
Aku duduk dengan tenang sembari memandang potret diriku sendiri dari pantulan cermin datar di hadapanku.
Penata rias atau MUA bersama asistennya sibuk merias wajahku dengan aneka make up (tata rias wajah)
Mbak Riska menemaniku dan memperhatikan riasanku. Ia begitu teliti melihat setiap detail make up yang mendarat di wajahku.
"Mbak,saya mau adek saya riasannya no makeup makeup look tetapi tetap terlihat makeup flawless and soft,"ucap Mbak Riska cerewet.
Penata rias yang meriasku mengangguk sambil mengenakan complexion dengan jenis full coverage untuk memberikan riasan wajah yang flawless sesuai permintaan Mbak Riska.
Mbak Riska terus memperhatikan riasanku. Sesekali terkadang ia mengambil telepon genggam mengambil fotoku ataupun dirinya menghilangkan kebosanan.
Debar....debar....
Perasaanku tegang dan takut menghadapi para tamu undangan.
Aku takut jika nanti diriku membuat kesalahan dan membuat malu keluarga.
Sungguh perasaan ini menderaku.
Mbak Riska melihat ketegangan di wajahku.
Dengan pelan ia berjalan semakin mendekatiku dan memotivasi ku.
"Ran,bismillah aja mudah-mudahan semua lancar.Rani nggak perlu tegang atau takut.OK,"ucap Mbak Riska menyemangati ku.
"Iya mbak,"jawabku pelan.
Tidak lama kemudian penata rias telah selesai meriasku.Gaun baju pengantin pun telah siap ku kenakan beserta high heels yang menakutkan untukku.
Begitu pula Mbak Riska dan Bu Sri yang telah menjelma rupa menjadi bidadari rupawan yang elok di pandang mata.
"Rani sudah siap nak.Reno sudah siap di atas wedding podium (podium pengantin) menanti kedatangan Rani.
Putri mama terlihat sangat menawan,"ucap Bu Sri memujiku.
"MaasyaAllah tabarakallah,terima kasih mah.Mama juga terlihat sangat cantik dan awet muda,"ucapku balas memuji.
"Akh...kamu bisa aja Ran,"ucap Bu Sri sambil mencubit lembut daguku.
"Ehhhh..mah,jangan dong nanti rusak riasan Rani,"ucap Mbak Riska menegur Bu Sri.
"Oh yah mama lupa.Maaf ya nak,"sambil menyesal.
"Nggak apa-apa Mbak....mah,"ucapku santai.
Tak....tak...tak....
Tok...tok...tok...
Bunyi suara sepatu berdecit ke arah kami.
"Ran,maaf ya aku telat,"ucapnya engos-engosan.
"Nggak apa-apa Wir, yaudah kamu minum dulu itu ada air mineral,"ucapku sambil menunjuk pada tumpukan botol air mineral.
Dengan cepat Wirda menuju tumpukan botol air mineral dan mengambil satu botol.Lalu ia duduk dan minum sampai habis.
Aku yang melihat Wirda begitu kaget karena dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.
Karena penasaran aku beranikan diri untuk melangkah mendekatinya.
Namun,Bu Sri menghalangiku.
Selesai minum Wirda menuju ke tempatku berdiri.Ia menatapku lekat seolah sesuatu hal yang sangat penting ingin ia sampaikan padaku.
"Wir,kamu kenapa?,"tanyaku penasaran.
Tetapi Wirda diam dan terus menatapku.
Aku yang melihatnya menjadi bertanya-tanya ada apa dengannya.
"Kamu baik-baik saja kan Wir?,"tanyaku cemas.
Namun Wirda hanya mengangguk pelan tanpa berkata apapun padaku.
Hatiku semakin gelisah melihatnya.
Sebenarnya apa yang terjadi batinku dalam hati.
Hingga tiba-tiba ia pun mengatakan sesuatu.
"Tante boleh saya bicara dengan Rani berdua saja cuma sebentar saja tante,"pinta Wirda pada Bu Sri.
Bu Sri tampak aneh.
Ia tampak gusar dan memberikan banyak alasan pada Wirda.
Namun,Wirda tetap berusaha ingin bicara padaku.
Hingga Bu Sri pun menyerah dan mengizinkan Wirda untuk berbicara denganku.
Bu Sri dan Mbak Riska keluar perlahan.
Namun,mereka terus menoleh ke arahku dan Wirda.
Aku melihat mereka seperti orang yang cemas dan ketakutan.
__ADS_1
Tetapi entahlah mungkin itu hanya perasaanku saja.
Lalu aku pun kembali fokus pada Wirda.
"Wir,ada apa?apa ada sesuatu hal buruk yang terjadi?,"tanyaku cemas sambil memegang bahu Wirda.
Namun,Wirda terus memandangku.
Matanya berkaca-kaca lalu memelukku erat.
"Ran,kenapa kamu nggak cerita sama aku kalau kamu mengesahkan pernikahanmu dengan Kak Reno,"ucapnya sambil memelukku.
"Oh....jadi karena itu kamu bersikap aneh Wir.Semua terjadi begitu cepat Wir.Aku nggak sempat bicara denganmu,"ucapku.
Wirda melepaskan pelukannya padaku lalu ia mengusap air matanya.
"Ran,jangan teruskan perayaan pernikahan ini,"ucapnya serius.
"Kenapa Wir?,"tanyaku kaget dan penasaran.
"Karena...," Kata-kata Wirda terpotong.
Ckrrrrrkkkkk.....
Pintu terbuka lebar.
Bu Sri dan Mbak Riska masuk lalu mendekat ke arahku.Wirda menatap mereka berdua tajam.Sementara aku masih penasaran dengan kalimat Wirda yang belum selesai.
"Wir,karena apa?tolong teruskan ucapanmu,"pintaku.
"Ran,ayo ini sudah waktunya kamu keluar nak.Bicaranya nanti di sambung lagi setelah perayaan ini selesai ya,"ucap Bu Sri yang sudah berada di sampingku.
"Ran...,"ucap Wirda.
"Iya Wir,bicara saja,"pintaku dengan sangat penasaran.
"Ran,sudah ya.Ayo nak,"kata Bu Sri sambil menggandeng tanganku bersama Mbak Riska.
Mereka berdua menarikku menjauh dari Wirda.Namun,aku masih sangat penasaran dengan Wirda.
Mataku terus memandanginya yang tertegun melihatku berjalan menjauh darinya.
Kulihat salah satu tangannya menjulur seraya mencegahku.
Tetapi ia diam tidak bergeming dengan wajah begitu sedih.
Sementara aku melangkah dengan penuh tanda tanya.
Misteri apa lagi ini,batinku dalam hati.
Para tamu kulihat sudah banyak yang hadir.
Kulihat Bu Sri dan Mbak Riska menatap ke arah Kak Reno yang berada di wedding podium.
Mereka mengangguk seperti memberikan isyarat yang tidak kupahami maksudnya.
Hatiku menjadi gusar dan tidak tenang memikirkan Wirda.
Sebenarnya apa yang terjadi padanya.
Tibalah aku berdiri di atas wedding podium bersama Kak Reno.
Gemuruh suara lantunan musik terasa asing bagiku.
Keramaian yang membuat hatiku sepi.
Aku terus mencari-cari kemana Wirda.
Mataku tidak berhenti berkelana menyusuri semua pandangan yang dapat ku jangkau oleh indera penglihatanku.
"Kamu mencari apa Ran,"ucap Kak Reno memandangku.
"Akh ...tidak,"ucapku dengan mata yang tidak fokus padanya.
"Benarkah kamu tidak mencari sesuatu atau...seseorang?,"ucap Kak Reno curiga.
Aku menatap ke arahnya.
Dia mengerutkan dahi dan alis yang agak terangkat ke atas.
Namun,entah kenapa ia terlihat berbeda.
Tatapan matanya tidak sehangat sebelumnya.
Tajam,liar dan seakan menyala-nyala.
Mata yang pernah kulihat sebelumnya.
Yah,itu mata Kak Reno sebelum ia berubah seperti ini ,batinku dalam hati.
Apakah ini hanya perasaanku saja?
Yah,mungkin itu hanya perasaan kecemasanku akan sikap aneh Wirda yang tidak seperti biasanya.
Kalo ini aku melirik ke arah Kak Reno.
Benar batinku.
__ADS_1
Ia terlihat sangat berbeda hari ini.
Apakah bisa seseorang berubah dalam sekejap.
Kak Reno menatapku ia tampak menyadari jika aku mengamatinya.
Senyumnya terurai tetapi kurasakan hambar dan sinis seperti di buat-buat.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ke arahku dan Kak Reno.
Aku tidak menggubrisnya pikiranku masih mencoba realita yang kusaksikan.
Getaran aneh menjalar di tubuhku seketika.
Degup jantung berdetak.
Sesuatu kerinduan yang menjamah sesaat.
Tak...tak..tak...
Suara langkah kaki mendekat dan semakin dekat.
Mataku memandang ke bawah.
Sepatu kets ranning lokal brand berwarna putih dengan motif garis hitam biru.
Sepertinya pernah kulihat sebelumnya ucapku dalam hati.
Pelan ku arahkan pandanganku melihat siapa yang memakai sepatu tersebut di acara perayaan pesta pernikahan.
Pandanganku terhalang oleh orang-orang yang menutupinya.
Aku semakin penasaran.
Sesekali kulihat keluarga Suprapto tersenyum bahagia dan menikmati pesta bersama teman dan relasi bisnis mereka.
Tapi entahlah hatiku tidak ingin menghiraukannya.
Aku lebih terobsesi dan fokus pada si empunya pemilik sepatu tersebut.
Dan disaat aku mencari pemilik sepatu itu pergi.
Tiba-tiba...
Pemilik sepatu itu sudah berada di dekatku dan Kak Reno
Betapa terkejutnya aku saat mataku memandang dari bawah menuju atas.
Wajah itu...
Wajah yang tidak asing bagiku.
Wajah yang selalu ku nantikan kehadirannya.
"Kak ..kak ...kak..kak Roy,"ucapku terbata dan terkejut.
Wajah Kak Roy dingin dan datar.
Pakaiannya terlihat tidak rapi.
Rambutnya berantakan.
Kak Reno yang berada di sampingku juga terkejut melihat kehadiran Kak Roy.
Aku masih diam terpaku menatap Kak Roy.
Matanya berkaca-kaca menatapku.
Lalu pelan ia memalingkan mukanya ke arah Kak Reno dan mendekatinya.
Bruuukkk....
Gedubrak.....
Kepalan tangan kanan Kak Roy memukul keras wajah Kak Reno.
Ia meninju wajah Kak Reno dengan membabi buta
Kak Reno jatuh tersungkur dengan wajah memar dan terkejut.
Namun Kak Reno tidak membalas.
Semua orang yang melihat menjerit histeris.
Sementara aku masih tertegun menyaksikan Kak Roy mengangkat kerah baju Kak Reno dan memukulnya kembali berulang.
Pyarrrrr.....
Benda berjatuhan...
Darah Kak Reno bercucuran....
Apa yang terjadi ?
Ada apa ini?
Aku membatu dan bingung.
__ADS_1