
Setelah kondisi Kak Reno di pastikan benar-benar dalam keadaan yang baik dan stabil.Kemudian, Kak Reno di pindahkan di ruang rawat inap.
Abi, Enjid dan Pak Budi pun merasa sangat bahagia mendengar akan hal itu. Dan Abi langsung menghubungi Ummah, akan perkembangan kondisi Kak Reno yang telah membaik. Ummah yang mendapatkan informasi akan kondisi ku dan Kak Reno, ingin segera menyusul ke rumah sakit ini. Namun, Abi melarang Ummah. Di karena kan jarak tempuh untuk menuju ke rumah sakit ini cukup jauh. Sehingga Abi sangat mengkhawatirkan Ummah, dan Abi takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan terhadap Ummah.
Untuk menenangkan dan membesarkan hati Ummah. Abi pun berjanji untuk segera memindahkan Kak Reno ke rumah sakit di kota. Yang dekat dengan kediaman rumah keluarga Imandar. Sehingga Ummah dapat membesuk Kak Reno.
Mendengar perkataan Abi, Ummah pun menjadi sedikit jauh lebih tenang. Dan berharap keadaan kami semua, dalam kondisi yang baik-baik saja.
Abi pun mengakhiri percakapan dengan Ummah dari balik sambungan telepon genggam. Lalu, Abi segera menemui dokter untuk mengurus pemindahan perawatan Kak Reno ke rumah sakit di tengah kota.
Sementara itu, aku di temani Enjid dan Pak Budi segera menuju ke ruang rawat inap. Tempat dimana Kak Reno berada saat ini.
Enjid melihat diri ku lekat.
"Sayang, apakah keadaan mu baik-baik saja?, "tanya Abi memastikan keadaan diri ku.
Aku menganggukkan kepala, " Iya Enjid."
Enjid tersenyum senang dan tampak terlihat lega mendengarkan jawaban ku.
"Alhamdulillah, jika demikian. Enjid senang dan jauh lebih tenang mendengar nya. Meskipun begitu kamu juga harus banyak beristirahat nak. Karena kondisi tubuh mu belum sepenuhnya pulih, " ujar Enjid pada ku sambil mengusap kepala ku.
"Iya Enjid, terima kasih sudah mengingatkan Rani, " kata ku.
"Kenapa kamu harus berterima kasih sayang. Kamu kan cucu Enjid, jadi sudah sepantasnya Enjid mengharapkan hal yang terbaik untuk kebaikan mu."
Aku pun tersenyum memandang Enjid.
Setibanya di ruang rawat inap tempat Kak Reno di pindah kan. Tampak beberapa perawat sedang mengatur ulang selang infus yang terpasang pada pergelangan tangan Kak Reno. Sekaligus mereka mencatat hasil pemeriksaan akan kondisi detak jantung, suhu tubuh dan lain-lain yang berhubungan dengan perkembangan keadaan Kak Reno.
Sementara itu, Pak Budi di minta Enjid keluar untuk membeli minuman hangat dan makanan.
Sembari menunggu Kak Reno yang sedang di pantau perkembangan nya.
Aku dan Enjid duduk di sofa tunggu pasien. Dimana Enjid pun menceritakan kepada diri ku, akan peristiwa kecelakaan yang telah di alami oleh Kak Roy beserta orang-orang suruhannya yang menculik ku dan Kak Reno.
Dan betapa terkejut juga shock nya diri ku. Saat mengetahui dari Enjid, jika putri Kak Roy telah meninggal dunia. Akibat kecelakaan yang menimpa dirinya.
Air mata ku langsung mengalir sangat deras. Hati ku terasa sangat terpukul Dan merasa sakit. Setelah mengetahui kepergian putri Kak Roy secara mendadak. Aku begitu terguncang seketika, tetapi dengan cepat Enjid menenangkan diri ku.
Bagaimana pun juga aku memiliki hubungan emosional yang sangat dekat sekali dengan putri Kak Roy.
Karena aku sangat menyayanginya dan menempatkan dirinya berada dalam posisi spesial di dalam kehidupan ku.
Enjid membiarkan ku untuk menumpahkan kesedihan ku, karena beliau sangat mengetahui bagaimana perasaan akan kasih sayang ku terhadap putri Kak Roy.
Enjid juga menceritakan semua kejadian yang telah menimpa Kak Roy.
Dimana Enjid mengatakan kepada diri ku, jika saat ini kondisi Kak Roy masih kritis. Dan berada di rumah sakit yang sama dengan Kak Reno di rawat di sini.
Aku pun segera menyeka air mata ku, setelah Pak Budi datang membawa banyak makanan dan minuman.
Pandangan ku tertuju pada Kak Reno yang juga melihat ke arah ku.
Setelah menunggu perawat selesai mengecek keadaan Kak Reno dan keluar.
__ADS_1
Aku pun segera menghampiri Kak Reno.
Ku genggam jemari tangan nya perlahan dan menatap wajahnya lekat.
Kak Reno seakan tahu keresahan hati ku.
"Ada apa Ran?.Mengapa kamu menangis?.Aku tidak suka melihat kesedihan dan air mata menghiasi wajah mu," tanya Kak Reno yang berbalik mengenggam jemari tangan ku.
Aku pun langsung menceritakan apa yang Enjid sampaikan pada ku. Dan Kak Reno pun sama tekejutnya dengan diri ku.
Tidak lama kemudian, perawat datang ke ruangan tempat Kak Reno di rawat.
Dengan tergesa-gesa perawat itu mengatakan, jika Kak Roy terus memanggilnya nama ku.
Kak Reno meminta ku untuk segera menemui Kak Roy, karena kondisi Kak Reno saat ini juga tidak memungkinkan untuk ikut serta melihat keadaan Kak Roy.
Setelah mendapatkan izin dari Kak Reno. Aku di temani Pak Budi segera menuju ke ruangan IGD, tempat Kak Roy berada saat ini.
Perawat yang memberitahukan keadaan Kak Roy pada ku. Meminta agar aku dan Pak Budi segera untuk bergegas, juga mempercepat langkah kaki kami.
Perasaan ku semakin tak menentu dan tegang. Aku saling melirik dengan Pak Budi.
"Hati-hati Nak Rani, " ucap Pak Budi mengingatkan diri ku.
Aku mengangguk, "Iya Pak."
Dengan cepat pula aku segera melangkahkan kaki ku, agar lekas tiba di ruang IGD. Sementara itu, Pak Budi terus berada di samping ku dan memastikan jika keadaan ku baik-baik saja.
Tidak lama kemudian, aku dan Pak Budi tiba di ruang IGD. Perawat langsung meminta ku untuk segera masuk. Aku pun tidak menolak permintaan perawat. Dengan di temani Pak Budi.
Saat ia melihat kedatangan ku, putri almarhumah Bude Ayu langsung menghampiri diri ku. Sekaligus meminta ku untuk segera mendekat pada Kak Roy yang terbaring lemah tidak berdaya, di atas ranjang pasien.
Aku berjalan perlahan-lahan sembari menatap keadaan Kak Roy, yang begitu sangat memilukan.
Air mata ku tumpah tak tertahankan melihat kondisinya.
Dengan tatapan matanya yang satu dan napasnya yang tersengal-sengal. Kak Roy terus melihat ke arah ku.
Aku semakin mendekati nya.
"Ran.. Ran...Rani, " ucap nya pelan dengan sangat sulit.
Aku merasakan jika Kak Roy ingin berusaha untuk mengatakan sesuatu pada ku. Namun, tertahan oleh kondisinya.
Meskipun sulit baginya untuk bertutur pada ku. Tetapi Kak Roy terus berusaha dengan keras. Meskipun aku dan semua orang telah memintanya untuk tidak memaksakan diri.
Namun, Kak Roy seakan tidak peduli dan terus berusaha sekuat tenaga nya.
"Rani, maafkan aku. Maafkan atas semua perbuatan yang telah aku lakukan pada mu, " ucap Kak Roy sambil berlinang air mata dengan suara terbatanya.
Aku meminta Kak Roy untuk tidak banyak berbicara. Tetapi ia tetap tidak mau berhenti.
"Ran, dari awal aku melihat mu dan bertemu dengan mu. Perasaan ku terus tumbuh dan mengalir pada mu. Meskipun, aku tahu kita tidak berjodoh. Tetapi, aku terus berusaha memaksakan keinginan ku untuk memiliki diri mu, " ucap Kak Roy dengan napasnya yang terengah-engah.
Aku semakin tidak kuasa melihat keadaannya.
__ADS_1
"Sudah Kak Roy, jangan berbicara lagi. InsyaAllah, aku telah memaafkan semua perbuatan mu. Sekarang fokus lah pada kesembuhan mu Kak Roy, " kata ku sambil menangis.
"Tidak Ran. Kali ini aku tidak akan diam. Tetapi, kali ini engkau yang harus diam dan mendengarkan ku, " pinta Kak Roy sambil menarik napasnya.
Aku terus memandangi Kak Roy tanpa henti. Dimana Pak Budi dan putri almarhumah Bude Ayu, juga turut menangis melihat keadaan Kak Roy.
"Aku tidak pernah menyesal mencintaimu Ran. Karena engkau adalah alasan terbesar ku berada di dunia ini. Ku mohon tetap lah bahagia dan terus tersenyum.
Dan ingatlah aku Ran. Bahwa ada seseorang yang pernah sangat mencintai diri mu. Sebesar Reno juga mencintai mu yaitu diri ku Roy. Maafkan aku Ran, karena ketidakmampuan ku untuk dapat menahan perasaan ku pada mu.
Maafkan aku, karena aku terus mencintai mu. Maafkan aku Ran… , " ucap Kak Roy lirih lalu tersenyum lebar pada ku.
Dan tidak lama kemudian, alat yang memonitor detak jantung Kak Roy berhenti berbunyi.
Aku panik dan terus memanggil Kak Roy.
Perawat pun segera memanggil dokter, untuk memeriksa keadaan Kak Roy.
Namun, Allah berkehendak lain.
Kak Roy sudah berpulang menghadapNya.
Aku menjerit keras dan histeris, akan kepergiannya. Dimana kilas balik akan semua kenangan ku bersama dengan dirinya. Terus berputar kembali memenuhi memori ingatkan ku.
Bukan kematian yang ku harapkan dari akhir kisah Kak Roy.
Tetapi, takdir sudah menentukan keputusan dari Sang Maha Pencipta yang tidak bisa di rubah.
Putri almarhumah Bude Ayu memeluk tubuh ku erat. Dimana aku terus menangis di dalam dekapan nya.
Semua begitu terasa menyakitkan, untuk sebuah akhir yang tragis dan menggiris hati bagi Kak Roy.
Seseorang yang berperan sangat penting di dalam perjalanan kehidupan ku.
Malaikat penjaga ku yang selama ini, telah banyak berkorban untuk kehidupan ku.
Huhuhuhuhu… huhuhuhuhu.. Huhuhuhuhu.
"Kak Roy, " ucap ku lirih penuh keharuan.
Pak Budi menghampiri diri ku.
"Ikhlas kan Nak Roy, Nak Rani. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik baginya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu, " tutur Pak Budi.
Setelah itu, Pak Budi segera keluar dari rung IGD. Dan memberitahukan kabar duka ini pada Kak Reno juga Enjid.
Sementara itu, aku masih terduduk lemas di temani putri almarhumah Bude Ayu. Sembari memandangi beberapa perawat yang mulai melepaskan satu persatu peralatan medis dari tubuh Kak Roy.
Pandangan mata ku masih tertuju pada Kak Roy. Dan mengingat akan semua kenangan bersamanya.
Sambil memejamkan kedua mata ku, aku pun berusaha untuk ikhlas dan kuat menerima kepergian Kak Roy.
Almarhumah putri Bude Ayu mengusap lembut punggung ku. Lalu mengajak ku keluar dari ruangan tempat jasad Kak Roy berada saat ini.
__ADS_1