Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Pandangan mata.


__ADS_3

Pikiranku terus memaksa diriku untuk mengali lebih dalam tentang dirinya, dan semua perubahan yang terjadi dalam siklus kehidupannya. Kebisuan ku terus melarutkan lamunanku tentangnya, hingga tanpa ku sadari mobil yang di kemudikan oleh Pak Budi sudah tiba di halaman kediaman keluarga Imandar.


"Alhamdulillah, Nak Rani kita sudah sampai di rumah, " ucap Pak Budi memecahkan lamunanku yang sunyi.


Aku masih tidak merespon perkataan Pak Budi meski aku mendengar suaranya, hingga Bik Inah perlahan memegang pundakku seraya mengatakan ulang perkataan Pak Budi.


"A... I... iya Bik, " sahut ku.


Aku lalu turun dari mobil bersama Bik Inah, tetapi belum jauh aku berjalan. Dengan cepat Pak Budi keluar dari mobil, lalu memanggil diriku. Sontak saja aku menoleh ke arah Pak Budi.


Pak Budi lalu menghampiri diriku, seraya memberikan sebuah kotak kepadaku, yang ia katakan jika itu adalah titipan dari Kak Reno.


Aku memandang wajah Pak Budi, dan belum menerima kotak itu. Sambil berpikir , apa yang sedang di perbuat oleh Kak Reno dengan semua ini? Setelah surat, kini kotak apa lagi ini?


Aku terus bergumam di dalam hatiku.


Hingga Pak Budi memanggil ulang namaku, dan membuat ku terperanjat dari lamunanku. Aku masih terpaku menatap Pak Budi, dimana pikiranku berusaha untuk mencoba menerka apa maksud dan tujuan Kak Reno dengan semua ini. Melihat diriku yang masih terlihat berpikir dan bingung. Dengan cepat Bik Inah mengambil kotak tersebut dari tangan Pak Budi, lalu mengajakku masuk ke dalam rumah.


Rumah terlihat sepi dan hening, dimana hari ini semua orang sedang pergi mengantar Kak Rafa di bandara untuk kembali melaksanakan tugasnya di luar negeri.


Bik Inah lalu menemaniku hingga ke dalam kamar, lalu meletakkan kotak pemberian Kak Reno di atas sofa bed. Kemudian, Bik Inah permisi padaku untuk mandi dan membantu asisten rumah tangga lainnya menyiapkan menu makan siang nanti.


Pintu tertutup, dan aku segera menuju ke pintu lalu menguncinya. Setelah itu, aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku, sekaligus melaksanakan salat dhuha.


Dan lagi...


Selepas salat dhuha dan berdzikir juga berdo'a kepada Allah. Wajah Kak Reno terus melintas di dalam pikiran dan pandangan ku, meski ia tidak berada di hadapan ku. Tetapi parasnya tidak berhenti bermain dalam anganku, meski diriku tidak menginginkannya. Ujung pagi membawa angin menari yang meniupkan dedaunan yang bergoyang.Mereka seolah melambai padaku,akan rasa gundah yang melanda hatiku ketika diriku menyepi.


Pandangan ku lalu tertuju pada kotak pemberian Kak Reno yang di letakkan Bik Inah, di dekat sofa bed. Yang letaknya tidak jauh dariku.Dengan masih menggenakan mukena, aku langsung meraih kotak tersebut, yang sejak tadi terus memgusik diriku untuk segera membukanya. Dengan perlahan ku amati kotak tersebut, sebelum membukanya. Dan setelah kubuka...


Ternyata sebuah rekaman suara.


Tidak sabar akan apa isinya, dengan cepat aku memutarnya.


Sembari duduk lesehan, dalam


keinginantahuan ku.


Lalu..


Suaranya mengetarkan hatiku.

__ADS_1


Lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Quran terus menjamah hatiku.


Seperti putaran waktu, yang membawa ku kembali pada masa lalu.


Mengapa? suara serupa itu..


Terus mengingatkan diriku pada kekasih hati, yang telah pergi meninggalkan diriku.


Hatiku bergemuruh dalam sensasi rasa kerinduanku.


Diriku seakan-akan tak kuasa, terbenam dalam belenggu masa lalu.


Namun, indra pendengaran ku...


Terus memaksa, seakan tidak peduli akan kondisi hatiku.


***


"Apakah tidak apa-apa kita membantu Nak Reno melakukan hal ini pada Nak Rani, Pak Budi?, " tanya Bik Inah yang menghampiri Pak Budi duduk di halaman belakang.


Pak Budi menyeruput kopi hitamnya, lalu memandang ke arah Bik Inah.


"InsyaAllah, tidak apa-apa Bik Inah. Ini adalah cara yang Nak Reno sampaikan kepada saya, supaya Nak Rani tidak terus terbelenggu akan kenangan dan rasa cintanya kepada almarhum Nak Fariz."


"Ada apa Bik?. "


"Hmm.., " jawab Bik Inah ragu.


Pak Budi kembali menyeruput kopi hitamnya.


"Katakan saja Bik Inah!, " pinta Pak Budi.


Bik Inah memandang ke arah Pak Budi, dengan raut wajah penuh keraguan dan kebimbangan.


"Kita sama-sama tahu kan Pak, jika Nak Reno itu masih memiliki perasaan terhadap Nak Rani. Lalu, dengan kita membantunya. Apakah secara tidak langsung, Nak Reno mengambil kesempatan akan kedekatan kita? Dengan dalih untuk membuat Nak Rani, dapat keluar dari barang-barang almarhum Nak Fariz. Maaf Pak, saya sedikit ragu. Sebab bukan rahasia lagi, jika Nak Reno sejak dulu selalu menyakiti hati Nak Rani, dengan berbagai tipu dayanya. Dan bisa jadi, Nak Reno mau balas dendam kepada Nak Rani, karena kehancuran keluarganya."


Pak Budi tertawa mendengar perkataan Bik Inah.


"Hahaha... Hahahaha... Bik Inah ada-ada saja, " ucap Pak Budi sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


Bik Inah semakin heran melihat sikap Pak Budi, "Mengapa Pak Budi tertawa? Apa yang saya katakan bisa saja terjadi kan? Kita tidak pernah dapat tahu, apa isi hati seseorang Pak!. Terlihat manis di luar, namun belum tampak serupa di dalam hatinya. "

__ADS_1


Pak Budi menarik napas pendek, lalu memandang ke Bik Inah.


"Bik Inah, saya sudah sangat lama mengenal Nak Reno. Sehingga saya dapat menilai dirinya dengan sangat baik. Menurut saya, Nak Reno tidak memiliki motif apa-apa lagi pada Nak Rani. Cintanya tulus tanpa mengharuskan Nak Rani menjadi milik nya. Saya lihat itu dari dirinya."


"Tetapi saya takut jika sikap yang Nak Reno tunjukkan kepada kita dan Nak Rani hanyalah kamuflase Pak. Bagaimana jika ia benar-benar masih memiliki dendam dan berniat jahat pada Nak Rani?, " ucap Bik Inah sedikit panik dan histeris.


Pak Budi kembali tersenyum lagi, dan memandang Bik Inah. Kali ini Pak Budi segera meneguk habis kopi hitamnya.


Lalu, ia menjelaskan pada Bik Inah.


"Disini saya tidak bermaksud untuk membela Nak Reno, Bik.


Yang ingin saya katakan adalah bahwa kita tidak bisa menghakimi seseorang, hanya dengan memandang diri orang tersebut melalui pandangan mata. Karena terkadang apa yang kita lihat, tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.


Sehingga kita tidak memiliki hak untuk berkomentar, menilai, apa lagi menghakimi tindak-tanduk manusia lain, khususnya Nak Reno. Sebab, kita tidak tahu apa yang sudah ia lewati selama ini dalam hidupnya.


Belum tentu kita bisa menjalani kehidupannya. Sangat mudah lisan kita untuk mencela orang lain. Tetapi kita tidak pernah berpikir,bahwa belum tentu kita sanggup menjalani kehidupan yang di jalani Nak Reno."


Bik Inah terdiam mendengarkan perkataan Pak Budi, yang secara tidak langsung mulai menggeser keraguan di dalam hatinya.


Pak Budi menatap langit dengan wajahnya yang terlihat serius dan sangat dalam, lalu melanjutkan perkataannya kembali pada Bik Inah.


"Setiap orang diberikan anugerah dan cobaan yang berbeda, Bik Inah. Masing-masing punya kesanggupan yang berbedalah. Tidak jauh-jauh kita dapat melihat Nak Rani dan Nak Reno. Dimana cobaan hidup yang mereka jalani begitu ekstrem dan penuh luka juga terjal. Tidak bisa kita bayangkan, bagaimana Allah mengambil semua orang yang penting dalam kehidupan mereka. Hal itulah, sebenarnya yang melatarbelakangi saya mau Nak Reno membantu Nak Rani keluar dari masa lalunya. Sebab, tanpa mereka sadari keduanya secara tidak langsung. Telah memiliki kesamaan nasib dan takdir. Dan satu hal lagi, keduanya pernah mempunyai hubungan dan kenangan bersama. Meskipun banyak kenangan pahitnya, tetapi setidaknya hati dan pikiran mereka berdua sedikit lebihnya telah terkoneksi dengan baik."


Bik Inah mengangguk, dan hanya diam.


"Belum tentu kita lebih baik dari Nak Reno, Bik Inah. Banyak juga kebaikan yang telah di lakukan Nak Reno terhadap Nak Rani, tanpa diketahui semua orang. Dan hanya saya, almarhum Nak Fariz juga beberapa orang yang mengetahui kebaikannya."


Pak Budi tersenyum ke arah Bik Inah.


"Tak ada manusia yang sempurna, Bik Inah. Kalau Nak Reno punya kekurangan dan pernah melakukan kesalahan, begitu juga dengan kita yang tidak luput dari kesalahan. Beruntung nya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menutupi aib kesalahan kita.


Jadi, yang paling berhak untuk menilai dan mengatur hidup seseorang adalah masing-masing individunya sendiri yang menjalaninya. Yang bertanggungjawab atas hidup seseorang adalah dirinya sendiri, bukan orang lain, bukan kita.


Dimana kita pun tak suka dihakimi kan Bik Inah?," tanya Pak Budi.


Bik Inah menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dan menyimak dengan betul apa yang dikatakan Pak Budi kepada dirinya.


"Jadi,Bik Inah alasan terpenting mengapa kita tidak pantas menilai kehidupan orang lain adalah karena kita sendiri tidak suka dihakimi.Sehingga, jangan melakukan sesuatu jika kita tidak suka orang lain melakukan hal yang sama kepada kita.Termasuk mencela dan berpikiran buruk akan masa lalu seseorang. Karena roda kehidupan itu terus berputar. Tidak selamanya orang yang buruk akan menjadi buruk.Dan Tak selamanya orang jahat itu memiliki hati yang busuk dan memang tercipta sebagai orang yang jahat."


"Iya Pak Budi, saya mengerti sekarang, " jawab Bik Inah.

__ADS_1


Pak Budi tersenyum, lalu mereka berdua di kejutkan dengan kedatangan Kak Roy bersama putrinya.


__ADS_2