Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kecurigaan Wirda.


__ADS_3

Setelah mengelar pengajian untuk mendo'akan kepergian Kak Roy. Kami semua bermalam untuk menginap di rumah kediaman Tante Desi untuk menemaninya. Meskipun hari sudah beranjak malam tetapi masih banyak para tetangga dan sanak keluarga dari Tante Desi yang masih berada di kediaman rumah Tante Desi. Untuk menemani dan menghibur atas musibah yang telah menimpa Tante Desi dan keluarganya.


Suasana di kediaman rumah Tante Desi masih terlihat ramai. Beberapa orang terdengar sedang bercakap-cakap sembari menikmati kudapan kecil yang dihidangakan.


Sementara aku, Wirda, Ustad Fariz, Kak Rafa dan Pak Budi duduk di ruang keluarga kediaman Tante Desi. Dan Ummah beserta Bik Siti juga Bik Inah menemani Tante Desi di kamar setelah menenangkan Tante Desi yang kembali jatuh pingsan setelah acara pengajian berakhir.


Sruuuupp....


Terdengar Pak Budi menyeruput kopi hitam miliknya yang memecah keheningan di antara kami semua.


"Kak Fariz, Wirda merasakan ada sesuatu yang aneh dari sikap Rere setelah tadi kemari?, " ucap Wirda mendadak.


Ustad Fariz yang sedang duduk menyenderkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang keluarga kediaman Tante Desi menjadi sedikit kaget akan ucapan Wirda kepadanya. "Dek Rere kemari?".


" Iya Kak Fariz. Kedatangannya kemari malah membuat ulah dan keributan. Hingga Rere pun bertindak kasar dengan mendorong tubuh Rani sampai terjatuh, "ucap Wirda serius.


Ustad Fariz mengkerutkan dahinya dan memandang kearah diriku. " Apakah Dek Rani baik-baik saja? Apakah ada yang terluka pada tubuh Dek Rani?, "tanya Ustad Fariz dengan ucapan yang terdengar cemas.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Ustad Fariz. Aku berusaha untuk menjawabnya. Namun, ketergesaan kelanjutan ucapan Ustad Fariz kepada Wirda mengurungkan lisanku untuk bertutur.


" Mengapa Dek Wirda tidak mengatakan sejak awal kepada saya jika Dek Rere sudah berlaku kasar kepada Dek Rani. Saya menjadi cemas jika ada sesuatu hal yang terjadi kepada Dek Rani, "ujar Ustad Fariz panik.


Wirda merasa tidak enak hati mendengar perkataan Ustad Fariz kepada dirinya.


" Maafkan saya Kak Fariz. Tadinya saya ingin segera mengatakannya kepada Kak Fariz. Tetapi karena keadaan dan kesibukan Kak Fariz dan kita semua untuk menyiapkan acara pengajian bagi almarhum Kak Roy sehingga Wirda tidak sempat mengatakannya. Dan baru sekarang Wirda bisa memberitahukan semuanya kepada Kak Fariz, "sahut Wirda dengan pelan.


Lalu aku yang terdiam mendengar percakapan Wirda dan Ustad Fariz. Berusaha menimpali perkataan Wirda dan menjelaskan kepada Ustad Fariz.


" Ustad Fariz tidak usah cemas. Alhamdulillah Rani baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Mungkin hanya sedikit nyeri biasa karena tubuh Rani terbentur dengan lantai rumah. Namun, Bik Siti sudah mengoleskan minyak pereda nyeri di tubuh Rani .Jadi Rani mohon Ustad Fariz tidak perlu khawatir dan cemas yang berlebihan, "ucapku pelan dan lirih.


Pak Budi dan Kak Rafa pun mengangguk.


" Iya Kak Fariz, "jawab Wirda pelan.


Aku terdiam mendengarkan ucapan Ustad Fariz. Yang begitu sangat mencemaskan diriku .Sungguh aku merasa tidak enak hati akan sikap Ustad Fariz yang ditujukan kepadaku. Entah mengapa aku merasa sikap Ustad Fariz sedikit berlebihan dalam merespon perkataan Wirda tentangku. Tetapi sudahlah aku mencoba mengabaikan perasaan itu. Mungkin saja Ustad Fariz takut jika akan terjadi hal yang buruk kepadaku. Sehingga dia sangat mencemaskan keadaan diriku. Rasanya perkataan yang diucapkan Rere ada benarnya. Aku seperti menjadi benalu yang membuat orang-orang di sekitarku menjadi susah dan terbebani akan keberadaanku.

__ADS_1


Sama halnya dengan sikap yang ditunjukkan Ustad Fariz saat ini. Aku merasa Ustad Fariz menganggap diriku dan keberadaanku menjadi tanggung jawab dirinya dan menyusahkannya.


Dan disaat aku sedang termenung dengan pikiranku. Ustad Fariz pun segera bertanya kepada Wirda perihal Rere.


" Oh ya Dek Wirda mengatakan ,jika Dek Wirda melihat sikap aneh dari diri Dek Rere.Kira-kira apa yang Dek Wirda lihat dan tangkap dari gelagat yang tidak biasa Dek Rere tunjukkan saat tadi datang kemari".


"Hmmmm.. Ehemmm, " suara Wirda melonggarkan tenggorokannya yang terasa serak.


"Ya aneh saja Kak Fariz seharusnya Rere berada di sini menemani Tante Desi dari awal hingga proses pemakaman Kak Roy. Tetapi Rere malah terlihat seperti biasa dan tidak terlihat begitu kehilangan Kak Roy. Padahal kita tahu bagaimana dia itu begitu sangat agresif dan sangat mencintai Kak Roy. Namun,sikapnya itu bertolak belakang dengan apa yang ia katakan. Bukankah itu terlihat janggal Kak Fariz," ucap Wirda sambil memandang wajah Ustad Fariz yang menyimak dengan serius perkataan Wirda.


"Wirda merasa ada sesuatu yang Rere sembunyikan dari kita semua. Tetapi Wirda tidak tahu apakah itu? kalau menurut Wirda bagaimana jika kita mengawasi Rere. Bila perlu memata-matainya dan mencari tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Karena Wirda menangkap ada sesuatu yang berusaha Rere sembunyikan dari kita, " ucap Wirda lagi.


Ustad Fariz seraya berpikir terhadap kata-kata Wirda yang disampaikan kepadanya. "Jika menurut Dek Wirda memang ada sesuatu yang sedang dirahasiakan oleh Dek Reeetidak ada salahnya kita berusaha untuk menyelidikinya. Tetapi jangan sampai menimbulkan sifat su'udzon dan berburuk sangka kepada Dek Rere. Kalau memang Dek Wirda ingin mengawasi Dek Rere ya sudah tidak apa-apa. Dek Wirda bisa ditemani dengan Rafa dan mulai untuk mengawasi Dek Rere esok hari. Sementara Saya dan Pak Budi beserta Ummah akan mengurusi proses operasi mata Dek Rani agar segera dapat dilakukan. Bagaimana Rafa apakah kamu bersedia menemani Dek Wirda?,"tanya Ustad Fariz kepada Kak Rafa. Kak Rafa pun lalu tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan Ustad Fariz kepada dirinya. "Tentu saja Rafa sangat bersedia Kak. Tanpa diminta pun Rafa pasti akan menemani Dek Wirda dan akan menjaganya supaya Dek Wirda dalam keadaan baik-baik saja ," ujar Kak Rafa sambil tersenyum dan memandang wajah Wirda.


DEG... DEG.. DEG...


Jantung Wirda berdetak dengan kencang saat Kak Rafa menatap dirinya .Ia pun menundukkan sedikit kepalanya dan pandangannya untuk menutupi wajahnya yang sedikit merah menahan rasa malu

__ADS_1


Perlahan ia merasakan getaran aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dan kembali melirik sedikit ke arah Kak Rafa yang rupanya juga tidak mengalihkan pandangan matanya menatap Wirda. Maka berdesirlah aliran darah Wilda seakan raganya merasakan sengatan listrik yang mengejutkan dirinya saat pandangan matanya bertemu dengan mata Kak Rafa.


__ADS_2