Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Keinginan hati.


__ADS_3

Kak Roy dan Tante Desi mendekat padaku. Dan tanpa mengatakan apapun Tante Desi lalu memelukku erat, dengan derai air matanya yang terus mengalir. Aku tak tahu pasti mengapa beliau terus menangis, dimana sikapnya membuat diriku menjadi bingung dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Sementara itu, Kak Roy hanya bisa memandangi diriku. Sembari menggendong putri kecilnya yang bernama Rani. Pandangan matanya tidak pernah lepas dariku, ia seakan-akan tidak menduga jika takdir akan mempertemukannya lagi padaku.


Ummah pun menghampiri diriku, setelah menyeka air matanya. Lalu mengajak Tante Desi, Kak Roy, bibi pengasuh, dan Rani kecil untuk ikut bergabung dengan keluarga Imandar lainnya yang sedang berkumpul menunggu kedatangan ku dan Ummah.


Tante Desi pun tidak menolaknya sama sekali.Sementara raut wajah bingung terus di tampilkan oleh Kak Roy, yang sekarang berganti memandangi wajah Tante Desi, yang tidak berhenti menumpahkan air matanya.


Kak Roy mendekati Tante Desi perlahan, sembari memegang lengan Tante Desi, seraya merangkulnya, "Ada apa mah? Mengapa mama menangis seperti ini?. "


Tante Desi tidak dapat berkata apa-apa, dan terus memandangi wajah Kak Roy yang masih terlihat bingung. Hingga suara lembut dari Rani kecil, turut bertutur dalam kebingungan Kak Roy.


"Nenek jangan menangis yah, " ucapnya polos.


Tante Desi pun tersenyum kecil dan mengangguk, mendengar ucapan polos cucu kesayangannya.


Tante Desi pun menarik lengan Kak Roy untuk berjalan mengikuti Ummah dan Bik Inah yang berada di sisi kanan dan kiriku.


"Apakah benar kamu tidak apa-apa berjalan, sayang?, " tanya Ummah pelan sedikit ragu padaku.


Aku mengangguk pada Ummah, dan meyakinkan dirinya. Jika aku mampu dan bisa melangkahkan kaki ku dengan baik sekarang.


Ummah pun tidak bisa menolaknya, dan hanya terus memastikan keadaan diriku baik-baik saja.


Sementara itu, bibi pengasuh Rani kecil membantu membawa kursi roda ku yang tidak terpakai.


Sambil berjalan menyusuri taman bunga yang bermekaran. Pandangan Kak Roy tidak berhenti menatap diriku, hatinya terus bergetar. Merasakan perasaan yang sama dan semakin tumbuh serta tidak pernah berkurang padaku.


"Apa yang terjadi dengan Rani mah?," tanya Kak Roy penuh tanya melihat jalanku yang tertatih.


Tante Desi mengusap tangan Kak Roy,sambil menatap wajah Kak Roy dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ada apa mah?, " tanya Kak Roy lagi dengan perasaan semakin cemas.


Tante Desi melihat ke arahku dan Ummah yang sudah berjalan agak jauh darinya.


Lalu Tante Desi meminta Kak Roy untuk menghentikan langkahnya, sementara bibi pengasuh diminta Tante Desi untuk terus berjalan mengikutiku,Ummah dan Bik Inah.


Perasaan Kak Roy semakin gusar dan tidak menentu. Hingga Tante Desi semakin mengenggam erat tangan Kak Roy dan menatap nya dalam.


"Nak, ternyata selama ini Rani sakit. Ia kritis dan mengalami kelumpuhan. Dan kamu tahu saat Rani bertemu dengan putrimu, keajaiban itu datang menghampiri Rani, yang dapat membuat dirinya dapat berjalan secara tiba-tiba saat ini. Hal itu karena Rani berusaha untuk menyelamatkan putrimu, " jelas Tante Desi.


Kak Roy tampak terkejut dan terdiam, dimana air matanya pun ikut mengalir.


Lalu Tante Desi memejamkan kedua matanya, untuk berusaha memberitahukan kepada Kak Roy berita duka.


"Dan yang membuat Rani menjadi lumpuh adalah karena ia mengalami kecelakaan pesawat terbang. Dimana Rani harus kehilangan Bik Siti dan suami nya Fariz, untuk selama-lamanya, nak, " tutur Tante Desi sambil menangis tersedu-sedu.


Kak Roy terperangah, tubuh nya terasa gontai. Beruntung dengan cepat Tante Desi, segera memegangi tubuh Kak Roy yang hendak terjatuh.


"Roy! Kamu tidak apa-apa nak?, " tanya Tante Desi cemas.


Kak Roy terdiam, dimana ia merasakan hatinya begitu sakit dan nyeri seketika.


"Ya Allah, bagaimana bisa selama ini. Aku membiarkan Rani menjalani fase terpuruk dalam dirinya seorang diri, dan aku malah pergi menjauh darinya. Dengan beranggapan jika dia sudah bahagia dengan kehidupan nya. Tetapi apa yang ku pikirkan ternyata keliru, " batin Kak Roy dengan air matanya yang semakin deras mengalir.


Rani kecil yang melihat kesedihan Kak Roy dan Tante Desi, segera meminta keduanya untuk diam dan tidak bersedih lagi.


Kak Roy yang mendengar ucapan polos dari putrinya, dengan segera mencium pipi Rani dan memeluknya erat.


Begitu pula Tante Desi, "Kita tidak boleh bersedih seperti ini nak. Bu Putri mengatakan kepada mama, untuk tidak menampilkan kesedihan kita di depan Rani. Karena saat ini Rani sedang berusaha untuk merecovery pikiran dan hatinya, agar dapat menjalani kehidupannya lagi. "


Kak Roy mengangguk dan langsung menyeka air matanya, "Iya mah. Roy mengerti, ayo mah kita segera menyusul Rani. Sudah saatnya Roy, berada di dekat Rani dan tidak pernah lagi membiarkannya sendirian. "


Rani kecil memegangi wajah Kak Roy sambil tersenyum dan mencium pipi Kak Roy.

__ADS_1


"Rani sayang papa, " ujarnya lembut.


Kak Roy pun tersenyum lebar memandangi wajah putri kecilnya.


"Papa juga sayang sekali dengan Rani, " balas Kak Roy seraya mencium kening putrinya.


Tante Desi tersenyum dalam kesedihannya.


"Ya Allah, sudah lama aku tidak pernah melihat kebahagiaan Roy. Setelah kami sekeluarga memutuskan untuk menjauh dari semua masa lalu Roy, termasuk Rani.


Tetapi pertemuannya dengan Rani, selalu dapat mengukir senyum indah pada wajah Roy, " gumam Tante Desi di dalam hatinya.


Kak Roy kembali berjalan dengan menggendong putrinya, di iringi langkah kaki Tante Desi yang menyertainya.


Ketulusan dan kebahagiaan yang Kak Roy rasakan karena bertemu kembali dengan diriku, yang sudah lama tidak dijumpainya. Sungguh membuat suasana hatinya menjadi hangat. Perasaan rindunya yang telah ia pendam sekian lama, terus membuka kembali memori kenangan saat-saat di mana Kak Roy dan diriku sering menghabiskan waktu bersama.


Kak Roy beberapa kali tersenyum bahagia, dan larut di dalam pikirannya. Dengan pandangan matanya yang terus tertuju kepada diriku.


"Takdir-Mu memang selalu mengejutkanku Ya Allah,terkadang ada hal-hal yang muncul secara tak sengaja yang membuat diriku tertuju pada suatu kenangan masa lalu. Yaitu dengan kembalinya diriku dapat memandang wajah seseorang yang sudah lama tak terlihat, dan selalu membuat ku rindu yaitu Rani.


Akh, bahkan setiap menyebut namanya saja, sudah membuat jantung ku berdegup kencang seperti ini.


Cinta memang tak hanya tentang hubungan fisik, tetapi juga spiritual dan magis. Karena ada beberapa hal yang mungkin hanya bisa dijelaskan secara nonmateri karena hanya bisa dirasakan, salah satunya adalah rasa rindu. Yah, kerinduanku pada Rani.


Sudah banyak hari yang kulalui tanpanya, namun tak pernah terlintas di dalam benakku.Jika Sang Maha Pencipta membawamu kembali kehadapanku, " gumam Kak Roy di dalam hati.


Dan tidak lama kemudian langkah kaki semua orang terhenti, saat Wirda dengan keterkejutannya menjerit kegirangan penuh haru. Karena melihat diriku dapat kembali berjalan. Wirda langsung memeluk erat dan menatap wajahku lekat, seolah-olah sesuatu hal yang mustahil telah terjadi.


Tangisnya pecah dalam keharuan yang berpadu dengan rasa kebahagiaannya. Dimana hal ini juga turut di rasakan oleh anggota keluarga Imandar lainnya.


Setelah itu, Ummah segera memintaku untuk segera duduk pada tikar yang sudah dibentangkan oleh Pak Budi. Dengan aneka makanan dan minuman di atasnya.


Semua orang menyambutku dengan suka cita dan tangis haru bahagia.


Hingga semua orang pun di buat terkejut kembali dengan kehadiran Kak Roy juga Tante Desi. Khususnya Wirda yang tidak dapat lagi menyembunyikan rasa kagetnya, "Kak Roy!... Tante Desi! Bagaimana kalian bisa berada disini?. "


Sementara itu, Ummah menceritakan awal pertemuan dengan Kak Roy dan bagaimana diriku dapat berjalan. Semua orang terkejut dan merasakan keajaiban. Abi, Enjid dan Pak Budi tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur atas karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas kesembuhan diriku.


Pak Budi menghampiri Kak Roy dan memeluk nya."MasyaAllah Nak Roy, sudah lama kita tidak bertemu. Kemana saja Nak Roy selama ini, menghilang begitu saja tanpa kabar, " ucap Pak Budi sambil menitikan air mata.


Kak Roy pun larut pula dalam keharuan dan tidak banyak berkata-kata, dimana beberapa kali ia terus memandangi diriku.


Semua orang saling bercerita banyak hal, hingga tiba-tiba Rani kecil berlari mendekat ke arahku dan duduk di pangkuanku.


Aku terkejut, begitu pula semua orang.


"Papa, apakah ini mamanya Rani?," tanya nya dengan nada polos.


Kak Roy dan Tante Desi terkejut mendengar pertanyaan Rani kecil. Maka dengan perlahan Kak Roy mendekati Rani kecil yang sedang duduk di pangkuanku.


Kak Roy meminta putrinya untuk duduk di pangkuannya,setelah menolak permintaan Kak Roy beberapa kali. Akhirnya atas bujukkan diriku Rani kecil menurut. Dan berpindah di pangkuan Kak Roy.


Kak Roy mengusap lembut kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, dimana semua mata tertuju padanya.


Sambil menatap mata putrinya yang berbinar. Kak Roy mengatakan kepada putrinya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, "Rani sayang, tante ini bukan mama Rani."


"Lalu dimana mamanya Rani pah? Rani mau ketemu mamanya Rani?, " renggek Rani.


Kak Roy menghela napasnya dalam,"Mamanya Rani sudah berada di surga, sayang."


DEG....


Jantung ku berdegup kencang dan terasa linu, mendengarkan ucapan Kak Roy.


Sesaat pandangan mata Kak Roy bertemu dengan pandangan mataku, lalu dengan cepat aku pun mendudukkan pandangan ku.

__ADS_1


Rani kecil menangis, "Hiks.. Hiks.. Hiks.. Papa.. Rani ingin ketemu mama, papa sudah janji kan. "


Hatiku luluh dan terenyuh mendengar tangis putri Kak Roy. Dengan segera ku angkat perlahan tubuh mungil Rani dan mendekapnya dalam pelukan ku. Sembari mengusap kepalanya pelan untuk memenangkan nya. Dimana matanya yang penuh air mata memandangi ku dalam.


Nyesss..


Perasaan aneh yang bergelayut di hatiku,saat melihat kesedihannya.


Maka perlahan ku usap air matanya, dan mencium keningnya.


Dia tersenyum memandangi wajahku, seraya berkata dengan polosnya, "Tante mau kan menjadi mamanya Rani?. "


Semua orang terkejut, begitu pula diriku.


Tetapi ia terus merenggek meminta diriku menjadi mamanya dan memeluk diriku erat, untuk mengabulkan permintaannya.


Entah apa yang ada di dalam pikiran ku, tanpa berpikir panjang dan tidak kuasa melihat kesedihannya. Aku pun mengiyakan permintaannya.


Rani kecil tersenyum bahagia dan mencium pipiku, "Hore... Hore.. Rani sudah punya mama!, " ucapnya dengan kegirangan sambil mengusap air matanya.


Kemudian ia menarik tangan ku perlahan untuk berdiri dan mengikuti langkah kaki kecilnya, seraya berputar menari kegirangan atas kebahagiaan kecil yang tersemat dalam wajah polos itu.


Tante Desi menitikan air mata keharuannya, begitu pula yang lainnya.


Sementara itu, Kak Roy terus terdiam menatap kedekatan diriku dan putri kecilnya.


"Cinta terkadang tak harus memiliki. Saat mencintai seseorang, dimana diriku lebih mementingkan perasaan dan kebahagiaan nya dibandingkan memikirkan diriku sendiri. Yang mana salah satunya hal yang pernah kulakukan adalah dengan cara membiarkan Rani tersenyum bersama dengan orang lain, meskipun hal tersebut membuat diriku menderita karena harus mengikhlaskan nya. Tetapi sekarang aku tidak akan membiarkan perasaan ku kandas lagi Tuhan. Karena sekarang aku ingin menjadi alasan di balik kebahagiaan dan tawa Rani. Sebab aku benar-benar mencintai dirinya Tuhan, " batin Kak Roy di dalam hatinya.


Tante Desi memandang ke arah Kak Roy, dan seakan mengerti apa yang saat ini ada di dalam pikiran putranya.


Dimana Tante Desi pun juga tidak memungkiri, jika dirinya juga memiliki harapan yang sama seperti apa yang di inginkan oleh Kak Roy.


Hatinya kali ini hanya bisa berharap dan terus berdo'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


"Ya Allah, semoga kali ini Roy memang berjodoh dengan Rani, dan engkau takdirkan mereka untuk bersama. Karena hanya Rani seorang lah yang dapat membuat Roy menjadi bahagia, bukan orang lain atau siapapun juga, " ucap Tante Desi di dalam hatinya sambil memandang wajah Kak Roy dan diriku secara bergantian.


Sementara itu, Ummah terus memandang ke arahku juga dan melihat senyum yang menghiasi wajahku setelah sekian lamanya.


"Terima kasih Ya Allah, karena Engkau telah mengembalikan kebahagiaan dan tawa putriku, " ucap Ummah dengan tersenyum.


Rani kecil terus mengengam erat jemari tanganku dan tidak mau melepaskan nya. Ia terus menuntut langkah kaki ku yang sudah semakin lancar dan tidak gontai lagi berjalan.


Bersamanya kurasakan ikatan yang membuat diriku merasa hangat dan ingin terus di dekatnya.


Entah apakah itu rasa iba atau empati atas kepergian Rere, yang membuanya menjadi piatu. Atau karena hatiku memang di takdir kan untuk menyayanginya tanpa memandang sebab akibat apapun juga.


Entahlah...


Aku tidak tahu pasti, tetapi yang ku yakini saat ini adalah aku merasakan hatiku terikat padanya.


"Mama ayo kita kesana ya!, " ucap Rani kecil.


Sontak ucapan nya membuat ku terperanjat dan syok, namun diriku tidak kuasa untuk melarang dirinya memanggilku demikian.


Langkah kakiku terus menyertainya, dan dia pun merasa bahagia karenanya.


Saat aku mulai menemani Rani kecil memandangi gemercik air mancur di kolam.


Tiba-tiba, saat ku palingkan wajahku ke kiri.


Ku lihat Kak Roy sudah berada di sampingmu dan melemparkan senyumannya padaku.


Aku pun merasa canggung seketika, setelah sekian lama tidak bertemu dengannya.


"Apa kabar Ran?, "sapa Kak Roy padaku.

__ADS_1


Aku pun masih terdiam melihat dirinya.


__ADS_2