
Wirda sangat bersyukur kondisi ku mulai menunjukan perubahan,yaitu sadar dari koma. Saking senangnya, Wirda sampai lompat dari kasurnya,hingga lupa jika saat ini ia tengah mengandung. Dengan buru-buru dan segera Kak Rafa dengan cepat memegangi tubuh Wirda dan mengingatkan dirinya untuk berhati-hati.
Wirda tersenyum, dan tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang bahagia penuh rasa syukur setelah mendapatkan kabar dari Ummah. Jika diriku sudah tersadar dari koma. Apalagi saat Ummah mengirimkan video ku kepada Wirda. Dimana diriku mengangkat tanganku perlahan, seraya menunjukkan kepada semua orang bahwasanya aku masih hidup dan masih berjuang untuk hidup.
Dan tidak lama kemudian, Wirda dan Kak Rafa segera memberitahukan kabar bahagia itu kepada Enjid, Abi dan Pak Budi.
Mendengar kabar baik dari Wirda dan Kak Rafa. Abi, Enjid dan Pak Budi juga ikut bersyukur mendengar diriku telah sadar dari koma meski kondisiku belum cukup baik. Padahal Wirda dan seluruh anggota keluarga Imandar,kecuali Ummah sempat pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Sang Khalik terkait kesehatan dan kesembuhan diriku. Dimana mereka semua benar-benar sudah di titik ikhlas dengan do'a -do'a yang tidak pernah putus terlantun dari setiap lisan mereka masing-masing. Pasalnya kondisiku benar-benar sempat drop di ruang ICU rumah sakit.
"Selanjutnya kita pasrah sama Allah, semua milik Allah,pada akhirnya kita hanya menunggu giliran saja. Ya Rabb, semoga ada keajaiban,kami semua masih ingin bersama Rani dan melihatnya menjalani kehidupannya.Mohon berilah kesembuhan untuk Rani, "ucap Enjid saat itu dengan air matanya yang mengalir tiada henti.
Tetapi Ummah selalu meyakinkan semua orang dan percaya ,jika akan ada titik terang kesembuhan bagi diriku yang akan datang sebuah keajaiban dari Sang Khalik. "Bahwa tidak ada yang mungkin bila sudah dikehendaki-Nya," ucap Ummah mengimani harapannya yang ia gantungkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dan kini mereka semua benar-benar menangis harus, setelah Allah Subhanahu Wa Ta'ala memperlihatkan kebesaran dan keajaibannya di sini. Setelah mendengar kabar bahagia ini, semua anggota keluarga Imandar pun segera bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Ummah dan juga melihat kondisiku.
***
Walaupun aku sudah bangun dari koma,aku tetap mengalami lumpuh. Tapi dokter merasa yakin bahwa sel otakku tengah berusaha untuk tersambung kembali dan memperbaiki bagian yang rusak.
"Tengkoraknya retak, tiga tulang belakangnya retak, kedua tungkainya patah, beberapa rusuknya patah, dan tulang panggulnya juga patah. Akibat luka-luka yang dialami Rani,maka bagian panggul hingga ujung kakinya akan membuat Rani menjadi lumpuh,"jelas dokter kepada Ummah dan Abi.
Ummah dan Abi terkejut dan sedih mendengarkan penjelasan dokter. Tetapi kesedihan itu tidak berlangsung lama, dimana setelahnya Ummah dan Abi menyadari bahwa kembalinya kesadaran diriku adalah hal yang patut untuk disyukuri, setelah koma panjang yang ku alami.
Ummah dan Abi beserta seluruh keluarga Imandar senang ,bahwa diriku masih diberi kesempatan hidup dan bangun dari koma oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Abi dan Ummah menghela napasnya bersamaan, lalu mereka berdua saling berpandangan satu sama lain untuk saling menguatkan.
"Bismillah, kami ikhlas menerima kondisi putri kami dok. Tetapi kami juga tidak akan menyerah untuk terus berikhtiar dan bertawakal kepada Allah, supaya putri kami dapat kembali pulih seperti sediakala, " ucap Abi dengan tenang sambil mengenggam jemari tangan Ummah.
Dokter mengangguk dan tersenyum haru, mendengar dan menyaksikan langsung. Kesabaran dan keikhlasan Ummah dan Abi yang membuat hati dokter terenyuh dalam keharuan.
***
Setelah setengah tahun lebih tertidur dalam koma, kini diriku sudah dapat merespon dan dapat berkomunikasi dengan baik. Terkadang aku bahkan bisa meminta sesuatu, meskipun dengan terbatas atau menunjuk sesuatu seperti meminta makanan atau minuman. Dari hal ini, dokter mendiagnosa dan menganggap bahwa ada kemungkinan besar bahwa diriku yang sebelumnya koma bisa kembali bangun dan kembali pulih seperti sediakala. Mendengar perkataan dokter semua anggota keluarga Imandar tersenyum bahagia. Seolah-olah harapan akan sebuah sinar kebahagiaan itu benar-benar ada, dan mulai menembus kabut gelap kesedihan keluarga Imandar.
Ummah, Abi, Wirda, Kak Rafa, Enjid dan Pak Budi tidak menyerah untuk terus mengikhtiarkan kesembuhan diriku.
Selama menjalani terapi fisik di rumah sakit. Ummah senantiasa mengajak diriku mengobrol dan memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang Ummah bacakan atau memperdengarkan diriku murottal Qur'an. Bacaan Al-Quran memiliki dampak luar biasa pada diriku dan secara perlahan dapat mengembalikan keseimbanganku. Dimana setelah melihat kemajuan diriku secara signifikan, kecuali usaha medis yang dilakukan. Dokter juga menambah terapinya dengan terapi suara, lewat pembacaan ayat-ayat Al-Quran, untuk penyembuhan ku.
"Suara manusia memiliki nada spiritual khusus yang dapat membuat sarana pengobatan paling kuat. Dimana frekuensi-frebesasi suara dalam bacaan Al-Quran memiliki efek besar dan luar biasa. Pada sistem syaraf yang tersambung dengan semua otot, " tutur dokter.
Ummah dan Abi yang menemani diriku, terlihat bersyukur menyaksikan kemajuan diriku dan penuturan dari dokter.
"Subhanallah! sungguh mulia sekali kalam Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang diturunkan langsung kepada Rasulnya untuk menyempurnakan akhlaq umat beliau.
Ternyata juga bisa dijadikan sebagai sarana terapi untuk mengobati penyakit. Sungguh besar sekali kasih sayang yang diberikan oleh Allah kepada kita semua. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua agar kita selalu senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Wallahu A'lam, " sambung Abi menanggapi penuturan dokter.
***
Meskipun aku bisa kembali ke rumah kediaman keluarga Imandar dengan kursi roda, sayangnya koma selama setengah tahun lebih masih menyisakan gangguan pada otak ku.Dengan memiliki gangguan memori sehingga banyak hal yang tidak ku ingat ,namun sifatku masih sama seperti Rani yang dulu.
__ADS_1
"Otaknya hanya mengingat hal-hal pada masa kecilnya dan beberapa peristiwa yang terjadi pada kehidupannya sekarang, " jelas dokter kepada Ummah dan Abi sebelum membawa diriku pulang ke rumah.
Mendengar penjelasan dokter memang membuat Ummah dan Abi sedih, tetapi mereka tidak berkecil hati dan akan terus mengupayakan membantu mengembalikan semua ingatanku secara perlahan dan bertahap, sebab mereka tidak akan pernah berhenti berjuang dalam mengikhtiarkan kesembuhan ku, hingga diriku dapat menjalani kehidupan ku seperti sedia kala.
Meskipun keinginan itu sangat sulit untuk di rengkuh. Tetapi Ummah dan Abi akan selalu menggantungkan asa mereka berdua kepada Sang Pencipta.
Ummah mendorong kursi roda ku perlahan, menikmati pemandangan di taman belakang yang menjadi tempat favorit diriku saat berbincang dengan almarhum Mas Fariz. Banyak hal yang Ummah berusaha ceritakan, meskipun diriku lebih banyak diam dan terbenam dalam keheningan diriku yang terasa asing bagiku.
Selain Ummah yang ada jelas di pikiranku dan terasa begitu dekat dengan hatiku.
Tetapi Ummah tidak pernah berhenti untuk menyerah. Dimana keadaan diriku yang belum pulih sepenuhnya, dan masih tertatih-tatih sempoyongan untuk berusaha berdiri dan berjalan.
Ummah terus setia menemaniku , meskipun diriku belum bisa mengingat peristiwa berdarah yang merenggut Mas Fariz dari sisiku dan membuat ku lumpuh tidak berdaya seperti sekarang ini.
Ummah merapikan hijab ku, lalu mencium kepalaku lembut dengan penuh kasih sayang.
Aku menatap wajah sendu Ummah dalam dan diam tanpa berkata.
Aku tidak tahu apa yang Ummah pikirkan, tetapi melalui sentuhannya dapat kurasakan ketulusan kasih sayangnya pada diriku.
Perlahan semilir angin berhembus memeluk diriku, dimana kenyamanan hadir dalam jiwaku. Dimana sentuhannya seakan-akan menyapu pedih lukaku, yang belum dapat ku ketahui.
Dalam pagutan desah bayu, aku hening..
Dimana diam menjadi jiwaku yang mulai tumbuh kembali...
Menata setiap kepingan memori yang hilang pergi dan merayu untuk kembali ...
Wirda sangat bersyukur kondisi ku mulai menunjukan perubahan,yaitu sadar dari koma. Saking senangnya, Wirda sampai lompat dari kasurnya,hingga lupa jika saat ini ia tengah mengandung. Dengan buru-buru dan segera Kak Rafa dengan cepat memegangi tubuh Wirda dan mengingatkan dirinya untuk berhati-hati.
Wirda tersenyum, dan tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang bahagia penuh rasa syukur setelah mendapatkan kabar dari Ummah. Jika diriku sudah tersadar dari koma. Apalagi saat Ummah mengirimkan video ku kepada Wirda. Dimana diriku mengangkat tanganku perlahan, seraya menunjukkan kepada semua orang bahwasanya aku masih hidup dan masih berjuang untuk hidup.
Dan tidak lama kemudian, Wirda dan Kak Rafa segera memberitahukan kabar bahagia itu kepada Enjid, Abi dan Pak Budi.
Mendengar kabar baik dari Wirda dan Kak Rafa. Abi, Enjid dan Pak Budi juga ikut bersyukur mendengar diriku telah sadar dari koma meski kondisiku belum cukup baik. Padahal Wirda dan seluruh anggota keluarga Imandar,kecuali Ummah sempat pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Sang Khalik terkait kesehatan dan kesembuhan diriku. Dimana mereka semua benar-benar sudah di titik ikhlas dengan do'a -do'a yang tidak pernah putus terlantun dari setiap lisan mereka masing-masing. Pasalnya kondisiku benar-benar sempat drop di ruang ICU rumah sakit.
"Selanjutnya kita pasrah sama Allah, semua milik Allah,pada akhirnya kita hanya menunggu giliran saja. Ya Rabb, semoga ada keajaiban,kami semua masih ingin bersama Rani dan melihatnya menjalani kehidupannya.Mohon berilah kesembuhan untuk Rani, "ucap Enjid saat itu dengan air matanya yang mengalir tiada henti.
Tetapi Ummah selalu meyakinkan semua orang dan percaya ,jika akan ada titik terang kesembuhan bagi diriku yang akan datang sebuah keajaiban dari Sang Khalik. "Bahwa tidak ada yang mungkin bila sudah dikehendaki-Nya," ucap Ummah mengimani harapannya yang ia gantungkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dan kini mereka semua benar-benar menangis harus, setelah Allah Subhanahu Wa Ta'ala memperlihatkan kebesaran dan keajaibannya di sini. Setelah mendengar kabar bahagia ini, semua anggota keluarga Imandar pun segera bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Ummah dan juga melihat kondisiku.
***
Walaupun aku sudah bangun dari koma,aku tetap mengalami lumpuh. Tapi dokter merasa yakin bahwa sel otakku tengah berusaha untuk tersambung kembali dan memperbaiki bagian yang rusak.
"Tengkoraknya retak, tiga tulang belakangnya retak, kedua tungkainya patah, beberapa rusuknya patah, dan tulang panggulnya juga patah. Akibat luka-luka yang dialami Rani,maka bagian panggul hingga ujung kakinya akan membuat Rani menjadi lumpuh,"jelas dokter kepada Ummah dan Abi.
Ummah dan Abi terkejut dan sedih mendengarkan penjelasan dokter. Tetapi kesedihan itu tidak berlangsung lama, dimana setelahnya Ummah dan Abi menyadari bahwa kembalinya kesadaran diriku adalah hal yang patut untuk disyukuri, setelah koma panjang yang ku alami.
Ummah dan Abi beserta seluruh keluarga Imandar senang ,bahwa diriku masih diberi kesempatan hidup dan bangun dari koma oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
__ADS_1
Abi dan Ummah menghela napasnya bersamaan, lalu mereka berdua saling berpandangan satu sama lain untuk saling menguatkan.
"Bismillah, kami ikhlas menerima kondisi putri kami dok. Tetapi kami juga tidak akan menyerah untuk terus berikhtiar dan bertawakal kepada Allah, supaya putri kami dapat kembali pulih seperti sediakala, " ucap Abi dengan tenang sambil mengenggam jemari tangan Ummah.
Dokter mengangguk dan tersenyum haru, mendengar dan menyaksikan langsung. Kesabaran dan keikhlasan Ummah dan Abi yang membuat hati dokter terenyuh dalam keharuan.
***
Setelah setengah tahun lebih tertidur dalam koma, kini diriku sudah dapat merespon dan dapat berkomunikasi dengan baik. Terkadang aku bahkan bisa meminta sesuatu, meskipun dengan terbatas atau menunjuk sesuatu seperti meminta makanan atau minuman. Dari hal ini, dokter mendiagnosa dan menganggap bahwa ada kemungkinan besar bahwa diriku yang sebelumnya koma bisa kembali bangun dan kembali pulih seperti sediakala. Mendengar perkataan dokter semua anggota keluarga Imandar tersenyum bahagia. Seolah-olah harapan akan sebuah sinar kebahagiaan itu benar-benar ada, dan mulai menembus kabut gelap kesedihan keluarga Imandar.
Ummah, Abi, Wirda, Kak Rafa, Enjid dan Pak Budi tidak menyerah untuk terus mengikhtiarkan kesembuhan diriku.
Selama menjalani terapi fisik di rumah sakit. Ummah senantiasa mengajak diriku mengobrol dan memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang Ummah bacakan atau memperdengarkan diriku murottal Qur'an. Bacaan Al-Quran memiliki dampak luar biasa pada diriku dan secara perlahan dapat mengembalikan keseimbanganku. Dimana setelah melihat kemajuan diriku secara signifikan, kecuali usaha medis yang dilakukan. Dokter juga menambah terapinya dengan terapi suara, lewat pembacaan ayat-ayat Al-Quran, untuk penyembuhan ku.
"Suara manusia memiliki nada spiritual khusus yang dapat membuat sarana pengobatan paling kuat. Dimana frekuensi-frebesasi suara dalam bacaan Al-Quran memiliki efek besar dan luar biasa. Pada sistem syaraf yang tersambung dengan semua otot, " tutur dokter.
Ummah dan Abi yang menemani diriku, terlihat bersyukur menyaksikan kemajuan diriku dan penuturan dari dokter.
"Subhanallah! sungguh mulia sekali kalam Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang diturunkan langsung kepada Rasulnya untuk menyempurnakan akhlaq umat beliau.
Ternyata juga bisa dijadikan sebagai sarana terapi untuk mengobati penyakit. Sungguh besar sekali kasih sayang yang diberikan oleh Allah kepada kita semua. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua agar kita selalu senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Wallahu A'lam, " sambung Abi menanggapi penuturan dokter.
***
Meskipun aku bisa kembali ke rumah kediaman keluarga Imandar dengan kursi roda, sayangnya koma selama setengah tahun lebih masih menyisakan gangguan pada otak ku.Dengan memiliki gangguan memori sehingga banyak hal yang tidak ku ingat ,namun sifatku masih sama seperti Rani yang dulu.
"Otaknya hanya mengingat hal-hal pada masa kecilnya dan beberapa peristiwa yang terjadi pada kehidupannya sekarang, " jelas dokter kepada Ummah dan Abi sebelum membawa diriku pulang ke rumah.
Mendengar penjelasan dokter memang membuat Ummah dan Abi sedih, tetapi mereka tidak berkecil hati dan akan terus mengupayakan membantu mengembalikan semua ingatanku secara perlahan dan bertahap, sebab mereka tidak akan pernah berhenti berjuang dalam mengikhtiarkan kesembuhan ku, hingga diriku dapat menjalani kehidupan ku seperti sedia kala.
Meskipun keinginan itu sangat sulit untuk di rengkuh. Tetapi Ummah dan Abi akan selalu menggantungkan asa mereka berdua kepada Sang Pencipta.
Ummah mendorong kursi roda ku perlahan, menikmati pemandangan di taman belakang yang menjadi tempat favorit diriku saat berbincang dengan almarhum Mas Fariz. Banyak hal yang Ummah berusaha ceritakan, meskipun diriku lebih banyak diam dan terbenam dalam keheningan diriku yang terasa asing bagiku.
Selain Ummah yang ada jelas di pikiranku dan terasa begitu dekat dengan hatiku.
Tetapi Ummah tidak pernah berhenti untuk menyerah. Dimana keadaan diriku yang belum pulih sepenuhnya, dan masih tertatih-tatih sempoyongan untuk berusaha berdiri dan berjalan.
Ummah terus setia menemaniku , meskipun diriku belum bisa mengingat peristiwa berdarah yang merenggut Mas Fariz dari sisiku dan membuat ku lumpuh tidak berdaya seperti sekarang ini.
Ummah merapikan hijab ku, lalu mencium kepalaku lembut dengan penuh kasih sayang.
Aku menatap wajah sendu Ummah dalam dan diam tanpa berkata.
Aku tidak tahu apa yang Ummah pikirkan, tetapi melalui sentuhannya dapat kurasakan ketulusan kasih sayangnya pada diriku.
Perlahan semilir angin berhembus memeluk diriku, dimana kenyamanan hadir dalam jiwaku. Dimana sentuhannya seakan-akan menyapu pedih lukaku, yang belum dapat ku ketahui.
Dalam pagutan desah bayu, aku hening..
__ADS_1
Dimana diam menjadi jiwaku yang mulai tumbuh kembali...
Menata setiap kepingan memori yang hilang pergi dan merayu untuk kembali ...