Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Keadaan Rere.


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti, di mana dentang jarum jam pun tidak pernah berhenti memutar waktu untuk bergulir dan tidak lelah mengerus putaran roda kehidupan. Tampak dari kejauhan seorang perempuan duduk menyendiri dari keramaian memandang langit tebal berselimut mendung hitam. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang terlihat tirus. Sesekali ia tampak mengusap perutnya dengan lembut,lalu terdiam memandang jemari tangannya yang bermain menyentuh perutnya. Tak terlihat kebahagiaan di parasnya yang sayu, hanya kesenduan berpadu derai air mata yang menghiasi dirinya. Kemudian, datanglah perlahan seseorang yang mengusap lembut kepalanya, dan membelainya dengan penuh kasih sayang. Dimana tatapan mereka pun bertemu dalam kegetiran hati yang masing-masing mereka rasakan. Bibir mereka bergetar hari,dan membuat tubuh mereka merengkuh dalam satu dekapan kesedihan. Tangis mereka pecah mengalunkan melodi-melodi rintihan hati yang tak bisa di ungkapkan lewat lisan. Kemudian, datang lagi seorang laki-laki yang sudah tak mampu menahan gejolak batinnya, dimana dirinya tersayat perih melihat dengan indra penglihatannya akan kemalangan dia perempuan yang dicintainya.


Laki-laki itu pun langsung berjalan cepat dan memeluk erat dua perempuan yang sedang merengkuh pilu di hadapanya, "Maafkan papa, mah.... Maafkan papa Re. Sebab papa tidak mampu untuk membuat putri papa bebas dari jeratan hukum, sebab papa tidak bisa menyatukan ibu dan anaknya, hiks.. hiks.. , " suara tangis Om Nugroho pecah.


Mereka bertiga terbius dalam kesedihan yang tidak berujung dan tenggelam dalam ada yang pupus.Hati Tante Sinta dan Om Nugroho hancur berkeping-keping, setelah mengetahui jika Kak Roy dan keluarganya enggan untuk menarik laporan tuntutannya di kepolisian meskipun mereka sudah mengetahui jika saat ini Rere mengandung darah dagingnya Roy. Akan tetapi, hal itu juga tidak membuat simpati dan menimbulkan kepedulian di hati Kak Roy dan keluarganya. Hati kedua orang tua Rere hancur menyaksikan putri tunggal mereka harus mendekam di balik sel jeruji besi dalam keadaan sedang mengandung. Walau besar asa mereka, dengan harapan jika hati Kak Roy dan keluarganya dapat terketuk pintu hatinya dengan memaafkan Rere. Meskipun kedua orang tua Rere menyadari jika memang apa yang telah di lakukan Rere tidak pantas untuk di maafkan, tetapi naluri hati mereka sebagai orang tua yang telah membesarkan dan merawat Rere sejak kecil hingga tumbuh seperti sekarang, sungguh membuat pilu perasaan mereka. Dimana mereka harus menyaksikan Rere berjuang sendiri dengan janin yang ada di dalam kandungannya, tanpa keluarga ataupun suami yang mencurahkan kasih sayang kepada dirinya.


Tangis mereka kembali pecah penuh keharuan, saat Om Nugroho memberikan surat resmi perceraian Rere dan Kak Roy.


Rere hanya terdiam sambil memandang lembaran kertas yang mengesahkan bahwa hubungannya dengan Kak Roy benar-benar telah berakhir. Bibirnya bergetar sembari jemari tangannya memegang perutnya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya ******* napas pendek yang terus tersengal-sengal di iringi isak tangis yang semakin tinggi ritmenya.Penyesalan yang datang dengan terlambat menyergap pikiran dan hatinya. Rere pun menyadari tidak akan ada sesuatu yang akan baik , jika segala sesuatunya terus dipaksakan. Apalagi hal itu mengenai hati, sebuah perasaan yang dapat menimbulkan bahagia atau membawa malapetaka, seperti yang ia rasakan saat ini. Tante Sinta terus berusaha menenangkan Rere, sebelum ia dan suaminya benar-benar meninggalkan Rere berjuang seorang diri di sel tahanan yang akan membelenggu kebebasan dirinya.


"Hiks, hiks, hiks, sayang... Mama tahu semua ini tidak mudah untukmu Nak. Tetapi mama minta kamu harus kuat dan tegar menjalani semua ini. Allah masih sayang dan peduli kepada mu Nak, dengan memberikan karunia terbesar nya yang kini sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahimmu, " ucap Tante Sinta dengan berlinang air mata sembari memegang perut Rere.


Rere hanya terdiam dan memandang lesu wajah Tante Sinta. Tidak ada kata lagi yang mampu mewakilkan kesedihan akan deritanya saat ini. Hanya air mata... yang menjadi perwakilan sempurna akan ketiadaan cintanya saat ini.


Dengan hati yang berat dan perasaan terluka, Om Nugroho menarik perlahan Tante Sinta untuk segera meninggalkan Rere menjalani hukuman akan perbuatan yang telah putri mereka lakukan.


Tante Sinta terus menangis pilu sembari kedua tangannya menutup mulutnya untuk meredam deru isak tangisnya yang tidak terbendung. Kepala Tante Sinta terus berputar-putar perlahan, seakan-akan ia benar-benar tidak bisa melepaskan Rere dari genggaman tangannya.


Tante Sinta tidak kuat, ia pun kini berlari lagi mendekap erat dan kuat putri kesayangan nya itu dan memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Rere, sambil bergetar haru.


Huhuuu... Huhuhu.. huhuhu...


"Sayang, maafkan mama nak. Maafkan mama yang tidak bisa melakukan apapun untukmu, " ucap Tante Sinta memegang wajah Rere dengan kedua tangannya.


Rere pun hanya diam dan semakin tenggelam dalam tangisnya.


Om Nugroho mendekati Tante Sinta lagi dan menarik pergelangan tangan istrinya secara perlahan-lahan, "Mah, ayo! Kita harus pergi dari sini!, " pinta Om Nugroho sambil menyeka air matanya.


Tante Sinta menggeleng kan kepalanya dan tak ingin beranjak pergi dari sisi Rere. Tetapi, semua tidak terjadi atas keinginan Tante Sinta. Dua orang sipir perempuan datang, lalu mendekat ke arah Rere dan melepaskan genggaman tangan Tante Sinta dari jemari Rere yang rapuh.


Kedua sipir perempuan itu menarik Rere perlahan untuk segera menjauh dari kedua orang tuanya ,dan berbalik arah untuk masuk ke dalam sel tahanan sebagai tempat tinggal barunya.


Rere pasrah dan tidak bergeming sama sekali, dimana sebelum ia memutar tubuhnya. Rere menatap lekat setiap raga kedua orang tuanya sembari memejamkan kedua matanya, untuk merekam dan menyimpan paras kedua orang tuanya di dalam sanubari nya.

__ADS_1


"Ayo!, " ucap salah satu sipir perempuan menarik tangan Rere perlahan.


Rere tertunduk lemas dan mengikuti setiap arahan dari kedua sipir perempuan yang menuntun langkah kakinya menjauh dari kedua orang tuanya.


"Rere! Anakku! Huhuhuhuhu..!, " pekik Tante Sinta dengan hebatnya.


Om Nugroho berusaha menenangkan hati Tante Sinta. Tetapi duka yang mendalam begitu merenggut ketabahan Tante Sinta.


Brughhh...


Tubuh Tante Sinta jatuh ke tanah, dengan air matanya yang terus mengalir sambil meneriakkan nama Rere berulang-ulang kali, hingga Rere hilang dan jauh dari pandangan pelupuk matanya yang membengkak.


Sementara itu, Rere terus berjalan dalam perasaannya yang diselimuti kesedihan mendalam. Matanya sesekali memandang bangunan-bangunan kokoh dan kuat di hadapannya, yang seakan-akan tersenyum mengejek dalam penyambutan kedatangannya.Ilusi nya membayang seolah-olah bangunan penjara itu menertawakan dirinya, "Kamu kalah Rere! Kamu sudah hancur dan terbuang!, " pikiran di dalam ilusinya bermain.


Glekkk...


Rere menelan air ludahnya dan mulai merasakan takut yang tiba-tiba menyergap dirinya. Dimana bulu kuduk Rere merinding melihat semua tembok-tembok dingin dengan lorong-lorong panjang yang akan menemani hari -harinya kedepan.


Gelap dan samar dalam bayang-bayang yang temaram tidak dapat terjangkau oleh semua cahaya sinar mentari.


Tubuh Rere terasa mengigil, ketika udara dingin dari langit mendung nan pekat mulai berhembus kuat. Kakinya seakan-akan engan untuk melangkah lebih jauh lagi. Tetapi kedua sipir perempuan di kedua sisinya terus menuntun dirinya menyelesaikan perjalanan yang begitu membuat dadanya terasa sesak.


Tiba-tiba langkah kaki Rere benar-benar terhenti, saat dirinya melewati deretan sel tahanan dengan banyak nya orang yang berada di dalamnya, dengan memandang dirinya secara liar dan buas.


Hatinya bergetar takut dan merinding.


"Ayo jalan! Kenapa berhenti?, " tanya salah seorang sipir perempuan di sisi kirinya.


Rere terdiam menatap wajah sipir perempuan itu dengan menunjukkan ekspresi kecemasannya yang begitu jelas.


Sipir perempuan itu malah tersenyum sinis, "Saat berada disini kamu takut, tetapi saat melakukan kesalahan dengan menyakiti orang lain. Kamu tidak pernah memikirkan akan dampak perbuatan mu yang akan mendekam dalam kukungan kegelapan disini."


Rere semakin tertekan,melihat tatapan narapidana lainnya yang seolah-olah ingin menerkam dirinya. Semua mata pun beradu pandang, melihat akan kehadiran Rere sebagai teman baru mereka. Kedua sipir perempuan itu lalu menarik pergelangan tangan Rere lagi. Langkah-langkah kaki Rere yang kosong dan terasa berat, harus ia paksakan mengikuti jejak sepatu kedua sipir perempuan yang menuntun dirinya menuju bilik jeruji. Rere terdiam melewati gemuruh lorong-lorong yang remang dengan riuh rendah kebisingan narapidana lain. Langkah kakinya lalu melewati ujung lorong sel tahanan, dimana tampak cahaya matahari lebih terang masuk menembus tempat lorong gelap yang menakutkan untuknya. Rere berusaha menekan akan rasa ketakutan di dalam dirinya dan memandang ke arah sekitarnya. Matanya lebih terbuka dan berani. Dengan memandang beberapa narapidana lain sedang membersihkan pekarangan, mencabut rumput dan beberapa pula ada yang sedang menyapu dan mengepel Masjid yang letaknya tidak jauh dari jalan setapak tempat Rere berjalan bersama kedua sopir perempuan. Semua beradu pandang lagi,dan berhenti sejenak melakukan aktivasinya, lalu menatap ke arah Rere yang baru saja datang. Dengan paras takut dan tegang Rere memandang wajah narapidana itu satu per satu. Rere lalu berusaha memberikan sedikit senyumannya kepada mereka,yang terlihat tidak peduli akan senyuman Rere. Dimana tatapan mata mereka penuh dengan kebencian mengawasi dan melihat Rere dari kejauhan,yang kemudian membuat Rere lebih banyak menundukkan kepalanya karena perasaan takutnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, langkah kakinya terhenti pada ruangan kecil dan sangat sempit. Tetapi pandangan Rere buyar, ketika terdengar suara jeritan seorang narapidana perempuan yang meraung dengan sngat kuat dan memukul-mukulkan kedua tangannya pada besi jeruji.


"Lepaskan Aku! Keluarkan aku dari sini! Aku tidak bersalah! Rani yang bersalah! Rani yang salah, karena telah merebut Cintaku!, " teriak perempuan yang tak lain adalah Kak Aisyah.


Dengan perasaan tegang dan takut. Rere memberanikan diri bertanya kepada sipir perempuan di samping nya, "Apa yang terjadi dengan perempuan itu?. "


Sipir perempuan itu memandang ke arah Rere dengan ketus, "Sama dengan diriku patah hati karena cinta bertepuk sebelah tangan, hingga menyakiti orang lain. "


Gleekk....


Rere terdiam sembari menelan ludahnya, begitu mendengar perkataan sipir perempuan yang sedikit menyinggung perasaan nya.


Greek... Greek..


Pintu jeruji besi di buka, dengan perlahan kedua sipir menyuruh Rere masuk dan meletakkan tas kecil miliknya di lantai.


Rere menatap paras kedua sipir perempuan itu.


"Selamat datang dan menikmati kehidupan barumu disini, " ucap salah satu sipir perempuan serius sambil mengunci pintu jeruji besi.


Rere terpaku memegangi jeruji besi yang kini menahan dirinya sambil memandangi kedua sipir perempuan yang sudah berlalu pergi meninggalkan dirinya.


Argghhh.... Argghhh... Argghhh..


Suara pekikan Kak Aisyah yang berada tepat di samping sel tahanan Rere berada, sungguh membuat Rere merasa takut dan merinding melihatnya.


Rere berjalan perlahan sambil menutup kedua telinganya, lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding lusuh nan dingin di sel kini ia berada. Dia luruskan kedua kakinya yang mulai terasa pegal dan duduk lesehan di atas lantai beralaskan tikar. Kedua matanya memandang ke sekitar sel.


Duarrr.... Duarrrr... Duarrrr..


Bressss...


Suara guntur menggelegar bersamaan dengan jatuhnya guyuran hujan deras nan lebat.Rere menutup kedua matanya, dan menyesali akan semua perbuatannya.

__ADS_1


Tes... Tes.. Tess..


Air matanya pun kembali tumpah bersamaan dengan lebatnya hujan yang turun.


__ADS_2