
Ummah dibantu Wirda membawa pakaian ganti untuk Mas Fariz, Kak Rafa dan diriku. "Ayo Wirda! Kita lekas bergegas ke rumah sakit. Ummah sangat khawatir akan keadaan Rani, hiks... hiks.. hiks.., " ucap Ummah yang sedang menutup tas sembari menangis.
Wirda mengusap pundak Ummah pelan, "Ummah tenang ya, kita semua sedang cemas dan sangat mengkhawatirkan keadaan Rani. Tetapi Ummah juga tidak boleh mengabaikan keadaan Ummah. "
Ummah mengangguk sambil menangis, "Iya Wirda, Ummah tahu. Sekarang coba kamu hubungi Rafa atau Fariz. Apakah mereka sudah menemukan donor darah untuk Rani?. "
Wirda sambil menggandeng tangan Ummah untuk melangkah turun ke bawah, diikuti oleh asisten rumah tangganya yang lain dengan membawa tiga tas berisi pakaian untuk diriku, Kak Rafa dan Mas Fariz.
Sesampai di ruangan keluarga Wirda langsung mengambil telepon genggam miliknya dan hendak menghubungi Kak Rafa menanyakan akan sudah didapatkan atau belum donor darah untukku. Tetapi Kak Rafa sudah mengirimi pesan kepada Wirda. Dan Wirda pun membacakan isi pesan dari Kak Rafa kepada Ummah, Abi, Enjid dan Pak Budi yang sedang duduk di ruang keluarga yang hendak siap berangkat ke rumah sakit tempat diriku di rawat.
"Alhamdulillah Dek Wirda, tolong sampaikan kepada Ummah, Abi dan Enjid. Saat ini Dek Rani sudah mendapatkan donor darah yang ia butuhkan. Dan sedang melakukan transfusi darah. Meskipun keadaannya masih belum dapat dikatakan jauh dari keadaan kritis, tetapi kita sama -sama mendo'akan untuk kesembuhan Dek Rani, " ucap Wirda.
Semua orang sedikit merasa lega mendengarkan pesan dari Kak Rafa, meskipun belum sepenuhnya kecemasan di hati semua orang hilang untuk mengkhawatirkan diriku.
Ummah yang duduk di samping Abi dengan menyeka air matanya pun berkata, "Ummah benar-benar tidak akan memaafkan Bi, orang yang sudah membuat keadaan Rani menjadi seperti ini. Mengapa selalu ada saja orang yang ingin menyakiti dan melukai Putri Ummah, hiks.. hiks.. hiks. "
Abi lalu merangkulkan tangannya ke tubuh Ummah sambil mengusap lembut pundak Ummah, "Ummah yang tenang, kepolisian dan intelijen tempat Rafa bekerja juga sudah menyelidiki pelaku utama yang mendalangi penculikan terhadap Rani. InsyaAllah semuanya akan terbuka dan kita semua dengan secepatnya akan mengetahui siapa pelaku sebenarnya yang ingin mencelakai Rani. "
Ummah menggangguk sambil menatap Abi.
Enjid lalu mengajak semua orang untuk segera menuju ke mobil. Tiba-tiba Bik Siti datang untuk ikut bersama kami ke rumah sakit, "Saya ikut ke rumah sakit Bu. "
Dengan suara parau dan tubuhnya yang masih terasa lemah Bik Siti memaksakan diri untuk ikut.
Wirda menghampiri Bik Siti, "Bibi di rumah dulu ya sampai kondisi bibi membaik. Bukankah dokter juga berpesan supaya bibi harus bed test, supaya bibi segera pulih kembali dan dapat menemani Rani."
"Tetapi Nak Wirda, saya cemas dan sangat ingin mengetahui kondisi Nak Rani sekarang, " bantah Bik Siti dengan wajahnya yang masih pucat penuh kegelisahan.
Wirda menghela nafas pendek sembari mengusap pundak Bik Siti, "Iya Bik. Wirda tahu dan mengerti akan apa yang Bik Siti rasakan saat ini, tetapi bibi juga harus tahu akan kondisi bibi. Jika bibi memaksakan diri untuk ke rumah sakit lalu jika terjadi kenapa-napa dengan Bik Siti, lalu siapa yang akan repot ? Bik Siti tolong mengerti ya Bik, kita semua peduli terhadap Rani dan sangat menyanyanginya tetapi kehadiran kita juga tidak boleh menambah beban atau memberatkan orang lain, mengingat kondisi Rani masih kritis dan Bik Siti belum sembuh total. "
Bik Siti terdiam sambil memantuk-mantukan kepalanya dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Setelah Bik Siti mengerti dan paham akan maksud perkataan Wirda. Bik Siti pun akhirnya memutuskan untuk tidak ikut ke rumah sakit dan tetap berada di kediaman keluarga Imandar untuk beristirahat. Sementara itu, Wirda, Abi, Enjid, Ummah dan Pak Budi langsung bergegas menuju ke rumah sakit dengan membawa perasaan yang penuh kekhawatiran terhadap diriku.
***
Setelah Kak Reno mendonorkan darahnya untukku. Mas Fariz yang datang ke ruangan tempat dimana aku menerima transfusi darah bersama dengan Pak Sipir. Dokter dan perawat segera memindahkan diriku lagi masuk ke ruang IGD dan mengobservasi diriku untuk melihat apakah ada perkembangan signifikan atau tidak setelah mendapatkan donor darah dari Kak Reno.
Kak Reno yang semula terbaring di brankar kini beralih bangun menjadi duduk. Meskipun Mas Fariz sudah mencegahnya, tetapi Kak Reno tetap bersikeras untuk tetap duduk sambil bersandar pada brankar. Pak Sipir lalu membetulkan bantal di belakang punggung Kak Reno supaya Kak Reno nyaman untuk bersandar.
"Terima kasih banyak Pak, " ucap Kak Reno sambil tersenyum kecil kepada Pak Sipir.
Pak Sipir pun mengangguk lalu duduk di kursi di samping kiri brankar tempat Kak Reno berada, yang berhadapan langsung dengan Mas Fariz.
Mas Fariz menatap wajah Kak Reno dan pun sebaliknya Kak Reno juga menatap wajah Mas Fariz.
"Saya sungguh tidak tahu lagi Dek Reno, harus mengucapkan apalagi terhadap apa yang sudah Dek Reno lakukan untuk Rani. Oleh karena itu, saya sungguh mengucapkan Jazakallahu Khairan.Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan Dek Reno, " ucap Mas Fariz dengan penuh keharuan sambil memegang pundak Kak Reno. "
Kak Reno menatap wajah Mas Fariz penuh dengan keharuan pula, "Ustad Fariz tidak perlu berterima kasih atas apa yang sudah saya lakukan untuk Rani. Saya ikhlas melakukannya dengan mengharap ridho dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. "
__ADS_1
"MasyaAllah Dek Reno. Setelah dirimu mengetahui jika perempuan yang kamu cintai yaitu Dek Rani telah menjadi istri saya, apakah kamu tidak cemburu dan terluka?, " tanya Mas Fariz pelan.
Kak Reno tersenyum kecil dengan matanya yang berkaca-kaca, "Awalnya hati saya memang terluka Ustad, tetapi saya segera menyadari jika Allah sudah memberikan pasangan hidup yang tepat bagi Dek Rani." "Apakah itu tandanya Dek Reno tidak mencintai Dek Rani lagi?dan kemanakah cinta itu sekarang?, "tanya Ustad Fariz.
Kak Reno kembali menatap wajah Mas Fariz dengan bergetar haru, " Tidak demikian Ustad, perasaan dan cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!. Tidak ada cinta yang mati dan terluka disini Ustad, karena memang ada cinta di atas cinta dan Ustad Fariz yang telah memenangkan cinta di hati Rani."
Mas Fariz dan Pak Sipir menatap haru pula ke wajah Kak Reno.
"Ustad saya menginsyafi akan kehinaan diri saya. Dan jujur saya tidak merasa terluka lagi atas ikatan yang telah Allah buat antara Ustad Fariz dan Dek Rani. Karena cinta yang kalian berdua miliki lahir dari satu yang sama yaitu pesona kematangan jiwa. Pesona inilah yang melahirkan cinta sejati diantara kalian berdua,yang Allah Ta'ala kirimkan kepada jiwa Ustad Fariz dan Rani. Sehingga cinta ini pula yang masih menyertai nama Rani bersanding menjadi istri Ustad Fariz."
Dengan bibirnya yang bergetar penuh keharuan ia berusaha mengutarakan isi hatinya yang terganjal supaya tertumpah dalam rasa ikhlas, "Ustad Fariz bersama ini saya ikhlaskan belahan jiwa saya mengarungi kehidupan ini bersama Ustad. Jagalah dan lindungilah dirinya Ustad, serta limpahkanlah kebahagiaan menghiasi di setiap langkah perjalanan hidupnya. Sungguh, saya tidak merasa bersedih melepaskan orang yang paling saya cintai dalam kehidupan saya. Justru saya bersyukur karena dengan mencintainya dapat membawa karunia Allah semakin dekat kepada saya. Semoga Allah senantiasa menyatukan Ustad dan Rani dalam kebaikan dan kebahagiaan, yang selama ini tidak pernah saya berikan dalam kehidupan nya. "
Air mata Kak Reno mengalir bersama dengan air mata Mas Fariz.
Mas Fariz terdiam mendengarkan ketulusan akan perasaan Kak Reno kepada hubungan ku dan Mas Fariz.
Jiwa Mas Fariz bergetar, lalu memeluk Kak Reno layaknya adiknya kandungnya sendiri, "Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melindungi dan membimbing mu dalam jalan kebaikan Dek Reno. InsyaAllah saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya menjaga dan mencintai Dek Rani, " ucap Mas Fariz dengan lirih.
Pak Sipir turut pula meneteskan air matanya, dengan menyaksikan pemandangan penuh keharuan dimana Allah mengkaruniakan keduanya sebuah perasaan cinta pada hati yang sama dengan saling mengikhlaskan tanpa membenci ataupun menyakiti.
Mas Fariz melepaskan pelukan nya terhadap Kak Reno sambil berkata, "Apakah Dek Reno ingin menemui dan melihat keadaan Dek Rani?."
Kak Reno menggelengkan kepalanya pelan sambil menahan isak tangisnya, "Tidak Ustad, hal itu justru akan melemahkan hati saya. Sudah cukup saya kira pertemuan saya dengan Dek Rani, selebihnya biarkan Allah yang akan mengatur segalanya. Kini adalah saatnya dimana Ustad Fariz dan Rani memulai awal perjalanan kehidupan baru kalian berdua. "
Mas Fariz menggangguk kan kepalanya tanpa berkata lagi, lalu berpamitan dengan Kak Reno dan Pak Sipir untuk kembali ke ruangan tempatku berada.
Huft,
Terdengar tarikan nafas pendek dari ******* napas Kak Reno.
Pak Sipir bangun dari duduknya dan mengusap pelan kepala Kak Reno, "Bapak bangga padamu Nak Reno. "
Kak Reno melepaskan senyuman kecilnya bersamaan dengan senyum Pak Sipir.
Setelah itu, Kak Reno memutuskan untuk kembali ke lapas bersama Pak Sipir yang mengantarkan dirinya.
Angin malam berhembus pelan tetapi kuat menusuk hingga ke lapisan epidermis kulit.
Awal perjalanan dari sebuah cinta yang memasuki babak baru dari tiap lembaran kehidupan terus berlanjut. Kak Reno tetap merasakan kesedihan tetapi ia tidak ingin larut di dalamnya. Matanya memandang ke arah langit malam yang berhias kerlap-kerlip bintang sembari menikmati udara kebebasan sesaat yang dapat ia nikmati.
Aku tidak menyesal akan takdir cintaku Tuhan, karena kini aku dapat merasa lega dan tenang dimana pujaan hatiku berada dalam rengkuhan laki-laki sholeh yang akan selalu membimbingnya menuju kebaikan, gumam Kak Reno di dalam hati.
Pandangan mata Kak Reno memandang ke sekitar, menikmati kebebasan sesaat yang dapat ia rasakan. Sebelum belenggu jeruji besi akan menahannya kembali.
"Apakah Nak Reno baik-baik saja?, " tanya pak sipir yang mengemudikan sepeda motor miliknya dengan hati-hati.
"Iya pak, " sahut Kak Reno.
__ADS_1
Pak sipir lalu fokus mengendarai sepeda motor miliknya, untuk membawa kembali Kak Reno menjalani masa hukumannya.
Hati dan perasaan Kak Reno terasa ringan menyusuri jalan raya. Pikirannya kini jauh lebih tenang, sehening dan sesunyinya malam ini. Sesekali kedua matanya berusaha ia pejamkan untuk benar-benar menikmati keadaan ini, ditariknya napas dalam-dalam nan panjang. Untuk menyegarkan dadanya yang terasa penat. Angin malam pun seakan mengusap dirinya, memberikan pelukan kesejukan akan sikapnya yang mulai matang.
Pak sipir terus melaju menembus kesunyian malam, hingga tak terasa kini sepeda motor miliknya telah berhenti di area parkir lapas.
Masih terlihat akan suasana huru hara yang terjadi saat pagi hari tadi, yang membuat kegaduhan dan kerusuhan antar napi.
"Nak Reno ikut dengan saya ke sel yang lain, sebab sel tahanan lama tempat Nak Reno berada sudah rusak karena kerusuhan, " ucap Pak sipir memandangi Kak Reno yang membetulkan jaketnya.
Kak Reno mengangguk tanpa berkata.
"Apakah Nak Reno benar-benar dalam keadaan yang baik?," tanya pak sipir memastikan.
Sambil berjalan perlahan Kak Reno pun memandang ke arah pak sipir, "InsyaAllah saya baik-baik saja pak. Terima kasih pak karena sudah peduli dan memperhatikan saya. "
Pak sipir tersenyum sambil membantu Kak Reno berjalan perlahan menuju ke dalam lapas tempat dimana Kak Reno berada jauh dari hiruk pikuk dunia untuk menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan.
Pandangan mata Kak Reno menuju pada bangunan gedung lapas yang seolah-olah menyambut akan kedatangannya kembali.
Jika dulu perasaan takut, marah dan benci menjadi satu dalam hatinya. Kini berbeda dengan dirinya yang sekarang, dimana hatinya telah benar-benar ikhlas menerima takdir kehidupannya.
Tidak lama kemudian Pak sipir sudah tiba mengantarkan Kak Reno pada sel sementara untuknya, "Sampai sel yang lama diperbaiki untuk sementara Nak Reno berada disini. Dan yah barang-barang Nak Reno juga sudah dibawa kemari semua. Jika nanti Nak Reno butuh bantuan panggil saja bapak. "
"Baik pak. Tetapi apakah bapak tidak pulang ke rumah?, " tanya Kak Reno.
"Bapak piket malam ini Nak, maka jangan sungkan jika Nak Reno butuh bantuan bapak. Oh ya nak Reno.. Ini obat yang harus diminum Nak Reno dan ini juga ada roti dan air mineral yang bapak belikan untuk Nak Reno, " ucap pak sipir sambil memberikan bungkusan plastik kepada Kak Reno.
Air mata Kak Reno kembali berkaca-kaca, "Terima kasih banyak pak, saya tidak tahu harus berkata lagi kepada bapak, " jawab Kak Reno sambil menerima bungkusan plastik dari pak sipir.
Pak sipir mengusap kepala Kak Reno pelan seperti memberikan perhatian kepada anak lelakinya sendiri, "Sudah jangan bilang seperti itu, sekarang Nak Reno silahkan masuk dan beristirahat. Bapak harus melapor terlebih dahulu. "
Kak Reno mengangguk dan langsung berjalan masuk ke dalam selnya.
Sementara itu, pak sipir langsung mengunci sel tempat Kak Reno berada dari luar.
Pak sipir pun pamit kepada Kak Reno.
Kak Reno memandang kepergian pak sipir, lalu duduk perlahan-lahan lesehan pada tikar di atas lantai. Kemudian Kak Reno meminum obatnya.
"Alhamdulillah ya Allah, " ucapnya pelan.
Matanya memandang ke sekitar sel sementara miliknya, lalu dengan pelan ia rebahkan tubuhnya yang masih terasa nyeri di atas tikar tanpa beralaskan kasur.
Sayup-sayup kedua matanya sudah terlihat lelah dan letih. Yang pada akhirnya membuat Kak Reno telah tertidur sambil meringkuk memeluk dirinya sendiri.
Ia benar-benar merasakan kelelahan yang teramat sangat mendera raganya.
__ADS_1