
Rani tertidur sangat pulas sekali bersama Fariz, di saat aku dan Wirda tengah asyik mengobrol. Aku lalu turun ke bawah menemui Kak Roy, setelah menitipkan Rani pada Wirda yang juga ikut merebahkan dirinya di atas ranjang tempat tidurku.
Dari kejauhan kulihat Kak Roy tengah asyik berbicara dengan Pak Budi, dimana Abi dan Enjid telah beranjak naik ke lantai atas menuju kamar masing-masing untuk beristirahat, karena lelah.
Aku langsung menghampiri Kak Roy dan menyapa dirinya. Ia pun terkejut dengan kehadiran diriku di hadapannya.
"Rani!, " ucap Kak Roy kaget.
Aku tersenyum padanya dan langsung duduk di hadapannya.
"Rani sedang tidur Kak Roy. Jika Kak Roy ada pekerjaan dan ingin pulang, tidak apa-apa. Nanti biar Rani akan mengantarkannya pulang bersama Pak Budi, ke rumah Kak Roy."
Kak Roy mengangguk, "Iya Rani, maaf ya jika putri kakak merepotkan dirimu."
Aku mengeleng-gelengkan kepalaku pelan, "Tidak Kak, Rani tidak merepotkan diriku. Kak Roy tidak usah berpikiran seperti itu. "
Kak Roy terdiam memandang diriku.
"Ya sudah kalau begitu, Rani naik ke atas Kak. Kak Roy dapat melanjutkan percakapannya lagi dengan Pak Budi, " kataku.
Aku beranjak dari duduk ku dan hendak berjalan menjauh darinya. Namun, Tiba-tiba Kak Roy memintaku untuk mengobrol sebentar dengan dirinya.
Akh, sebenarnya aku enggan. Tetapi raut wajahnya seakan memohon padaku, hingga membuat diriku menerima permintaannya.
Kak Roy mengajakku mengobrol di taman depan rumah, dan aku pun menerimanya.
Sesampainya disana, aku duduk di kursi taman yang kemudian di ikuti oleh Kak Roy.
"Apa yang ingin Kak Roy bicarakan padaku?."
Kak Roy terdiam cukup lama dan bepikir. Sementara itu, aku pun diam menunggu jawabannya.
Raut wajah Kak Roy tampak serius memandang diriku, dan itu membuatku merasa tidak nyaman.
Aku memalingkan wajahku darinya, dan melihat ke arah bunga -bunga yang bermekaran.
Lama aku menunggu Kak Roy untuk berkata, tetapi ia hanya diam tidak bergeming. Aku pun merasa hanya membuang waktu saja, hingga lisanku gatal untuk berkata padanya.
"Mengapa Kak Roy diam saja? Bukankah tadi Kak Roy ingin mengatakan sesuatu dan mengobrol. Jika tidak ada yang ingin di katakan,lebih baik aku masuk ke dalam saja, " ucapku.
__ADS_1
Kak Roy pun langsung bergeming, setelah mendengar ucapanku.
"Iya Rani sebentar, aku sedang mengolah kataku sebelum bertutur kepada dirimu. "
"Apa yang membuat Kak Roy berpikir terlalu lama, hanya untuk berbicara padaku, " tegas ku.
Kak Roy kembali terdiam dan itu membuatku semakin tidak tahan dengan sikapnya.
Dengan segera aku pun bangun dari duduk ku, dan berusaha untuk beranjak pergi dari hadapannya. Namun, sekali lagi Kak Roy memintaku untuk sebentar saja duduk di dekat dirinya.
"Kak Roy, apa yang sebenarnya hendak kakak bicarakan. Jika hanya diam menghabiskan waktu seperti ini, maaf lebih baik aku segera masuk ke dalam saja, " ucapku padanya.
Kak Roy memandang ke arahku dengan wajahnya yang sendu, "Rani, ku mohon jangan kesal seperti itu. Aku hanya ingin duduk di dekatmu saja. Lisanku terasa keluh untuk berbicara padamu, meski banyak hal yang ingin ku katakan padamu. Tetapi saat dirimu berada di hadapanku, aku tidak dapat berkata apapa padamu. "
Aku mengeleng-gelengkan kepala ku,mendengarkan apa yang Kak Roy katakan. Dan tiba-tiba Bik Inah datang memanggilku dan Kak Roy untuk makan siang bersama, dimana Ummah, Abi dan Enjid sudah menunggu di ruang makan.
Mendengar Bik Inah berkata seperti itu, aku pun segera memanfaatkan momen ini untuk masuk ke dalam. Dimana Kak Roy dengan berat hati pun langsung bangun dari duduknya dan menyusul diriku.
Aku pun mengatakan pada Bik Inah u melihat keadaan Rani terlebih dulu, sebelum ke ruang makan.
Bik Inah pun mengangguk dan mengajak Kak Roy untuk ikut bersamanya ke ruang makan.
Setibanya di kamar kulihat Rani, Fariz dan Wirda masih terlelap. Aku duduk di pinggir ranjang tempat tidur, sembari memandangi mereka. Dan entah mengapa aku enggan untuk ke ruang makan. Yah,mungkin ada Kak Roy disana.
"Mama! Rani rindu sekali dengan mama, " ucapnya lirih dengan memeluk erat tubuhku.
Aku terkejut melihat ia sudah terbangun.
Tetapi dengan segera aku pun membalas pelukannya, dan menggendong tubuhnya dalam dekapan diriku. Untuk bergeser menjauh dari Wirda dan putranya, yang masih terlelap tidur.
Sambil menggendong Rani, aku pun berjalan menuju beranda dan duduk di sana.
Rani memandangi lekat sambil memegang wajahku, "Mama!, " panggilnya.
"Iya sayang, ada apa Rani?," tanyaku membalas pandangan wajahnya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Apakah mama sayang dengan Rani?," tanyanya dengan raut wajah polosnya padaku.
Aku menganggukkan kepalaku, "Iya sayang mama sayang sekali dengan Rani. "
__ADS_1
"Benarkah itu mah?, " tanyanya lagi dengan memandang diriku lekat.
"Iya sayang, mama sayang sekali dengan Rani. Mengapa Rani berkata seperti itu?, " tanyaku.
Putri Kak Roy memegang wajahku dengan kedua tangannya. Aku pun memandangi wajahnya, dengan rasa ingin tahu. Apa yang sebenarnya ingin ia katakan padaku.
"Apakah mama memenuhi permintaan Rani?. "
Aku memandangnya lekat,"Permintaan apa itu sayang?. "
"Rani, ingin mama Rani menjadi mamaku dan menikah dengan papa Roy. "
DEG...
Aku begitu terkejut dengan perkataan Rani, yang membuat diriku tersentak akan permintaannya padaku.
"Mama!mama! Mama mau kan? Mama mau kan menikah dengan papa Roy dan menjadi mama Rani?," tanya Rani padaku berulang-ulang.
Tetapi aku hanya terus diam memandang dirinya, tanpa dapat menjawab pertanyaannya.
Hingga Bik Inah datang dan memintaku untuk turun ke ruang makan.
Dimana aku pun segera mengalihkan pembicaraan Rani padaku, dan mengajaknya untuk makan.
Cukup lama aku meyakinkan dan membuat nya lupa akan permintaannya. Hingga ia mau ku gendong untuk makan bersama.
Aku berjalan sambil menggendong Rani menuju ke bawah, sementara pikiran ku masih terus terngiang-ngiang akan ucapan Rani padaku, yang membuat hatiku benar-benar menjadi gelisah.
Bik Inah mengusap punggung ku dan memandangi diriku.
"Ada apa Nak Rani? Mengapa bibi lihat Nak Rani tampak begitu gelisah dan tidak tenang?."
"Tidak apa -apa Bik. Rani baik-baik saja, " jawabku lesu.
"Tetapi bibi lihat tidak demikian Nak Rani. Bibi yakin pasti ada sesuatu yang membebani pikiran Nak Rani.Iya kan?, " tanya Bik Inah lagi.
Aku pun berusaha menutupi kegelisahan hatiku, dan mengatakan kepadanya jika diriku baik-baik saja.
Bik Inah masih menyangsikan ucapanku. Tetapi dengan segera, aku menarik lengannya perlahan sambil menggendong Rani, untuk bergegas menuju ke ruang makan.
__ADS_1
Dari kejauhan aku melihat kedatangan Tante Desi, Om Akmal dan Bude Ayu.
"Mengapa mereka datang bersamaan seperti ini?, " gumamku di dalam hati sambil terus memandangi mereka.