Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kegusaran.


__ADS_3

Bude Ayu dan Tante Desi sudah berulang kali menghubungi anggota keluarga Imandar. Tetapi tetap saja tidak terhubung. Tante Desi semakin resah dan gelisah, apalagi saat Om Surya yang mendatangi kediaman rumah keluarga Imandar, dan juga tidak membawa hasil apapun.


Bertambah gusarlah Tante Desi akan ketakutan yang merasuki dirinya. Ketakutan akan kepergian diriku, dan tidak akan kembali lagi ke kota ini. Wajahnya penuh dengan raut kecemasan. Ia pun harus menahan banyak beban pikirannya, baik memikirkan kepergianku dan juga keadaan cucunya. Tekanan yang terus menghimpit pikirannya, tanpa terduga membuat Tante Desi akhirnya jatuh sakit karena stress.


Ada penyesalan di dalam hati Bude Ayu, saat melihat adiknya dan keluarganya bersedih serta berada dalam masalah seperti ini. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, dimana penyesalan di akhir tidak ada gunanya. Bude Ayu memandangi wajah Tante Desi yang sedang tertidur di kamarnya dengan selang infus yang terpasang di pergelangan tangannya. Tidak lama kemudian Om Surya pun masuk menghampiri Bude Ayu, dengan membawa nampan berisi bubur dan segelas air putih.


"Mbak Ayu istirahat saja, biar Surya yang bergantian menjaga istri saya, " ucap Om Surya sambil meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang tempat tidur Tante Desi.


"Maafkan mbak Surya, gara-gara saran dari Mbak,kamu harus repot seperti ini. Dimana anggota keluarga mu menjadi bersedih dan Desi jatuh sakit, belum lagi kalian harus menjaga Rani selama kemoterapi, " kata Bude Ayu sambil menangis.


Om Surya tampak menghela napasnya, dan duduk di samping Tante Desi yang sedang berbaring tidur, sembari terus mengusap lembut kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Mbak Ayu, tidak usah berpikiran seperti itu. Apalagi merasa menyesal. Karena semua ini sudah bagian dari rencana Allah, sehingga Mbak Ayu tidak perlu merasa bersalah. Semua yang terjadi di keluarga Surya. InsyaAllah ada hikmah pelajaran kehidupannya, " sahut Om Surya dengan tenang.


Bude Ayu kembali menangis harus setelah mendengarkan perkataan Om Surya, setelah apa yang ia lakukan pada keluarga adik iparnya itu. Tidak lama kemudian, Bude Ayu menyeka air matanya dan pamit kepada Om Surya untuk melihat keadaan Rani. Sesampainya di kamar Rani, ia pun melihat Kak Roy yang menangis , sambil menggenggam jemari tangan putrinya yang telah selesai melakukan kemoterapi, dan kini sedang tertidur. Sungguh tidak kuasa Bude Ayu melihat kesedihan keponakan kesayangannya itu. Sambil menyeka air matanya, Bude Ayu berjalan menghampiri Kak Roy dan mengusap kepalanya pelan.


"Maafkan Bude Roy, untuk apa yang terjadi pada Rani, putrimu. Sungguh, Bude tidak ada maksud untuk membuat putrimu dalam keadaan seperti ini, nak. Hiks... Hiks.. Hiks. "


Kak Roy hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun pada Bude Ayu. Pikirannya benar-benar kacau, dan sangat sedih memikirkan putri kesayangannya itu harus terus merasakan efek kemoterapi yang menyakitkan pada tubuh kecilnya.


Bude Ayu yang menyadari jika Kak Roy tidak mempedulikan kehadirannya, dengan segera berlalu pergi meninggalkan Kak Roy yang masih terus terdiam memandangi Rani.


Bude Ayu menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya berulang kali, sembari terus berjalan menjauh dari Kak Roy, dengan rasa bersalah yang teramat sangat.


***

__ADS_1


Aku mendatangi Ummah untuk meminta telepon genggam ku yang di bawanya. Tetapi Ummah melarang ku menggunakannya, ia ingin agar diriku menikmati liburanku dan tidak terganggu dalam hal apapun. Termasuk Kak Roy dan keluarganya. Aku pun mengutarakan kepada Ummah akan pikiran ku yang selalu tidak tenang, dan terus memikirkan putri Kak Roy.


"Apakah Kak Roy, Tante Desi dan Om Surya menghubungi Ummah, Abi atau Enjid? , " tanya ku.


Ummah menggelengkan kepalanya, ia bersama Abi dan Enjid sepakat untuk tidak mengangkat telepon dari keluarga Kak Roy. Setelah kejadian tempo hari, Ummah tidak ingin membuat ku bersedih dan tertekan akan sesuatu hal yang akan membuat diriku menjadi merasa bersalah.


Ummah merangkulkan tangannya ke pundakku dan mengajak diriku duduk.


"Sayang, Ummah ingin kamu menikmati liburanmu dan melupakan untuk terus memikirkan keluarga Roy, khususnya Rani putrinya. Setelah apa yang dirimu lakukan untuk putri Roy, mereka malah menyudutkan dirimu bahkan tidak menerima pesanmu dan juga mengangkat telepon darimu. Padahal niatmu hanya ingin memastikan keadaan Rani baik-baik saja. Untuk itu, Ummah minta kamu juga jangan terlalu memikirkan mereka atau Rani. Karena kamu bukan siapa-siapa bagi mereka, sayang. "


"Tetapi Ummah, putri Kak Roy... Rani.. Tidak ada sangkut pautnya dengan sikap keluarga Kak Roy padaku, " bantah ku.


Ummah mengusap kepala ku sambil mengangguk, "Iya sayang Ummah mengerti, Ummah tidak melarang dirimu untuk menyayangi putri Roy. Tetapi untuk kali ini,Ummah minta untuk dirimu benar-benar menikmati liburan ini. Supaya pikiran mu dapat fresh dan tenang. Kamu mengerti kan, sayang?."


"Iya Ummah, " jawbku sambil mengangguk pelan.


Setelah itu,Ummah memintaku untuk bersiap-siap dan berganti pakaian.


Dan memberikan ku pakaian gamis yang telah ia belikan untukku.


"Kamu pakai ya sayang, setelah itu kita akan pergi bersama-sama, " ucap Ummah.


"Kita mau pergi kemana Ummah?, " tanyaku.


Ummah tersenyum penuh misteri, "Nanti kamu akan tahu sayang. Sekarang kamu segera bersiap-siap ya, " pinta Ummah padaku.

__ADS_1


Aku menatap wajah Ummah dengan penuh tanya sambil membawa bungkusan pakaian yang di berikan boleh Ummah padaku.


Ummah terlihat tersenyum senang melihatku, seperti ada sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Tetapi , apa itu aku tidak tahu.


Tanpa banyak bertanya lagi pada Ummah dan segera bergegas menuju kamar hotel tempat ku menginap.


Setelah tiba di kamar hotel, aku pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Tetapi, aku pun melihat Wirda dan Bik Inah juga tengah bersiap-siap.


Aku pun mendekati Wirda dan bertanya kepada nya , akan hendak kemana.


Dia pun menjawab jika Ummah meminta dirinya, dan Fariz juga Bik Inah untuk berganti pakaian, sebab Ummah dan Abi ingin mengajak kami sekeluarga untuk pergi ke suatu tempat, tetapi Wirda mengatakan jika Ummah tidak memberitahu di mana tempat yang akan kami semua datangi.


Aku terdiam sambil berpikir, dan Wirda langsung menepuk pundakku pelan untuk segera bergegas.


Aku mengangguk dan segera berjalan menuju kamar mandi. Namun, pikiran ku masih terus mencoba menerka. Kemana Ummah ingin mengajak kami sekeluarga pergi.


Ughhh...


Ku hembuskan napasku pelan, dan berharap semoga kali ini aku tidak di pertemukan lagi dengan Kak Reno.


"Rani, ayo lebih cepat sedikit ya! Ummah, Abi dan Enjid sudah menunggu kita!, " teriak Wirda padaku.


"Iya Wirda, sebentar, " jawabku.


Aku pun segera bergegas membersihkan diriku, untuk segera berganti pakaian dan pergi bersama seluruh anggota keluarga Imandar.

__ADS_1


__ADS_2