajaran tentang ilmu agama bukan tempat biasa seperti di masjid Dek, " jelas Mas Fariz padaku.


Aku tersenyum kecil memandang raut wajah Mas Fariz yang menatap diriku, "Tidak apa -apa Mas, mau dimana pun tempatnya. Baik di masjid, di gedung, di rumah atau pun Lapas sekali pun tidak masalah untuk Rani. "


Mas Fariz terkejut mendengar perkataanku, tetapi ia tetap diam.


Dan aku pun melanjutkan perkataan ku kepada Mas Fariz, "Rani ingin menemani dan melihat langsung Mas Fariz untuk berdakwah menyiarkan agama Allah. "


Mas Fariz tersenyum kecil lalu mengusap kepalaku perlahan, "Baiklah Dek. Jika begitu sekarang Dek Rani segera istirahat ya. InsyaAllah besok pagi kita akan berangkat. "


"Baik Mas, lalu apakah Mas tidak istirahat juga?, " tanyaku memandangnya.


"Mas, masih mengerjakan dan mengecek beberapa file perusahaan Dek, " balas Mas Fariz.

__ADS_1


Aku menatapnya, "Kalau begitu, Rani akan menemani Mas saja. Sebab Rani belum mengantuk Mas. "


Mas Fariz tersenyum dan mengusap kembali kepalaku yang tertutup hijab , "Jika Dek Rani menemani Mas, maka pandangan kedua mata Mas akan selalu tertuju padamu Dek. "


Aku menatap wajah Mas Fariz heran, "Mengapa bisa seperti itu Mas?. "


"Sebab, wajah Dek Rani mengalihkan pandangan mata Mas untuk selalu menatap dirimu Dek, " jawab Mas Fariz sambil memegang kepalaku.


Aku tersipu malu sambil menundukkan pandangan ku dari Mas Fariz. Dengan pelan Mas Fariz lalu mengangkat wajahku dengan jemari tangannya. Mata kami beradu dan aku pun berusaha menundukkan pandangan mataku lagi darinya. Tetapi Mas Fariz terus mengangkat wajahku untuk menatap matanya. Sekujur tubuhku terasa bergetar setiap pandangan mata kami terus bertemu. Jantungku terus berdegup dengan kencang dalam debaran yang terus bergejolak membuatku tegang, saat perlahan demi perlahan Mas Fariz mendekati diriku, dan meletakkan wajahnya begitu dekat dengan wajahku.


Bulu romaku semakin bergidik ketika merasakan setiap hembusan nafasnya yang mengenai wajahku. Untuk beberapa saat, diriku begitu terhipnotis akan belaian lembutnya yang mengusap halus wajahku.


Senyuman nya merekah menatapku dan membuatku terpaku dalam kejutan, saat dengan tenang dan lembut bibirnya mengecup lembut bibirku.


Malam ini kami menjadi dekat.


***


Keesokan paginya,setelah selesai sarapan bersama keluarga dan menyiapkan semua barang yang akan di sumbangkan ke lapas tempat Mas Fariz akan memberikan tausiyah. Aku dan Mas Fariz pun sudah bersiap di mobil yang di kendarai oleh Pak Budi dan Bik Siti yang juga ikut serta.


Selama di perjalanan seperti biasa Bik Siti selalu mengeluarkan candaannya untuk menggoda diriku dan Mas Fariz. Pandangan mataku sesekali melihat ke arah jalan yang dilalui.


"Rasanya jalan ini tidak asing bagiku, dan sepertinya sudah beberapa kali aku melewati jalan ini, " ucapku di dalam hati.


Dan benar saja semakin lama, laju mobil yang dikendarai oleh Pak Budi membawa kami ke tempat yang tidak asing bagiku.


"Lho, ini kan tempat dimana Nak Reno ditahan, " ucap Bik Siti terkejut.


"Pak Budi, kenapa Nak Fariz kemari?, " tanya Bik Siti lagi yang menepuk bahu Pak Budi.


Pak Budi yang telah selesai memarkirkan mobil, dan mengajak semua orang untuk turun pun menoleh ke arah Bik Siti, "Nak Fariz memang akan bertausiyah di lapas tempat Nak Reno ditahan bik. "


Bik Siti terkejut dengan wajah syoknya lalu memandang Mas Fariz yang tengah melepaskan seat belt.


"Nak Fariz apa tidak saya tidak salah dengar?, " ucap Bik Siti dengan wajah seakan-akan tidak percaya.


Setelah selesai melepaskan seat belt Mas Fariz yang duduk di kursi depan bersebelahan dengan Pak Budi pun menoleh ke arah Bik Siti, "Iya Bik benar apa yang di katakan Pak Budi, jadi Bibi tidak salah dengar. "


Bik Siti menelah ludahnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar, "Mengapa Nak Fariz mau bertausiyah kemari? Bagaimana jika Nak Fariz bertemu dengan Nak Reno? Bagaimana jika nak Reno tahu jika Nak Fariz dan Nak Rani sudah resmi menikah?. "


Bik Siti terlihat cemas dan menunjukkan rasa khawatir serta ketakutannya. Dan aku pun berusaha untuk menenangkan Bik Siti dengan mengusap lembut punggung Bik Siti.


Bik Siti pun langsung menoleh kearah ku dengan wajahnya yang penuh dengan pikiran.


"Ayo, Bik kita turun, " ajakku.


Bik Siti memegang lenganku, "Apakah Nak Rani tahu jika Nak Fariz akan bertausiyah di lapas tempat Nak Reno berada?. "


Aku mengelengkan kepala.


Lalu Bik Siti melihat lagi ke arah Mas Fariz yang melihat Bik Siti, "Ada apa ini Nak Fariz? Jika Bu Putri tahu beliau pasti tidak suka melihat hal ini. "

__ADS_1


Namun, Mas Fariz tersenyum kecil dan bersikap tenang, "Bik, memangnya ada apa dengan Dek Reno?. "


Pertanyaan dari Mas Fariz membuat Bik Siti kebingungan, "Yah... Yah... Nak Reno kan.. nak Reno kan mantan suaminya Nak Rani, Nak Fariz. Maaf jika bibi mengatakan ini ya Nak Fariz, bibi takut jika kalian berdua bertemu lagi dengan Nak Reno , maka dia akan membuat masalah dengan kalian. Bibi hanya ingin terus melihat Nak Fariz dan Nak Rani selalu bahagia serta jauh dari semua orang-orang jahat yang ingin merusak dan menganggu hubungan kalian berdua. "


Mas Fariz melirik ke arahku yang hanya diam dan bersikap tenang. Dan aku pun mengetahui jika Mas Fariz menatap diriku, seolah-olah ia ingin melihat respon ku.


"Dimana pun kita bertausiyah itu tidak masalah Bik, yang terpenting niat kita ikhlas dan lillah karena Allah Ta'ala untuk mengajak semua orang menuju kebaikan dalam mengharap keridhaan-Nya. Dan masalah Dek Reno, InsyaAllah tidak akan mempengaruhi hubungan saya dan Dek Rani, Bik Siti. Dek Reno adalah masa lalu nya Dek Rani. Dan saya adalah masa depan Dek Rani. Bik Siti tidak usah cemas, serahkan segala sesuatu nya kepada Allah, karena niat kita datang kemari dengan niat yang baik.Maka Allah pula yang akan menjaga dan melindungi saya dan Dek Rani dari pengaruh yang buruk. "


"Tapi nak Fariz, " ucap bik Siti seakan belum dapat menerima apa yang dikatakan oleh Mas Fariz.


Dan buru -buru, aku pun mengusap punggung Bik Siti, "Bik, apa yang di katakan Mas Fariz benar. Lagi pula Rani juga tidak masalah akan keberadaan Kak Reno. Karena saat ini ada Mas Fariz yang berada di sisi Rani, sebagai suami dan Imam Rani, Bik. "


Mas Fariz tersenyum memandang diriku pun sebaliknya aku pun juga tersenyum memandang nya.


Tidak lama kemudian, kami semua turun dari mobil. Dimana kedatangan Mas Fariz sudah disambut oleh petugas. Sementara diriku berada di samping Mas Fariz .


Bik Siti yang terlihat terdiam segera ikut membantu Pak Budi menurunkan barang-barang untuk di sumbangkan ke lapas.


"Pak Budi, saya tidak mengerti akan jalan pikiran Nak Fariz yang mau menerima bertausiyah di tempat Nak Reno berada. Apalagi dengan adanya Nak Rani yang ikut serta, bukankah Pak Budi juga mengetahui jika Nak Reno masih menaruh perasaannya terhadap Nak Rani, " gumam Bik Siti kepada Pak Budi sambil menurunkan barang -barang dari bagasi mobil.


Pak Budi yang juga menurunkan barang, lalu melihat kearah Bik Siti, "Sudahlah Bik, kita tidak usah ikut campur dan masuk terlalu dalam akan keputusan yang diambil oleh Nak Fariz. Saya yakin Nak Fariz sudah memikirkan semuanya dengan seksama, apalagi Nak Fariz juga orang berilmu dan memiliki pengetahuan yang luas, sehingga tidak mungkin ia menerima untuk mengisi tausiyah disini tanpa pertimbangan yang matang."


Bik Siti terdiam mendengar perkataan Pak Budi.


"Ayo , Pak Budi, " panggil Mas Fariz.


"Iya Nak Fariz, " sahut Pak Budi sambil mengangkat barang-barang untuk di masukkan ke dalam.


Aku menatap Mas Fariz yang sedang membantu Pak Budi, dan tidak disadari oleh Mas Fariz.


Perlahan demi perlahan langkah kakiku dan Bik Siti mengikuti dari belakang Mas Fariz yang berjalan beriringan dengan Pak Budi.


***


"Hari ini Nak Reno terlihat begitu bahagia dan sumringah, " ucap Pak sipir memandang ke arah Kak Reno.


Kak Reno tersenyum, "Alhamdulillah Pak. "


Pak sipir heran dan bertanya akan hal yang membuat Kak Reno terlihat bahagia.


Kak Reno pun dengan cepat menjawab pertanyaan dari Pak sipir, "Saya bahagia Pak, karena Ustad yang akan mengisi tausiyah hari ini di lapas sudah saya kenal, dan saya dapat menanyakan keadaan serta kabar Dek Rani darinya nanti jika saya bertemu dengan beliau. "


Pak sipir tersenyum, "Oh pantas saja, sejak tadi saya lihat Nak Reno sudah siap dan bersemangat sekali. Rupanya hal ini berkaitan dengan pujaan hatinya Nak Reno. "


"Hahahaha, bapak bisa saja menggoda saya, " ucap Kak Reno.


Perasaan Kak Reno tidak menentu, dia begitu ingin segera dapat bertemu dan mengobrol dengan Mas Fariz untuk bertanya banyak hal tentang keadaan diriku.


Pandangan mata Kak Reno terus tertuju pada pintu masuk untuk dapat segera melihat Mas Fariz segera hadir di hadapannya.


Pak sipir lalu menepuk bahu Kak Reno pelan, "Ya sudah Nak Reno bapak permisi dulu. Tetapi ingat jangan terlalu berharap penuh pada sesuatu hal yang nantinya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan."

__ADS_1


Kak Reno mengangguk dan duduk diam menunggu kedatangan Mas Fariz.


__ADS_2