
"Rani yang kuat ya.Kak Roy percaya jika semua ini yang terjadi berdasarkan kehendak dari Allah Subhanahu wa ta'ala.Rani harus ikhlas dan sabar.Seperti dalam QS.Al -Insyirah ayat 5 yang berbunyi.Fa inna ma'al-'usri yusra. Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan ayat 6 yang berbunyi.
Inna ma'al-'usri yusrā.Artinya: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,"ucap Kak Roy menguatkanku.
"Iya Ran.Jangan sedih ya.In syaAllah aku juga akan selalu disamping kamu,"ucap Wirda.
Aku mengangguk perlahan sambil menatap wajah Kak Roy dan Wirda.Alhamdulillah aku beruntung memiliki kalian,ucapku dalam hati.
Lalu Wirda dan Kak Roy mengajakku untuk berjalan keluar agar ketegangan yang menyelimutiku berkurang.
Dengan langkah gontaiku Wirda selalu ada di sampingku ia tidak lelah menuntunku.Dan Kak Roy berada di belakangku dan Wirda.Ia mengawasiku dan mengikuti langkah kakiku dan Wirda.Tidak lama kemudian tibalah kami di taman rumah sakit.Wirda menyuruhku duduk pada sebuah bangku kayu panjang di dekat pepohonan rindang dan kolam ikan.Bunga-bunga yang asri dan indah tumbuh subur menghias keteduhan yang sunyi.Lalu duduklah aku dan Wirda.Sementara Kak Roy izin ke kantin untuk membeli minuman hangat dan makanan.
Angin bertiup semilir,lembut membelai kerudung putihku yang tampak kusut.Gemercik suara aliran air dari kolam ikan menghentak pikiran dan hatiku yang rapuh.Pandanganku tertuju pada ikan koi warna-warni yang berenang kian kemari seolah-olah mereka berusaha menghiburku.
Langit yang sama,udara yang sama,batinku.Namun semua telah berubah begitu banyak dalam waktu yang singkat.Ughhh..kutarik pelan napas panjang.Setidaknya dapat menghilangkan penat yang mengganjal dalam sesaknya hatiku.
Tidak lama kemudian bayangan pria jangkung menghampiriku.Kukira itu Kak Roy.Namun lamunanku tersentak saat Wirda dengan terkejutnya ia menyebutkan nama pria yang kubenci,"Kak Reno!,"ucap Wirda terkejut.
Mendengar ucapan Wirda pandanganku langsung berbalik pada wujud asli bayangan pria yang mendekatiku.Mau apa lagi dia,ucapku dalam hati.Wirda memegangiku,terlihat wajahnya yang cemas melihat kehadiran Kak Reno di hadapanku.
"Mau apa lagi kamu disini?,"ucapku pelan sedikit ketus.
Namun Kak Reno hanya diam dan terus memandangiku.Perlahan aku berusaha bangkit meskipun masih sempoyongan.Wirda pun berdiri untuk memegangiku agar aku tidak terjatuh.Namun dengan pelan kutolak bantuan Wirda dengan mengisyaratkan jemari tanganku padanya.Wirda pun mengerti meskipun raut wajahnya terlihat cemas melihat kondisiku.
Dengan sekuat tenaga aku pun mampu berdiri dan menatap wajah Kak Reno langsung.Sorot matanya tajam namun berkaca-kaca.Ia ingin berusaha memegangiku namun kutolak dengan menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku!,"ucapku sinis.
Aku menatapnya dengan tajam dan penuh amarah melihat wajahnya.Masih tergiang jelas semua kata-kata penghinaannya padaku dan bunda.Rasanya darahku begitu mendidih padanya.
__ADS_1
"Mau apa lagi kamu kesini.Belum puaskah dirimu dan keluargamu menghancurkan kehidupanku dan bunda,"ucapku marah.
Namun Kak Reno hanya diam menatapku.
"Kenapa kamu hanya diam.Bukankah sebelumnya kamu senang menghinaku.Oh...inikah tujuanmu sebenarnya untuk membuat hidupku seperti di neraka.Selamat kamu berhasil.Dan sekarang kamu sudah puaskan!SUDAH PUAS!,"ucapku berteriak.
Sekali lagi Kak Reno hanya tetap diam membisu menatapku.
"Kenapa kamu hanya diam?apa ini juga bagian rencanamu juga?jawab! iya kan!,"bentakku.
Tiba-tiba aku hampir terjatuh,lalu dengan cepat Kak Reno memegang bahuku.Pandanganku dan Kak Reno bertemu.Namun aku begitu marah dan kesal padanya,
"Lepaskan,jangan pegang dan sentuh aku!,"ucapku marah.
Tangan nya berusaha meraihku agar aku tidak terjatuh.Namun aku terus menangkis tangannya,
"Jangan mendekat.Dan jangan coba-coba menyentuhku.Aku tahu benar apa yang kamu pikirkan.Kamu jahat..jahat...jahat!Dan aku sangat membencimu!,"teriakku sambil memukul tangannya.
"Pergi kamu!pergi menjauh dariku!Aku sangat membencimu dan tidak ingin melihat wajahmu.Aku membencimu,sangat membencimu...hikssss.....hikkkkssssss,"teriakku sambil menangis tersedu-sedu.
Kak Reno terus menatapku tanpa melawan,mulutnya pun seolah-olah terkunci rapat.
Wirda yang melihat kondisiku begitu khawatir dan berusaha memegangiku namun aku menolak.Aku terus menangis dan menyuruh Kak Reno pergi dari hadapanku.Tetapi Kak Reno tetap tidak ingin pergi dan malah semakin mendekatiku.Melihat tubuhku yang lemah dan semakin sempoyongan Kak Reno langsung menarik tanganku.Dengan cepat tubuhnya yang jangkung mendekapnya kuat.
Aku memberontak berusaha melepaskan diri darinya namun dayaku tidak cukup mampu melawannya.Aku hanya terus menangis dan memohon dirinya untuk menjauh dan Melepaskanku.Namun Kak Reno tidak menggubris dan justru semakin memelukku erat.Dalam samar deru isak tangis ku suaranya lirih mengucapkan maaf padaku.Suaranya terbata dalam isak tangisnya.Pelan dan lirih ia terus berbisik maaf dalam linangan air matanya.Namun aku tidak peduli akan semua itu.Dan terus berusaha melepaskan diriku darinya.
Wirda yang melihatku menangis dan terus meronta merasa iba melihatku,
"Lepaskan Rani,Kak Reno.Kasihan Rani,"ucap Wirda pada Kak Reno.
__ADS_1
Namun lagi Kak Reno tidak menggubris ucapan Wirda juga.Hingga akhirnya Kak Roy datang dan menarik tubuh Kak Reno menjauh dari tubuhku.Dan dengan cepat Wirda memegangiku yang hampir terjatuh.
Kak Reno terkejut melihat Kak Roy,
"Roy,"ucap Kak Reno pelan sambil menyeka air matanya.
Kak Roy terlihat marah dan kesal,
"Apa yang kamu lakukan Ren?apa kamu belum puas juga menyakiti hati Rani?apa yang sebenarnya kamu inginkan darinya?,"teriak Kak Roy marah.
Dengan lemah Kak Reno menjawab,"Maaf darinya Roy,"ucap Kak Reno pelan.
"Setelah semua yang kamu perbuat pada Rani.Dan sekarang kamu ingin meminta maaf.Apakah semudah itu Ren,"ucap Kak Roy.
"Iya Roy,aku tahu aku salah oleh karena itu aku ingin Rani memaafkanku,"ucap Kak Reno sambil menangis.
"Sudah cukup Ren.Dulu aku diam saja saat kamu terus menerus menyakiti Rani.Namun sekarang aku tidak akan membiarkannya merasakan kesedihan lagi.Dan sebaiknya kamu menjauh dari Rani.Karena itu hal yang terbaik untuk saat ini,"ucap Kak Roy.
Kak Reno terus menitikan air mata dan tertunduk pilu.Sementara itu Wirda terus memegangiku dan memelukku untuk menenangkanku.
Perlahan Wirda ingin berusaha membantuku berdiri.Namun betapa terkejutnya ia saat melihat diriku sudah tidak sadarkan diri.Wirda pun berteriak ketakutan,
"Ran,Rani!,"teriak Wirda sambil menepuk pelan pipiku.
Mendengar teriakkan Wirda Kak Roy dan Kak Reno mendekat.
"Kenapa Rani,Wir,"tanya Kak Roy.
"Sepertinya Rani pingsan kak,"ucap Wirda sambil menangis.
__ADS_1
Tiba-tiba dengan cepat Kak Reno lalu mengangkat tubuhku dan membawaku masuk menuju rumah sakit.Kak Roy dan Wirda tersentak kaget melihat tindakan Kak Reno.Tanpa berpikir panjang lagi Kak Roy dan Wirda mengikuti langkah Kak Reno dari belakang.