Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Perpisahan


__ADS_3

Tidak berapa lama setelah Keluarga besar Suprapto menggelar pengajian untuk almarhumah bunda kini tiba Kak Reno yang akan pergi menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren ternama di negeri ini.Ia akan tinggal jauh dari keluarganya untuk waktu yang cukup lama.


Malam ini adalah malam terakhirnya di rumah.Tampak Bu Sri terlihat sembab karena menangis.Ia masih tampak tidak kuasa untuk berpisah jauh dari anak laki-laki kesayangannya tersebut.Namun bagaimanapun juga ia tetap berusaha tegar dan kuat di hadapan semua orang.


Aku berdiri menepi di beranda lantai dua rumah mereka.Menyaksikan mereka untuk melepas Kak Reno dari kejauhan saja.Sengaja kulakukan agar aku tidak menganggu keintiman keluarga mereka.


Dingin udara menyergap tubuhku.


Anginnya memainkan khimarku pelan.


Tenang dan teduh dalam keheningan sampai aku tidak menyadari gelang tasbih pemberian dari Kak Roy selalu ku genggam.


Maka bertasbihlah lisanku lembut memuji kebesaran Sang Maha Pencipta.


"Subhanallah walhamdulillah walailaha illallah wallahu akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar)."


"La ilaha illa anta Subhanaka Inni kuntu Minazhzhalimin (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang yang menzhalimi diri sendiri)."


Begitu nikmatnya batinku sehingga aku tidak menyadari kedatangan Kak Reno yang telah berada disampingku.


Aku terkejut saat membuka mata dan menoleh ke samping.


Hufhhhh.....


Mata kami bertemu kembali.


Kali ini wajahnya begitu dekat denganku.


Kami terdiam sejenak hingga perlahan ku dorong diriku perlahan untuk bergeser mundur menjauh darinya.


Namun dengan cepat ia menarik tanganku.Seketika seperti aliran listrik menyambar tubuhku.


Dreggggg.......


Jantungku kembali berdebar saat matanya yang tajam dan besar menatapku dalam.


"Ran....aku mau bicara,tolong,"pintanya.


Aku menoleh kearahnya.


"Ada apa?,"tanyaku dingin sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Bisa kita bicara sebentar,"tanyanya lembut.


"Baiklah,"balasku.


Tidak berapa lama ia memberikanku sebuah gulungan sajadah yang telah dihias cantik.


"Ran,tolong terima ini,"sambil menyodorkannya padaku.


"Untuk Rani?,"tanyaku sedikit heran.


Kak Reno menggaguk.


"Apa alasan Kak Reno memberikan Rani sajadah,"tanyaku ingin tahu.


Ia tersenyum seolah-olah pertanyaan ini yang ingin ia dengar dari mulutku.


"Supaya saat Rani salat ,sajadah ini dapat menjadi pengingat Rani pada kakak.Kiranya ada do'a terselip untuk kakak dan selalu mengingatkan Rani pada kebaikan."


Aku memandang kearahnya terheran dann bingung.Sejak kapan Kak Reno menjadi seperti ini gumamku dalam hati.


"Kenapa Kak Reno melakukan ini semua?untuk apa?dan apa yang ingin coba Kak Reno buktikan?,"tanyaku tajam.


"Cinta Ran....ya cinta yang membuat kakak seperti ini.Karena kakak mencintaimu,"jelasnya dengan kesungguhan.


"Cinta?secara tiba-tiba?,"tanyaku ragu.


"Ini namanya anugerah Ran.Dan bukan kesalahan jika kakak mencintaimu Ran.Kenyataannya engkau adalah istriku Ran meskipun kita menikah karena paksaan dan sirih.Tetapi cintaku halal padamu,"jawabnya yakin.


Aku tersentak mendengar jawabannya.


Lidahku keluh,tubuhku terasa kaku.


Pandangan kami kembali bertemu.Tatapannya membuatku tidak bisa berkata.Tidak pernah kulihat raut wajahnya begitu dalam dan selembut ini.


Ditariknya tanganku perlahan dan mendekatlah wajahnya di khimarku.


Dengan lirih ia berbisik padaku.


"Aku ingin mencintaimu karena Allah Ran,"ucapnya lembut sembari mengusap pelan kepalaku.


Angin malam membius keheningan.


Memecah lantunan gemercik suara dedaunan.Syahdu dalam memainkan perasaan dua hamba yang berbeda.


 

__ADS_1


Keesokan harinya aku bersama seluruh keluarga besar Suprapto akan mengantar Kak Reno ke pondok pesantren pilihannya.


Semua sudah bersiap-siap dan menunggu Kak Reno turun.


Tidak lama kemudian Kak Reno turun ia tampak berbeda menggenakan setelan baju koko lengan panjang berwarna putih dihiasi bordiran abu-abu dan celana panjang hitam serta kepalanya memakai kopiah songkok senada.


Parasnya lebih berseri dan bersahaja seperti bukan Kak Reno sebelumnya yang kukenal.Senyumnya merekah bahagia tidak kulihat sedikitpun raut wajah kesedihan di parasnya.


Aku sedikit tertegun melihatnya sesaat dan berusaha meyakinkan pada diriku sendiri bahwa ia adalah Kak Reno.


Anak laki-laki yang berevolusi dengan kilat menjadi sosok arif nan santun dalam kilatan mata.


"Masya Allah,anak mama ganteng banget,"ucap Bu Sri membelai wajah Kak Reno.


Kak Reno membalas ucapan Bu Sri dengan senyuman yang sedikit malu.


"Cieeeee....bajunya couplean nih sama Rani,"goda Mbak Riska.


Aku dan Kak Reno saling melirik.


Ternyata baru kusadari warna baju kami senada.


"Namanya jodoh Mbak....karena sehati,"celetuk Kak Reno.


"Hmmmmmmm......cieeeee....iya...iya ....


sehati..,"balas Mbak Riska menggoda.


Pak Sugeng,Bu Sri dan Kakek tersenyum.


"Ayo sudah bercandanya,kita berangkat sekarang supaya nggak kena macet,"ajak kakek bergegas.


Pak Budi tampak hilir mudik mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa.Semua orang pun bergegas keluar menuju mobil yang akan kami naikki.


"Pah,mah....Reno berangkatnya bareng Rani ya,"ucapnya cepat sambil menarik tanganku memasuki mobil miliknya.


Semua melihat dan tersenyum.


Aku yang terlihat kebingungan hanya dapat diam dan menuruti Kak Reno memasuki mobilnya.


Ia bukakan pintu mobil agar aku masuk dan duduk di depan mendampinginya menyetir mobil.


Pleggggg......


Dengan cepat mobil tertutup dan ia bergegas masuk pula.


Maka dengan cepat ia membantuku memakai seat belt.Secara spontan aku terperangah akan tindakannya.


Akhhhhh.....lagi-lagi mata kami bertemu.


Dunia seakan berhenti berputar.


Srrrrrrrrrrrrrr........


Tubuhku terasa kembali seperti tersengat aliran listrik.


Kenapa denganku?batinku.


Kucoba memalingkan pandanganku darinya.


"Aku bisa pakai sendiri Kak,"jawabku pelan.


Namun ia tetap memasangkan seat belt.


"Hmmmmm......sudah selesai,"ucapnya sambil tersenyum padaku.


Dengan sedikit grogi aku pun mengucapkan terima kasih padanya.


Tidak berapa lama mobil pun melaju menuju pondok pesantren yang akan menjadi tempat Kak Reno menimba ilmu agama.


Sesampainya di tempat tujuan mobil Kak Reno telah tiba duluan dibandingkan mobil yang dikendarai oleh Pak Budi.


Mesin mobil pun berhenti tepat di depan halaman pondok pesantren.


Namun sebelum turun dari mobil aku memberikan sebuah Al-Qur'an pada Kak Reno.


"Untuk Kak Reno,"ucapku.


Kak Reno melihat kearahku


"Untuk kakak?,"tanyanya.


Aku mengangguk.


Kak Reno menerima Al-Qur'an pemberianku yang sudah indah kuhias.


Maka sebelum ia banyak bertanya padaku.Aku pun menjelaskan padanya alasanku memberinya Al-Qur'an.

__ADS_1


"Hmmm...Semoga Al-Qur'an ini menjadi penyemangat,pengingat diri,dan membawa kebaikan pada Kak Reno untuk terus belajar dan istiqomah di jalan Allah subhanahu wa ta'ala,"ucapku pelan.


Kak Reno tersenyum mendengarkanku.


"Terima kasih Ran.Al-Qur'an ini akan menjadi pengobat rindu dan penyemangatku padamu,"ucapnya serius.


Aku terdiam menatapnya.


Lalu ia membalas tatapan mataku.


"Jaga diri baik-baik Ran dan kakak titip seluruh anggota keluarga kita terutama kakek dan mama jangan sampai mereka bersedih.Kakak percaya padamu....,"sambil meraih tanganku.


"Satu hal lagi tunggu dan nantikanlah kakak hingga kakak benar-benar layak dan pantas menjadi imammu,"ucapnya dalam.


Aku hanya terpaku tanpa dapat berkata-kata.Entah perasaan apa yang sedang berkecamuk di hatiku.


Perlahan di usapnya lembut kepalaku,matanya memandang ke arahku lekat.


"Semoga Allah cepat mempersatukan kita,"ucapnya.


Tok...tok...tok..


Suara kaca jendela mobil berbunyi.Tampak Pak Budi yang sedang mengetuk.


Kak Reno membuka kaca jendela


"Iya pak."


"Mas Reno disuruh keluar dengan Mbak Rani di panggil bapak,"ucap Pak Budi sopan.


"Iya pak,"balas Kak Reno.


Kami berdua pun keluar dari mobil menuju ke arah kakek dan yang lainnya berkumpul.Mereka semua menatap ke arah kami.


Udara yang cukup terik tetapi tersapu lembut hembusan angin sepoi-sepoi dari keteduhan pepohonan nan hijau.


"Semua administrasi dan lain-lain sudah selesai. Reno tinggal masuk dan didampingi dengan Pak kiyai,"jelas Pak Sugeng sambil menepuk pelan pundak Kak Reno.


"Terima kasih pah,"ucap Kak Reno sambil memeluk Pak Sugeng.


"Jaga diri dan bersikap yang baik selama disini ya nak,"bisik Pak Sugeng.


"Iya pah,"sambil mengangguk.


Lalu Kak Reno memeluk kakek,Bu Sri dan Mbak Riska.Mereka mengucapkan pesan dan memberi kalimat perpisahan.


Semua tampak mengharu biru dalam bingkai kesedihan melepaskan Kak Reno.


Hingga Kak Reno berhenti tepat di hadapanku.


"Ran....,"panggilnya lirih.


Aku menoleh ke arahnya dan mata kami kembali bertemu.Lama ia terpaku menatapku begitu pula diriku.


Entah kata-kata apa yang harus kuucapkan padanya.Rasanya bibirku terkunci membisu.


Dan sekali lagi dengan lembut ia mengusap lembut kepalaku sembari tersenyum.


Angin menerbangkan kain khimarku pelan.Seolah memberi salam perpisahan pada Kak Reno.Aku hanya dapat memandanginya saat Pak kiyai mengajak Kak Reno masuk ke dalam pondok pesantren.


Perlahan tetapi pasti Kak Reno melangkahkan kakinya dengan yakin.


Trap.....trap....trap....


Langkah kakinya semakin menjauh dan bayangannya menghilang pergi.


Dregggggg.......


Keramaian yang berubah menjadi hening.


Sayup-sayup dalam pendengaran sesekali derai air mata terdengar.


Datang lalu pecah menghilang dalam pancaran surya yang mulai meninggi.


Langit berkemilau cerah tetapi terlihat sendu.


Semuanya tiba-tiba terasa kosong.


Gemuruh dalam gema kesunyian.


Getaran aneh yang bersemayam di ragaku.


Cepat dan tiba-tiba begitu sesak.


Aku merasakan kehilangan dan sepi.


Pandanganku terpaku.

__ADS_1


Sekejap diriku membatu.


__ADS_2